If Only You

If Only You
100. True Happiness



...100. True Happiness...


“One ... two ... yeee ... one ... two ... yeee," sambil memainkan jemarinya. "Om,” panggilnya pada pria di sebelahnya yang duduk menunduk. “Atu mau num.”


Pria yang duduk di kursi lipat menjeremba tas berbentuk unicorn berwarna pink yang tergeletak di sebelah kakinya. Mengeluarkan botol minum berstiker unicorn yang sama dari sana. Mengangsurkan pada anak yang tengah di pangku ayahnya.


“Xie xie,” balasnya sambil tersenyum dengan lesung pipi menghias di kanan dan kiri.


“Om,” panggil anak itu lagi. “Atu mau pin,” imbuhnya sambil menunjuk boneka fat puffin yang terlihat menyembul dari dalam tas yang sama yang tidak tertutup rapat.


Lagi-lagi ia menjeremba tas tersebut. Mengeluarkan boneka ikan buntal dengan warna hijau totol-totol putih. “Ada lagi?” tanyanya seraya menerima kembalian botol. Tugasnya kini bertambah. Selain menjadi asisten pribadi seorang presiden direktur, kini dirinya juga merangkap menjadi asisten direktur cilik yang sifatnya tak jauh beda. Ups .... Apalagi ia harus memahami bahasa anak tersebut yang bikin kepalanya terkadang pusing tujuh keliling.


“Om,”


“Kinar mau apa lagi?” tanyanya sebelum anak berusia 2 tahun itu kembali meminta sesuatu. Padahal ia dan yang lainnya tengah mendoakan founder dan co-founder  TG yang terbaring damai di bawah sana.


“Atu mau mommy,” wajahnya berubah memelas dan merajuk.


“Ssst, kita berdoa dulu.” Orang yang memangku anak 2 tahun itu berucap lalu mencium puncak kepalanya seraya mengusapnya lembut. “Kita doakan kakek, ya. Angkat tangannya,” titahnya dan langsung diikuti anak tersebut.


Laki-laki berpakaian kemeja putih dengan lengan digulung sesiku itu pun memimpin doa. Di ikuti anak yang duduk di atas pangkuannya. Pria yang duduk di sebelah kanan dan kiri. Serta seseorang yang memayungi di belakangnya.


“Aamiin ....” Terdengar sahutan dari semua yang hadir di sana. Terutama suara anak perempuan berusia sekitar 2 tahun yang menggemaskan, bersuara paling vokal dan dominan.


...***...


Hiruk pikuk suasana di sebuah rumah modern tropical bak kericuhan di pasar. Sementara di pendopo yang tak jauh dari bangunan utama seorang wanita paruh baya tengah memastikan sesuatu. Menginstruksikan pada beberapa orang yang terlihat mengangguk dan bergegas pergi.


Tak jauh dari pendopo gelak tawa beberapa pasang mata bercengkerama. Sesekali beberapa pelayan berseragam gelap membawakan makanan dan minuman untuk mereka.


Begitu juga suasana di teras samping yang menyambung dengan kolam renang. Kumpulan orang-orang tengah duduk di kursi yang telah di sediakan. Terdengar pembicaraan mereka seperti sipongang lebah yang tengah membuat sarang.


Sedangkan di dalam rumah utama,


“Kinar belum datang?” tanya Gayatri.


“Bentar lagi, tadi bilangnya udah OTW sih mau ke sini.”


“Huh!” desakkan kelegaan jelas terdengar dari mulut Gayatri saat menghempaskan tubuhnya di tepian ranjang. “Akhirnya, lo bisa di titik ini. Gue ikut bahagia.” Senyumnya terkembang sempurna.


“Gue juga ikut bahagia. Lo sama Tyo, gak ada yang nyangka.”


“Jodoh.”


“That’s right.”


“Awalnya gue pikir kita akan jadi iparan, tapi nyatanya jodoh lo tetap gak jauh-jauh juga.”


Gayatri menipiskan bibir sambil mengangkat bahu.


“Mommy ...,” Kinar berlari menghambur ke arahnya. Mengulurkan tangan minta digendong.


“Eeiit, sama Auntie aja. Mommy gak boleh gendong. Kasihan dong adik bayinya di peyut mommy nanti kegencet sama Kakak Kinara,” Gayatri merangkum Kinar yang tetiba merajuk setelah di larang. Lalu mengendongnya.


“Miss you, Mom,” bibir Kinar mengerucut. Pasalnya dari pagi Kinar mengikuti kegiatan ayahnya di ibukota. Baru kembali ke rumah jelang rembang petang. Padahal selama ini anak itu tidak pernah jauh darinya.


“Hei, Hon.” Garuda menghampirinya. Mencium pelipis dan puncak kepalanya. “How about him?” mengusap perut buncit yang berlapis midi dress.


“Kinar ikut Autie,” Gayatri membawa Kinar keluar kamar bersamaan Tyo yang menyambutnya dengan senyum tersungging di ambang pintu.


Ia bangkit dari duduknya. Mengulas senyum rekah, “Good. Dia .. good boy,” ujarnya.


Garu merangkum pinggangnya, menatapnya lekat. “Miss you,” mencium bibirnya sekilas.


Ia tergelak, “Sama saja kayak Kinar,” bibirnya ikut mengerucut.


“It’s true. I miss you so much. Tahu gak our princess?” Manik mata laki-laki itu berpendar bahagia.


“Hem,” sahutnya sambil menggeleng.


“Dia anteng selama di samping aku. Selama meeting dia sama Toni. Aku gak tahu mereka ngapain aja, yang jelas saat aku kembali ke ruangan, Toni sudah berubah jadi—”


Ia menanti kelanjutan kalimat Ru yang tampaknya sengaja digantung. Bibirnya dikulum, “Ayam ngeram yang digangguin.”


“Percis. Belum lagi mukanya kaya badut di simpang perempatan. Masih mending badut sih,”


“Mass ... gak boleh ngomong kayak gitu ah,” potongnya. Kendati demikian ia bisa membayangkan bagaimana hancurnya wajah Toni yang dicoret-coret Kinar dengan krayon.


Ru menggesekkan hidungnya dengan hidung miliknya.


“Aduh,” adunya.


Laki-laki itu panik. “Kenapa, Hon?” menelisik seluruh tubuhnya takut terjadi apa-apa.


Ia mengusap perutnya, “Dia nendang kayaknya. Tuh ... tuh,” usapnya sambil meringis menahan nyeri. Benjolan perutnya tak berbentuk akibat gerakan acak dari si penghuni rahimnya.


Ru membantunya duduk di tepi ranjang. Lalu berjongkok menyejajarkan dengan perut bumil yang tengah mengatur napas.


“Hai, Boy ...,” sapa Ru seraya mengusap perutnya. “Ini Daddy ... udah gak sabar pengen keluar ya, tunggu 2 bulan lagi. Okay.”


“Mas yakin ini adiknya Kinar cowok?” meski beberapa kali dokter menyatakan ‘monas’ yang tampak di layar USG.


“Sure. Baby boy.” Garuda tengadah menatapnya setelah menghujani ciuman di perutnya. Menenangkan penghuni rahimnya yang berontak beberapa saat lalu. “I’m so happy. Thank you, Honey.” Laki-laki itu bangkit dan duduk di sebelahnya.


“Aku juga bersyukur banget ... masih diberi kesempatan untuk mendampingi kamu, melihat mereka tumbuh," matanya memanas berkaca-kaca. Betapa sayangnya sang pemilik kehidupan terhadapnya. Setelah melewati banyak ujian. Melewati persimpangan hidup dan mati. Ternyata Tuhan memberikan kesempatan untuknya hidup bahagia.


Garuda mengusap pipinya yang basah. “Tuhan sayang kita.”


Ia mengangguk bersamaan butiran kristal cair yang luruh kembali.


Laki-laki itu mengusap air matanya. “Kita akan ciptakan kebahagiaan. Setelah melalui banyak kesedihan.” Mendaratkan bibirnya di kening, kelopak matanya yang terpejam, hidung, pipi dan berakhir di bibir.


Ia tersenyum menyambutnya. Membalas gerakan ciuman yang terasa lembut dan menentramkan. Mengaitkan tangannya di leher laki-laki itu. Mencecap dan memperdalam perpaduan dua organ kenyal yang saling bersambut dan bertaut.


Ru mengusap punggungnya lembut. Menarik tengkuknya untuk lebih dalam berpagut. Cukup lama keduanya terhanyut dalam suasana bahagia. Hingga lupa bahwa mereka punya acara.


“Mommy!” seru Kinar yang masuk dan langsung menubruk keduanya. “Mommy tapain?” tanyanya bingung. Melihat kedua orang tuanya saling pandang.


Ia salah tingkah. Ru buru-buru menyergah, “Baby boy ngajak main.” Mengusap perut istrinya.


“Main?!” bola mata Kinar membulat seperti bulan purnama, “atu mau ... mau,” girangnya.


“Boleh. Tapi nanti. Daddy janji.”


“Pomais.” Kinar mengacungkan jari kelingkingnya.


Ru menyambut kelingking mungil itu dengan kelingkingnya. Lalu mengangguk.


“Mala, udah siap?” tanya mama yang datang dengan nena—panggilan untuk Rahayu sejak Kinara lahir— di belakangnya.


Ia mengangguk.


“Kalian sebaiknya ganti baju juga,” tukas Rahayu pada Ru dan Kinar. “Mommy mau ganti baju dulu. Oke sayang,” Rahayu menowel dagu Kinar gemas. “Habis ini kita jalan-jalan sama Nena dan yang lainnya.”


Kinar mengangguk. Garuda beranjak.


“Ru, pakaian kamu sudah disiapkan di wardrobe. Acara siraman sebentar lagi,” ujar mama.


“Oke, Ma.” Laki-laki itu berbelok ke wardrobe. Sedangkan Kinar didandani nenanya.


Ya ... hari ini adalah acara tujuh bulan kandungannya. Kalau orang Jawa bilang ‘mitoni’. Saat usia kandungannya 4 bulan mereka menyelenggarakan pengajian untuk mendoakan kesehatan calon bayi beserta ibunya. Sekarang, mereka hanya melakukan acara adat yang diusung oleh nenanya. Juga berharap doa dari para kerabat dan handai taulan yang datang. Pun, bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan.


Setelah memakai kemben ia digiring ke tempat siraman di teras samping dekat kolam renang. Mama dan ibu menggandengnya di kanan kiri. Sementara Ru dan Kinar berjalan di sebelah ibu. Acara dimulai dari siraman dengan kembang setaman. Hingga 7 kali dengan siwur yang dihias ronce melati. Kemudian melakukan prosesi ganti baju hingga 7 kali.


Terdengar juru rias berseru, “Sudah pantas belum?” pada para tamu yang mengikuti setiap prosesi.


“Belum,” jawab serempak mereka dengan galengan kepala.


Hingga pada pakaian kebaya dan jarik ke tujuh lah, para tamu menyeru, “Sudah pantas.” Diiringi tawa dan senyum semringah.


Lalu acara terus berlanjut hingga pada prosesi dodol dawet. Kinar selalu antusias. Menerima uang yang diberikan para tamu yang membeli dawet racikannya.


“Atu mau li cat,” jawab Kinar setiap ditanya pembeli. Membuat gelak tawa mereka yang mendengar.


Setelah seluruh prosesi terlewati. Di penghujung acara seluruh tamu undangan dipersilakan untuk menyantap hidangan. Dan sebagian langsung pamit pulang.


“Lo, nginep sini aja Des,” tawarnya pada Desti yang datang bersamaan dengan Dila dari ibukota tadi pagi. Ia sudah berganti dengan midi dress. Bergabung dengan yang lainnya di teras samping.


"Kamu, gak tahu aja, Mal. Toni udah bookingkan hotel di tengah kota.” Dila menukas sambil memasukkan potongan kue talam ke mulutnya.


“O, ya?”


Desti mengangguk. “Masa calon suami biarin calon istrinya terlunta-lunta,” ujarnya dengan pedenya.


Ia berdecih, “Sudah pacaran 2 tahun. Tapi hilal pernikahan terhalang kabut kelam,” sindirnya.


Dila terkekeh, “Bukan kabut kelam lagi. Tapi dikhawatirkan Toni kabur duluan lo nagih-nagih mulu minta diresmikan,” cibirnya.


Ia ikut tergelak.


“Berasa gue yang ngebet mo kawin tahu gak!” protes Desti tak terima. Padahal kenyataannya iya. Pacaran sama Toni tetapi dirinyalah yang selalu mengambil inisiatif. Apa Toni benar-benar mencintainya?


“Sayang sudah?” Ganjar datang. Dila mengangguk mengulas senyum menyambut kedatangan calon suaminya. Ya, Ganjar dan Dilamurat telah melakukan prosesi lamaran minggu kemarin. Dan akhir bulan depan adalah tanggal pernikahan mereka.


“Beneran kamu gak ikut, Mal?” tanya Desti. “Dia mau babymoon,” bisik Dila.


Ia menepiskan bibir, “Itu, lo tahu,” sembari mengerlingkan mata.


“Idihh ... bilang aja gak mau diganggu. Pintar lagi lo, si Kinar diungsikan sama nenanya,” imbuh Desti.


“Yuk, yang lain udah pada nunggu.” Ganjar menukas menunggu di ambang pintu.


“Nena, nanti kalau Kinar rewel suruh Bi Yati sama Pak San antarkan ke rumah,” pesannya pada Rahayu.


“Aman.” Rahayu mengacungkan jempolnya. Berlalu bersama yang lainnya. Malam ini keluarga besarnya punya agenda tour keraton Yogya dan Puro Pakualaman tempat nenanya Kinara berasal.


“Bebet gak ikut?” Nyalin datang dari belakangnya. Mencangklong tas kanvas dan jaket putih yang digantung dalam tas.


“Lho, kamu gak ikut rombongan?” ia balik bertanya.


Nyalin menggeleng. “Mau ngerjain tugas praktikum sama temen-temen.”


“Rajin banget, malam tahun baru masih ngerjain tugas,” tandasnya. Janjinya terhadap Nyalin akhirnya ia penuhi. Mengantarkannya menjadi calon dokter sesuai cita-cita Nyalin. Anak itu telah terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran di salah satu universitas bergengsi di Yogyakarta.


“Pamit, Bebet.” Nyalin meminta punggung tangannya. Lalu menciumnya. “Aku nginep di kosan temen. Tadi udah bilang juga sama nena,” sambung Nyalin yang selama ini tinggal bersama nena.


“Hati-hati. Jangan ngebut bawa motor,” pesannya.


Nyalin mengangguk, “Bye,” melambaikan tangan perpisahan dan hilang di balik dinding.


Tak terasa 4 tahun sudah berlalu. Di penghujung tahun 2021. Tahun yang sebentar lagi kadaluwarsa dalam hitungan waktu angka.


Tak menyangka skenario jalan kehidupannya penuh liku dan ujian menguras air mata. Namun berakhir bahagia. Ya ... bahagia, bersama laki-laki yang dicintainya. Ditambah dengan kehadiran Kinara Aruma, putri kecilnya. Yang lahir 2 tahun lalu. Ditambah ... ia menunduk mengusap perutnya yang sudah besar. Adik Kinara yang diprediksi dokter berjenis kelamin laki-laki yang akan lahir 2 bulan lagi.


Bibirnya terangkat. Kebahagiaan benar-benar melingkupinya. Setelah mereka melalui gelombang pasang kehidupan.


Kebahagiaan yang tidak bisa ia deskripsikan saking banyaknya pemberian dari pemilik kehidupan untuknya bermunculan.


Setelah ia koma 9 hari di salah satu rumah sakit negara Singapura. Tepat di hari yang sama ia terbangun dari tidur panjangnya. Keajaiban itu datang untuknya. Ia bersyukur, diberi kesempatan untuk melihat dunia kedua kalinya.


Selama masa pemulihan kurang lebih 1 bulan ia menjalani terapi dan pengobatan di sana. Hingga ia dan Garuda diperbolehkan untuk pulang ke Jakarta. Dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Tentunya lebih menjaga kesehatan setelah sadar bahwa sehat itu berawal dari kepedulian.


Selama 6 bulan pasca-transplantasi keduanya dilarang melakukan aktivitas yang berat. Bahkan melakukan hubungan suami-istri yang dapat membuat gerakan berlebih pada organ abdomen.


Sepuluh bulan pasca-transplantasi ia dan Garuda mulai menjalankan dan mengikuti program hamil. Dan tepat 1 tahun setelah donor hati, ia dinyatakan positif hamil. Sebuah kebahagiaan yang kembali menyelimuti mereka. Pun, kondisi hatinya telah kembali sempurna dan tidak mengalami masalah. Begitu juga dengan hati laki-laki itu. Kendati, Ru harus mengonsumsi obat immunosuppressants seumur hidupnya. Yaitu obat anti penolakan tubuh terhadap hati yang baru. Sebab kekebalan tubuh akan mengenali hati baru sebagai ‘benda asing’ sehingga bisa menyerang sel-sel tersebut.


Pun, keluarga Torrid kembali akur dan kompak seperti dulu. Atat mencabut gugatan hak waris setelah mengetahui Vivi hamil. Menjalani masa rehabilitasi. Dan sekarang bahagia bersama Vivi dengan seorang putri cantik.


Ia mendekap tubuhnya. Angin malam mulai menyapa lembut. Di atas sana rembulan tak tampak. Sebab bertepatan fase bulan baru. Yang bertepatan dengan akhir tanggal dalam sebulan kalender.


Beberapa gugusan bintang seolah menggantung di langit. Yang sebagian terang benderang, sebagian malu-malu untuk sekedar memercik langit yang merayu. Menemani orang-orang yang akan merayakan pergantian tahun baru.


Surainya terbang tersapu desau angin.


Sudah 3 tahun ia tinggal di satu kota bersama nena. Di belakangnya menjulang Gunung Merapi yang masih aktif hingga kini. Sementara di depannya pemandangan lampu kerlap kerlip kota yang tak pernah tidur barang sejenak kala malam menyapa.


Tak jauh dari kediamannya berdiri rumah sakit yang dikelola oleh nena. Masih satu areal berdiri sebuah yayasan bernama BERBAGI HATI UNTUK NEGERI. Yang ia kelola bersama-sama dengan keluarga Torrid. Ia sendiri ditunjuk sebagai ketua yayasannya.


Ya, rumah sakit sekaligus yayasan berbagi hati yang dibangun di atas tanah hibah dari papi. Didirikan dengan tujuan menolong orang-orang yang membutuhkan. Orang-orang yang tidak mampu bahkan membutuhkan donor organ untuk menyelamatkan nyawa seseorang.


Sejauh ini yayasan berbagi hati telah membantu banyak pasien yang membutuhkan donor hati, mata, ginjal dan sumsum tulang. Mereka membebaskan biaya bagi orang yang tidak mampu.


Sebuah lengan merengkuhnya dari belakang setelah menyampirkan kain di pundaknya. “Dingin, ibu hamil gak boleh lama-lama di luar nanti masuk angin.”


Ia mengusap naik turun lengan laki-laki itu yang tengah mengusap-usap perutnya. “Kamu ingat gak? Malam tahun baru sebelum kita menikah?”


“Yang di bundaran HI?”


“Hem. Memangnya yang mana lagi?"


“Kenapa?”


“Aku kangen suasana kayak gitu lagi.” Ia menyadarkan kepalanya di dada Garuda.


Laki-laki itu mencium kepalanya. Selama 4 tahun terakhir memang mereka tidak pernah bepergian jauh saat tahun baru. Bepergian jauh hanya ke New Zealand selama tiga minggu, setelah 8 bulan pasca peristiwa yang membenturkan takdir mereka. Setelah itu hanya ke Aussie dua kali menjenguk papa dan mama. Lebih sering ke Singapura karena meeting sekaligus checkup kesehatan.


“Kamu mau ke mana malam ini?”


Ia menggeleng.


“Kamu yakin? Gak mau ke alun-alun atau ke mana gitu seperti tahun kemarin?”


Ia menggeleng kembali. Berbalik menghadap Garu. Membayangkan padatnya orang-orang yang berdesakkan hanya untuk menikmati tahun baru dengan pesta kembang api, membuatnya menggigit bibir. Mungkin, jikalau kondisinya tidak sedang hamil ia rela seperti mereka. Tapi ... ia harus memprioritaskan kondisi kandungannya sekarang.


Garuda mengaitkan surai yang terbawa angin ke belakang telinganya. “Aku punya surprise buat kamu.”


Matanya memicing sebelah, “Surprise?”


Laki-laki itu mengangguk. “Come on,” mengajaknya meninggalkan teras samping menuju balkon lantai 2 tepat di depan kamar mereka.


Romantic dinner for two ....


Ia terpana sejenak. Melihat balkon kamar mereka disulap menjadi tempat romantis ala pasangan yang tengah kencan.


“Ini semua—”


“Aku yang nyiapin. Toni membantu sedikit. Ganjar yang pesan menu. Gayatri yang pesan bunga. Dan ....”


“Dan apa?”


“Itu nanti. Sekarang kita makan malam dulu.” Ru menggeret kursi ke belakang. Menyilakan dirinya duduk. Laki-laki itu kembali membenahi kain panjang di pundaknya yang melorot. “Menu yang percis seperti di restoran Omakaze. Tapi semua bahan yang mentah sekarang harus diolah khusus untuk bumil,” imbuhnya.


“Thank you,”


“Anything for you.”


Garuda benar-benar menciptakan suasana yang percis. Mengambilkan beberapa hidangan ke piringnya. Sesekali obrolan diselingi gelak dan tawa cerita.


“Aku baru menyadari ... ternyata omongan itu menjadi doa. Dulu waktu aku kesal sama kamu, aku mendoakan kamu agar tidak bahagia selama hidup. Rasanya konyol ... tapi ternyata itu salah. Dan menjadi doa dikemudian hari," ucapnya sesal.


Ru mengelap mulutnya dengan tisu. Menegak minumannya.


“Dan aku juga baru menyadari. Percaya tidak percaya setelah hati kamu di sini,” tunjuk Ru di bawah dadanya. “Aku jadi suka memasak. Dan tiba-tiba aku pintar memasak.”


Ia terkekeh. Memang aneh, sekarang Garuda suka memasak di waktu weekend. Bahkan rasanya enak.


“Dan satu lagi,” imbuh Ru. “Aku merasa lebih muda. Merasa seperti umurku sama dengan kamu, Hon. Apa umurku juga mengalami regenerasi?”


Ia terkekeh lagi, menutup mulutnya melihat sikap laki-laki di depannya ini dengan mimik muka lucu dan lugu. Mana ada umur diregenerasi?


“Beruntungnya ... aku gak antusias memakai warna perempuan. Sejak Kinar lahir, kamu sama Kinar lebih banyak memakai pakaian dan aksesoris pink. Atau memakai hal-hal yang berhubungan dengan perempuan. Kalau itu terjadi, derajatku bisa turun drastis, Hon.”


Tawanya meledak.


“Menurut dokter tidak ada hubungannya,” sanggahnya.


“Memang. Tapi itu terjadi padaku. Dan aku mengalaminya.”


Tiba di penghujung pergantian waktu menunjukkan pukul 23.59 WIB ia dan Garuda berdiri bersisian menatap kota di bawah sana. Bersiap melihat pesta kembang api yang sebentar lagi menghias langit Yogya.


“Sepuluh detik lagi, Hon.” Ru melihat jam digital pada ponselnya yang dirogohnya dari saku celana.


“Kita hitung mundur ... 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2 ....”


CESSSS .... PLETAK ... PLETAK ... PLETAK ....


DHUAR.


DHUAAR.


DHUAAAR.



Ia sampai menjengit ketika kembang api berasal dari taman samping rumah meluncur ke atas melewatinya.


Kepalanya menengadah. Melihat percikan kembang api Dandelion lalu disusul percikan dan letupan-letupan berikutnya saling sahut menyahut menghias langit kediamannya.


Ru merengkuhnya ketat. Mereka saling berhadapan. Saling pandang.


“True happiness is you ... true meaning is you ... and true love is you. Ya, you’re my life, my world ... my everything. Semoga tahun ini dan tahun-tahun ke depan kebahagiaan menyertai keluarga kita. I love you, terima kasih telah menjadi orang yang penuh cinta di dunia ini. Happy new year, Honey.” Garuda menatapnya dalam.


“Happy new year. Aku tak pernah menyesal pernah memilihmu dan bersamamu sampai saat ini bahkan nanti. Kamu adalah alasan kenapa aku terus di sini. I love you more.”


Garuda mencium keningnya. Ia menyurukkan kepalanya di dada laki-laki itu. Perjalanan hidupnya setelah mengenal Garuda memang tidaklah mudah. Berada di titik sekarang karena mereka yakin bahwa dengan cinta keduanya bisa melaluinya. Pastinya setelah ini ujian mereka akan selalu ada. Akan tetapi dengan putaran takdir yang berkali-kali hadir. Membuat keduanya semakin kokoh dan lebih siap menyongsongnya.


Ia percaya ... Garuda adalah sosok yang tepat menjadi pilihannya. Garuda akan selalu ada di dadanya dan Garuda adalah belahan jiwanya.


Inilah garis takdir untuknya. Untuk mereka.


Terima kasih Tuhan.


 


...END...