If Only You

If Only You
44. Pertemuan Jelang New Year



...44. Pertemuan Jelang New Year...


Garuda


Ini pertemuan pertama dengan sang adik. Maka dari itu ia mengajak Ganjar untuk keluar sebentar. Paling tidak mengobrol basa basi berdua. Atau saling mendalami satu dengan yang lain. Sebelum mereka akan terpisah kembali. Dan tidak tahu kapan akan berjumpa lagi.


Mereka menuju ke sebuah kafe yang masih berada dalam lingkungan rumah sakit.


Memilih tempat di sudut yang agak sepi. Memesan kopi.


Sementara waktu tidak ada yang memulai berbicara. Sibuk dengan pemikiran masing-masing karenanya.


“Apa kita akan seperti ini?” ucapnya memecah keheningan. “Darah yang mengalir di tubuh kita sama. Tapi kita seperti orang lain,” imbuhnya.


“Karena ego,”


“Maksudmu?” alisnya berkerut.


“Tidak perlu diperjelas lagi,”


“Owh ... jadi itu yang membuatmu membenciku?”


“Bukan benci!”


“Lantas?”


Ganjar terdiam tak menjawab. Tapi ia bisa menebak.


Ia berpaling dan mengembuskan napas, “Aku terima kemarahanmu. Itu wajar dan memang pantas. Kamu boleh meluapkannya padaku.”


Ganjar berdecak, “Tidak segampang itu!”


Ia menukas, “Seandainya saja aku tahu cerita sebenarnya dari dahulu, mungkin kita tidak akan seperti ini.” Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya seiring punggung yang menyandar ke belakang. “Takdir seolah mempermainkan,” simpulnya berujar.


Ganjar tertawa sinis. Lalu berucap, “Jangan salahkan takdir!” cibirnya.


“Ya ... ya aku yang salah sepenuhnya,” sudut bibirnya terangkat sebelah.


“Jangan juga salahkan dirimu sendiri.”


Ia menatap adiknya. Dahinya berkerut samar.


“Hari ini aku seperti di kehidupan baru. Menemukan dan bertemu dengan kakakku yang hilang puluhan tahun lalu. Padahal tiap waktu aku mendengar ceritanya. Merasakan kehadirannya. Tapi tidak pernah bertemu sosoknya,” tangkas Ganjar sinis.


“Jadi aku harus bagaimana?”


Jeda sejenak. Ia menatap gelas kopi yang tinggal seperempatnya.


“Jangan pernah tinggalkan ibu. Dan ... tentunya aku,”


Ia berdecak. Detik berikutnya senyumnya terkembang. Lalu meninju bahu sang adik. Cairan kristal itu bahkan telah memenuhi pelupuk matanya. “Thanks, Brother!”


Lambat laun obrolan itu saling sahut menyahut mengikis bentang yang tak kasat mata.


Ia menepuk pundak Ganjar. “Terima kasih telah menjaga ibu selama ini,”


Sudut bibir adiknya tertarik ke atas samar.


Hari itu ia mengantarkan Ganjar ke bandara. Yang akan melanjutkan perjalanan ke negeri sakura.


“Kabari aku kalau sudah sampai di sana,” pesannya.


Ganjar mengangguk tanpa kata. Keduanya sempat berdekapan. Lalu perlahan langkahnya menjauh.


Ia masih bisa melihat adiknya itu berhenti, menerima telepon. Entah siapa? Yang jelas cukup lama.


...***...


Ganjar


“Kashimakori-mashita, (baik, saya mengerti)” sahutnya manakala Tuan Hiro menelepon, menyuruhnya untuk melanjutkan kerja sama dengan perusahaan asuransi Richard.


“Omatase itashi mashita ....(maaf sudah membuat Anda menunggu)” Tuan Hiro terdengar tergelak di ujung sana. Lalu memintanya untuk segera menemuinya jika sudah tiba di Jepang. Beliau akan membicarakan kerja sama kelanjutan dengan perusahaan otomotif yang bermukim di Sydney.


Awalnya memang ia hanya izin beberapa hari untuk pulang sebentar ke Indonesia beralasan menemui ibunya. Namun ternyata ia menambah hari. Hal itu membuatnya tidak enak hati. Sebab Tuan Hiro pasti menunggunya. Apalagi ia belum melaporkan hasil pertemuannya dengan perusahaan Richard secara langsung dengan atasannya tersebut.


Tuan Hiro berpesan untuk berhati-hati di perjalanan.


“Kashimakori-mashita. Arigatoo gozai masu, (Baik. Terima kasih)”


Percakapannya dengan Tuan Hiro berakhir. Memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket. Lalu berbalik untuk memastikan Garuda sudah pergi. Nyatanya laki-laki yang menyandang status kakaknya itu masih berdiri dan melambaikan tangannya.


Ia menunduk sejenak. Kemudian memutar tumit dan melangkah cepat.


Penerbangannya akan memakan waktu sekitar 6 jam 35 menit ke depan. Dan sekarang pesawat yang membawanya telah mengudara di ketinggian 36 ribu kaki.


Sayang, sedari tadi matanya nyalang. Padahal tubuhnya lelah. Pikirannya pun ... gundah.


Gundah?


Entahlah.


Mengetahui kenyataan pacar Garuda yang tak lain Gemala, ada sejumput rasa tak rela dan ... tak menyangka. Ia menyapu wajahnya.


Kini ia harus memupus perasaan tertarik terhadap gadis itu. Gadis yang bisa mengalihkan perhatiannya dari ... oh my god. Ia menyapu wajahnya lagi.


Nasib percintaannya sepertinya memang belum mau berpihak. Menghadapi kenyataan 2 kali gagal sebelum berperang, mampu menciutkan keinginannya untuk memulai membangun perasaan terhadap lawan jenis. Lagi.


...***...


Gemala


Obrolan yang menyenangkan dengan ibu dan papinya Garuda membawa dirinya tak sadar waktu, hingga Ru terlihat sudah kembali. Setelah mengantarkan Ganjar ke bandara.


Menyulam senyum ketika masuk. Meciptakan getaran aneh yang menyelusup dalam sanubarinya. Apalagi air muka Ru terlihat lebih bersinar dari sebelumnya. Laki-laki itu kemudian mendudukkan diri di sebelahnya.


Mereka kembali melanjutkan obrolan hingga malam kian merangkak. Ia dan Rahayu pamit pulang ke apartemen.


Esok paginya pesawat yang hanya membawa penumpang 3 orang itu mendarat di bandara Halim Perdana Kusuma. Ia dan Mala turun sementara Rahayu melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.


“Ru, aku janjian sama teman jam 10," ucapnya ketika Garuda mengantarkannya hingga depan pintu kamar hotel.


Laki-laki itu mengangguk. “Nanti malam aku jemput. Istirahatlah.” Mengusap kepalanya lalu berbalik dan menghilang di pertigaan lorong.


Masih ada waktu pikirnya. Ia melakukan panggilan telepon ke Gayatri. Tak lama berubah menjadi video call.


“Lo, lagi di mana, Mal?” Kakaknya itu tampak tidur santai di lounger.


“Aku di Jakarta.”


Gayatri berteriak tak percaya, “What!! Lo, di Jakarta tapi gak pulang ke Surabaya? Gila lo. Mau dibilang anak durhaka nih. Padahal kami semua mengkhawatirkan. Kirain lo, masih di Melbourne.”


Ia terkekeh pelan, “Iya. Bener-benar di luar planning. Sorry, Kak.”


Gayatri menggeleng kesal, “Lo, ngapain di Jakarta? Mending lo datang ke Bali.”


“Aku,”


“Gue bisa tebak. Lo,” mata Gayatri memicing selidik.


Ia mengangguk.


“Are you crazy! Demi dia?” Gayatri kembali menggeleng—tak percaya.


“Jadi lo, mau ngerayaain new year sama dia?” tebak kakaknya lagi.


Dan ia kembali mengangguk.


Gayatri berdecak-decak. Ia memang lebih terbuka dengan kakaknya nomor 2 tersebut. Kebersamaan mereka selama di Melbourne tak pelak membuat keduanya memiliki bounding kuat. Apalagi Gayatri harus menjaganya. Menjadi orang tua pengganti selama mama-papa di Surabaya. Meski nyablak, suka berbicara semaunya dan ....


Suara bel kamar membuatnya menelengkan kepala. “Kak, nanti dilanjut lagi. Sepertinya temanku sudah datang. Bye, Kak. Salam buat semua. Miss you ....” Ia memutuskan percakapan itu sebelah pihak. Padahal Gayatri di sana tampak kesal.


Ia terburu membuka pintu. Terlihat orang yang dinantinya tersenyum lebar dan merentangkan tangan.


“Mely,”


“Mal,”


Teriakan keduanya menggema di lorong kamar.


Mereka saling berpelukan erat di ambang pintu. Cukup lama. Menebus rindu yang entah sudah berapa tahun tak bertemu.


“Gila ... gila! Gue gak nyangka kita bisa ketemu lagi,” Mely menyergah setelah pelukan mereka terurai.


"Iya, gue juga gak nyangka," ia menggiring Mely untuk duduk di sofa. Tapi sahabat SMA-nya itu lebih memilih duduk di tepian kasur.


Dengan cepat ia menutup pintu kamar. Menuju mini bar, “Lo, mau minum apa?”


“Apa aja deh,” sahut Mely. “Davin gak bisa ke sini. Titip salam buat, lo.”


Ia menyodorkan minuman kaleng pada Mely. Ikut duduk bersila di atas kasur.


Mely membalas, “Thanks,”


“Eh, gue gak nyangka bisa ketemu sama, lo. Kirain lo balik ke Surabaya?” tanyanya. Tangan kirinya meraih bantal lalu menaruhnya di atas pangkuan.


“Ish, lo lupa! Gue udah jadi orang Jakarta sejak bokap pindah kerja di sini,” sergah Mely, tapi sedetik kemudian, “lo, sekarang beda Mal. Tambah cantik, sumpah!”


Ia berdecak, “Lo, juga. Berapa tahun ya kita gak meet up?”


Mely tampak mengingat-ingat, “Kayaknya tahun pertama lo kuliah di Melbourne, deh. Pas lebaran. Itu terakhir kita ketemu, sama Prita juga. Ya ... sekitar 5 tahunan kayaknya.”


“Iya ... iya, gue ingat. Terus pacar lo datang jemput. Padahal kita baru ketemu. Hi, dasar pacar lo itu gak tahu diri. Datang-datang main serobot aja,” cebiknya. Mengingat hal itu membuatnya kesal. Pasalnya pacar Mely over protective dan possessive banget. “Lo, masih sama dia?” imbuhnya.


Melly menggeleng, “ Udah lama putus kali. Ya ... sempat beberapa kali putus nyambung. Tapi ...akhirnya gue bisa napas lega,” ujar Mely. Kini sahabatnya itu ikutan duduk bersila. Juga mengambil bantal disimpannya di atas pangkuan. Lalu membuka kaleng. Menegaknya beberapa kali. “Lo, sendiri gimana?” sambungnya.


Bahunya terangkat. Sepersekian detik senyumnya terkembang.


Ia terkekeh ringan. Tebakan Mely memang benar.


“Kalau Davin tahu, putus sudah harapannya.”


Keningnya berkerut, “Gak ada hubungannya sama Davin," sanggahnya.


“Ish, lo gak peka sih. Davin dari dulu suka sama lo. Beberapa waktu lalu sempat nanyain kabar lo. Ya, gue bilang aja lo ambil Master di Melbourne lagi.”


Meski mereka jarang bertemu, tapi komunikasi dengan Mely dan Prita tidak putus.


“Prita gimana?” tanyanya mengalihkan topik percakapan.


“Lagi hamil.”


“Alhamdulillah ... setelah 1 tahun menikah akhirnya dikasih momongan juga,” sahutnya ikut bahagia. Sebab saat pernikahan Prita ia tak bisa hadir ke Yogya. Sahabatnya itu menikah dengan dosennya sendiri.


“Terus lo sendiri gimana? Udah ada gandengan baru lagi. Secara Mely gitu loh, cantik, seksi, modis—”


“Pinter banget sih lo muji orang?!” serobot Mely memanyunkan bibir.


Ia tergelak. Obrolan pagi jelang siang itu rasanya kurang lengkap tanpa Prita. Meski sempat melakukan video call bertiga. Tapi sambungan layar jarak jauh itu harus terhenti sebab Prita mengalami morning sickness. Mual muntah di pagi hari hingga siang. Bahkan minum air putih saja rasanya pahit. Begitu cerita Prita sekilas, sampai cerita itu tak bersambung lagi karena Prita keburu lari ke kamar mandi. Memuntahkan semua isi perutnya.


Mereka akhirnya mengakhiri obrolan, “Istirahatlah, jaga ponakan kita, ya. Kapan-kapan kita agendakan meet up. Tapi lo harus datang!” ia memberikan ultimatum.


Prita di layar tampak tersenyum. Wajahnya terlihat pucat. Lalu melambaikan tangan dan memberikan kiss bye .... Layar kembali ke menu utama.


Ia dan Mely memutuskan makan siang bersama di resto bawah. Tak lama Mely berpamitan.


“Sebenarnya gue masih mau temeni lo sampai sore ... berhubung gue harus pergi ke Ancol. Acara tahun baruan sama temen-temen kantor di sana. Sorry banget,” raut sesal tergurat di wajah Mely.


“It’s okay ... kayak sama siapa aja sih. Gue yang thanks banget, lo udah nyempetin ke sini,” tangkasnya.


"Salam buat—” Mely mengerlingkan mata. “Si doi lo itu,” sambungnya.


“Ck, mulai deh.” Ia mencebik. Namun sedetik kemudian senyumnya tersungging.


“Bye ... see you. Mmuah ...,” ciuman pipi perpisahan keduanya menjadi penghujung pertemuan.


Ia melambaikan tangan. Lalu ikut meninggalkan resto dan menuju kamar. Sepertinya kondisi perut yang kenyang. Langit Jakarta yang berawan kelam mampu mengundang kantuk yang menyergap perlahan.


Malam ini Ru akan menjemputnya.


Menghabiskan malam tahun baru di Jakarta untuk pertama kalinya. Paling tidak dengan istirahat. Nanti malam ia bisa menikmati pergantian tahun bersama laki-laki itu.


Lelapnya terganggu ketika suara dering ponsel ditambah telepon kamar meraung-raung. Ia membuka matanya perlahan. Melihat waktu di layar ponsel.


“Astaga!” pekiknya saat menyadari waktu telah berganti gelap. Suara azan sayup-sayup terdengar.


Ia bergegas bangkit dan membersihkan diri.


Hampir satu jam lamanya ia menghabiskan waktu di kamar. Bergegas keluar. Sebab Ru menunggunya di lobby.


Namun ketika ia membuka pintu, ternyata laki-laki itu berdiri menyandar dinding di samping pintu kamarnya. Ekspresi wajahnya? Jangan ditanya lagi.


“Maaf,” cicitnya. Kebiasaan laki-laki itu sudah mendarah daging. Disiplin. Tak mau membuang waktu percuma.


Ru melangkah di depan. Ia berusaha menjajari.


“Kita mau ke mana? Pasti malam ini macet di mana-mana. Apa gak sebaiknya kita di hotel saja. Pihak hotel juga membuat acara tahun baruan di rooftop. Tadi aku sempat lihat mereka memberikan penawaran untuk para tamu yang menginap,” kalimatnya terpenggal saat pintu lift terbuka. Mereka masuk dalam kotak besi yang membawanya turun.


Hotel Pullman yang menjadi tempatnya menginap malam ini bahkan memberikan penawaran cuma-cuma bagi para tamunya.


Namun Ru bergeming, malah menatapnya. Sekali lagi dengan raut muka tak bisa diterka.


Helaan napasnya berat. Ia menyandar dinding. Percuma berbicara dengan laki-laki di dekatnya ini sekarang.


Tapi ia setengah terkejut ketika bukan lobby hotel tujuannya. Melainkan lantai 2 dalam hotel ini. Mau ke mana Ru mengajaknya?


Langkah kakinya terus mengekori laki-laki itu hingga tiba di sebuah restoran Omakaze. Restoran khas Jepang.


Keduanya langsung disambut ramah oleh pelayan dan diantarkan ke dalam ruangan yang telah direservasi. Bisa jadi laki-laki itu telah mempersiapkan sebelumnya.


Seorang chef khusus melayani mereka langsung. Menawari menu dengan ramah dan perhatian.


Sungguh ia tak mengira, Ru mengajaknya ke restoran ini. Ia pikir,


“Sudah selesai ngomelnya?” tukas Ru saat chef telah meninggalkan ruangan. Tinggallah mereka berdua.


Ia meringis hingga tampak barisan giginya.


“Aku sudah berpikir itu jauh sebelum kamu bilang. Aku tinggal di Jakarta. Jadi aku tahu kebiasaan kota ini,” imbuh Ru. Mengambil salmon belly dengan sumpit lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


Ia ikut menyantap makanan yang disajikan. Melahapnya. Beberapa kali terdengar Ru berucap, “Senju special rool, so good,” mengambilkan untuknya.


Lalu, “Sushinya juga yummy,” menyupitkan dan menaruh ke dalam piringnya.


Ia berkali-kali mengangguk. Rasanya memang enak. Ikannya segar. Bahkan, menu appetizer, edamame juga enak. Dessert yang pas diakhiri dengan sakuramochi. Mochi berwarna pink berisi kacang merah yang dibalut dengan daun sakura. Sempurna.


Satu jam sebelum tahun lama berganti dengan tahun baru. Ia memohon pada Ru untuk melihat suasana di Tugu Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia.


Tidak jauh. Cukup berjalan kaki, rengeknya. Entah mengapa, ini kali pertama ia merayakan tahun baru di Jakarta bersama Garuda. Menjadikannya lebih spesial dari tahun-tahun sebelumnya yang dilewati hanya di Aussie, Surabaya atau Bali. Bersama keluarganya tentu saja.


Awalnya Ru menolak. Apalagi tadi sempat jutaan air jatuh ke bumi. Deras bak anak panah yang melesat. Membubarkan sebagian kerumunan mencari perlindungan. Bahkan sampai detik ini pukul 23.20 WIB, masih menyisakan rinai halus. Ru menyampirkan jasnya di atas kepala mereka. Berjalan perlahan melewati orang-orang yang tampak masih antusias.


Anehnya kondisi cuaca yang tak mendukung tak menyurutkan para pengunjung untuk beranjak. Termasuk dirinya. Justru semakin memadati air mancur yang menggelinjang dan berkilau akibat sorot lampu.


Suara penyanyi dari panggung di pojok jalan terus menemani waktu demi waktu yang bergulir. Dari band terkenal, penyanyi dangdut koplo hingga penyanyi luar negeri disewa demi memeriahkan pergantian tahun. Suasana benar-benar meriah.


Bunyi trompet bersipongang dengan suara dari panggung.


Hingga seseorang yang dipanggil oleh MC maju ke panggung memberikan kata sambutan. Yang tak lain sang pemimpin nomor 1 di Jakarta.


Suara MC kembali mengaung. Setelah waktu digital menunjukkan pukul 23.59 WIB. Artinya 60 detik dari sekarang tahun lama akan kadaluwarsa.


“8, 7, 6, 5 ...,” hitungan mundur di mulai. Semua bersemangat. Kompak. Dengah wajah-wajah tersirat kebahagiaan dan harapan.


"1."


PLETAK.


PLETAK.


DHUAARR.


DHUAARRR.


Diiringi suara gaduh trompet dan kembang api susul menyusul tanpa henti.


Ia mendongak.


Sudut bibirnya tertarik ke atas. Indahnya. Langit Jakarta begitu terang benderang.


Kehangatan hatinya bertambah kala jemari Ru menyusup di sela-sela jemarinya. Yang terasa dingin akibat cuaca.


“Happy new year.  Have a blissful new year (Selamat tahun baru. Semoga tahun barumu penuh kebahagiaan),” bisik Ru.


Ia menoleh pada laki-laki itu mengulas senyumnya. “Happy new year ... may in this year all of our dreams turn into reality (Selamat tahun baru ... semoga tahun ini semua mimpi kita menjadi nyata),” balasnya. Mengeratkan pertautan jemari mereka. Kemudian menengadah lagi.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏