If Only You

If Only You
83. Okay, Let's Open Up



...83. Okay, Let’s Open Up...


Gemala


Memesan bubur ketan hitam dengan toping buah mangga, nangka dan ice cream vanilla. Begitu masuk ke dalam mulutnya ice cream meleleh bercampur rasa bubur yang ternyata perpaduannya pas. Setelah berjalan kaki  melewati Gentala Arasy rasanya terbayar sudah dengan semangkok hidangan di depannya.


Ia mengecek ponsel. Tak ada notifikasi apa pun di sana. Mungkin Garu masih lama. Lalu membalas beberapa pesan masuk yang belum sempat dibalasnya.


Tak lama, nama Gayatri berpendar di layar.


“Ya, Kak.”


“Lo, lagi apa?”


“Lagi ... di kedai kopi.”


“Kapan, lo balik Jakarta?”


Ia menjeda sejenak. Manik matanya menangkap mobil hitam yang masuk dalam parkiran. Dan Ru muncul setelah pintu terbuka kemudian.


“Nanti gue kabari lagi. Bye ... Kak.” Ia memutus sepihak sambungan telepon tersebut.


Mengukir senyum menyambut kedatangan Garuda. Laki-laki itu mengecup kepala dan pipinya begitu saja. Yang membuatnya membelalakkan mata seketika. Terang saja ini di tempat umum. Bahkan beberapa pasang mata menatap mereka.


“Mas,”


“Masih saja malu. Kalau mereka tanya aku langsung kasih buku nikah,” tangkas Ru.


“Ish, bukan gitu. Lihat ada anak-anak di sana,” ekor matanya melirik pada meja yang hanya berjarak beberapa dari mereka. “Kasihan ... sudah ternodai mata sucinya gara-gara kamu,” sungutnya.


“Honey, itu apa?” Ru tak menggubris omongannya justru tertarik pada semangkok bubur di hadapannya. Yang tinggal setengah.


“Mas, mau?”


Ru mengangguk.


“Aku pesankan yang baru. Gak lama kok.” Ia memanggil pelayan dan memesankan menu yang sama seperti tadi.


“Hari ini mau ke mana?” Ru meraih mangkok di hadapannya. Menyuapkan ke dalam mulutnya.


“Rencana mau ke lokasi. Tapi, karena kamu datang ... ditunda besok saja.” Ia mengerutkan kening. Laki-laki ini sepertinya kelaparan. Bubur bekasnya tandas.


"Mas, belum makan?” tanyanya heran. Ini sudah jam 10 pagi.


“Hem,” laki-laki itu mengelap mulutnya dengan tisu bersamaan pesanan yang baru datang. “Lupa.”


“Hah! Lupa? Kok bisa? Bi Yati gak masak? Atau sakit, sampai gak bisa ke apartemen?” cecarnya bertubi. Tidak mungkin Yati tidak masak. Terkecuali dia sakit, atau ada hal lain yang urgen sehingga tidak bisa datang ke apartemen.


Ru kembali menyantap mangkok yang baru saja diantar pelayan, “Aku gak tidur di apartemen.”


Alisnya berkerut, “Terus tidur di mana? Katanya kemarin tengah malam baru sampai Jakarta.”


“Di hotel, Hon. Di Lampung sekalian lihat proyek di sana. Terus langsung ke sini. Jadi gak sempat sarapan.”


Ia berdecak kesal. Mudah sekali pikirnya melupakan hal sepenting ini. Bukannya suaminya ini harus menjaga kesehatan. Dengan segudang aktivitasnya yang begitu padat dan pastinya menguras tenaga dan pikirannya. Kemudian ia menggelengkan kepala.


“Yang penting aku sudah di sini.” Ru telah menandaskan mangkok kedua.


“Aku pesanin makan, mau?”


Laki-laki itu menggeleng, “Sudah kenyang.”


Mereka memutuskan kembali ke hotel. Ia tidak tega melihat Garu yang tampak lelah. Kurang istirahat dan kurang memperhatikan asupan makannya. Rasa bersalah menggelayut larut dalam benak.


Dan begitu tiba di hotel, Ru langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia membantu melepaskan sepatu dan kemeja yang dikenakan laki-laki itu.


“Tadi difoto cuma pakai dalaman ini?” ia menunjuk dalaman kaos oblong warna hitam yang dipakai Ru.


“Gak sempat,”


Entah sudah galengan ke berapa. Ia rasanya kesal. Tapi tidak bisa diungkapkan.


“Jangan-jangan gak sempat mandi juga?” tebaknya mencebik.


Ru terkekeh bersandar pada ujung ranjang. “Exactly.”


Ia yang duduk di tepi ranjang sebelah laki-laki itu mendesis.


“Kangenku mengalahkan segalanya, Honey. Sampai lupa mandi, sarapan ... untung gak lupa kalau kamu belum siap aku ajak ...,” Ru mengerling nakal.


Ia menggembungkan pipi dan memutar bola matanya malas.


“Aku mau tanya sesuatu. Tapi jawab jujur.”


Garuda menghela, “Apa aku pernah bohong?”


“Maksud aku ... mungkin kejadian ini sudah lama. Tapi buat aku penasaran.”


“And then?” sahut Garu.


“Apa benar kamu pernah memberikan hampers pada Kirei. Ehm ... maksud aku pada jurnalis yang—” ia menatap laki-laki itu.


Ru mengerutkan alis.


“Aku ketemu mereka. Ketemu sama Mas Danang dan Mbak Rei ... tanpa sengaja. Dan,” ia menatap Garuda. Laki-laki itu juga menatapnya. Manik mata mereka berserobok. “Dan ... aku pikir mereka akan marah, benci atau mungkin seperti orang-orang yang menghujat aku. Tapi ternyata, Mbak Rei menerima kita. Maksudnya menerima tentang pernikahan kita.”


“Aku sekarang lega. Paling tidak pernikahan kita tidak perlu disembunyikan lagi.”


Ru mengusap pipinya. Lalu mengaitkan sulur surai yang terurai di depan ke belakang telinga.


“Hon,”


“Kamu tahu gak? Aku rasanya senang banget. Hubungan papa dengan Om Bagas akan kembali seperti dulu. Keluarga kami tidak tercerai karena masalah kita,” ia menyandarkan kepala di dada Garuda. Laki-laki itu mencium kepalanya.


“I know. Kabar yang membahagiakan, buat kamu juga aku.”


Ia mengangguk. Menyurukkan kepalanya lebih lekat.


Ru kembali menghujani ciuman di sana.


“Wait! Jadi benar?” ia bangkit dan menyergah


“Benar apa?” tangkas Ru.


Ia mendesahkan napas. Pura-pura lupa.


Laki-laki itu mencubit hidungnya gemas. Ia mengaduh. “Waktu itu idenya Toni. Aku juga gak tahu,”


“Tidak mungkin tidak tahu,” sambarnya.


“Dengarkan dulu. GL cabang Semarang bermasalah. Soal perizinan yang ... bisa jadi belum tuntas dan tidak transparan. Tetapi proyek terus jalan. Tepat pergantian kepemimpinan antara aku dan Maleo. Dan dia jadi salah satu wartawan yang mengangkat soal ketidakberesan itu.”


“O, I see ... kalian memberikan dia hampers agar tidak diliput. Atau agar masalah yang dihadapi GL waktu itu tidak di up ke publik, benar begitu bukan?” simpulnya.


Laki-laki itu menjawab, “Kurang lebih.”


Lagi, lagi ia menggeleng.


Ia mengusap rahang suaminya. “Kamu tahu, aku selalu khawatir. Soal kamu, kerjaan kamu ....”


“I know,” Ru meraih tangannya. Mengecupnya sesaat. “Kamu percaya sama aku, ‘kan?”


“Pengennya sih, iya. Sayangnya—”


“Honey ... gak ada lagi yang aku tutupin. Su—”


Ia menyergap bibir Ru, “Aku percaya kamu,” melukis bibir ranum dengan senyum merekah. Garuda tak menyia-nyiakan kesempatan.  Bangkit merengkuhnya. Memberikan kecupan demi kecupan. Melebur rindu yang beberapa hari lalu terbentang ruang.


“Miss you,” mendaratkan organ kenyal pada bibirnya yang mengatup. Menautkan keduanya untuk saling mencecap dan memagut. Dari yang lembut berubah menjadi memburu dan terburu. Garuda menghentikan pagutannya. Sejenak hanya terdengar napas yang menderu. Kemudian menangkup wajahnya dan kembali menautkan dua bibir yang saling berhasrat. Sesaat gelora itu menguasai keadaan. Melambungkan ke awan dengan tabuhan.


Hingga, “Sayang, not now.” Ia mengurai tautan tersebut. Melekatkan kening dan ujung hidungnya pada hidung mancung Ru. Terpaan hangat menguar dari napas keduanya yang terengah-engah. Bersamaan rona kemerahan yang berpendar di wajah.


“Aku tidak mau tanggung jawab setelah ini,” bisiknya. Raut wajah laki-laki itu tampak kecewa dan menahan kesal akibat tak dapat menyalurkan gelora rindu yang mengadu.


 


...***...


Garuda


Menjelang sore ia mengantarkan Mala ke Pulau Raman. Sekitar 1 jam setengah harus menempuh perjalanan ke sana. Awalnya Mala bersikeras untuk menundanya sampai besok. Sebab khawatir dengan kondisinya yang sepertinya kelelahan. Entah mengapa ... akhir-akhir ini ia memang gampang sekali letih. Mungkin jadwal istirahatnya yang kocar-kacir akibat pekerjaan yang tidak ada habisnya. Pun, Mala tidak ada di sampingnya. Sehingga ia melupakan asupan makanan yang biasanya tepat waktu. Kini seperti berubah sewaktu-waktu.


Namun pada akhirnya ia berhasil untuk membujuk istrinya agar segera menuntaskan pekerjaannya.


“Time is money,” jargon yang sering ia lontarkan ampuh membuat Mala menurut.


Meski, “Menurutmu kalau waktu adalah sangat berharga ... kenapa waktu pertama kali kita ketemu. Kamu sama Toni naik mobil menuju lokasi? Padahal tidak sebentar. Bahkan berjam-jam,” cecar Mala.


“Heli sedang maintenance.”


“Okay masuk akal. Lalu kenapa waktu aku hendak pulang ke Surabaya setelah menyelesaikan penelitian kamu ikut penerbangan komersial? Padahal ada private jet dan heli?” desak Mala.


“Mal, ‘kan gak ada salahnya aku naik komersial. Lagian aku pilih business class,” kilahnya tak mau mengakui.


“Hem ... okay, kebetulan yang tampak disengaja. Toni memang bisa diandalkan,” Mala menipiskan bibirnya sambil manggut-manggut.


Ia menghela. “Well ... memang Toni yang mengatur semuanya,”


Mala menukas, “Toni?” dahinya berlipat.


“Maksud aku. Toni dan ... aku.”


“Okay, let’s open up! (Oke, mari saling terbuka) sejak kapan laki-laki di samping aku ini jatuh cinta sama ... seorang Gemala?” todong Mala. Perjalanan 1,5 jam harus dimanfaatkannya untuk mengorek sesuatu yang belum diketahui.


“Apakah penting dan harus dijawab sekarang?”


“Ya,”


Ia terlihat berpikir. Cukup lama.


“Sesulit itu, ya?” sindir Mala.


Ia menggeleng. Menyelusupkan jari jemarinya di antara jemari Mala. “Aku tidak tahu tepatnya kapan. Eem ... waktu di Jakarta mungkin atau saat di Yogya.” Ia mengangkat bahu. “Kalau kamu?”


“Aku ...,” pikiran Mala menerawang. Sudut bibirnya tersungging.


Ia menggoda, “Jangan-jangan waktu kita ketemu di bandara pertama kali?” tergelak setelahnya.


“Ck, aku gak semudah itu jatuh cinta tahu! Lagian waktu itu aku punya Ethan,” Mala lekas meliriknya sembari meringis. “Masa lalu, forget it! Pastinya aku merasa senang waktu kamu datang di acara reuni kampus. Kenapa waktu itu kamu datang tepat banget. Aku lagi kecewa dan sedih. Tapi kedatangan seorang Garuda mampu mengembalikan mood aku. Membuat aku bahagia,”


“Segitunya?” tanyanya tak percaya.


“Hem,” Mala menyandarkan kepalanya di pundaknya.


Ia mencium kepala Mala, “Thanks, Hon.”


Dering suara ponselnya berbunyi nyaring. Mala bangkit.


“Toni,” ucapnya.


“Ya, Ton.”


“Pak, saya kirimkan berita di salah satu portal mengenai Anda dan Mbak Mala. Tadi pagi Pak Atat beserta kuasa hukumnya mendatangi kembali Pengadilan Negeri. Beberapa wartawan menanyakan perkembangan kasus gugatan itu. Dan Pak Atat keceplosan menjawab status Anda yang sudah menikah dengan Mbak Mala. Lalu wartawan kembali mencecar soal pernikahan Anda. Tapi Pak Atat hanya memberikan clue. Dan wartawan mencari identitas—”


“Cukup, Ton. Aku tahu maksudmu. Kamu awasi saja perkembangan mereka. Soal pernikahan aku sama Mala memang sudah saatnya di-publish. Tidak perlu disembunyikan lagi. Biarkan wartawan bernarasi dengan sendirinya. Asal masih berimbang. Tapi jika sudah merugikan ... kamu tahu langkah apa yang harus dilakukan.”


“Iya, Pak. Baik, saya akan terus memantau perkembangan berita tentang Anda dan kasus gugatan tersebut.”


“Kenapa?” tanya Mala ketika sambungan telepon terputus.


Ia menceritakan soal Atat yang menggugat dirinya dan beberapa pihak di PN terkait wasiat papi.


“Oh, My God. Kenapa bisa seperti ini?”


“Aku tidak tahu,” ia menatap Mala dengan air muka cemas.  Kembali meraih tangan istrinya itu dan mengusapnya lembut. “Maaf ... selalu membawamu dalam masalahku yang tak ada hentinya.”


Gemala menggeleng, “Kita akan lewati bersama.”


Ia merengkuh Mala dalam dekapannya, “Thanks, Honey ... you’re all I need beside me.”


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏