If Only You

If Only You
96. Garuda di Dadaku



...96. Garuda di Dadaku...


Kala rembang petang ia memilih duduk di taman. Memutuskan rehat di sana sementara waktu. Di saat Garuda juga tengah tertidur setelah meminum obatnya.


Kendati tak dapat dipungkiri resah melingkupi. Setelah mendapat penjelasan dari tim dokter yang menangani. Waktu seolah berjalan lambat mengiring, mengendapkan lara, menumpulkan asa. Yang terkadang kata ‘putus asa’ menjadi pilihan terpaksa.


Tidak!


Ia tidak boleh berputus asa. Apa pun jalan takdir yang akan dilewatinya. Bukankah ia nyaman sekarang.


Ya, nyaman dalam zona yang sekarang dan nanti. Zona di mana hanya ada Garuda bersamanya. Garuda di hatinya.


Meskipun jiwanya tengah diombang-ambing oleh putaran takdir yang entah sampai kapan membelenggu dan berakhir. Ia sadar, di luaran sana masih banyak pasangan yang mungkin mengalami ujian lebih dari dirinya. Yang perlu ia tanamkan kuat adalah ia tidak boleh menyerah. Tidak boleh kalah.


Bukankan ... dengan bersama segala hal yang terasa sulit menjadi mudah, awalnya berat menjadi ringan. Dan bisa jadi ini semua semakin memperkuat cinta mereka.


Ia mengusap pipinya yang basah.


“Boleh aku duduk,” Max muncul di sampingnya.


Ia mendongak sejenak. Kemudian mengangguk.


Max duduk di sebelahnya. Menatap orang yang berlalu lalang di selasar rumah sakit. Keduanya duduk bersisian. Tarikan napas Max panjang. Hingga menarik bahunya ke atas. “Maaf jika aku tidak memberitahukan hal ini padamu, lebih awal. Karena ... Ru melarangku berbicara soal penyakitnya pada siapa pun. Bahkan kepadamu juga," sesal Max. Merasakan apa yang tengah dirasakan oleh istri sahabatnya tersebut.


Ia menggigit bibir bawahnya.


“Sejauh ini, pertahanan Ru sangat hebat. Dia berusaha kuat di depan orang-orang. Padahal,” Max menjeda sesaat. “Kesakitan itu pasti dirasakannya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang-orang. Terutama kepadamu, tidak ingin melihat kamu bersedih dan menangis. Itu yang selalu dijaganya.” Max menegakkan punggung lalu bersandar ke belakang.


“Usahaku 2 bulan ini belum membuahkan hasil, tapi aku yakin masih ada harapan. Ke ujung dunia pun kita akan mencarinya.”


Keesokan paginya Garuda meminta pulang. Sempat berdebat dengannya hingga pada akhirnya laki-laki itu yang mengalah, “Aku ke kantor dulu, setelah dari sana baru kita bicaraiin lagi. Deal?!” Ia membuat kesepakatan. “Aku cuma sebentar, mau izin sama Mbak Lisa,” dalihnya.


“Gak perlu izin, Hon. Kamu bisa kerja. Ada Toni yang menemaniku. Ada—”


“Masss,”


Tiba di kantor, security yang menyambutnya pertama kali. Bahkan ialah orang pertama yang mendaftarkan presensi di fingerprint.


Menyelesaikan semua pekerjaannya. Seraya menunggu Mbak Lisa selaku manager HRD. Ia melihat jam di atas meja kerja. Baru pukul 06.20 WIB. Masih ada waktu pikirnya.


Detik berlalu beralih ke menit. Menit merangkak pasti mengubah waktu.  Sayup-sayup kepak sepatu mulai terdengar satu-satu. Laksana sipongang kidung yang terdengar setiap hari hampir sama tak pernah berubah. Menjadi rutinitas harian dalam beberapa bulan dirinya di sini.


Ia merelakskan otot lehernya yang terasa kaku. Tadi malam setelah Garuda tidur, ia dan Rahayu berbicara banyak hal. Terutama penyakit yang sedang dihadapi laki-laki itu.


Kemungkinan terburuk. Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang selalu muncul dalam sebuah kejadian atau peristiwa. Yang jujur, ia sendiri tidak bisa membayangkannya. Sungguhpun mereka mengiming-imingi sejumlah uang fantastis demi mendapatkan donor yang cocok, tetap saja berisiko. Sebab, jual beli organ tubuh manusia diatur dalam undang-undang. Dan seorang dokter tidak akan menghianati sumpahnya.


Pada akhirnya mereka hanya bisa menunggu, berdoa dan terus berusaha. Mengharap keajaiban Yang Maha Kuasa, sebab di balik putaran takdir, Dialah penentu sesungguhnya. Dan dapat mengembalikan keadaan secara mudah saja.


Dua wanita yang tengah rapuh itu saling menguatkan. Saling bergandengan, untuk terus mendampingi laki-laki yang sangat berarti dalam hidup mereka.


“Mal, hei ...,” Dila mengibaskan tangan di depan wajahnya yang menatap layar komputer. Di kala Dila tadi masuk dan mengucapkan salam, sahabatnya itu tidak menyahut bahkan bergeming di kursinya dengan bertopang dagu. “Mala,” Dila mengusap pundaknya.


Ia baru tersadar. “Eh, kamu Dila. Kapan datang?” tanyanya, menekan lembut wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Dila mengulas senyum, “Perasaan dari tadi. Kamu aja yang lagi gak konsen, mandangi layar yang mau 1 juta kali dipandang pun tidak akan berubah jadi lapis legit,” satire Dila.


“Sorry, pikiranku memang lagi jalan-jalan.”


“Ikutan dong, jalan-jalan ke mana sih?” sambar Desti yang baru saja datang.


“Ck, kepo!” ketusnya sambil bangkit.


“Eh, lo mau kemana, Mal? Gue baru datang masa lo pergi aja!” Desti tak terima.


“Gue mau ketemu Mbak Lisa.”


“Eh, mau ngapain?” tanya Desti.


“Suamimu gimana, Mal keadaannya sekarang?” timpal Dila.


Ia mengembuskan napas, “Minta doanya dari kalian.” Jeda sejenak, “gue, ke ruangan HRD dulu, ya.” Ia menepuk bahu Desti yang masih berdiri dekat pintu.


“Pak Garuda sakit apa?” tanya Desti.


Dila mengedikkan bahu, “Kita doakan saja. Semoga cepat sehat.”


Desti menoleh ke belakang sejenak. Melihat kepergiannya. Lalu garuk-garuk kepala. “Pak Garuda gagah, keren begitu bisa sakit juga, ya?” gumamnya sambil duduk di kursinya.


“Des,”


Desti meringis, “Iya ... iya, ustadzah Dila. Kita doakan mereka. Pak Garuda sehat, Mala sehat ... mereka happily ever after and always in God’s protection and affection—”


“Des,”


“Hehehe ... aamiin, Dila ... bukan Des, Des. Beneran lho nanti doanya gak menembus langit,” kelakar Desti. Sementara Dila hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.


“Masuk,” terdengar sahutan dari dalam setelah ia mengetuk pintu ruangan Lisa.


“Duduk, Mal.” Lisa menyambutnya ramah. “Tumben, pagi banget ke sini? Suami kamu bagaimana kondisinya sekarang?” Kemarin ia hanya sempat izin melalui pesan singkat, sebab terburu-buru. Bahkan hampir lupa memberitahu jika bukan Dila yang menyampaikan pada Lisa.


Ia yang telah duduk di depan Lisa mengulas senyum. “Saya mau menyerahkan ini, Mbak.” Ia mengangsurkan amplop putih di atas meja. Menyorongkan lebih dekat ke Lisa.


“Apa ini?” Lisa menjeremba amplop tersebut, membuka dan mengambil isinya. Membaca secara kilat kemudian, “kamu yakin?”


Ia mengangguk.


“O, God. Mal, aku sebenarnya gak mengharapkan ini. Tapi,”


“Saya mengerti, Mbak. Saya juga membaca aturan perusahaan. Satu bulan sebelumnya. Atau sekurang-kurangnya 25 hari. Maaf ... ini mendadak.”


“Apa karena?”


Ia mengangguk kembali.


“Aku ikut prihatin. Semoga Pak Garuda lekas sembuh. Maaf, aku terpaksa—”


“Gak apa, Mbak. Saya terima.” Keduanya berpelukan sebelum ia meninggalkan ruangan Lisa. Lalu berpamitan dengan Desti dan Dila. Kedua sahabatnya tersebut sangat terkejut manakala ia mengatakan akan resign. Mungkin tepatnya dipecat. Sebab peraturan perusahaan mengharuskan karyawannya mengundurkan diri dengan surat pemberitahuan minimal 1 bulan sebelumnya. Atau sekurang-kurangnya 25 hari sejak surat pengunduran diri diajukan. Dan dalam masa tunggu tersebut karyawan harus tetap melaksanakan kewajibannya. Apabila mangkir, maka dianggap gugur hak-hak sebagai pekerja dan bahkan bisa diberhentikan secara tidak hormat.


“Mal, gue kehilangan lo tahu!” Desti berkaca-kaca dengan bibir melengkung ke bawah, “kenapa ngedadak banget sih! Pak Garuda sakit serius, ya?”


Dila mengusap punggung Desti, “Aku juga pasti kehilangan kamu, Mal. Kita sudah seperti saudara, meski persahabatan kita belum lama.”


“Hei, aku masih di Jakarta. Gak ke mana-mana. Kalian pikir aku mau ke bulan. Kita masih bisa meet up, masih bisa tebak-tebakan hal konyol yang kadang ada benarnya,” ia mencibir lalu berdecak setelahnya.


“Masalahnya, ruangan ini pasti jadi beda, aneh. Gak ada lo, terus gue kalau mau nitip salam lewat siapa, hehehe ...,” cengir Desti.


Mendapat cibiran, “Huuuu, norak!” sembur Dila.


“Gampang, lo temui aja orangnya langsung ke kantor. Atau gue kasih nomornya sekarang, mau?”


Desti lekas menggeleng, “Ogah. Malu. Jaga gengsi dikit dong.”


Dila menggelengkan kepala. Mereka bertiga saling mendekap satu sama lain.


“Persahabatan kita gak akan putus sampai kapan pun,” tukasnya.


“Selamanya,” imbuh Dila.


Desti menyergah, “Ingat, meski warna biru, merah, kuning dan hijau adalah ....”


“Google,” sahutnya bersamaan dengan Dila.


“Tapi kenyataannya warna pelangi lebih indah dan sempurna karena ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Jika google menyimpan segudang rahasia yang kita tidak tahu, tapi pelangi membuat segudang rahasia yang membuat kita betah memandang karena pelangi ciptaan Tuhan. Pelangi mengajarkan kita bahwa setelah badai hujan akan ada harapan baru, kesempatan baru dan tentunya keindahan yang tidak akan dimiliki google,” tutur Desti.


“Itu lagu apa filosofis ... tapi kadang omongan lo ada benarnya juga, ya, Des,” ejeknya.


“Cih ... Desti gitu lho,” tukas Desti jemawa.


Ia dan Dila mencebik. Lalu tak lama terkekeh bersama. Langkahnya perlahan namun pasti meninggalkan ruangannya. Melongok sebentar ke dalam ruangan Davin. Akan tetapi menurut informasi rekan kerja pria tersebut, Davin tengah berada di Bandung. “Oke, makasih, Mas. Salam saja kalau begitu.”


Mobil yang dikendarai San melaju sedang membelah jalanan kota yang lancar tanpa kendala. Ia menyandarkan punggung dan kepalanya ke belakang. Mengatupkan kelopak mata. Menarik napas panjang, mengeluarkannya perlahan. Keputusan ini telah bulat menjadi pilihan yang diambil. Kesehatan Garuda menjadi prioritasnya. Apa pun akan dilakukannya ... diperjuangkannya.


Entah sudah berapa lama, ia tertidur di dalam mobil. Bahkan hingga mobil sudah berhenti di area parkir. San tidak berani membangunkannya. Ia menutup mulut ketika menguap. Mengucek mata. Mengusir kantuk yang masih menyergap.


Sesampainya di ruang perawatan laki-laki itu, tampak pintunya terbuka lebar. Tim dokter tengah memeriksa kondisi Garuda. Dokter menjelaskan kondisi bengkak yang dialami laki-laki itu. Bahkan pembengkakan kini mulai menjalar ke tungkai kaki.


“Masih bisa digerakkan?” tanya salah satu dokter yang memeriksa kaki Ru.


Garuda mengangguk. Ia menghampiri Ru. Laki-laki itu melempar senyum kepadanya. Tim dokter telah selesai melakukan visited. Satu persatu meninggalkan kamar perawatan.


Selama 4 hari ia selalu mendampingi Garuda, hingga laki-laki itu diperbolehkan untuk pulang. Karena Ru meminta pengobatan jalan. Meski tim dokter keberatan, namun pada akhirnya diperbolehkan juga dengan pengawasan yang ketat dari pihak rumah sakit.


Setiap hari ia selalu konsultasi dengan tim dokter. Terus memantau perkembangan kesehatan Garuda. Berusaha selalu menepis dan menepikan prasangka akan risiko terburuk. Menyugesti bahwa everything gonna be okay. Sebab ia percaya harapan akan menjadi doa. Dan doa akan terkabul oleh ucapan yang tulus dan ikhlas.


Sebuah tangan merengkuhnya dari belakang. Melingkari perutnya. “Lagi mikirin apa?” tanya Ru di dekat cuping telinganya. Ia sampai tak menyadari suaminya itu menyusulnya ke balkon. Satu jam lalu Ru menerima telepon di ruang kerjanya.


Ia menelengkan kepalanya, mengusap rahang tegas Garu hingga ke dagu yang telah ditumbuhi rambut kasar. Kemudian menggeleng. “Lihat!” sejurus kemudian ia menunjuk sebuah pesawat yang tengah melintas. Pendar lampunya berkedip-kedip.


Garuda menopangkan dagu di bahunya, “Kenapa resign tidak bilang?” tanya Ru. Ia memang belum cerita bahwa telah berhenti kerja. Laki-laki itu tahunya ia hanya minta izin sementara.


“Tahu dari mana?” tanyanya. “Pasti Pak Prayoga,” tebaknya. Tidak mungkin Mbak Lisa, Desti maupun Dila yang jelas-jelas tidak dekat dengan Garu.


Garuda tergelak pelan, “Hon, kamu tidak perlu resign kalau cuma ngurusin aku. Aku masih bisa melakukannya sendiri, aku masih bisa gerak, aku masih bisa beraktivitas,”


Ia berbalik. Memutar tubuhnya. Ru merengkuhnya ketat. Manik mata mereka saling tatap beberapa saat.


“Kamu lupa, aku bukan cuma mau ngurusin kamu. Tapi aku mau selalu ada di samping kamu.” Ia menyangkutkan kedua tangan ke pundak Garuda.


“Tapi, Hon—”


“Sudah aku putuskan,” potongnya. “Garuda atau siapa pun tidak bisa mengubah keputusanku.”


“Mulai berani!” decak Ru.


Ia mengangguk menipiskan bibirnya.


Garuda menunduk. Menatapnya tanpa kedip. Berucap lirih, “Misalkan kesempatan buatku tidak lama,”


Ia lekas menggeleng.


“If only,” sanggah Ru. “If only you and me couldn’t stay together—”


Dengan cepat jemarinya menutup mulut laki-laki itu. Menatapnya dengan berkaca-kaca, "Apa pun putaran takdir untuk kita. Garuda tetap di sini," tunjuknya pada dadanya. "Sampai kapan pun dia akan tetap di sini."


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ...