
...90. Persembahan Untuk Cinta...
Gemala
“Oke. Jadi cuma itu saja persyaratannya? Ada yang lain gak kira-kira, Bu? Biar saya siapkan sekalian.”
“O, oke. Baik. Saya mengerti. Terima kasih, Bu. Selamat siang.”
Baru saja sambungan telepon mati sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Toni : Mbak sore nanti janji temu dengan WO di Green cafe jam 17.00. Pak Ru dari kantor langsung ke sana.
Gemala : Ok. Thanks, Ton.
Kemarin setelah membicarakan dengan pihak keluarga di Canberra juga ibu di Yogya, mereka setuju dengan usul Garuda untuk melakukan resepsi pernikahan.
“Aku ingin memberitahukan pada dunia, bahwa Gemala adalah istri Garuda,” kata Ru di sela-sela teleconference ulang tahun papa kemarin.
“Tapi, apa ini tidak terburu-buru?” tanyanya. Ru meminta acara diselenggarakan minggu depan.
Pun, papa dan mama setuju saja. Begitu juga dengan ibu.
“Dengan kekuatan seorang Garuda, dalam 1 hari pun aku bisa melakukannya, Hon.”
“Issh ... ini serius.”
“Apa aku terlihat bercanda?” Ru menatapnya. “Awalnya aku ingin pernikahan seperti orang-orang. Merayakan kebahagiaan kita dengan mereka. Mengenalkan kamu ke publik. Tapi, aku tahu ... itu tidak mungkin dengan syarat yang diajukan papa waktu itu. Tapi aku janji, suatu hari meski aku harus menunggu itu kapan. Aku ingin mempersembahkan pernikahan buat istriku yang suatu saat bisa menjadi kenangan kita kelak. For the first and the last time ....”
Keharuan menyeruak. Ru benar-benar berusaha membahagiakannya. Kendati, dengan perlakuan selama ini saja baginya sudah membuatnya happy.
“Hon, aku ingin pernikahan kita diabadikan oleh semesta. Bahwa seorang Garuda memilih Gemala. Seorang Garuda sangat mencintai istrinya,”
“Only private wedding reception. 200 sampai 300 orang saja, mungkin. Biar lebih intim dan suasananya nyaman. Kalau Shah Jahan saja memberikan Taj Mahal untuk istrinya, kenapa hanya resepsi pernikahan aku tidak bisa?”
“Mas, tapi ... aku tidak punya waktu sebanyak itu. Aku staf baru juga belum punya cuti banyak. Aku—”
“Hei ... kamu tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu. Semua sudah dihandle oleh orang-orang kompeten. Kamu hanya tinggal datang, menyambut mereka. That’s it. Dan aku pastikan kamu tidak lelah.”
Garuda menawarkan konsep pernikahan private. Familiar and intimate. Dan akan dilaksanakan di vila H-island.
“Hello, jam pulang masih lama.” Dila rekan kerjanya sebagai staf analisis data masuk ke ruangan. Mencibirnya sebab menangkap sahabatnya sedang melamun. Sementara Desti tengah di luar kota.
“Gak melamun, lagi mikir aja,” sanggahnya.
Dila menghempaskan pantatnya di kursi sebelah. “Mikir apa? Sepertinya berat. Soal kerjaan atau?”
“Garuda ingin melakukan resepsi pernikahan weekend ini. Tapi ... you know, kita gak punya waktu banyak. Mana aku staf baru ... kalau izin lagi, pasti yang lain merasa—”
“Mala,” potong Dila. “Kita punya waktu sabtu minggu. By the way, rencana resepsi kapan?”
“Sabtu sore.”
“Ya, ada waktu dong. Pasti kalian pakai wedding organizer, kan? Tinggal terima beres. Mikir berat di mana?” tukas Dila.
“Ck, kamu kayak gak tahu saja,” protesnya. Memang benar, pakai WO yang mempermudah segalanya. Tapi, kan tetap saja ia harus terjun langsung melihat hasilnya. Memantau, me ....
Dila terkekeh, “I believe your husband can do that. Seperti cerita Bodowoso yang membangunkan candi untuk Roro Jongrang demi mempersunting menjadikan permaisurinya. Ada ... kadabra ... suuuuuttt ... candi dalam semalam terbangun dalam sekejap. Sayangnya Roro Jongrang punya cara untuk menolak sang raja yang terkenal kejam itu dengan bermain sedikit licik. Cerita rakyat yang selalu kuingat dari mama sewaktu kecil.”
“Dan karena cinta bertepuk sebelah tangan, mengetahui telah dicurangi akhirnya sang raja marah, lalu mengutuk sang calon istri jadi patung,” sambungnya. “Sayangnya, Garuda bukan Bondowoso,” pungkasnya dengan mimik mengejek sambil mengulum bibir—menahan senyum.
“Dan kamu Gemala bukan Roro Jongrang,” timpal Dilamurat.
Mereka lalu tergelak bersama.
Sore harinya ia diantar San menuju kafe tempat janji temu dengan wedding organizer. Sesaat lalu ia menghubungi Garuda yang juga tengah di jalan. Kafe yang sengaja dipilih karena letaknya di tengah-tengah antara kantor tempatnya bekerja dengan tempat laki-laki itu.
Sampai di sana ternyata Ru tiba lebih dahulu. Menyambutnya dengan membukakan pintu.
"Cape?" Ru mengusap kepalanya. Mencium di sana setelahnya. Ia menggeleng seraya mengulas senyum.
“Pihak WO sudah menunggu 10 menit yang lalu.” Toni berjalan memimpin di depan. Ia digandeng Ru masuk ke dalam ruangan private.
Tiga orang menyambut mereka. Dua di antaranya sebagai wedding organizer. Sementara satu orang adalah desainer wedding dress dari salah satu butik terkenal di ibukota.
Pembicaraan itu berlangsung selama 1 jam ke depan. Dan langsung disepakati konsep yang akan dibawa. Yaitu perpaduan rustic and beach.
Wedding dress ia memilih tema tule beach sore harinya. Dengan midi lenght. Sehingga lebih nyaman dipakai dan bisa bergerak bebas menghampiri setiap tamu undangan. Sementara pada malam hari bertema satin beach dengan kerah-V. Yang awalnya mendapat gelengan kepala Garuda sebab belahan terlalu ke bawah. Sang desainer akhirnya mengoreksi. Meninggikan kerah-V sesuai permintaan laki-laki itu. Sedangkan warna yang digunakan tetap pearl white.
“Aku boleh undang teman-teman kantor sama teman aku gak, Mas?” tanyanya ketika mobil yang membawa mereka menuju apartemen.
“Tentu,” sahut Ru. “Ton, kapan undangan bisa disebar?” tanyanya pada Toni yang duduk di depan.
“Besok sudah siap, Pak.”
...***...
Garuda
Pagi tadi kala pertemuan rutin bulanan petinggi di Torrid group, Atat kembali tidak hadir. Diwakilkan oleh Direktur SGC. Tak ada pemberitahuan. Pun sang wakil hanya menyampaikan bahwa atasannya sedang ada urusan urgen, sehingga memintanya untuk mewakili.
“Aku sudah bicara padanya,” Maleo menyergah. Seusai meeting dan para peserta telah meninggalkan ruangan.
“Bahkan, aku juga telah menyelidiki kenapa dia banyak berubah,” imbuh kakaknya tersebut.
Sebenarnya ia sendiri juga telah mengirim orang-orang kepercayaannya untuk menyelidiki. Dan telah mendapatkan laporannya.
“Dan hasilnya?”
Maleo berdecak, “Kenapa lo pakai tanya? Lo sendiri juga sudah tahu!” serunya.
“Dia anggap gue anak ingusan. Penyebab semua masalah yang menimpa dia setelah papi tiada.” Sebenarnya Atat sudah keterlaluan. Mencampuradukkan permasalahan keluarga dengan perusahaan. Tapi ia masih menganggap, Atat adalah kakak. Yang masih harus ia hormati. Membiarkan semua meski hati kecilnya berontak tak terima.
“Gue sudah peringatkan dia.” Maleo mengusap wajahnya. “Dan lo pasti sudah dengar, bahwa Salim divonis 3 tahun penjara atas kasusnya.”
Ia terdiam.
“Salim yang mendoktrin Atat. Mempengaruhi untuk menyerang lo. Dan ... sorry, Ru. Atas sikap Atat ke lo. Sebagai kakak, gue malu. Tapi,” Maleo mengangkat bahu. “Gue sudah mengingatkannya. Jika dia sudah tidak peduli, gue tidak bisa memaksa,” tandas Maleo lalu berlalu pergi. Setelah menepuk pundaknya 2 kali.
Embusan napasnya berat. Ia sudah memerintahkan tim penasihat hukum TG untuk mengurus isu moratorium Star Gold and Copper. Menyelesaikan dengan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai prosedur dan undang-undang. Melepaskan para pedemo yang ditangkap. Bahkan berharap penyelesaian kasus tersebut berjalan damai.
Ia ingin semua selesai dalam bulan ini. Sesegera mungkin.
“Halo, Max ... bagaimana?” tanyanya di telepon. Max terdengar menjelaskan. Ia yang menelinga dengan serius mendadak air mukanya berubah.
“Siapa?” tanya Mala yang datang menghampirinya. Membawakan minuman jus buah delima dan menyimpannya di atas meja balkon.
“Max,” sahutnya.
Mala tersenyum dan masuk kembali ke kamar.
Gemala keluar dari kamar mandi. Sudah berganti pakaian tidur.
Ia mengerutkan kening, “Kenapa harus pakai kimono lagi?” protesnya. Kebiasaan Gemala menggunakan baju tidur tertutup sedikit demi sedikit berubah. Ia yang meminta. Bahkan ia sengaja memesankan puluhan berbagai model lingerie. Agar istrinya setiap malam memakainya.
“Aku belum mau tidur,” kilah Gemala sambil mengetatkan tali kimononya. Mengeluarkan buku kecil serta bolpoin dari dalam tas.
“Terus mau ngapain?” desaknya menghampiri Mala yang duduk di sofa.
“Mau ngelist temen-temen aku yang mau diundang nanti,”
Ia berdecak, menghempaskan tubuhnya di sisi Mala yang duduk.
“Dilamurat, Desti, Mely, Prita sama suaminya, Davin,”
“Wait, Hon. Siapa?”
Mala mengulangi nama-nama temannya yang telah dilist. “Dilamurat, Desti, Mely, Prita sama suaminya, Davin,”
Ia menyergah, “Yang terakhir suruh datang bawa pasangan.”
Mala melipat bibir, menahan senyum yang spontan hadir.
“Malah mengejek,” ia merebahkan kepalanya di paha istrinya. Memainkan tali kimono.
“Lagian kenapa harus bawa pasangan?”
“Di undangan begitu. Datang bawa pasangan masing-masing. Jangan sampai nanti sampai wedding venue justru melirik mempelai wanita,” tukasnya.
Tak tahan lagi Mala tergelak. “Lucu tahu!” mencubit hidungnya gemas.
“Honey, seriously ... not funny at all.”
“Iya, iya ... aku juga serius.” Gemala kembali melanjutkan mencoretkan tinta ke atas lembaran buku. “Nayla dan suaminya kira-kira datang gak ya,” gumamnya.
“Pasti. Kemarin mereka nikah, kita datang.”
“Masalahnya, belum lama aku telepon dia. Nayla lagi mabok,” sanggah Mala.
“Mabok?” dahinya berkerut.
Gemala menunduk menatapnya. Lalu mengangguk, “Lagi hamil 8 minggu, lagian mungkin masih rentan juga bepergian dengan pesawat. Padahal kangen banget sama dia.”
Tangannya berhasil melepas tali kimono lalu menyibak kain tersebut. Mengusap perut Mala dan mendaratkan kecupan-kecupan di sana. “Terus siapa lagi?” tanyanya seraya mengusap pinggul bagian belakang. Ia sengaja menempelkan wajahnya di sana. Membuat Mala sesekali menggeliat—menahan geli—dan menahan kepalanya.
“Em, Mbak Lisa manajer HRD sama Pak Prayoga. Itu saja sih, kayaknya. Paling nanti tambahan dari keluarga papa dan mama.”
“Kasih daftarnya sama Toni. Biar dia yang serahkan pada tim WO,” tukasnya.
“Benita, diundang gak?” tanya Mala.
Ia terdiam sesaat, “Gak usah, lagian aku gak kenal. Ke kamu juga kayaknya gak respek gitu. Dia gak aneh-aneh sama kamu, ‘kan?” ia memastikan sebab pertemuan pertama dengan Benita yang mengaku adik kelasnya itu terkesan buruk. Bahkan ia langsung bisa menyimpulkan ketika mendengar penuturannya yang jelas-jelas menolak Mala untuk hadir di ruangan meeting.
Mala tersenyum samar. Menyimpan buku dan bolpoin di atas meja sebelah sofa.
“Sekarang kita daftar yang lain,” sambungnya.
Istrinya kembali meraih buku dan bolpoin yang tadi diletakkan di meja samping.
“Tidak usah ditulis, Hon.”
Tangan Mala yang menggenggam buku menggantung di udara.
“Diingat saja.”
Hah! Maksudnya. Menyimpan buku kembali ke tempat semula.
Ia melepas kimono Mala. Menampilkan pakaian tipis dan menerawang berisi ornamen di dalamnya yang menggeliatkan sisi kelakiannya. Dengan tali spageti. Berwarna merah menyala. Sangat kontras dengan kulit Mala yang putih dan bersih tanpa cela.
Warna yang disukanya. Yang membuatnya tertantang untuk melakukan peperangan. Perang yang menyenangkan tentu saja. Bagaimana ia harus punya strategi jitu agar lawan--dalam hal ini Mala--menyerah. Pada akhirnya bergabung menjadi sekutu. Sudut bibirnya tertarik ke atas membayangkannya.
“Mas,”
Ia beranjak dari pangkuan Mala. “Daftarnya semua ada di sini,” menatap Mala dengan sudut bibir melengkung. Mengajak Mala untuk lagi dan lagi mengayuh nikmatnya penyatuan. Berharap akan sosok mungil yang secepatnya hadir di perut Mala. Membayangkan itu semua ia semakin terpacu.
Bahkan lenguhan dan sambutan Mala yang unpredictable selalu membuatnya ingin terus membahagiakannya. Sekecil apa pun, meski sekedar mengelap peluh yang luruh di sela-sela lehernya. Atau membantu Mala untuk membersihkan diri setelah apa yang mereka lakukan membuat Mala kewalahan dan kelelahan.
“Thanks, Honey.”
-
Datang ya teman-teman ke resepsi Garuda & Gemala di H-island, Kepulauan Seribu 🤗 Penjemputan di Pelabuhan Marina dan Pantai Mutiara 😁