
...50. Autumn di Hatiku (3)...
Gemala
Tubuhnya merosot dibalik pintu. Menenggelamkan wajah di sela-sela kakinya yang ditekuk. Ia memeluk kedua kakinya erat. Tangisnya pecah. Sesakit ini hatinya. Ia belum pernah merasakan seperti ini.
Huhuhu.
Isaknya membuat bahunya naik turun. Air mata itu tak kunjung berhenti. Merebas deras bak bendungan yang jebol karena rusak tak mampu menahan luapan air bah yang meringsek tak tentu arah.
Kenapa?
Benak dipatri tanya yang terlilit oleh emosi. Menguras seluruh sendi perasaan yang menuntut sebuah penjelasan.
Sakit.
Rasanya dada sesak oleh pergumulan lara tak kasat mata. Memenuhi seonggok daging yang meronta-ronta sebab tersiksa oleh duka.
Tangisnya masih berderai. Sebah di dada begitu menyiksa. Bagaimana tidak?
Ia menunggu laki-laki itu di Yarra river. Duduk di salah satu bangku pedestrian. 15 menit berlalu, Garu tak menampakkan batang hidungnya. Tapi ia tak menyerah. Asa itu masih digantungnya. Tinggi-tinggi.
30 menit ke depan. Garu tetap tak datang. Ia masih memprovokasi hati agar tetap menanti. Ia percaya Ru mendengar. Pasti laki-laki itu akan datang. Ia meyakinkan diri.
1 jam pertama. Air mukanya mulai berubah. Cemas. Tanya dan asa sama-sama bertakhta untuk mengenyahkan segala prasangka.
2 jam kemudian ia masih menatap lurus ke depan. Lalu lalang orang di pedestrian mulai berkurang. Artinya malam kian beranjak larut. Tapi ia masih enggan surut.
Meski pemandangan di depannya tampak indah. Aliran sungai Yarra yang membelah kota Melbourne menjadi 2 bagian selatan dan utara begitu tenang. Berkilau karena terpaan lampu-lampu di sekitarnya. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan lampu penerang yang membuat sedap di pandang. Itu semua berkebalikan dengan suasana hatinya. Yang hampa dan berjelaga.
3 jam ia menunggu. Pukul 11 malam waktu setempat. Hatinya mulai was-was. Laki-laki itu benar-benar tidak datang.
Akankah hubungannya dengan Garuda memang sampai di sini?
Udara dingin semakin menggigit. Ia berkali-kali mengusap lengannya. Menggosok telapak tangan. Lalu bersedekap. Bolak-balik mengecek layar ponsel. Barangkali ada notif pesan atau apa saja yang memberitahukan bahwa laki-laki itu akan ....
Ah, sudahlah. Ia akan menunggunya sampai midnight.
Suasana pedestrian sudah sepi. Toko-toko makanan dan kafe bahkan sudah tutup sejak 2 jam yang lalu. Hatinya dirundung kegalauan. Ia mendongak. Langit kelam tanpa gemintang. Begitu juga hatinya yang mulai diselimuti rasa sakit akibat cinta yang dipaksa seloyak.
Apakah kamu tidak tahu aku menunggumu. Jika memang kita harus terpisah bukan begini caranya.
Garu, aku mencintaimu. Meski awalnya aku ragu. Tapi lambat laun cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Dan sekarang aku merasakan sedang dinina bobokan.
Tapi kamu datang memupus asa. Tanpa kabar dan aba-aba. Kenapa cinta harus meluka.
Aku sedih dan menangis bukan karena kamu meninggalkanku. Bukan.
Aku sedih dan menangis juga bukan karena kamu meninggalkan aku secara mengejutkan. Tanpa aku duga. Meski aku sudah merasakan ada yang disembunyikan.
Tapi.
Aku sedih dan menangis karena kita dikondisikan seperti ini. Kita sama-sama menangis oleh luka. Sungguh, aku kecewa karena kamu tak mau memperjuangkannya.
“Are you know when you set me free? (Apa kamu tahu saat kamu melepasku)” ucapnya lemah. Dengan desakan embun di kelopak mata. Yang membuat pandangannya suram.
“My heart is bleeding, (hatiku berdarah)” gumamnya.
Sebulir cairan kristal terjun perlahan. Terasa hangat dalam dekapan dingin yang mulai menusuk hingga ke tulang-tulang persendian. Ia mencoba meneguhkan hati. Bahwa semua akan berjalan semestinya. Dan seperti biasanya.
“Buatlah perencanaan 1,5 tahun ke depan. Sebelum aku memintamu kembali ke Indonesia.”
Potongan kalimat Garuda bermunculan.
“Selama 1,5 tahun kamu bebas melakukan apa pun. Tapi setelah itu ... kita buat masa depan. Masa depan hanya ada kamu dan aku.”
“Cuma kamu yang ada dalam hatiku,”
“Aku akan memintamu setelah 1,5 tahun. Aku janji.”
Suhu di malam hari bisa mencapai 8°C di musim gugur seperti ini. Tubuhnya menggigil. Menahan dingin. Ia mengeratkan jaketnya. Mendekap tubuhnya sendiri. Sialnya ia lupa mengenakan syal dan hanya jaket tipis yang seperti tak berguna. Percuma.
“Mala,” seseorang memanggil namanya dari belakang. Sejenak hatinya terselimuti kehangatan yang membuncah. Apa Ru datang? Benar, ‘kan dugaannya ... pasti laki-laki itu datang. Ia yakin.
Begitu menoleh, sudut bibirnya yang tadi melengkung ke atas mendadak datar. Hatinya yang mengembung oleh harapan, mendadak mengempis bahkan semakin menciut.
“Ka-kamu?”
...***...
Garuda
“Kamu masih di Sydney?”
“Ya,”
Ia berbicara pada seseorang di ujung telepon. Memintanya untuk datang. Sekarang.
Meskipun orang tersebut menggerutu kesal. Tapi pada akhirnya datang juga. Mencari tiket pesawat mendadak dari Sydney ke Melbourne. Beruntung meeting esok hari dilakukan pada waktu sore. Masih ada jeda pikirnya.
Dadanya sesak melihat gadis itu menunggu dan mengharap kedatangannya. Sementara ia hanya bisa bersembunyi di balik dinding bangunan. Tak jauh dari Mala berada.
Sudut matanya basah. Ia tak peduli. Gadis itu mungkin lebih sakit dari pada dirinya. Tapi ia tak mungkin memaksakan keadaan. Rasa bersalah kembali dan kembali menyeruak.
I’m so sorry ....
Malam semakin larut. Gemala masih setia di sana. Bodoh kenapa dia mengenakan pakaian tipis. Kenapa dia tidak segera pulang. Melihat gadis itu kedinginan. Hatinya kian berdenyut sakit.
“Kamu bisa sakit,” gumamnya.
Suasana semakin sepi dan tidak ada lagi orang yang melintas. Kekhawatiran kian bergejolak. Menggedor sisi nurani yang sejatinya tak tega.
Namun kala ia memutuskan untuk keluar dari persembunyian, orang yang ditunggunya datang. Sorot matanya meminta keibaan, ‘please’.
Sejenak ia bisa melihat interaksi Mala dengan orang tersebut. Setidaknya mengurangi kekhawatiran atas kondisi gadis itu.
Dengan langkah berat. Ia menyeret kakinya untuk berangsur perlahan menjauh. Sejauh mungkin. Ia harus mengubur dalam cinta untuk Mala.
Menepis segala rasa sakit yang ditimbulkan akannya.
Walau ya ... my heart is bleeding.
...***...
Gemala
Keesokan paginya ia terbangun ketika mendengar suara gaduh di dapur. Matanya terasa berat. Tenggorokannya begitu sakit. Entah berapa lama ia menangis. Ia tak ingat.
Begitu kepala terasa berpendar ia beranjak menuju kamar. Memaksa kaki melangkah. Lalu meringkuk di atas kasur tanpa peduli lagi kondisinya.
Hingga ia terlelap dengan sendirinya.
“Mala ... kamu udah bangun?” Gayatri mengetuk pintu lalu masuk membawakan segelas teh hangat. Menyimpannya di atas nakas.
Tumben adiknya itu jam segini belum bangun. Sudah pukul 9 pagi waktu Melbourne. Tidak biasanya.
“Mal,” Gayatri duduk di tepi ranjang.
Ia membuka mata yang terasa kering dan berat. Bekas air mata membuat kaku di sekitar wajahnya.
“Kamu sakit?” tanya Gayatri.
Ia menggeleng pelan.
Gayatri menangkupkan punggung tangan di atas dahinya, “Hangat, kamu demam Mal.” Ia menggeleng.
“Jangan keras kepala. Aku ambilkan obat,” kakaknya itu hendak beranjak. Namun ia lekas menyergah, “aku gak pa-pa,” dengan suara parau dan tercekat.
Ia pikir air matanya sudah kering dan tak mungkin keluar lagi.
Gayatri ikut terhanyut dengan suasana emosi adiknya. Kakaknya itu merengkuh bersamaan ia yang berusaha bangkit.
“If you need someone to talk to, ada aku.” Gayatri berusaha membujuk.
“Sakit, Kak. Dia ... dia,”
“Kalian putus?” terka Gayatri.
Ia mengangguk pelan. Bersamaan lelehan air matanya.
“Aku sudah bisa menebaknya,” pundak Gayatri terasa basah. Adiknya pasti sangat terpuruk saat ini. Gayatri mengusap-usap punggungnya.
“Kenapa Kakak bilang begitu, apa Kakak tahu?”
Ia melepas dekapan dari kakaknya. Menatap Gayatri penuh tanya.
“Aku,”
“Ada apa sebenarnya? Apa kalian semua tahu? Kenapa cuma aku saja yang tidak tahu?” ia menelisik dengan tatapan intimidasi.
“Mal, aku ....” Gayatri meraup wajahnya.
“Kak, ada apa?”
“Kenapa Ru bilang tidak mau merusak masa depanku. Tidak mau membawa aku ke dalam masalahnya? Kenapa dia bilang begitu?” desaknya.
“Kak,” pintanya memohon dengan sorot mata sendu.
Akhirnya mau tak mau Gayatri menceritakan masalah yang tengah membelenggu keluarga Garuda. Vonis yang menjerat Torrid. Semua berhubungan dengan kematian ayah Kirei. Yang notabene istri dari sepupunya—Danang. Anak dari adik papa.
Ia terperangah, tak percaya seraya menggelengkan kepala, “Tidak mungkin, Kak. Ini tidak mungkin,” bantahnya.
“Kenapa baru cerita sekarang? Kenapa gak cerita sewaktu pulang dari Surabaya?” todongnya.
Gayatri mendesakkan napas, bersamaan bahunya yang melorot. “Aku kira Garuda yang bercerita sendiri sama kamu. Ternyata,”
“Kalau menurutku, mungkin Garu melakukan itu untuk kebaikan kamu. Dia mungkin tidak ingin mempermalukan kamu,” sambung Gayatri.
Ia menggeleng lagi.
“Tapi ... dia juga bodoh sih menurutku,” tukas Gayatri. “Bukan begini caranya. Harusnya berbicara heart to heart ... semua masalah pasti ada solusinya. Ya, aku juga bisa merasakan di posisinya. Memang serba sulit. Menjaga perasaannya atau menjaga nama baik kamu?”
Ia termenung.
“Tapi ... ah ... pusing juga gue. Sekarang kalau kalian cinta. Ya sudah jalani aja sih,” mulai kakaknya itu memberikan petuah. “Yang bermasalah itu papanya. Bukan dia. Jadi buat apa ikut larut dalam kesalahan yang tidak pernah diperbuat?”
“Cuek aja apa omongan orang. Emang orang itu yang bikin kita bahagia? Emang mereka peduli kalau kita sedang sedih dan down? Gak ‘kan?”
“Yang buat kita bahagia ya ... kita sendiri. Kita menciptakan kebahagiaan. Sejauh kita bahagia dan gak merugikan orang lain ... ya, go on. I’ll support you,” pungkas Gayatri mengakhirnya dengan ulasan senyum di bibir.
Bibirnya ikut tertarik ke atas. “Makasih, Kak.” Ia kembali merengkuh Gayatri.
...***...
Garuda
Sementara di tempat lain. Tepatnya di salah satu hotel berbintang. Ia baru terbangun dari tidurnya. Kepalanya berat dan pening.
Seusai meninggalkan Mala di Yarra river. Ia kembali ke hotel. Memesan minuman terbaik dari kebun anggur yang terkenal di daerah Yarra valley.
Entah sudah berapa gelas. Berapa banyak. Ia hanya ingin melupakan kesakitan. Melupakan kepahitan.
Ia memang pengecut.
Pecundang.
Ia menerima segala tuduhan dan hinaan terhadapnya. Bukankan semua benar? Ia mengakui.
Suara bel pintu kamar membuyarkan angannya yang mengembara. Dengan perlahan ia bangkit dan menyeret langkah membukakan pintu.
Kala pintu terbuka ia langsung didorong ke belakang. Ia terhuyung. Tapi berusaha menyeimbangkan tubuhnya.
“Brengs*k!” geram orang tersebut. Mencengkeram kerah bajunya yang masih sama seperti tadi malam. “Damn you!” mendorongnya kuat. Hingga ia terperenyak di atas kasur.
“Gue memang pecundang. Gue pantas.”
“Tapi bukan begini caranya. Lo, udah nyakiti Mala.” Orang tersebut menyugar rambut seraya menjambaknya sendiri.
“Gue anak penjahat. Gue gak kayak lo. Gue—”
“Bullshit! Anak penjahat atau gak. Tapi bukan begini caranya. “Bakayarou! (Idiot)”
Ia berdiri menegakkan dagu. Tersulut emosi. Mendorong orang itu dengan kesal. “Lo, mau apa? Mau ambil Mala?! Hah!”
Orang itu sontak membalas mendorong lagi. “Kalau iya, apa urusan dengan lo! Lo sudah melepasnya ... itu artinya dia bukan milik lo lagi. Dia bebas memilih dengan siapa?” cibirnya dengan derai tawa mengejek.
“Brengs*k!”
BUGH.
Ia memukul orang itu tepat di rahang. Tak mau kalah orang tersebut mendorong sekuat tenaga hingga keduanya terjerembap di atas kasur. Saling tumpang tindih. Dan berguling dua kali.
Kedua pasang mata saling menyorot tajam. Memperlihatkan kekuatan masing-masing. Geligi yang saling bergemeletuk. Dengan rahang yang mengetat. Cukup lama mereka saling beradu pandang.
Kemudian orang itu mengibaskan cengkeramannya dan beranjak dari sana.
Ia ikut bangkit dengan kesal, “Gue pecundang. Gue brengs*k! Lo, mau apa?” teriaknya kalut seiring pintu yang ditutup dengan kasar sehingga berbunyi,
BLAM.
Akibat dentaman cukup keras. Mengalirkan getaran yang merambat melalui dinding hingga menghasilkan suara menggema.
-
-
📷 : secretmelbourne.com
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏