If Only You

If Only You
73. Sampai Menutup Mata-Love Can Never Die



...73. Sampai Menutup Mata—Love Can Never Die...


Pesawat Airbus A330-200 dengan nomor penerbangan GA 836 itu mendarat sempurna di Bandar Udara International Changi-Singapura.


Pukul 18.00 waktu setempat.


Rahayu menghela napas dalam, melangkahkan kaki keluar dari kabin pesawat bersama para penumpang lainnya.


“Terima kasih,” sapa awak kabin yang berdiri sambil menjura mengukir senyum terbaiknya. Menyambut di dekat pintu.


Ia ikut membalas sambutan perpisahan hangat tersebut. Menautkan senyum tak kalah ramah.


“Kamu yakin, Dok?!” Dokter Hari memastikan keberangkatannya hari ini. Setelah 2 akhir pekan sibuk mengisi seminar. “Sampai sana malam, lho!” sambungnya. Sedikit mengkhawatirkan rekan sejawatnya.


Ia mendesis, “Dokter Hari kayak gak tahu saja. Waktu bagi aku sama. Mau malam, pagi, siang atau sore semua sama. Harus siap siaga kapan pun,” selorohnya.


“Ck, beda. Janda cantik idola Sardjito masa dibiarkan sendiri. Ke negeri orang lagi.”


Ia terkekeh.


“Wess ... malah gemuyu. Yaudah, nyangoni selamet. Di Yogya aku menunggumu kembali,” sepersekian detik Hari tergelak.


Ia menggeleng, “Aku laporin sama Sinta,” Sinta adalah istri Hari. “Status suami, bapak dari 3 anak. Tapi kelakuan kayak ABG!” semburnya.


“Eh, aku sekalian nitip ini.” Ia menyodorkan surat cuti. Entah mengapa ia ingin lebih lama di sana. “Tolong kasihkan ke—”


“Gak usah dibilang,” potong Hari. “Aman. Yang gak aman itu pasien dokter Ayu yang suka nyariin. Mereka cocoknya sama dokter, sama yang lain gak mandi (manjur).”


“Wes ah. Habis waktuku. Aku duluan. Jangan lupa, Dok. Titip surat, klinik sama pasienku,” peringatnya sebelum meninggalkan ruangan seminar yang sudah mulai ditinggalkan pesertanya.


Hari mengacungkan jempol.


Dan di sinilah kini ia berada. Rumah sakit terbesar di negara tetangga. Dengan fasilitas terlengkap, modern dan canggih juga terkemuka se-Asia Tenggara.


“Dokter Rahayu.” Seseorang memanggilnya ketika ia tengah berdiri, menunggu di depan lift. Ia pun menoleh ke sumber suara. Memastikan pendengarannya.


“Apa kabar?” bukan logat bahasa Indonesia pada umumnya.


Ia tersenyum, “Baik.”


“Ah, surprised! Saya bisa jumpa dengan Anda di sini.” Dokter Kelvin Yew tersenyum. “Apa ada perlu sampai ke sini?”


Ia bergeser menepi. Dari awalnya berdiri tepat di depan pintu lift. Membiarkan pintu kotak besi tersebut terbuka membawa orang-orang.


“Ya, saya mau jenguk teman.” Kalimat frasa yang terasa asing di telinga sekaligus di lidahnya. Jenguk teman? Hanya ingin menghindari pertanyaan lebih jauh dari Kelvin.


Kelvin mengernyit, “Teman?! Sakit di sini?”


Ia mengangguk.


“Bisa kita cakap-cakap nanti?” pinta Kelvin—salah satu dokter onkologi di rumah sakit ini—menunggu jawabannya.


“Bisa kita atur,” sahutnya. Pertemuan dengan Kelvin mungkin baru beberapa kali dalam pertemuan formal dan informal. Namun keramahannya membuatnya mampu cepat akrab dengan siapa saja.


Pintu lift sudah membuka dan menutup entah sudah ke berapa kali. Ia melewatkan begitu saja.


“Saya,” menunjuk lift.


“O, okay. See you soon. Senang bertemu dengan Anda.” Kelvin lagi-lagi menebar senyum. Mempersilakan dirinya beranjak dari sana.


Tiba di ruangan Torrid ia disambut Tan dan Tyo.


“Syukurlah ... akhirnya dokter datang.” Kelegaan tergambar jelas di wajah Tan.


Bibirnya melengkung. Melihat sekilas Torrid yang sepertinya tengah tertidur.


“Baru saja,” imbuh Tan. Memberikan keterangan tanpa ia memintanya.


“Ada kemajuan sedikit,” Tan menyilakan duduk di sofa. Tyo pun ikut duduk di sana.


Ia mendengarkan penjelasan Tan. Sesekali mengangguk. Menatap ranjang Torrid yang tidak ada pergerakan. Kembali menatap Tan sekilas.


“Beberapa kali menanyakan Anda, Dok.”


Pandangannya beralih ke Tyo.


“Papa tidak bisa ke sini, Tante. Menitip salam. Mungkin menunggu kondisi papa lebih baik dan bisa melakukan perjalanan jauh,” papar Tyo.


Ia mengerti. Usia Pras juga tidak bisa dipaksakan untuk bepergian jauh. Bahkan akhir-akhir ini juga kondisinya sedang turun.


Obrolan itu terhenti kala ada pergerakan dari ranjang Torrid. Ia beranjak. Bersamaan dengan Tan dan Tyo. Mendekati Torrid yang terbaring.


“Coba tebak, siapa yang datang?” Tan menukas.


Mata sayu nan redup yeng telah terbuka itu berubah dengan binar memancar. Menandakan kedatangannya memang sedang ditunggu Torrid. Bahkan sudut bibirnya tertarik. Dengan gurat wajah semringah dan bungah.


Bibir ayah dari anaknya itu mulai terbuka, “Ay,” lirihnya. Bahkan ia sendiri pun tak jelas mendengar.


Pendar di bibir terukir. Begitu juga hatinya yang tak kalah membuncah. Hatinya menghangat mengalirkan hormon bahagia yang menenangkan.


Ia duduk di kursi samping ranjang. “Apa yang dirasakan sekarang?” tanyanya. Basa basi memang. Tapi inilah pertanyaan umum yang selalu diajukan seorang dokter pada pasiennya. Setelah menjalani beberapa pengobatan.


Torrid menggeleng pelan. Dengan senyum yang terus dikembangkan.


Helaan napasnya begitu terasa. “Besok pagi aku akan bawa kamu ke taman sambil berjemur. Kita berdua,” tegasnya memberi penekanan pada kata 'kita berdua’.


“Aku ambil cuti. Aku janji akan menemani kamu setiap hari. Tapi janji, kamu harus semangat. Harus sembuh,” ujarnya antusias. Ia harus bisa menularkan semangat. Memberikan harapan. Dan tentunya mendorong laki-laki yang sampai detik ini menempati sisi ruang lain di hatinya.


Torrid tersenyum.


Ia terus berceloteh. Bercerita banyak hal. Mengenai pasien-pasiennya yang lucu dan aneh. Rencana Garuda yang membangun residensial di Yogya. Dan hal-hal ringan yang membuatnya tertawa. Pun, Torrid tampak ikut bahagia.


Keesokan paginya janjinya ia tepati. Membawa Torrid ke taman. Mendorong kursi roda itu perlahan.


Torrid memang lebih banyak terdiam. Akan tetapi ia bisa merasakan. Bahwa Torrid sebenarnya ingin berbicara banyak. Lantaran kondisinya yang tidak memungkinkan. Laki-laki itu lebih banyak memberikan isyarat dengan perubahan ekspresi di wajahnya.


Ia menghentikan kursi roda di dekat bangku taman. Percis menghadap kolam. Perlahan ia mendudukkan dirinya di sana. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Menahannya sejenak. Kemudian melepaskan perlahan.


“Pagi yang indah.” Senyumnya tipis, menatap riak-riak air kolam akibat pergerakan ikan. Beberapa bunga juga tengah bermekaran. “Menurutmu bagaimana?” tanyanya.


Torrid mengangguk, “Indah. Makasih Ay ... aku senang.”


“Harus!” sahutnya. “Selama aku di sini, kamu harus senang. Harus bahagia. Jika Tuhan memberikan kesempatan, kenapa tidak kita manfaatkan. Belum tentu kesempatan itu datang berkali-kali.”


Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Kamu ingin menghubungi, Ru?”


Torrid menggeleng.


“Aku kirimi dia foto kamu,” ia mengambil foto Papi Garuda yang tampak senyum malu-malu. Lalu mengirimkannya pada nomor Garuda. “Sudah,” imbuhnya. Tapi entah mengapa, "boleh kita foto bareng?" pintanya. Beberapa kali ia melakukan swafoto bersama Torrid.


Ia menggeser-geser hasil jepretannya. "Terima kasih," imbuhnya.


Punggungnya perlahan bersandar ke belakang bangku. Kepalanya menengadah sejenak. Menatap langit yang cerah. 


“Ru sudah bahagia—” jedanya sesaat. “—bersama Mala.”


“Aku ....”


“Ay,”


Ia menatap Torrid. Menautkan senyum.


“Makasih,” ucap Torrid lirih.


Senyumnya kian terkembang.


Di hari kedua masih sama. Ia membawa Torrid berjalan-jalan dan berjemur di taman.


Hampir seharian ia berada di rumah sakit. Beristirahat jika malam menjelang di hotel yang tak jauh dari tempat Torrid dirawat.


Memang tidak banyak yang bisa dilakukannya. Hanya menemani Torrid yang terbaring. Meski ada Tyo dan perawat khusus. Sesekali Tan juga datang memantau. Begitu juga Maleo yang mendapat jadwal gilirannya.


Di hari ketiga.


Torrid meminta berjalan lebih jauh. Bukan taman yang 2 hari sebelumnya dikunjungi. Tapi ... tangan Torrid terus menunjuk arah meminta untuk  memasuki lift. Mengajaknya ke roof garden.


“Jadi ini tempat yang ingin kamu kunjungi?” tanyanya. Ia baru tahu ada taman di atas gedung. Di hadapan sisi kanan dan kiri bangunan lain tinggi menjulang. Sementara belakangnya bangunan rumah sakit. Roof garden ini cukup lebar.


Torrid mengangguk dan mengulas senyum.


“Baiklah, kita berjemur di sini.” Putusnya. Ia membenahi selimut di pangkuan Torrid. Mengunci roda kursi. Dan duduk di bangku taman tak jauh dari kursi roda yang diduduki Torrid.


“Kamu pernah kesini?”


Kepala laki-laki itu mengangguk pelan, “Lebih tenang,” jawabnya. Kemudian mengeluarkan 2 carik kertas dari saku dada sebelah kiri. Mengangsurkan padanya.


Dahinya mengerut, “Untukku?” tak percaya. Sebab kapan ia melihat Torrid menulis? 2 hari terakhir ini waktunya habis bersamanya dan ia tak melihat laki-laki itu menggoreskan tinta. Atau menyuruh Tyo menulis. Tidak mungkin.


Tangannya patah-patah meraih kertas tersebut. Membuka lipatan yang terbagi 4.


“Kapan kamu menulis ini?” tak urung, akhirnya kalimat itu terlontar juga sebab penasaran.


Torrid hanya tersenyum.


“Apa aku boleh membacanya sekarang?”


Laki-laki itu mengangguk.


Entah mengapa ada desiran ngilu menyayat hati. Sekilas membaca kalimat awal.


Ia menelan ludah yang terasa payah. Seakan ada duri yang menghalangi. Berulang menatap kertas ditangan dan Torrid bergantian.


Laki-laki itu tersenyum tipis, mengedip kemudian mengangguk pelan.


Ia memulai membacanya:


...Love Can Never Die...


Ketika hari merangkak malam. Menyibak pekat di antara bintang dan rembulan yang malu-malu menunjukkan keberadaannya sebab awan kelam.


Malam ini bisa jadi malam terakhir. Atau malam penghujung umur yang telah divonis akan cepat berakhir. Akan tetapi bolehkan aku meminta ... sebelum aku menutup mata selamanya.


Dia ... cintaku yang tak pernah mati. Akan selalu hidup dan abadi.


Dia ... yang memberikan arti kebahagiaan sesungguhnya. Akan selalu berpendar di hati selamanya.


Dan Engkau mengabulkan.


Aku bahagia ketika membuka mata ada kamu di sana. Wajah dengan senyum yang tak akan pernah kulupa.


Aku bahagia kamu mau menyediakan waktu untuk bersamaku. Menghabiskan detak jantungku yang mungkin tak akan lagi sama seiring waktu.


Pandangannya kian buram. Ia menyusut sudut matanya yang terus mengembun. Beberapa lolos membasahi kertas yang tergetar di genggaman.


Kamu yang tak pernah padam untuk datang meski bertubi-tubi aku mencoret luka tak kasat mata.


Kamu yang tak pernah menyerah dan lelah selalu berdiri membelaku kala semua orang mencaciku.


Kamu yang tak pernah putus atas doa-doa yang ter panjatkan meski putiran takdir seolah tertawa bercanda.


Terima kasih Ay ... Atas cintamu yang begitu tulus dan sejati.


Meski suatu saat raga tak bersama. Aku yakin cinta sejati tidak akan mati. Akan selalu hidup menjadi pengantar ketika aku merasa sendiri dan sepi. Atau ketika aku merindukan bayangmu di mimpi-mimpi. Bahkan ketika mata ini tak akan lagi melihat pagi.


#Koko-Ayay#


Bahunya bergetar dengan pandangan menunduk. Menggenggam carikan kertas yang sudah lembab.


“Terima ... kasih atas cintamu, Ko. Yang juga tak pernah mati meski aku ... aku selalu menolakmu. Aku mengecewakanmu,”


Ia kembali mengusap air mata dengan punggung tangan. Menyusut hidung. Desing angin menyibak kerudungnya. Menerbangkan daun kering tak tentu arah.


“Sebaiknya kita lekas masuk. Di sini anginnya semakin kencang.” Ia beranjak dan berjongkok membuka kunci roda.


Menengadahkan kepala, “Ko,” dadanya mendadak bergemuruh riuh. “Koko,” menatap Torrid yang seperti tertidur lelap dengan kepala menunduk.


Ya Allah ... astaghfirullah!


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ...🙏


 


 


 


... ...


... ...


... ...