
...13. Sebelik Sumpah...
Gemala
Malam telah larut. Sudah dua kali ia ke kamar Ru untuk sekedar melihat kondisi laki-laki itu. Namun keadaannya masih sama. Garu masih tidur.
Ketiga kalinya ia kembali ke sana. Toni yang membukakan pintu. Tampak pintu balkon terbuka. Toni menunduk lalu pergi berlalu sembari menutup pintu.
Tinggallah mereka berdua.
Perlahan ia melangkah ke arah balkon. Menebak dan merancang kalimat apa yang akan ia katakan. Ia memang tidak tahu permasalahan apa yang sedang dihadapi laki-laki ini. Tapi terkaannya tentang keluarga. Tepatnya ibu kandung Garu.
Pandangan Garu lurus. Menatap gagahnya gunung Merapi di malam hari yang hanya tampak kerlap kerlip di beberapa titik lampu penerangan. Tangan kanannya menggenggam sekaleng bir. Sementara tangan lain bersembunyi di saku celananya. Tak ada pergerakan lain. Kecuali saat dia meneguk minuman tersebut. Tapi itu hanya 2 tegak. Selebihnya diam. Cukup lama.
Ia pun berdiri terpaku. Ragu untuk memulai memecah keheningan. Hingga Garu berbalik badan, setengah terkejut mendapati dirinya yang berada di belakangnya.
“Ngapain kamu di sini?” tanya laki-laki itu ketus. Lalu menaruh kaleng tersebut di atas meja. Dengan sentakan. Air dalam kemasan tampak sebagian keluar muncrat.
Garu melewatinya. Menuju mini bar. Meraih sebotol minuman beralkohol.
Ia menyergah, “Kamu mau mabuk lagi?” Langkahnya ikut mendekat.
“Stop! Jangan campuri urusanku. Pergilah dari sini.”
Ia tak peduli. Tetap mendekat. “Apa kamu bilang? Jangan campuri urusanku?!” keningnya melipat. Setelahnya tertawa mengejek.
“How come? Elo yang bawa gue ke sini. Elo yang nglibatin gue menemui orang yang katanya ibu kandung, lo. Terus lo bilang jangan campuri urusan lo?!”
Ia menggeleng .... “Lo, mabuk!” tandasnya kesal. “Dan, lo perlu mabuk lagi biar lo bisa bermimpi.”
Garu tak menggubrisnya ia membuka botol minuman itu, menegaknya langsung.
Ia menggeleng lagi. “Lo, pandai menjawab kisah orang lain. Tapi sayangnya lo lupa akan kisah lo, sendiri. Menyedihkan,” ejeknya.
Malas harus berdebat dengan orang yang tengah mabuk. Tidak ada gunanya. Ia berniat untuk pergi. Tapi begitu melewati mini bar, lengannya dicekal laki-laki itu.
Pinggangnya dicengkeram kuat. Mata Garu menatapnya nyalang. “Tahu apa lo tentang kisah gue?”
Ia berusaha menghindar. Tapi tangan laki-laki itu semakin menekan dan mendorongnya.
Dadanya bergemuruh. Garu terus mendorongnya. Dan ia terdesak mundur.
“Lo, gak tahu apa-apa tentang gue. Jangan sok tahu.”
Nahas tumitnya terpentok ranjang. Garu menarik tubuhnya. Aroma alkohol menguar dari mulut laki-laki itu.
“Lo, mau a-apa?” wajah Garu hanya sejengkal saja dari wajahnya.
Sudut bibir laki-laki itu terangkat. Semakin menepis jarak keduanya.
“Hahaha ....” Garu tertawa renyah, seraya melepaskan dan menjauhinya. Kembali ke balkon.
“Semua wanita sama.” Pungkas laki-laki itu
Sementara ia menenangkan degupan jantungnya yang melonjak. Bergegas keluar. Tidak peduli lagi apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu.
...***...
Garuda
Esok paginya ia sengaja mengajak Gemala pergi. Bahkan di saat matahari belum keluar dari peraduannya. Gadis itu menggerutu.
Ternyata susah sekali membangunkan seorang Gemala. Berapa kali ia harus menekan bel pintu kamarnya. Ditambah meneleponnya juga berulang kali. Dia tidur apa pingsan sih? Begitu nada dering ke-6, suara gadis itu menyahut.
“Ya,” sahut Gemala dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“Gue di depan kamar, lo.” Balasnya.
Tak berapa lama gadis itu membukakan pintu, “Lo, mau ngapain?”
“Gue mau ngajak, lo pergi.”
“Bukan urusan gue.”
“Ini menjadi urusan gue, karena semua biaya selama lo di sini gue yang bayar,”
Gadis itu berdecak, berbalik badan. Urung kembali ke ranjang.
“Oke. Kalau cuma soal biaya, nanti gue ganti. Beres. Tidak ada urusan lagi.” Gemala merangkak ke atas kasur, masuk kembali ke dalam selimut, “kalau sudah selesai, silakan tutup pintunya kembali.” Gadis itu memejamkan mata.
Ia mendekati ranjang, lalu menyibak selimut Mala. “Bukan hanya soal biaya. Tapi lo, tanggung jawab gue. Sekarang ikut gue!”
Gadis itu awalnya bergeming.
“Pokoknya lo, harus ikut gue! Gue tunggu 5 menit. Atau—”
Gemala menyergah, “atau apa?” membuka matanya.
Ia menang. Tersenyum samar, “Gue tunggu di sini sampai lo bangun.” Menuju mini bar mengambil camilan dan minuman. Lalu meraih remote TV. Menyalakannya dengan volume besar.
Sepuluh menit kemudian. Akhirnya gadis itu tidak tahan, menyerah juga, “Oke, oke. Gue ikut lo. Nyebelin banget sih,” gerutunya sambil beranjak dan melesat ke kamar mandi.
Ia menyeringai. Berhasil.
Selama perjalanan mereka lebih banyak diam. Gadis yang duduk di sebelahnya bahkan mungkin tertidur kembali.
Tiba di tempat yang tuju. Ia memarkirkan kendaraannya.
“Hei, bangun. Kita sudah sampai.” Tidak ada sahutan dan pergerakan dari gadis itu.
Ia mendesah, “Tidur lagi.” Gampang sekali tidur pikirnya.
“Mala,” ia melepas sabuk pengamannya. Tubuhnya condong hendak membangunkan. Tapi, justru ia menatap wajah Gemala. Beberapa detik. Sama sekali tidak ada pergerakan dari gadis itu.
Tangannya terulur mendekat ke wajah Mala, 5 senti lagi. Namun, gadis itu bergerak perlahan. Dengan cepat ia urungkan tangannya.
“Sudah sampai?” tanya Mala. Mengerjapkan matanya.
“Kita turun,” sahutnya. Terlebih dahulu meninggalkan gadis itu.
“Kenapa kita ke sini?” tanya Mala mengikutinya di belakang.
Suara deburan ombak bergulung-gulung. Bergemuruh. Menghempas karang dan apa saja yang menghalanginya.
“Gue pengen ke sini,” ujarnya.
“Lo, suka pantai?”
“Hem,” mereka menyusuri pantai dengan bertelanjang kaki.
Seekor kepiting berjalan ke arah mereka, patah-patah keluar dari sapuan ombak. Gadis itu mengambilnya, “Kasihan,” lalu melepasnya kembali, “go ... go, fighting!” teriaknya sambil bertepuk tangan.
“Itu bagian kehidupan. Tidak perlu dikasihani,” pandangannya menengadah. Cahaya kemerahan mulai bersemburat menghias cakrawala.
“Tiap yang hidup pasti akan mengalaminya. Yang kuat dan bertahan adalah pemenangnya.”
“Makanya kita harus menolongnya. Agar mereka bisa melanjutkan hidup.” Gemala ikut mendongak. Lalu merentangkan tangannya. “Huh ... beautiful, amazing ....”
Pelan tapi pasti bola raksasa dunia itu muncul dari ufuk timur. Sungguh, lukisan alam yang sangat luar biasa.
Ia menelengkan kepalanya ke arah Gemala. “Kamu terlalu lemah. Cepat mengasihi orang. Dalam dunia bisnis itu tidak akan bertahan. Bahkan akan hancur sebelum waktunya.”
“Pikiran kamu bisnis melulu. Ada hal sederhana yang tidak bisa disandingkan dengan bisnis. Pantesan kamu gak punya pasangan. Mungkin sosok pendampingmu kelak juga harus menguntungkan. Atau minimal menjadi rekan bisnis,” gadis itu mencibir. Lalu berjalan.
“Hei, siapa bilang?” ia menyusul gadis itu. “Banyak gadis-gadis yang ngejar gue. Gue saja yang malas.”
“Karena mereka tidak menguntungkan. Betul, kan tebakanku?”
Ia berdecak. Meski sedikit benar. Tapi alasan utamanya bukan itu.
“Gue heran. Lo, pengusaha sukses. Masa depan lo terjamin. Siapa sih yang tidak tahu Torrid Group? Apa lagi, lo salah satu anaknya. Tapi sayang, kehidupan pribadinya menyedihkan.”
“Mak-maksud, lo?” ia menarik lengan Gemala. Gadis itu berputar menghadapnya.
Mata mereka bertumbuk sesaat. Mala mengangkat bahu lalu membuang muka.
“Lo, gak tahu apa-apa. Jadi jangan sok tahu!” dengusnya memperingati gadis itu.
Gemala mendongak, menatapnya penuh. “Gue tahu. Karena lo sudah libatin gue secara tidak langsung. Jadi, gue terpaksa tahu. Ibu kandung lo, seorang dokter di rumah sakit. Pernikahan dengan ayah lo, hanya berjalan 7 tahun. Betul, kan?”
Tangannya sudah mengepal kuat di bawah sana. Rahangnya mengetat.
“Dan ibu lo ... ibu lo,”
Ia menyergap bibir gadis itu. Terlalu lancang bagi Mala mengungkit masa lalu keluarganya. Tidak ada yang berani. Bahkan media mana pun. Tapi gadis ini ....
...***...
Gemala
Sudah keterlaluan sikap cowok nasty itu. Pemaksa. Bahkan memutarbalikkan fakta. Siapa sih yang sebenarnya melibatkan dirinya dalam keluarga pebisnis itu?
Ia tak pernah menyangka bahkan akan menemukan laki-laki itu di sebuah tempat yang jauh dari kata ‘hingar bingar’ metropolitan. Aneh.
Kekesalannya tidak hanya berhenti di situ. Pagi ini laki-laki itu mengajaknya ke pantai. Di waktu saat matahari saja belum menggeliat menyapa.
Justru informasi mengenai kehidupan Torrid diperolehnya dari media luar negeri. Yang mengatakan bahwa Torrid punya 2 istri. Namun pernikahannya dengan istri kedua hanya berlangsung selama 7 tahun. Dan menghasilkan anak laki-laki. Lalu, media itu hanya menyebutkan bahwa mantan istri Torrid seorang dokter. Itu saja.
Lantas kehidupan anak-anak Torrid juga tertutup. Mereka muncul di berbagai media karena berhubungan dengan perusahaannya.
Tapi pagi ini. Ia dikejutkan lagi dengan sikap Garu yang ... ugh, bibirnya disergap begitu saja. Kenapa laki-laki ini? Apa yang dilakukan laki-laki ini? Menyebalkan.
“Sekali lagi kamu menyebut namanya, aku tidak akan segan berbuat lebih dari ini!” ancam Ru kemudian meninggalkannya.
Ia limbung seraya memegangi bibirnya. Bagaimana bisa laki-laki nasty itu menciumnya? Oh ... sialan!
Setelah kejadian mereka di pantai. Tidak ada lagi pertemuan lanjutan. Pun, laki-laki itu tidak pernah menghubunginya.
Hingga tiba waktunya ia harus berpisah meninggalkan Ayik Itam.
“Bebet, terima kasih.” Nyalin memberikan sesuatu kepadanya. Saat ia berpamitan pada anak-anak yang diajarnya sore itu.
“Cantik. Apa namanya ini?”
“Gelang sebelik sumpah,”
“Gelang sebelik sumpah?” ia mengernyit.
Nyalin mengangguk sambil tersenyum. “Gelang ini akan melindungi dari orang-orang yang menyumpahi jahat Bebet. Gelang Penolak bala.”
Ia menatap Nyalin. “Terima kasih, Nyalin.” Ia merengkuh gadis remaja itu. “Terus belajar, ya. Aku juga ada hadiah buat kamu,” ia mengurai dekapannya. Lalu merogoh sesuatu dalam tas punggungnya.
“Ini untuk kamu,” ia menyodorkan sebuah buku pada Nyalin.
“Kak,” panggil Bekasuh. “Sayo nak titip juga untuk Pak Garu,” Bekasuh memberikan gelang yang sama padanya.
“Kenapa tidak diberikan langsung pada orangnya?” tanyanya. Lagi pula ia tidak ingin berurusan lagi dengan laki-laki itu. Sumpah demi apa pun, ia tidak sudi bertemu dengan laki-laki itu lagi. Seraya menggenggam erat gelang sebelik sumpah dari Bekasuh.
“Pak Garu katanya tidak lagi tinggal di sini. Tapi di Jakarta.”
Hah? Berita macam apa ini? Sudah tidak tinggal di perkebunan, maksudnya?
“Iyo, kemarin Pak Garu sempat ke sini. Berpamitan sama kami. Katanya dia akan tinggal di Jakarta.”
Rasa kesal terhadap laki-laki itu mencuat kembali. Padahal sudah lama mereka tidak bertemu. Tidak berurusan lagi. Tapi, mendengar laki-laki itu tidak ada lagi di sini, sepertinya ia merasa kesal. Kenapa dia tidak pamit, minimal memberitahu padanya. Sedangkan ini?
Ah, harusnya bukannya ia senang? Artinya ia tidak akan berurusan dengan cowok nasty itu lagi.
Ia mengembuskan napas perlahan. Ketika panggilan untuk para penumpang pesawat tujuan Jakarta telah menggema. Rasanya baru kemarin ia datang kemari. Tapi hari ini ia harus meninggalkan kota yang banyak memberikan pengalaman dan pengetahuan tentang hidup.
Sekelebat bayangan Ru menyelinap seiring langkahnya meninggalkan ruang tunggu.
“Kalo jalan pake mata!” saat mereka bertabrakan di ruang tunggu bandara.
“Ini kelapa sawit bukan kelapa.” Perdebatan yang lucu pikirnya.
“Selamat datang dengan penerbangan kami,” sapa awak kabin yang menyambutnya di depan pintu dengan ramah.
Ia membalasnya dengan senyuman. Lalu mencari tempat duduknya.
Bussines class.
Begitu duduk ia ditawari welcome drink. Ia memilih mixed juice. Lalu mengatur tempat duduknya. Menyandar. Dan mengatur posisi footrest.
Sampai ketemu lagi Jambi, batinnya berucap. Ketika pesawat mulai melaju di runway.
Sementara ia tak menyadari penumpang di sebelahnya. Ia asyik dengan ipod-nya.
Setengah jam mengudara. Sajian makanan pun datang. Sepiring omelet dengan brownies dan buah pisang sebagai desert. Tak menunggu lama, ia mulai memotong omelet tersebut dan siap dimasukkan ke dalam mulut.
“Maaf, Mbak. Pesanan makanan itu untuk Bapak sebelah. Untuk pesanan Mbaknya belum. Karena Bapak ini telah memesan duluan,” pramugari itu menunjuk penumpang sebelahnya. Mau tak mau ia ikut menoleh ke sampingnya.
“Mbaknya mau pesan apa?” tanya pramugari itu.
Ia masih menatap penumpang sebelah tanpa berkedip, “Kamu?”
Penumpang di sebelahnya melipat majalah. Menyimpannya di kantong belakang kursi. Lalu tanpa berkata mengambil begitu saja piring yang ada di mejanya.
“Mbaknya mau pesan apa?” tanya pramugari sekali lagi.
“Hah, apa?” ia mendongak pada awak kabin itu.
Pramugari itu tersenyum kecut.
“Kami memberikan pilihan menu nasi liwet dan omelet.” Tukas pramugari tersebut.
“Saya, saya nasi liwet.” Jawabnya asal.
“Kamu kenapa di sini?” tanyanya. Setelah pramugari itu berlalu ke penumpang lainnya.
“Ini pesawat komersial, jadi siapa saja bebas di sini,” jawab acuh penumpang itu yang tak lain Garuda. Sembari mengunyah makanan tanpa sedikit pun menoleh kepadanya.
Ia mendesahkan napas.
“That’s right. Lo, bebas mau ke mana saja. Mau sama siapa, naik apa? Tapi lo, gak bisa seenaknya sama gue!” geramnya sebal.
“Kenapa, lo kehilangan? Kangen? Atau ....” Ru meliriknya sesaat lalu kembali sibuk menghabiskan makanannya.
“No way! Kamu—” balasnya.
“Silakan, selamat menikmati.” Ucap pramugari yang datang membawa pesanan memotong ucapannya.
“Orang lapar itu mudah marah. Sebaiknya lo makan. Habis itu boleh marah,” goda Ru.
Ia tak menggubris laki-laki itu. Menghabiskan makanan dengan cepat. Hingga ia tersedak. Ru, menawarkan segelas air padanya, “Kalau makan jangan terburu-buru. Masih ada waktu untuk kita berdua sebelum mendarat.”
Batinnya memekik, “Maksudnya apa?” Ia diam tak membalasnya. Hanya melirik sekilas. Memasang kembali headset yang tersambung dengan ipod-nya.
Sementara Ru menyalakan ipad-nya.
Keheningan keduanya menjeda. Hingga pilot memberitahukan bahwa sesaat lagi pesawat akan mendarat di tempat tujuan.
“Ini,” ia mengangsurkan gelang sebelik sumpah pada Garu. “Titipan Bekasuh buat kamu.”
Kening laki-laki itu sedikit berlipat.
Ia memaksa tangan Ru untuk menerimanya, “Kalau dikasih orang itu diterima. Sebagai bentuk penghargaan.” cibirnya.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏