If Only You

If Only You
43. Future Husband



...43. Future Husband...


Gemala


Malam harinya mereka makan malam di luar. Kemudian berlanjut mencari gaun untuk undangan ke pernikahan sahabatnya. Nayla Anwar.


Berhubung dresscode berbau-bau India. Sebab calon suami Nayla masih keturunan Hindustan. Ia harus hunting terlebih dahulu bersama Ru di sebuah butik terkenal di kawasan Kebayoran Baru.


Sempat berdebat dengan Ru soal pilihannya. Mulai kain sari tradisional berwarna kuning keemasan.


Laki-laki itu menggeleng dengan muka ditekuk, “Terbuka bagian perut dan punggung. It’s not good!” Sergahnya.


Ia mencebik. Yang namanya kain sari yang modelnya begini. Pakaian atas ketat dan pendek. Bawahan kain yang dililit sampai beberapa kali lalu diselempangkan pada bahu kiri.


Ia memberengut. Tak lama mendengkus.


Lalu mencoba pakaian yang kedua.


Rajasthani.


Pakaian tradisional India selanjutnya. Ia mencoba warna perpaduan krem dan merah tua. Hampir mirip dengan kain sari. Hanya saja rajasthani terdiri dari 3 potongan bagian. Rok bawahan yang lebar, atasan blouse dan dupatta (selendang khas India).


Begitu keluar dari ruang ganti, Garuda mengerutkan dahi. “Old fashioned,” sambil geleng-geleng kepala, komennya tegas dan nyelekit.


What! Apa dia bilang?


Ia mengembuskan napas kasar. Yang namanya pakaian tradisional ya, old. Memang dasar nasty. Tidak akan berubah. Ia mengentakkan kaki.


Ketiga kalinya ia mencoba lehenga choli. Pakaian khas India berikutnya. Yang terdiri dari rok panjang yang dipasangkan dengan choli. Yaitu semacam blouse yang lebih panjang hingga ke pinggang. Dan sering disertai dengan chunri, seperti selendang atau kain panjang yang cerah dan warna warni.


Respons Ru saat ia keluar dari ruang ganti. Menatapnya cukup lama. Memang pinggang terbuka sedikit. Tapi ia akali dengan selendang untuk menutupinya.


“I don’t like it. Terlalu seksi. Kalau selendang ini disampirkan ke sini,” Ru menarik selendang dan disampirkan ke bahunya, “tuh ... terlihat terbuka. Em ... no!”


Hah! Ia mendengkus. Lagi. Entah sudah ke berapa kali embusan napasnya kesal.


“Terus pakai yang mana?” ia sudah tak bersemangat. Padahal masih banyak yang harus dicobanya.


“Masa gitu saja nyerah!” ejek Ru. Bangkit dan memilihkan pakaian untuknya.


Huh! Kenapa tidak dari tadi? Dia yang memilih saja. Selesai. Tidak ada perdebatan dan penolakan.


Ru memilihkan gaun panjang berbahan sutera berwarna  biru muda dengan hiasan payet dan mutiara. Bagian dada bermotif floral senada. Selaras dengan chunri.


Harapannya ini yang terakhir. Bagaimanapun ia lelah jika harus berganti lagi menyesuaikan dengan keinginan laki-laki itu. Ia menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Semoga kali ini cocok. Begitu keluar dari ruang ganti. Berusaha memasang senyum terbaiknya. Ternyata Ru tengah berbalik membelakanginya sambil menelepon. Ia menggeret kursi dan duduk di sana.



Laki-laki itu sepertinya telah selesai menerima panggilan. Memutar tumitnya dan mata mereka bertumbuk sekian waktu. Detik berikutnya ia menyulam senyum sempurna hingga tampak gigi berbaris rapi menghias di sana. Ru menatapnya lama. Kemudian senyumnya terkembang dan puas, “You look beautiful.”


Huuuuh ... akhirnya ia bisa bernapas lega.


Garuda juga memutuskan mengambil pakaian jenis dhoti berwarna biru gelap. Menyesuaikan warna pakaiannya.


“Menurutmu, kado apa yang cocok untuk seorang sahabat?” ia bingung harus memberikan Nayla kado apa. Mobil yang membawa mereka tengah melaju ke pusat perbelanjaan di daerah Thamrin.


“Jam mungkin. Atau tas, paket bulan madu ... atau,”


Ia menggeleng, tidak setuju. “Jangan semua dinilai dengan kemewahan. Belum tentu semua orang suka. Bahkan bisa jadi tidak bermakna. Aku pengennya yang unik, bisa dikenang terus sama Nayla dan Arfin.”


“Terus apa dong?!” sahut Ru.


Keduanya terdiam sesat. Stuck belum ada ide. Berharap sampai tujuan ia menemukan barang yang cocok.


Mobil Mercedes Benz itu pun telah terparkir. Tapi justru ia belum menemukan barang apa yang akan diberikan pada sahabatnya itu.


“Hon, ayo kita turun.” Ternyata Ru sedari tadi memperhatikannya. “Kita lihat dulu di dalam.”


Ia mengangguk.


Lantai demi lantai mereka jelajahi hanya untuk mencari apa yang diinginkannya. Tanpa sengaja manik matanya jatuh pada piyama tidur couple beserta sandal bulu. Tak tanggung-tanggung ia membelikan 6 model sekaligus. Bermotif etnik hingga tie dye.


Garuda sampai geleng-geleng kepala.


Esok paginya ketika bola raksasa sudah sepenggalah mereka menuju Kuala Lumpur untuk menghadiri pernikahan Nayla dan Arfin Shankar.


Bertempat di salah satu hotel terbesar di kota tua Brickfields di tengah pusat kota Kuala Lumpur. Mereka tiba di sana pukul 10 pagi waktu setempat. Langsung menuju tempat perhelatan acara resepsi digelar.


Sepanjang memasuki lobby hingga karpet merah terbentang Ru menggenggam tangannya. Sangat erat. Sesekali menoleh padanya melempar senyum.


Benar-benar pernikahan dengan budaya India sangat kental. Saat memasuki ballroom sudah semakin terasa. Tirai-tirai panjang berwarna-warni dengan tirai kristal yang diletakkan di bawah lampu gantung dalam jumlah banyak.


Ru menariknya untuk masuk dalam photobooth ala India. Seseorang memakaikan bunga raksasa ke leher mereka. Beberapa kilatan flash  dari kamera mengabadikan keduanya. Bahkan Ru menyerahkan ponselnya untuk mengambil gambar mereka. Dengan pose laki-laki itu merangkum pinggang. Bahu. Terakhir menautkan jari jemari mereka.


Sesaat sebelum turun dari pesawat tadi Ru memberinya sebuah kalung dengan liontin bertuliskan ‘GRD’. Memasangkan melingkar di lehernya. Kalung emas putih berhiaskan berlian kecil yang tersemat di antara huruf membuat tampak berkilauan.


Kedua alisnya mengerut, “Kok, GRD?” tanyanya memprotes.


“Biar kamu selalu ingat kalau GRD itu Garuda. Garuda ... Garuda ... Garuda!” serunya dengan yakin berulang kali.


“Ish, mulai narsis,” keluhnya. Laki-laki itu tergelak puas sambil mengusap puncak kepalanya. “Makasih,” ucapnya sejurus kemudian.


Di dalam ballroom ia sempat bertemu dengan profesor Dat Paul. Yang tak lain Paman Arfin—suami Nayla. Memperkenalkan Garu pada dosennya tersebut lalu berbincang sebentar.


“Bagaimana, Mala? Sudah kamu pikirkan tawaran di Canberra?” Paul bertanya padanya. “Opportunities don’t come again and again. Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik. Mereka membutuhkan peneliti muda sepertimu. Sebentar lagi kamu mendapatkan gelar Master of Arts,” sambung Paul bersemangat. Apalagi Paul menjadi ketua tim tersebut.


Ia mengulas senyum. Sementara Ru berdiri di sampingnya menelinga. Tanpa menyahut sama sekali.


Ia undur diri ketika ada kerabat Paul yang menghampiri. Mereka menuju meja kosong. Duduk di sana sambil menikmati suguhan pertunjukkan para penari India.


“Kamu mau terima tawaran Prof. Paul?” tanya Ru dengan tanpa mengalihkan pandangan ke depan. Dari nada bicaranya Ru sepertinya kurang suka dengan berita tersebut.


“Belum tahu,” sahutnya.


Jeda sejenak. Nayla dan Arfin menghampiri mereka dengan senyum bahagia yang ditebar ke setiap tamu undangan.


Ia berdiri menyambut kedua mempelai yang datang. Begitu juga Ru.


“Congrotulations on your wedding.” Ia memeluk Nayla. “Wishing you a long and happy marriage (semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia). Sakinah mawaddah warrahmah.” Imbuhnya. Keduanya mengurai pelukan.


“Thank you, kalian sudah datang,” balas Nayla, “and he?” Nay menunjuk Ru.


“Mala future husband,” Ru menyahut ketika ia menoleh pada laki-laki itu.


Ia sempat membulatkan bola matanya sebab terkejut dengan kalimat yang keluar dari bibir Garuda.


Sedangkan Nay dan Arfin terkekeh, berucap spontan, “Aamiin ....”


“May god bless it!” imbuh Nay.


Mereka sempat ditarik ke depan untuk menari bersama. Tapi ia menggeleng. Nayla memasang wajah memohon, “Please,”


Akhirnya ia dan Ru ikut bergabung dengan tamu lainnya menari India ala kadarnya.


Tepat bola raksasa dunia di atas kepala mereka pamit. Melanjutkan perjalanan ke Singapura. Menjenguk papi Garuda.


...***...


Garuda


“Ibu di mana?” ia menelepon ibunya saat memasuki lobby rumah sakit.


“Ibu lagi di luar. Mungkin 15-20 menit lagi sampai,” balas Rahayu.


“Aku sama Mala sudah sampai di rumah sakit. Aku tunggu Ibu di sini.”


Ia memutuskan sambungan telepon ketika tiba di depan lift.


Tetiba merasakan getaran yang menyelusup dalam dadanya, tidak biasa. Kebahagiaan yang sebentar lagi akan diraihnya. Gadis di sampingnya akan dipertemukan dengan papi dan ibunya secara bersamaan. Tentu saja ia juga akan meminta restu mereka.


Saat tiba di depan pintu kamar perawatan papi, Mala menatapnya. Ia menerbitkan senyum, kemudian mengusap bahunya. “Lady first,” ucapnya meyakinkan gadis itu untuk masuk terlebih dahulu dengan membukakan pintu.


Di dalam ternyata ada dokter Tan, Om Pras dan Tyo. Percakapan mereka yang awalnya terdengar, mendadak terhenti karena kehadirannya dan Mala.


Ia menyahut, “Tidak ada topik yang menarik lainnya apa?” sanggahnya kesal. Seperti emak-emak saja pikirnya. Membicarakan orang lain sebagai bahan perbincangan.


“Karena kamu lebih menarik, Ru!” seru Tan. “Dan siapa gadis ini, apakah calon menantu selanjutnya?” Tan menggoda menipiskan bibir.


“Cih, udah pada tua tapi gak tahu diri,” ia mencibir. Mereka baginya sudah seperti keluarga.


“Suruh duduk, Ru.” Papi menyela. Melihat Gemala masih berdiri di sebelahnya.


“Kamu duduk dulu,” ia menyuruh Gemala duduk di sofa sebelah Pras. Mala memperkenalkan diri pada Pras, Tan dan Tyo. Lalu menghampiri papi, “apa kabar, Om?” sapa gadis itu.


“Om, baik. Terima kasih Mala sudah mau menjenguk Om di sini,” balas Torrid seraya menyambut dengan senyuman.


Mala tampak mengangguk sejenak lalu mendudukkan dirinya di sofa sebelah Pras.


“Sepertinya kami harus keluar dulu. Pembicaraan inti keluarga. Kami siap mendengarkan hasil musyawarahnya nanti,” Pras menukas sambil berdiri.


Mala bahkan ikut berdiri lagi karena sungkan.


“Mala tetap di sini.” Pras menahan gadis itu, “kami sebentar saja cari angin di luar,” sahabat Torrid tersebut menepuk pundak Tan. “Ayo!” ajaknya.


“Baiklah ... semoga kabar gembira setelah ini menjadi sesuatu yang dinanti-nanti,” Tan menimpali. Langkah mereka satu persatu meninggalkan ruangan. Di susul Tyo paling belakang.


“Duduklah,” tandasnya pada Mala yang masih berdiri canggung.


Mala kembali duduk. Sementara ia menggeser kursi roda papi agar lebih dekat dengan sofa.


“Ibumu sedang menjemput adikmu di bandara,” kata papi.


“O, ya? Dia pulang dari Jepang?”


“Kebetulan transit di sini. Habis itu lanjut ke sana.”


Ia menatap Mala yang mendengarkan percakapannya dengan papi, “Nanti aku kenalkan sama adikku,” tangkasnya.


Mala tersenyum tipis.


Terdengar kekehan ringan, “Akupun baru ini akan bertemu dengannya secara langsung. Entah seperti apa nanti. Yang jelas lebih ganteng aku,” selorohnya.


Papi menyergah, “Ru,”


Ia menukas, “Just kidding, Pi.”


Tak lama mereka berbincang suara ketukan pintu terdengar. Muncul Rahayu dan seorang laki-laki di belakang ibunya.


Ia pernah melihatnya waktu mengintai di rumah sakit. Tidak akan pernah lupa sosoknya. Ya, laki-laki berpostur  tinggi hampir seperti dirinya. Badannya tegap meski lebih kurus. Menatapnya bergantian lalu beralih ke Torrid dan berhenti pada Mala.


Cukup lama memandang Mala.


Keningnya berkerut sejenak. Lantas ibu memperkenalkan adiknya itu padanya, papi dan ....


“Kita ketemu lagi,” tukas Mala refleks berdiri saat Rahayu masuk tadi.


Ia menatap Mala penuh tanda tanya, “Kami pernah bertemu di Jepang. Kemarin jumpa lagi di Melbourne. Dan sekarang ... ternyata dunia sempit. Kamu adiknya Ru,” urai Mala setelah mengulurkan tangan menyambut Rahayu dan Ganjar secara bergantian.


Interaksi mereka tak luput dari pengamatannya. Mereka tampak akrab. Bahkan ia sampai terlupa jika belum menyapa adiknya.


“Syukurlah ... kalian sudah kenal.” Rahayu menimpali dengan senyum. “Le, ini Mas Ru ....”


Hening sejenak. Suasana dalam kecanggungan.


Namun ia berusaha menguasai keadaan. Ia dan Ganjar berhigh five. “How are you, Bro?” ia mendekap Ganjar dan menepuk punggungnya.


“Same as always,” sahut Ganjar juga menepuk punggungnya. Keduanya lalu bersikap seperti semula. Meski posisinya lebih dekat.


“Kalian bersaudara,” imbuh Rahayu. Mempertemukan 2 saudara untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pasti butuh waktu mengakrabkan keduanya. Rahayu harus bisa menjadi jembatan buat mereka. Mencairkan suasana.


“Momen yang Ibu tunggu-tunggu hari ini,” sebulir kristal cair melelehi pipi wanita paruh baya tersebut. Sedetik kemudian, “ini air mata bahagia,” sanggahnya selalu mengulas senyum di setiap kalimat yang terlontar—saking bahagianya.


Spontan ia merangkul bahu Rahayu. Ganjar merangkum pinggang ibunya dan keduanya berucap bersamaan, “Bu,”


Air mata rahayu kembali menetes. Seraya mengusap kedua punggung anaknya.


Sementara papi juga terlihat bahagia. Air mukanya jelas menyiratkan itu. Bahkan mata itu terlihat berkaca—terharu. Mungkin inilah waktu yang juga dinanti-nantikannya.


Ia kembali menatap Ganjar yang sesekali tertangkap memandang Mala.


“Mala ini pacarnya Mas Ru, Le.” Terang Rahayu, “Masmu udah bawa gandengan ... sekarang giliran kamu. Mana cewek Jepang yang mau dikenalin sama Ibu?”


Ganjar tersenyum kaku.


“Oya, ini Om Torrid. Papi Mas Ru,” ujar Rahayu.


Ganjar mengulurkan tangannya, “Ganjar,” sebutnya.


Papi menepuk punggung tangan Ganjar. “Terima kasih sudah datang kemari,” manik mata papi berbinar.


Meski ... ya, canggung. Rasa itu melingkupi. Entah kenapa. Apa karena baru pertama kalinya mereka bertemu. Atau ... ah, rasanya tidak mungkin.


Ia dan Mala duduk bersebelahan. Ganjar duduk di sebelah ibu. Semua mendengarkan Torrid dan Rahayu bercerita.


Sesekali ia mengusap lengan Mala jika ibunya mulai mencecar mereka mengenai kapan hubungan mereka berlanjut ke yang lebih serius.


Ibunya bilang siap datang ke Surabaya.


“Ya, Papi juga mendukung. Lebih cepat lebih baik.” Torrid menimpali.


-


-


📷 : unsplash (artist by Rashmika Mandanna)


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏