If Only You

If Only You
58. For The First and The Last Time



...58. For The First and The Last Time...


Gemala


Baru saja ia menghubungi Gayatri. Kakak keduanya itu ngomel-ngomel tak terima mengabarinya mendadak. Sebab dia tidak bisa pulang.


“So sorry, Kak.”


“Cih ... gue kayak gak dianggap. Kesel tahu! Lo hidup lebih lama sama gue, Mal. Dari lo gak tahu menstruasi itu apa? Sampai lo naksir tetangga belakang rumah si Niel yang ternyata punya pacar 2. Terus lo pacaran sama si Ethan yang ternyata pansexual. Terus sama si nasty yang bikin lo jatuh sakit. Terus gue gak bisa nyaksiin lo nikah sama si nasty itu rasanya ... hu ... huhu ... gue berasa gak punya siapa-siapa tahu,”


“Apa gue hidup di kutub Antartika?” protes Gayatri mendramatisir.


Ia ikut meneteskan air mata.


“Ish ... ish, kayak besok hari terakhir saja! Kan masih bisa ketemu,” sela Ganisha yang ikut muncul di layar, tengah mendandaninya.


“Ck, kalian semua nyebelin. Jadi ketularan si nasty ....”


Ia tergelak bersamaan Ganisha.


“Udah mendramanya, tuh, ‘kan pipi lo basah lagi,” keluh Ganisha, “untung waterproof.”


Sementara Gayatri di ujung sana masih cemberut. Marah dan sedih sebab tidak bisa menyaksikan momen sakralnya.


“Kak, lo mau pelangkah apa? Kata Mama kalo gue yang nikah duluan gue ngasih lo pelangkah biar gak jadi perawan tua.” Ia terkekeh setelahnya.


Gayatri manyun.


Sedangkan Ganisha ikut tergelak, “Haduh ... ya, ‘kan, eyeliner-nya ... jadi ke mana-mana. Kalian sih,” gerutunya menyalahkannya yang tak bisa diam.


“Huh ... MUA gadungan! Lo, berani bayar berapa, Mal?!” seru Gayatri. Mencemooh.


“Udah-udah, ah. Pada diam dulu. Gue mau konsentrasi nih,”


“Mal,”


Ia menyahut dengan mata terpejam, “Hem,”


“Cograts ya, semoga nasty benar-benar jodoh lo. Sampai maut memisahkan. Gue ikut bahagia kalau lo bahagia. Jangan lupa bilang sama nasty, pelangkahan gue mahal. Dia harus nyiapin sesegera mungkin.”


Ia hanya mengacungkan jempol. Gayatri melayangkan ciuman jauhnya. Terdengar, “muaahh.” Lalu menutup sambungan telepon.


“Lo, udah siap. Cantik.” Ganisha menatapnya tanpa kedip.


“Makasih, Kak.” Ia menatap dirinya sendiri di depan cermin.


“Jangan lupa, tagihannya masuk rekening gue.” Kelakar Ganisha lalu keluar dari kamar. Bertepatan dengan mama yang masuk.


“Kata papa, penghulunya bentar lagi datang. Lagi OTW di jalan,” duduk di kursi depannya.


“Jangan takut,” mama meraih tangannya lalu menepuk-nepuknya. “Ini yang pertama ... wajar. Grogi, tegang, deg-degan, pokoknya rasanya campur aduk.”


Ia mengangguk kecil.


“Mama dulu juga gitu waktu Papa menikahi Mama. Tapi setelah akad nikah selesai legaaa banget, rasanya plong ...,” imbuh mama.


Hening menjeda sejenak. Ia menatap wanita yang telah bersusah payah mengandungnya selama 9 bulan lebih tersebut.


“Mala harus bersabar. Apa pun nanti ujian setelah menikah,”


“Pernikahan kalian beda. Beda dengan Kak Ganisha. Mungkin juga nanti beda dengan Kak Gayatri. Maafin Mama,”


Ia menggeleng. Air muka mama berubah sendu. Ia tahu, mungkin mama merasa bersalah. Merasa tidak enak. Sebab tidak bisa menikahkan dirinya seperti Ganisha. Kakaknya Ganisha menikah di hotel berbintang dengan tamu ribuan. Begitu juga Gayatri. Waktu acara lamaran Richard digelar mewah dan semua keluarga besar turut hadir.


Semua penuh suka cita. Semua merasakan bahagia.


Tapi tidak dengan pernikahannya. Saat ini.


“Ma,” tukasnya menyela. “Mala gak pa-pa. Mala gak minta banyak dan lebih. Cukup doa dan restu Mama sama Papa. Itu lebih dari cukup,”


Mama menyusut sudut matanya dengan jari.


“Mala yang harusnya minta maaf. Mengondisikan Mama-Papa di keadaan seperti ini,” ia menunduk.


“Gak, Mal. Setiap orang tua pasti ingin mengantarkan anaknya ke gerbang pernikahan secara istimewa. Untuk pertama dan terakhir kalinya mempersembahkan yang terbaik untuk anak-anaknya,” Larasati meremat tangannya yang masih berada di atas pangkuan lalu memeluknya.


...***...


Garuda


“Bu, gimana sudah rapi?” tanyanya entah yang ke berapa kali. Ia akhirnya mengenakan jas yang dibawakan oleh Toni.


Rahayu menggeleng sambil melipat bibirnya.


Sementara Toni mengulum senyum. Atasannya mengalami sindrom pranikah pikirnya. Dikit-dikit salah. Ini salah. Itu salah. Kurang apa. Salah sedikit senewen. Komentar pedas tersinggung. Tak berkomentar tambah runyam. Hemm .... Ia sampai dibuat bingung padahal hanya melayani 1 orang saja. Sampai akhirnya beralasan susah sinyal saat Jebe menghubunginya. Padahal yang terjadi tidak demikian. Habis ini tamat riwayatnya sama sahabat atasannya tersebut. Pasti Jebe marah padanya. Nasib.


“Bu,” ucapnya lagi. Meminta koreksi.


“Udah beneran. Tanya Toni tuh kalau gak percaya,” tangkas Rahayu.


Toni hanya mengacungkan 2 jempolnya.


Ia berdecak, “Aku hanya ingin terlihat perfect di hari pernikahanku, Ton. Jadi kamu harus komentar sejujurnya. Jangan ada yang ditutupi. This is the first and the last time. So ... gak boleh kurang. Apalagi gagal,” peringatnya pada Toni.


Toni hendak membalas ucapan bosnya. Akhirnya kembali mengatupkan bibir sebab terdengar suara ketukan pintu.


Pak Mun datang dan mengabarkan bahwa petugas KUA sudah datang baru saja. Ia, Rahayu serta Toni bergegas menuju kediaman Imam.


“Bagaimana Ton, penampilanku?”


Bola mata Toni memutar malas, “Perfect,” sahutnya.


“Ton,”


Toni menukas, “Sebaiknya Bapak lebih prepare saat pengucapan akad nanti. Soalnya itu yang menentukan sah tidaknya pernikahan,” tutur Toni berusaha bijak. Namun sayang justru menjadi bola liar buatnya sendiri.


“Kamu pikir aku anak SD. IQ-ku di atas rata-rata. Sekali baca langsung hafal. Gak usah kamu menggurui aku, Ton. Lagian kamu saja belum menikah!”


Hah! Rasanya Toni ingin protes saat itu juga. Tapi berhubung langkah mereka sudah memasuki teras rumah. Ia mengurungkannya.


Sementara dadanya kian bertabuh riuh. Menggelegak bak air rebus pada titik didih. Sepanjang jalan keringat dingin seolah bermunculan. Seiring langkahnya yang semakin dekat dan berdiri di ambang pintu memberi salam.


Tiba di ruangan tamu yang telah sedikit diubah penampilannya. Ia duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Tepat di depan Imam dan penghulu. Setelah sempat menyalami penghulu, Papa Gemala, Mas Abhi—suami Ganisha—dan beberapa saksi yang hadir di sana.


“Bagaimana, sudah siap?” tanya penghulu.


Ia mengangguk mantap, “Siap, Pak.”


Beberapa waktu penghulu mengonfirmasi dokumen kembali. Demi memastikan data agar akurat. Dan tidak ada yang terlewat.


Penghulu meminta calon pengantin wanita agar dihadirkan. Rahayu menjemputnya ke kamar. Tak berapa lama 4 wanita berjalan mengapit Mala yang berada di tengah-tengah.


Jantungnya kian berdegup kencang. Sekilas menatap kedatangan Mala yang begitu anggun dan cantik. Dengan pandangan menunduk.


Gadis yang sebentar lagi menjadi miliknya seutuhnya itu duduk perlahan di sebelahnya. Tanpa sedikit pun menoleh padanya.


“Kita mulai,” seru penghulu yang sedikit membuatnya terkesiap. Sebab pikirannya terpecah oleh penampilan calon istrinya.


Ia menjabat tangan Imam yang duduk di hadapannya sebagai wali nikah Gemala.


Begitu Imam selesai mengucap ijab, ia langsung menyahut,


“Saya terima nikah dan kawinnya Gemala Luwi binti Imam Luwi Jaya dengan mas kawin 100 ribu slot saham Garuda Land dibayar TUNAI.”


“Bagaimana saksi, sah?” tanya penghulu pada saksi yang duduk di kanan kiri meja.


Dan para saksi menjawab tegas nan lugas, “SAH.”


“Alhamdulillah ...,” semua mengucap syukur bersamaan. Menelungkupkan telapak tangan ke wajah.


Dilanjutkan pembacaan doa dan pengucapan janji sighat taklik yang tercantum pada buku nikah. Lalu keduanya menandatangani dokumen dan buku nikah bersampul merah marun dan hijau tua tersebut.


Melakukan beberapa prosesi lanjutan setelah ijab kabul layaknya pasangan pada umumnya. Hingga ia memasangkan cincin kawin di jari manis Gemala yang sudah sah menjadi istrinya.


Ia menatap Mala penuh cinta seraya berucap;


“Listen to this sincerity. For the first and the last time. Kamu adalah pilihanku. Pilihan terbaikku. Sekarang dan nanti sampai aku menutup mata, kamu tanggung jawabku. Tidak akan kubiarkan kamu kedinginan ... kelaparan ... sedih juga kesakitan ... I love you,” mendaratkan ciumannya di kening Mala.


...***...


Jebe


Tidak biasanya pesawat jurusan Surabaya penuh. Ia kehabisan tiket di jam pagi. Hanya tersisa di penerbangan jelang sore.


Oh sial! Gerutunya dalam hati.


“Ini hari apa sih? Kok tumbenan tiket habis,” gumamnya kesal.


Ia tidak mungkin tidak menyaksikan pernikahan sahabatnya. Lagian kadung juga ia berjanji.


Waktu semakin merangkak siang. Ia masih mondar-mandir di depan teras rumahnya. Sementara Garuda memberitahukan bahwa pernikahannya akan dilangsungkan pukul 5 sore.


Ia tampak menghubungi seseorang.


“Hal ... halo, Ton!” serunya tak mendapat sahutan cepat.


“Ya, Pak.”


“Halo,”


Huh. Sambungan telepon mati. Ia kembali berdecak sudah berulang kali.


“Emangnya di pelosok? Kok susah sinyal?” gerutunya sebal. Hendak meminta tolong Toni. Tapi pria kepercayaan Garuda itu malah tidak dapat membantunya sama sekali.


Sungguh keberuntungan sedang tidak berada dipihaknya. Beberapa penyewaan heli penuh. Hanya tinggal penyewaan jet pribadi.


Dengan terpaksa ia menyewa pesawat tersebut. “Demi seorang sahabat, ” gumamnya sambil meringis.


...***...


Gemala


Ini terasa seperti mimpi. Tangan Garuda masih menggenggam erat tangannya. Sementara ruangan tamu sudah kembali sepi beberapa menit yang lalu. Menyisakan hanya dirinya, Garuda, papa dan Mas Abhi serta Toni. Membicarakan masalah bisnis dan perkembangan politik.


Awalnya ia sangat terkejut. Tidak menyangka. Mahar yang diberikan Garuda padanya. Sebab ia tidak pernah diajak bertukar pikiran mengenai hal tersebut. Jangankan bertukar pikiran. Pernikahannya saja seperti mimpi. Mendadak dan dalam tempo yang singkat.


Semua dipersiapkan oleh Ganisha dan Ru. Tanpa melibatkan dirinya.


“Ru, aku masuk dulu. Mau ganti baju,” ujarnya. Berbisik di telinga laki-laki itu.


“Bentar lagi, Hon.” Balas Ru seraya menatapnya sekilas namun pegangan tangannya tak dilepas.


“Assalamu’alaikum ....,” sapa seseorang di ambang pintu.


“Wa’alaikumsalam,” semua orang spontan menoleh ke arah sumber suara.


Jebe tersenyum.


“Silakan masuk,” Mas Abhi menyambutnya.


Sementara Garuda bangkit dan ia ikut berdiri, “telat!” Seru Ru. Keduanya ber high five. Kemudian mendekap saling menepuk punggung.


“Selamat. Wah ... wah gue udah berusaha lari ke sini tapi tetap aja gak bisa nyaksiin lo nikah,” sesal Jebe. Padahal sudah menyewa jetpri pikirnya. Sayang, lagi-lagi keberuntungan belum berpihak. Cuaca buruk mengakibatkan beberapa penerbangan menunda keberangkatannya.


Toni menyela, “Lagian Bos Jebe pakai lari jadinya kalah cepat. Harusnya berenang. Kan melewati lautan masa lari,” cibirnya sambil terkekeh. Belum sadar jika Jebe kesal juga akibat dirinya. Menatap horor padanya.


“Tapi congrotulation deh, happy wedding untuk kalian,” sambung Jebe kembali mengulas raut semringah.


“Terima kasih,” ia menyambut uluran tangan sahabat Garuda tersebut.


Kesempatan itu ia gunakan untuk ke kamar berganti pakaian. Tampak mama, Rahayu dan Ganisha duduk di sofa ruangan tengah. Ia menghampiri mereka sebentar. Lalu beranjak dari sana.


Selang beberapa waktu, ia ikut bergabung kembali dengan Ganisha. Mendudukkan dirinya di sebelah Rahayu.


Sedikit banyak ia tahu jika mama dan Rahayu berteman. Tapi tak menyangka jika mereka pernah kenal dekat.


“Mal, makasih ya,” ucap Rahayu mengusap lengannya. “Sudah mau menerima Garuda,” imbuhnya.


Ia mengangguk, “Iya, Tante.”


“Eh ... jangan Tante. Sekarang panggil Ibu. Kamu sekarang jadi anakku,” tangkas Rahayu dan mendapat kekehan dari Ganisha.


Ia kembali mendengarkan 2 kawan lama bercerita. Mulai dari kesukaan lagu. Nostalgia tempat. Makanan hingga beberapa nasihat mama dan ibu soal rumah tangga.


“Nah, dengerin tuh.” Ganisha menyeletuk.


“Buat kamu juga, Nisha.” Seru mama membela.


Hingga waktu kian merangkak malam. Rahayu dan mama memutuskan beristirahat. Ganisha juga memutuskan masuk kamar.


“Mbak Mala,” panggil Toni. Ia yang awalnya tengah memutar tuas pintu kamar menoleh ke arah pria tersebut.


“Pakaian, Pak Ru,” imbuh Toni. Menyerahkan 1 koper berukuran sedang berwarna abu-abu.


“Makasih, Ton.” Ia membawa koper tersebut ke dalam kamar. Lalu masuk ke kamar mandi.


Meski acara berlangsung singkat. Tapi rasanya ia merasakan kelelahan. Mungkin efek pikiran yang spaning seharian. Betul juga kata mama. Setelah semuanya selesai ia merasakan kelegaan. Begitu tubuhnya mendarat di atas kasur. Meregangkan otot-ototnya yang tegang. Matanya terpejam langsung.


...***...


Garuda


Pembicaraan kaum adam tidak lari jauh dari hobi, bisnis dan perkembangan isu politik.


“Pemerintah sekarang sudah sadar.  Mengatur kebijakan supply-demand sesuai kebutuhan. Tidak jor-joran lagi membiarkan kran impor terbuka lebar. Tapi masih ada beberapa sih yang dibiarkan,” ujar Jebe menanggapi Imam yang mengeluh persoalan ekspor kopi dan kakao.


“Produk kopi kakao kita bagus, Pa. Masih diperingat 5 besar setelah Pantai Gading dan Ghana,” imbuhnya.


“Brasil, Man. Gak tertandingi jadi pemenang terus di ekspor kopi terbesar,” timpal Jebe.


“Ya, memang betul. Tapi produk ekspor lebih mengarah ke kopi jenis robusta. Dan Brasil lebih banyak menghasilkan robusta. Kita masih jauh tertinggal. Karena robusta lebih mendominasi produksi dan dipakai manufaktur dibanding arabika yang lebih banyak dikonsumsi langsung oleh resto, kafe, hotel,” sahut Imam.


“Memangnya kalau di sini lebih banyak jenis apa, Pa?” tanyanya.


“90% robusta, sisanya arabika. Arabika lebih  cocok di dataran tinggi. Sebenarnya masih bisa berproduksi juga di dataran rendah tapi, tumbuhnya tidak optimal. Tahun depan rencana mau sebagian peremajaan. Umur tanaman sudah melebihi 20 tahun.”


Obrolan itu terus berlanjut hingga hampir tengah malam. Dan mereka memutuskan untuk beristirahat.


“Gue tidur di mana?” celetuk Jebe.


“Vila sebelah, Pak.” Toni menukas, “bekas kamar Pak Ru.”


“Gak pa-pa bekas dia. Asal jangan bekas pengantin baru, hahaha ....,” ejek Jebe tergelak sambil berlalu.


Sementara ia menuju kamar Mala, “Hon,” membuka perlahan pintu mendorongnya ke dalam. “Tidur rupanya,” bergumam saat melihat Mala sudah terlelap lebih dulu.


Membersihkan diri di kamar mandi kemudian menyusul merangkak perlahan di atas kasur. Hingga bisa menatap intens wajah Mala yang begitu dekat.


“Thank you,” gumamnya. Menyelipkan sejumput surai yang menutupi pipi Mala ke belakang telinga. Mengusap pipi halus dan bersih tersebut dengan lembut. Lalu mendaratkan ciuman di kening dan pipi istrinya.


Ia ikut merebahkan tubuhnya di sisi Mala. Merengkuh dan mengucapkan, “Good night Nyonya Garuda.”


-


-


Sebagai informasi yang penasaran dengan mahar 100 ribu slot saham GL.


1 slot : 100 lembar


100 ribu slot : 10.000.000 lembar


Harga saham GL tercatat di pasar bursa saham Rp 4500 per lembar. Bisa dijumlahkan 🤩 (taipan Indonesia jadi wajar ya)


 


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


... ...


... ...


... ...


... ...


... ...


... ...