If Only You

If Only You
6. Tak Terduga



...6. Tak Terduga...


 


Jakarta


Ambyar sudah rencana yang gadis itu susun. Baru berendam 5 menit dan menyalakan ipod, bel pintu kamar berdenting. Bukan sekali-dua kali tapi sudah berkali-kali.


Huh!


Ia ingin mengumpat. Menyumpahi, jika seandainya ini Garu sang pemaksa itu atau siapalah. Hidupnya tidak akan bahagia!


Ia kembali mengenakan handuk kimono dan bergegas membuka pintu.


Ternyata pelayan hotel bagian service.


“Selamat malam,”


“Kami mengantarkan pesanan room 1212,” ucap pelayan tersebut.


“Saya tidak memesan.” Ia mengerutkan dahi, bingung.


“Pesanan atas nama Bapak Garuda untuk kamar 1212,”


Ia memejamkan mata sesaat, benar-benar menyumpahi laki-laki itu dalam hati.


“Oke, silakan masuk.” Terpaksa, ia menerima. Kalau tidak, yakin laki-laki itu tidak akan jera mengganggunya.


Baru pelayan itu keluar dan menutup pintu. Layar ponselnya berpendar.


Garuda 5ila calling ....


Sabar, ia menghibur dan mengusap dadanya—agar terkendali tidak emosi. Tapi urung lekas menerima panggilan. Justru netranya beralih menatap 3 paper bag di atas meja. Semua dari brand terkenal. Dari Chanel, Gucci dan Jimmy Choo.


Ia menjengit ketika suara telepon di atas nakas mengagetkannya.


“Halo,”


“Kenapa telepon gue gak diangkat?”


Refleks ia menjauhkan ganggang telepon, menautkan alis.


“Hei ....”


Ia berdehem, lalu memasang kembali gagang telepon di samping telinganya.


“Sepuluh menit. Aku tunggu di lobi.”


Whaaaattt!!


Kali ini ia tidak bisa lagi melawan ataupun menghadang hormon serotonin yang terjun bebas. Berganti cartisol mendominasi bahkan malampaui. Gila ini orang! Ia bersungut-sungut.


Sepanjang kotak besi itu membawanya turun ke lobi. Mukanya cemberut. Ditekuk. Sumpah serapah dalam hati. Bahkan beberapa kali kakinya mengentak ke lantai. Tak peduli lagi dengan sepatu buatan butik langganan Lady Diana itu.


Sepanjang perjalanan ia membuang muka. Hatinya tengah gulana. Ia mogok bicara.


Sementara Garu pun tak acuh. Sempat menarik tangannya saat hendak masuk ke dalam kabin mobil. Tapi dengan cepat ia menepis.


Kali ini ia benar-benar kesal.


Mobil berhenti di sebuah restoran ala Eropa. Tepatnya di daerah Senopati, Kebayoran Baru. Ia tersenyum tipis ketika seseorang membukakan pintu untuknya. Ternyata Toni.


Garu berdehem. Lalu berjalan di depannya.


“Silakan, Mbak.” Toni menyuruhnya ramah untuk mengikuti Garu.


Di sebuah ruangan VVIP telah duduk beberapa orang. Ia berusaha menyambut mereka ramah. Melempar senyum, membungkuk sejenak.


Garu menggeret kursi untuknya. Ia langsung duduk di sana.


“Cie, bawa gandengan, lo.” Ledek pria yang duduk di ujung.


“Kenalin,” pria itu berdiri lalu mengulurkan tangannya, “Maleo. Kakaknya Ru,” Ia juga berdiri menyambutnya.


“Ini istri gue, Sandra.” Maleo menunjuk wanita cantik di sebelahnya. Mereka berkenalan. Sepertinya wajah istri Maleo tak asing.


“Gue, Atat.” Pria satunya yang duduk di depannya percis menyergah. Tanpa mengulurkan tangan.


“Gemala,” balasnya.


“Gue, Vivi istri Atat.” Vivi bahkan berdiri menghampirinya dan mereka bercipika-cipiki.


“Terima kasih, saya Gemala.” Sahutnya seraya menerbitkan senyum. Perasaan kesal terhadap laki-laki itu sedikit berkurang.


Belum juga ia kembali duduk, seorang pria datang bersama 2 orang. Lalu 2 orang tersebut membungkuk dan mengundurkan diri. Menutup pintu.


Pria yang baru datang itu menatap satu persatu yang berada di ruangan ini.


“Ayo, duduk.” Tukas pria tersebut.


Dengan hati-hati ia duduk. Meski kegugupan menyelimuti. Sebenarnya ini acara apa? Pria itu siapa. Bahkan laki-laki yang duduk di sampingnya diam seribu bahasa. Tidak memberikan petunjuk apa pun.


“Gimana perkembangan pemblokiran CPO kita?” ucap pria yang baru saja duduk di kursi ujung satunya.


“Pemerintah sudah melakukan gugatan ke WTO. Ru, dengar gugatan melalui PTRI (Perutusan Tetap Republik Indonesia) di Jenewa, Swiss.”


“Gila. Bukan hanya CPO aja, Pi. Tapi UE melarang ekspor biji nikel juga,” timpal Maleo sambil geleng-geleng.


“Kita tunggu gerakan pemerintah. UE pasar CPO terbesar Indonesia, setelah India. Jadi tidak mungkin UE akan benar-benar memblokir pasokan CPO. Mereka hanya gertak sambal.” Pria tersebut berbicara penuh analisa.


“Masih ada pasar kita di China dan negara-negara Afrika, Pi. Mereka pembeli terbesar ketiga dan keempat.” Garu sepertinya yakin. Dampak black campaing tidak terlalu berpengaruh.


“Setuju!” Atat menimpali, “apalagi Inggris tengah mengajukan referendum Brexit. Kalau itu terjadi Inggris terpisah dari UE. Pemerintah harus secepatnya menjalin kerja sama  bilateral dengan Inggris.”


“Itu masih lama, Bro.” Sanggah Maleo. “UE tidak semudah itu melepas Inggris. Mekanisme juga pasti panjang dan berbelit.”


“Tenang, Pi. Tahun lalu pemerintah kita menang atas 6 gugatan UE terkait pengenaan  bea masuk anti-dumping. Dan menurut para pengamat masalah non tarif sawit dari Indonesia juga akan sulit didapat bukti-buktinya.” Pungkas Ru.


Sementara ia, Vivi dan Sandra hanya terdiam menelinga. Pembicaraan semakin serius. Ia yang kurang paham hanya membatin saja. Ternyata pria itu adalah Torrid. Pemilik Torrid Group sekaligus ayahnya Garu. Tapi, laki-laki di sebelahnya ini beda. Saat seperti ini terlihat berwibawa. Bertanggungjawab. Dan ... terlihat menguasai medan. Nilai tambah yang ia baru ketahui dari seorang Garu.


Pembicaraan itu pun terjeda. Pelayan datang membawa sajian makanan. Selama menyantap hidangan mereka semua terdiam. Sama sekali tidak ada yang berbicara.


Beda dengan keluarganya. Apalagi sang mama yang ... di mana mami Garu? Kenapa tidak ada maminya laki-laki itu di sini?


“Kamu siap pindah ke GL?” tanya Torrid setelah mereka usai menyantap makanan.


“Pi,” sela Ru.


“Kamu juga harus belajar hal baru, kamu sudah 8 tahun di TRP.”


“Sebenarnya bukan hal baru lagi. Semua bisnis itu sama saja manajemennya. Hanya produknya yang beda,”


“Lebih baik, kalian saling belajar. Garu akan pegang GL. Dan kamu Maleo, pegang TRP.”


“Aku, Pi?” tanya Atat.


“Buktikan dulu SGC seperti waktu Papi pegang. Dulu SGC itu ibarat nyawa Papi. Perusahaan kedua setelah TRP yang Papi dirikan bersama Kakek kalian.”


“Oke.” Jawab Atat lemas. Sepertinya dia juga ingin suasana baru.


Sementara laki-laki di sebelahnya terdiam.


Makan malam yang berisi obrolan bisnis dan bisnis. Menjemukan sebenarnya. Lagian, fungsi dirinya tadi apa coba di sana? Pendengar? Pelengkap? Atau cuma jadi sorak-sorak bergembira saja? Ia mendesahkan napas ketika mobil yang ditumpanginya melaju. Melemaskan otot-ototnya dengan bersandar ke belakang.


Ia baru tersadar ketika mobil bukan mengarah pulang ke hotel melainkan ke Jakarta bagian utara.


Adalah Ancol.


Tepatnya di Bende. Tidak jauh dari pantai Ria-Ancol. Garu mengajaknya turun. Menapaki jembatan kayu yang mengarah ke tengah laut.


“Ini acara apa lagi?” tanyanya penasaran. Tampaknya ia harus aktif bertanya sekarang. Dari pada kejadian seperti tadi lagi. Ia sengaja berhenti di tengah jembatan. Bersender pada pagar pembatas.


Garu yang merasa dirinya tak lagi mengekori berhenti. Lalu menoleh kepadanya.


“Gue hanya ingin ke sini.”


Ia menoleh sesaat pada laki-laki itu. Lalu mengalihkan pandangan ke pendopo yang terlihat ramai.


“Gue kangen suasana pantai,” Garu menghampirinya. Ikut bersandar. Melepas jasnya lalu tanpa terduga mengaitkan jas tersebut ke pundaknya.


Ia menjengit. Tetiba degupan jantungnya terasa aneh. Ia menelan ludahnya.


“Pakai yang bener!” seru laki-laki itu. Ia menjadi salah tingkah. Saat Garu membenahi jas tersebut di tubuhnya.


“Jangan ge-er, gue cuma kasihan lo kedinginan.”


Ia langsung menatap laki-laki itu kesal.


“Jangan berharap juga gue bakal nglakuin lebih dari ini.”


Matanya membola. Ia menggigit bibirnya. Pede sekali laki-laki ini pikirnya. Siapa juga yang mengharap lebih? Meski jantungnya berdebar aneh.


“Ck, gue jamin lo bakal kesulitan menolak pesona gue. Bisa-bisa lo jatuh cinta sama gue.”


Ia langsung menyergah, “Lo, pede banget sih jadi orang!”


“Siapa juga yang jatuh cinta sama, lo? Gak bakalan.” Tolaknya mentah-mentah. No way! Pekiknya dalam hati.


“Lagian—”


“Sstt!” Ru menunjuk bibirnya. Tindakan tak terduga selanjutnya adalah laki-laki itu menyelipkan rambutnya yang berkibar-kibar ke belakang telinganya.


Sesaat ia tertegun. Posisi mereka yang begitu dekat. Hanya dua jengkal saja. Membuatnya kesulitan untuk mengatur napasnya. Rasanya tenggorokannya juga tersekat.


“Tuh, kan ... gitu aja, lo udah terlena.” Gelak Garu penuh kemenangan.


Sementara ia memejamkan mata. Menahan emosi yang ingin diledakkan saat itu juga.


 


...***...


Yogyakarta


“Assalamu’alaikum, Sayang ... tumben telepon Ibu lagi. Baru kemarin tel—”


“Otanjoubi omedetau ... selamat ulang tahun ... Ibu Rahayu tercinta,” potong suara dari seberang.


“Wiih, gayamu ... Le. Ibu kangen.”


“Insya Allah, mungkin bulan depan bisa pulang. Kayaknya ....”


“Kamu jadi pindah ke Indonesia?”


 “Doain, aja ya, Bu....”


“Aamiin ... Ibu juga susah kalau kangen. Cuma lewat telepon rasanya gak mantep.”


Suara anak itu dari jauh terdengar terkekeh.


“Ibu, mau kado apa?”


“Apa perlu aku datengin band favorit Ibu itu?!”


“Ngawur kamu ... mereka udah bubar jalan.”


“Vokalisnya aja, gimana?” tawarku berseloroh. Lalu tertawa riang. Bisa-bisa aku diseruduk massa. Dikira ibu-ibu tak tahu usia.


“Ibu mau?”


“Gak lah ... buat apa? Usia Ibu segini juga udah seneng banget. Lihat kamu sukses. Sehat ... itu udah kebahagiaan Ibu,” aku menghela napas perlahan—ada ganjalan tak kasat mata membias.


“Okay ... kalau Ibu pengen sesuatu kabari. Sebelum aku pulang ke Indonesia.” Pungkas anak itu.


“Love you ... mmuaahh ....”


Aku menyandarkan punggung ke belakang kursi kerja. Begitu cepat waktu berlalu ... usiaku semakin bertambah tua. Anak-anak sudah besar. Punya penghidupan sendiri. Bahkan sebentar lagi mungkin mereka akan menikah. Dan punya keluarga.


Desiran halus menyelusup hatiku. Mataku tetiba memanas, cairan bening berkumpul di sana. Dengan cepat aku menyusut sudut mataku. Tak ingin terhanyut dan larut dalam kenangan yang telah berusaha dibuang.


“Permisi, Dok. Ada paket,” kata Ningsih—perawat yang membantuku. Setelah sebelumnya mengetuk pintu beberapa kali.


Aku mengulas senyum, “Makasih, Ning. Pasien sudah gak ada lagi, kan?” memastikan kembali.


“Habis, Dok.” Ningsih meletakkan buket bunga di atas meja, “saya permisi, ya, Dok. Langsung izin pulang.”


“Oh, ya ... paket sembako udah semua dibagi. Hepi besday ya, Dok. Pokoknya yang terbaik deh untuk dokter Rahayu.”


“Ih, kamu nih. Kayak siapa aja. Tapi makasih ya. Jangan lupa pastikan Joko yang terakhir. Jangan sampai seperti kemarin. Lupa ngunci pintu. Untung gak kejadian apa-apa.”


“Beres, Dok." Ningsih mengacungkan jempolnya, lalu berkata “tiap tahun selalu jadi langganan buket bunga. Sayang, Dok. Lebih baik ganti bunga di bank aja gimana lebih bermanfaat,” goda Ningsih.


“Hussh ... saya gak butuh bunga bank.” Sanggahku dengan mengibaskan tangan.


“Oke, Dok. Sampai ketemu besok.” Ningsih telah keluar ruangan dan menutup pintu. Aku memindai paket bunga yang selalu tak pernah absen di hari ulang tahunku.


Peace lily.


“Bunga-bunga dari kamu masih terawat hingga kini,”


“Kamu selalu ingat hari spesialku,” sudut bibirku melengkung ke atas. Lalu meraih note yang menggantung pada pita yang melingkari pot keramik.


 


...You’re all I need beside me, girl...


...You’re all I need to turn my world...


...You’re all I want inside my heart...


...You’re all I need when were apart...


...You’re all that I need...


...-Happy birthday ... Ay-...


...-TRD-...


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


... ...