
...8. Koko Ayay...
Yogyakarta
Bola raksasa dunia itu mulai melandai. Menandakan rembang petang. Ia duduk di sebuah taman kota. Tak jauh dari klinik tempatnya berpraktik.
Jika pagi hingga menjelang sore begini ia baru pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja. Sore menjelang malam ia akan berpraktik di sebelah rumahnya.
Ia mendesahkan napas ke udara. Menengadah sejenak. Lalu netranya menatap dedaunan kering yang jatuh perlahan disapu angin.
“Ayay,” sapa seorang pria dari belakangnya. Yang membuat debaran jantungnya kian berdetak cepat. Sudah lama mereka tidak bersua. Enam bulan mungkin, atau lebih. Pertemuan terakhir di Jakarta pada saat dirinya mengikuti seminar IDI di sana.
Pria itu menghampirinya lalu mengangsurkan sebuah kotak berhias pita cantik.
“Happy birthday, Ay.”
Ia mendongak. Menatap pria itu sekilas, meski ia ingin berlama-lama. Pria yang ... menjungkirbalikkan kehidupannya. Tapi, tidak. Ia tidak boleh larut dalam kenangan.
“Kamu tidak perlu repot-repot membawakan hadiah segala. Hadiah dari kamu tiap tahun masih menumpuk di lemariku,” sindirnya dengan tawa kecil.
Tapi anehnya, tangan ini menjeremba kotak tersebut. Lalu meletakkannya di sampingnya.
Pria itu ikut duduk di sebelahnya. “Bagaimana kabarmu, Ay?”
“Alhamdulillah aku baik,” jawabnya.
“Syukurlah,” pria itu mengulas senyum.
“Bagaimana kabar, Ru?”
“Dia di Jakarta sekarang.”
“Bukannya memang dia tinggal di Jakarta?” ia mengerutkan dahi.
“Iya ... tapi dia lebih banyak tinggal di perkebunan. Memantau langsung aktivitas di sana.”
Ia manggut-manggut dengan mulut berucap, “Oh,” meski tanpa suara.
Hening menyelimuti sejenak.
“Apakah kesempatan buat aku benar-benar sudah tertutup, Ay?” ujar pria itu membuka topik lain. “Sudah 7 tahun aku memintanya. Tapi jawabanmu—”
Ia lekas memotong, “Waktuku tidak banyak,” ia melirik arloji di lengan kirinya. “Sesuai kesepakatan 10 menit, cukup, ‘kan?”
Nyenyat sesaat.
“Ay,”
“Jangan membahas masa lalu.” Ia menyergah.
Pria itu mendesah berat. “Anak kita tadi malam membawa seorang wanita. Cantik seperti kamu, Ay. Dia ... mungkin ... apa pun pilihannya. Aku akan mendukungnya.”
“Seharusnya, bukan?”
“Seharusnya sebagai orang tua. Mendukung apa pun pilihannya. Asal untuk kebaikannya,”
Mendadak ia merasakan pelupuk matanya memanas karena terdesak kristal cair. Membahas dan menceritakan anak mereka ibarat oase untuknya.
“Bagaimana dengan anak kita di Jepang?”
“Dia bukan anakmu, Ko.” Sanggahnya, seraya menyeka buliran hangat yang melintasi pipinya. Lalu menunduk. Menatap rumput yang tumbuh di sela-sela bebatuan kali yang ditata melingkar dengan pandangan buram.
“Kamu masih memanggil aku dengan Koko. Artinya itu panggilan dari hatimu, Ay.”
“Sampai kapan kamu akan menghianati hatimu sendiri. Cinta kita masih ada. Kenangan itu masih tersimpan rapi dan kita bisa memulainya lagi dari awal, Ay. Bisakah kamu memberi kesempatan—”
Ia berdiri, “Aku bilang jangan bahas masa lalu. Waktumu 5 menit lagi. Tapi kalau kamu masih membahas masa lalu aku rasa tidak ada gunanya. Waktumu habis.”
“Oke.” Sahut pria itu. “Duduklah, kita akan bahas anak kita.” Pintanya.
Ia kembali duduk.
“Aku kesini hanya ingin mengatakan, bahwa anak kita benar-benar mewarisi kepintaranmu. Dalam 8 tahun pegang TRP begitu banyak pencapaian luar biasa yang dihasilkan. Dia benar-benar pintar dan luar biasa seperti dirimu. Aku bangga dengannya.”
Kristal cair itu semakin tak terbendung. Tak ada yang bisa ia lakukan. Kecuali menahan rindu. Menahan pertemuan yang sebenarnya ingin ia lakukan belasan atau bahkan puluhan tahun yang lalu. Tapi ....
“Maafkan aku, Ay. Memisahkan kalian dengan paksa. Tapi,”
“Cukup!” ia sesenggukan. Sambil menyusut air matanya yang semakin deras. “Kita sudah bahagia dengan keadaan sekarang,” munafik, batinnya meronta. Apakah ia benar-benar bahagia sekarang? Sementara mimpi buruk itu selalu menghantui di malam-malam sepinya.
“Perlahan-lahan aku akan menjelaskan padanya. Dia sudah dewasa. Dan harus tahu, bahwa kamu sangat menyayanginya.”
“Kamulah ibu kandungnya. Ibu yang melahirkannya. Berjuang hidup dan mati untuknya,”
“Cukup Koko. Aku tidak sanggup mengingat hal itu,” ia terisak sambil menggeleng. Dadanya dipenuhi hujan paku yang tak kasat mata. Perih. Menganga. Dan meninggalkan luka yang begitu dalam dan kelam. Tak akan ada yang bisa merasakannya kecuali dirinya.
Pria itu merengkuh bahunya, “Menangislah, Ay jika itu meringankan bebanmu.”
Ia menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Bahkan air matanya membasahi kemeja pria tersebut.
“Maafkan aku, Ay. Semua berawal dari aku. Aku yang pantas disalahkan di sini. Kamu dan Ru adalah korban. Aku layak dihukum. Sangat layak.”
Keduanya larut dalam keterdiaman.
Merasa lebih baik. Ia menarik diri. Menghela napas dan mengembuskannya perlahan.
“Waktumu sudah habis, Ko. Pergilah.” Ia berdiri. Lalu beranjak pergi.
...***...
Nyatanya malam hari Torrid mengirimkan pesan padanya.
TRD : Jam 9 aku tunggu di Skybar Ibis. Sopir akan menjemputmu. Aku tunggu sampai kamu datang, Ay.
Ia mendesahkan napas.
Masih arogan dan pemaksa. Keluhnya dalam hati. Tapi kenapa dengan sikapnya yang begitu justru membuatnya jatuh dalam pelukan pria tersebut. Bahkan menjadi cinta pertamanya yang sulit dilupakan.
Tujuh tahun dalam kebahagiaan. Tapi selebihnya hanya kesedihan dan kesakitan. Ia berusaha mengubur kenangan itu dalam. Menyimpannya rapat. Dan membungkusnya dengan kenangan baru yang tak kalah mengharu biru.
Tapi ternyata semua semu belaka. Ia harus dua kali menjanda.
“Dok, pasien habis.” Ucap Ningsih. Membuat pikirannya yang tadi melalang entah ke mana kembali pulang.
“Tapi ada tamu yang nyariin di depan, Dok.” Imbuh perawat itu.
“Bilang padanya, sebentar lagi.” Pesannya pada Ningsih, “sampai ketemu besok, Ning.” Sambungnya pada Ningsih saat masih diambang pintu.
“Bye ... Dok.” Balas Ningsih sambil melempar senyum.
Ia mengusap keningnya. Apalagi yang akan mereka bicarakan? Kalau tentang masa lalu, ia sudah jemu. Terjebak kenangan yang akan membuatnya terperangkap dalam angan. Kalau tentang masa depan, mungkin ia tidak akan pernah merencanakan.
Pashmina-nya berkibar-kibar diterpa angin, saat melangkah keluar dari lift menuju Skybar di lantai 7.
“Akhirnya kamu datang. Aku pikir kamu tega, membiarkan aku kedinginan di sini.” Torrid menggeret kursi untuknya, “silakan, Ay.” Mempersilakan dirinya duduk di sana.
Ia duduk dengan hati-hati.
“Terima kasih, kamu mau memakai kado pemberianku,” imbuh Torrid dengan senyum terkembang.
“Jangan ge-er. Aku memakai karena aku menghargai orang yang sudah memberi,” sanggahnya.
Torrid terkekeh ringan, “Whatever alasanmu, Ay. Tapi aku bahagia. Kamu masih terlihat cantik dengan kerudung itu.”
“Terima kasih. Tapi aku sudah tidak mempan lagi dengan gombalan. Kita tidak lagi muda. Apa lagi dengan statusku 2 kali menjanda. Rasanya sudah cukup makan asam garam.” Urainya ringan. Meski dadanya tertohok hebat dengan kata-katanya sendiri. Siapa sih yang mau menjanda? Dua kali lagi.
“Maafkan aku, membuatmu menjanda untuk pertama kalinya,” sahut Torrid penuh sesal.
Desau angin sesekali menjadi jeda. Lalu sayup-sayup terdengar seseorang menyanyikan lagu di panggung.
When the bed is cold as ice
And tears are falling from your eyes
Afraid to make a move
But dying to be touched
When the night is getting long
And we are blind to what is wrong
If only you could see
With you I want to be
When the questions in your head they are killing you
Just remember what I said and promised you promised you
I know I know
I won't ever let you go
And I will love you everyday
And I hope I pray
There won't ever come a day
When we will say goodbye
Cause love can never die
-Never let you go-White Lion-
“Kamu sengaja meminta lagu ini, Ko?” tanyanya ketika lagu yang dibawakan di atas panggung masih mengiring.
“Lagu-lagu mereka adalah lagu-lagu kita.”
Torrid menyulam senyum, “I know I know.
I won't ever let you go. And I will love you everyday. And I hope I pray. There won't ever come a day. When we will say goodbye. Cause love can never die, (Aku tahu aku tahu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Dan aku akan mencintaimu setiap hari. Dan aku berharap serta berdoa. Tidak akan pernah datang suatu hari. Di mana ketika kita akan mengucapkan selamat tinggal. Karena cinta tidak pernah mati)”
“Bullshit!” desisnya dengan mata memerah.
“Untuk apa, Ko?”
“Membangkitkan luka lama? Atau kamu mau menambah luka lebih dalam lagi?” erangnya tertahan.
Cairan bening di pelupuk matanya luruh.
“Ay, aku masih sayang kamu. Cinta kita tak pernah mati meski—”
Ia sigap berdiri dengan mata basah dan lembab, “Kamu belum puas Tuan Torrid. Mengucapkan talak di tengah malam. Saat hujan deras. Bahkan memaksa anak berumur 6 tahun harus berpisah dengan ibunya?”
“Sekarang dengan mudah, Tuan yang terhormat ini ingin kembali. Dengan apa kamu akan membebat luka itu agar sembuh? Dengan apa, hah!!”
Bahunya turun naik menahan amarah, kebencian, kerinduan dan segala rasa yang telah menumpuk dan tergulung dalam pusaran angan.
“Semudah itu kamu bilang?” cicitnya dengan gigi bergemeretak. Entah mengapa emosinya kembali mencuat mengingat kenangan yang begitu sulit dibuang.
Ia menyeka air matanya kasar.
“Terima kasih atas undangannya. Selamat malam.” Ia beranjak dari sana dengan langkah tergesa. Bahkan berkali-kali hampir terjatuh sebab tubuhnya tak mampu lagi untuk menahan beban hidupnya sendiri.
Tepat saat ia membuka pintu taksi. Gemuruh dan kilat di langit menyambar. Dadanya bergetar hebat menjalarkan sesak sekaligus pilu yang menyembilu.
Bukan rumah tujuannya melainkan rumah sakit yang selama ini menaunginya.
RS. Sardjito.
Tempat pertama kali ia dan Torrid berjumpa. Torrid menyatakan cintanya. Torrid melamarnya. Dan Torrid menikahinya.
“Maukah kamu menikah denganku, Ay?” Kalimat itu terngiang-ngiang di benaknya seiring langkahnya menuju ruangan kerjanya.
“Aku benar-benar mencintaimu dengan segenap jiwaku,”
Meski ia tahu. Torrid telah beristri. Telah mempunyai 2 anak dari istri pertamanya. Tapi pria itu meyakinkan bahwa dia benar-benar mencintainya.
Begitu tiba di ruangannya ia langsung menutup pintu kasar. Terperosok menyandar dinding. Mendekap kedua kakinya. Membenamkan kepalanya di antara kaki. Ia menangis sepuasnya di sana.
Kenapa kenangan itu selalu mencandainya setiap tahun? Belum impaskah waktu yang dikorbankan? Belum sepadan kah kesakitan dan kepedihan untuknya. Tidak bisa melihat anaknya tumbuh dalam dekapan. Dalam kasih sayangnya.
Ia terisak hebat. Dadanya bergemuruh kuat. Ru, sayang ... maafkan ibu.
Tergesa ia bangkit. Dengan bantuan meja dan kursi menopang tubuhnya, ia membuka laci dengan tangan gemetaran. Mengambil obat dalam botol kecil kemudian menegaknya. Setelah itu menegak air putih untuk mendorong obat tersebut masuk cepat ke kerongkongannya.
Ia memejamkan mata sesaat.
Berjalan limbung ke ranjang pemeriksaan pasien. Merebahkan perlahan tubuhnya di sana dengan meringkuk. Memaksa netranya untuk memejam.
‘Saya terima nikahnya dan kawinnya, Rahayu Notonegoro Binti Noto Prawirohadikusumo dengan mas kawin logam mulia seberat 20 gram dibayar tunai.”
‘Ma-maaf, aku talak kamu, Ay .... Ru akan bersamaku.’
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏