
...70. Pay With This .......
Jakarta
...It's hard for me to say the things...
...I want to say sometimes...
...There's no one here but you and me...
...And that broken old street light...
Ru berhenti memetik gitarnya.
Dahinya mengerut, “Bisa diulangi gak?” Pintanya. Ini lagu sangat familier. Tapi lupa punya siapa.
Garuda melanjutkan memetik gitarnya.
...Lock the doors...
...We'll leave the world outside...
...All I've got to give to you...
...Are these five words tonight...
“Thank you for loving me, by Bon Jovi,” sahutnya setelah berhasil mengingatnya.
Keduanya menyanyi bersama dengan diiringi petikan gitar dari Garuda.
...Thank you for loving me...
...For being my eyes...
...When I couldn't see...
...For parting my lips...
...When I couldn't breathe...
...Thank you for loving me...
“Satu lagi,” setelah 1 kali gagal menebak. Satu berhasil. “Kalau yang ini berhasil menebak. Besok kita jadi ke pantai. Deal?” Ru membuat kesepakatan.
Ia mengangguk—menyepakati. Weekend kali ini harus benar-benar bermakna. Setelah akhir minggu kemarin berujung hanya di apartemen. Sebab Ru melarangnya pergi mengingat ia masih dalam masa penyembuhan akibat musibah kemarin. Padahal ia sudah merasa sehat dan bisa melakukan aktivitas. Hanya ingin ke pantai.
...There are times when nothing works...
...And all you do just getting worse...
...In your mind you've given up...
...But waiting to be found...
...When your hope is gone and lost...
...And you don't know who you should trust...
...You're crying out for help...
...You try to carry on...
Ia menggeleng. Beberapa kali mendengar lagu ini saat laki-laki itu memutar audio di mobil. Band kesukaan Garuda.
...When the time is running out and it's the end...
...Just remember what I said and I promised you promised you...
“Wait ... wait,” ia memejamkan mata. Menutup sebagian wajahnya dengan satu tangan. Bibirnya bergerak-gerak mengikuti alunan nada gitar, “I know ... I know.” Ahaa ... yessss! “Never let you go by White Lion!” pekiknya senang sebab ia yakin jawabannya benar. Seratus persen. Bibirnya terkembang. Tak lama Ru kembali melanjutkan petikan gitarnya. Menyanyi bersama menyelesaikan 1 putaran lagu tebak-tebakan.
...I know I know...
...I won't ever let you go...
...And I will love you everyday...
...And I hope I pray...
...There won't ever come a day...
...When we will say goodbye...
...Cause love can never die...
“Cop ... cop ...cop,” ucap Ru membantunya memotong bawang putih yang dicincang kasar.
Usai bermain gitar mereka memutuskan untuk memasak bersama.
Ia menyanggah, “Bukan begitu. Digeprek dulu.” Mempraktikkan menggeprak bawang putih dengan pisau lalu mencincangnya.
“Nah, like this.” Ia tersenyum.
“Pada akhirnya akan sama saja,” sergah Ru.
“No. Tetap beda,” tangkasnya. “Jika kita geprek dulu, enzim yang dikeluarkan bawang putih akan semakin banyak. Karena dinding selnya kita hancurin. Dan aromanya akan lebih keluar.”
“Okay ... chef Mala. As you wish,” Ru mengulum senyum melihatnya.
Ia mencebik kesal. Dijelasin tapi ....
“Hon, mataku perih.” Laki-laki itu mengerjapkan mata. Seraya menguceknya. Tak sengaja ia lupa mencuci tangan sehabis memotong bawang. Mengusap mata.
Ia berdecak, “Buka matanya!”
Garuda membuka mata yang sudah berkaca-kaca.
Huuh!
Ia meniup mata Ru perlahan. “Sudah?!” tanyanya.
Laki-laki itu mengangguk, mencuci muka di wastafel.
“Sekarang kamu duduk aja. Sebentar lagi jadi,” ujarnya. Memasukkan potongan bawang ke dalam minyak goreng yang mulai panas. Menumisnya sebentar. Lalu menyiramnya dengan kuah kaldu ayam. Memasukkan sayuran kol, wortel, suwiran ayam, potongan bakso dan terakhir telur.
Ia menjengit ketika Ru memeluknya dari belakang, “Baunya harum.” Menyandarkan dagu di bahunya. Sesekali menghidu lehernya yang terbuka sebab ia mencepol rambutnya ke atas.
“Mas, please ... aku gak bisa konsen.” Terang saja ia harus menyelesaikan masakannya. Tapi malah Ru mengganggunya.
“Sini, aku yang aduk-aduk.” Garuda mengambil alih sudip dan mengaduk-aduk masakan yang mulai menggelegak airnya. Kendati begitu tak membiarkannya jauh. Sebab tetap mengungkungnya dengan tangan kiri yang merengkuh perutnya.
Tangannya sibuk memasukkan bumbu tambahan seperti lada, garam, kecap manis, kecap asin dan saus tiram.
Memasukkan mi telur, irisan tomat, daun bawang dan beberapa cabai rawit utuh.
“Finish,” tandasnya. Ru baru melepas tangan kirinya ketika ia hendak mengambil mangkok.
“Biar aku yang tuang,” sela laki-laki itu. Menuangkan mi tek-tek hasil kreasi mereka. “Baunya enak kayaknya,” imbuhnya membaui asap yang masih mengepul dari dalam mangkok.
Ia menambahkan taburan bawang goreng di atasnya.
“Silakan, Bapak Garuda coba ....” Memberikan sendok pada Garu untuk mencicipinya.
“Kamu dulu, Hon. Kata kamu enak pasti aku juga enak.” Ru menyendok, meniupnya sejenak. Kemudian menyodorkan sendok tersebut ke mulutnya. Mata Ru melebar sekilas. Seolah titah yang harus dilaksanakan. Tanpa penolakan.
Ia membuka mulutnya. Mengunyahnya perlahan. Lalu manggut-manggut. Dan mengacungkan jempol.
...***...
Esok paginya dengan menggunakan heli mereka menuju ke sebuah pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu.
Heli tersebut mendarat di helipad bertuliskan ‘H’.
Sebuah pulau privat dengan luasan 10 hektar yang terdiri dari 42 unit vila mewah ditata secara apik. Sehingga tidak terkesan sumpek dan monoton.
Mereka dijemput pegawai yang mengenakan seragam menggunakan buggy car menuju salah satu vila yang berada di ujung. Dengan bangunan yang sedikit berbeda dari yang lainnya.
“Punya siapa?” tanya Mala ketika buggy car berhenti tepat di halaman sebuah bangunan bergaya tropis dan elegan.
Garu menepiskan bibirnya.
Ia memeriksa beberapa ruangan. Ada kamar anak-anak 2 ruangan berdampingan. Kamar tamu. Dan kamar ... ia sempat ternganga ketika membuka pintu kamar tersebut.
“Ini serius?” tanyanya, sembari manik matanya mengedar ke seluruh ruangan terutama ranjang yang dihias layaknya untuk honeymoon.
Ru mengangguk. Memeluknya dari belakang, “Honeymoon yang tertunda,” mencium pelipisnya. “Batal ke Pulau Pahawang. Ke H-island pun jadi,” rayunya.
Ia memutar tubuhnya. Mengaitkan kedua tangan di leher Garuda. Memindai wajahnya. “Thank you so much, gak nyangka dibawa sini. Aku pikir ke ... Ancol seperti waktu itu.”
Ru tergelak, menggesekkan cuping hidung ke hidung, “Kamu pikir suamimu gak mampu beli resort?” gemas dengannya.
Ia melipat bibir. Menahan senyum. “Jadi ini resort milik Garuda?”
“Hah!” Ia tercenung.
“Seminggu lalu Toni yang urus semuanya,” urai Ru. Bagaimana ia mengancam asisten pribadinya tersebut. Setelah istrinya mengemukakan keinginan untuk berlibur ke pantai. Sementara ia tidak ingin pantai yang banyak orang. Sebab identitas pernikahan mereka juga masih dirahasiakan. Pun, ia ingin ketenangan dan kenyamanan.
“Pulau Joyo, Pulau Pangkil, atau Pulau Nikao. Semua berada di Bintan, Pak.” Toni menjelaskan panjang lebar kelebihan dan kekurangan pulau tersebut.
“Jauh,” sahut Ru. Memang bagus sih. Ia pernah ke salah satu pulau yang disebut Toni tadi. Dekat dengan Singapura. Banyak wisatawan negara itu yang pelesiran ke sana. Tapi ia kurang sreg.
“Pulau Mencawakan di Karimunjawa, Pak. Di sana masih virgin. Benar-benar cocok untuk pasangan yang tidak mau diganggu gugat oleh makhluk lain. Buat honeymoon sangat cocok. Katanya sih recommended,” pulau kedua yang ditawarkan Toni.
“Bagus ...,“ Ru manggut-manggut. “Kekurangannya apa, Ton?”
“Hanya belum ada listrik, Pak. Kita harus menyediakan lilin atau lampu emergency. Sebab di tengah malam lampu dari genset dimatikan untuk menghemat pasokan bahan bakar yang di beli dari luar pulau,” terang Toni antusias.
Garu mendengus, “Lo, kira kita mau berkemah!” sosornya kesal. Masa tengah malam mereka akan gelap-gelapan. Sedangkan menjelang pagi, istrinya itu sering ke kamar mandi.
“No! Next ....”
“Pulau Simakakang di Mentawai,” tawar Toni.
Ia mengernyit, “Mentawai?!” bukankah Mentawai pernah terjadi gempa dan tsunami?
‘Aku gak mau ke pantai akhir-akhir ini gempa juga tsunami’ kalimat istrinya terngiang.
“Delete! Cari lokasi yang aman dan dekat saja.”
Dan inilah pilihan Toni.
H-island.
Dalam seminggu Toni mendapatkan bangunan resort yang sesuai keinginannya. Meski dengan harga tinggi. Pun, ia juga memilih tipe bangunan yang berbeda.
“Langsung balik nama atas nama Gemala. Siapkan paket honeymoon weekend ini. Semua harus perfect. Harus special. Jangan ada yang terlupa, Ton.” Titah Garu.
“Baik, Pak.” Toni menyahut.
“Jadi resort ini benar-benar dibeli?” tanyanya masih tak percaya. Buat apa? Toh, mereka jarang ke sini. Mubazir pikirnya. Disewa juga tidak. Dikunjungi jarang. Biaya maintenance. Jangan ditanya. Pasti mahal. Belasan juta bisa jadi tiap bulan harus dikeluarkan.
“Special untuk kamu,” jawab Ru.
“Too much.” Ia menukas. Terlalu banyak pemberian laki-laki ini. Mulai mahar yang wow ... ia sendiri kaget bukan main. Paket perhiasan yang ... entah kapan akan dipakainya. Buku tabungan berisi 10 digit. Kartu kredit platinum. Ditambah lagi dengan resort ini.
“Makasih,” imbuhnya.
Sudut bibir Ru tersenyum miring, “Hanya makasih?”
Belum juga ia berucap, laki-laki itu mengangkatnya.
Ia memekik kaget. Sebab tanpa aba, Ru membopongnya. Merebahkan perlahan di atas kasur yang bertebaran kelopak mawar merah.
Laki-laki itu tersenyum. “Aku gak ingin melewatkan cuma-cuma,”
Alisnya mengerut, “Maksudnya?”
“Pay with this,” Ru mendaratkan ciuman di keningnya. “With this ...,” turun ke mata, “with this,” turun ke pipi, “with this,” ke organ kenyal berwarna pink alami yang selalu menjadi candunya.
“With this,” jemari Ru memainkan kancing demi kancing yang hanya 3 berderet ke bawah di bagian depan dressnya. Membuka lihai. Melewati kepalanya.
Tentu laki-laki itu melupakan satu hal yang telah disiapkan jauh-jauh oleh Toni. Lingerie La perla yang berkualitas tinggi dari Italia. Teronggok begitu saja di dalam kotak hitam di atas sofa sudut kamar.
Pegas kasur spring bed buatan Amerika tersebut terayun-ayun. Menahan beban dan pergerakan di atasnya. Disertai lenguh dan peluh yang mengucur tak terbendung. Meski pendingin sentral terkoneksi antar ruang per ruang. Tak pelak mampu mendinginkan suhu tubuh mereka yang meningkat tajam seiring pergerakan keduanya. Yang saling bergesekan. Dan terus bergerak acak memproduksi keringat berlebih akibat kalori yang dikeluarkan.
Ia memekik ketika Garuda kembali mengangkatnya.
“Pay with this ....” Seringai kembali muncul di bibir Garu.
Berada di atas sesuai keinginan laki-laki itu yang membantunya mencapai tujuan sesungguhnya. Sebuah perasaan yang menggeletik, namun memberikan sensasi menginginkan lagi dan lagi. Yang pada akhirnya harus menyerah pada gelombang tak kasat mata. Akan tetapi membuat keduanya candu sekaligus menggapai puncak bahagia.
“Honey,” Ru mengusap titik-titik embun di sekitar wajahnya. “Thank you for loving me,” mencium keningnya lalu membantunya turun dan berbaring di sebelah laki-laki itu.
Beristirahat setelah melakukan kegiatan yang melelahkan namun menyenangkan mampu mengembalikan energinya seperti semula. Tentunya ditambah juga menyantap makanan sebagai pengganti kalori yang telah terbuang. Liurnya hampir menetes membayangkan makanan yang telah mereka pesan. Cumi, kerang, udang ... dan kawan-kawannya sehabitat.
Perutnya beberapa kali keroncongan. Sudah tidak tahan. Tangannya mematikan kran shower. Dengan memakai handuk kimono. Rambut basah yang masih dililit handuk. Melewati cermin besar di kamar mandi.
Menoleh sejenak bayangannya pada kaca tersebut seiring langkahnya yang maju. Tapi ... tunggu! Kakinya kembali mundur 2 langkah.
Ia membelalakkan mata ketika, “Garuda!!”
Dua porsi makan siang ludes masuk ke dalam perutnya dengan wajah kesal. Pipi gembung. Mulut manyun dan mogok bicara.
“Oke, nanti aku tanggungjawabi.” Ru berusaha membujuknya.
Bagaimana mau menanggungjawabi? Pakai apa?
“Masa gitu aja ngambek!” goda laki-laki itu.
Bodo! Yang jelas ia tidak akan bisa ke mana-mana. Dan besok pagi kerja? Apa kata mereka?! Oh my god.
“Gimana kalau ditambah. Kan, orang-orang tahunya kamu masuk angin dikerokin?”
Whaaaaaattttt!! Dasar ... Nasty!!
Ia mendengus. Masih menggunakan handuk kimono. Membuka pintu teras belakang. Ini private island jadi bebas ia ke mana saja. Penghuninya bisa dihitung pakai jari. Apalagi letak resort yang dipilih Garu paling ujung menyendiri.
Helaan dan embusan napasnya panjang dan pelan. Rasanya ia begitu takjub akan pemandangan di depannya. Blue sea. Angin pantai langsung menerpa wajahnya. Meski cuaca terik. Tapi tetap saja melambai-lambai menggodanya untuk bermain ke sana.
“Gimana penawaranku tadi?” Ru merengkuhnya dari belakang. Kembali merayu dan menggoda berbisik di cuping telinganya.
Ia tergelitik.
Perlahan jemari laki-laki itu melepas tali kimono yang mengikat di pinggangnya. Menyibak bagian bahu putih dan mulus tersebut. Mengecupinya. Hingga ia melenguh dan menjambak surai Garu.
“With this,” Ru menanggalkan kimononya. Benda penyerap basah itu jatuh bebas ke lantai. Meninggalkan lingerie yang bersorak. Sebab tak urung dilupakan oleh sang pemilik.
“Aku malu,” gumamnya.
Laki-laki itu lagi dan lagi mengulum senyum. Merasa di atas angin. Melihatnya hanya memakai benda seksi dan ... ah sialnya masakan seafood tadi juga memprovokasi gairahnya kembali.
-
-
📷 : pulauseribu.resort.com
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan .... 🙏