If Only You

If Only You
56. Rendezvous Yang Membahagiakan



...56. Rendezvous Yang Membahagiakan...


Rahayu


Bagaimanapun Garuda lahir dari rahimnya. Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya diperlakukan seolah-olah ialah yang harus menanggung kesalahan orang tuanya. Meski ia tahu, keluarga mana pun juga mungkin tidak sudi mendapat menantu  punya orang tua yang menyandang ‘terpidana’. Bahkan ada keterikatan dengan keluarga korban. Amat sangat memilukan.


Ia bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan Garuda.


Garuda dan Gemala harus menanggung limpahan kesalahan. Itu tidak adil.


Ia bertekad menemui orang tua Mala. Apalagi setelah mendengar cerita dari Garuda. Bahwa orang tua Mala ternyata adalah orang yang dikenalnya. Dan pernah dekat.


“Ibu Rahayu?” ucap Imam dengan raut wajah tak percaya.


Kapan kali terakhir mereka bertemu. 7 tahun? 10 tahun? 13 tahun? Kurun waktu yang begitu lama. Tapi bukan itu esensi pertemanan mereka. Melainkan ....


“Silakan duduk,” Imam mempersilakan mereka untuk duduk.


Sementara Larasati mendekatinya dan menyambutnya hangat seperti sebelum peristiwa ini terjadi. Mereka saling menempelkan pipi kanan dan kiri secara bergantian. Salam khas dua teman dekat yang sudah lama tidak bersua.


“Gimana kabarnya, Dok? Sudah lama sekali. Gak menyangka kita bisa dipertemukan kembali,” kata Laras setelah mereka mengurai kerinduan dengan saling memeluk satu sama lain. Mama Gemala kembali duduk di sebelah suaminya.


“Alhamdulillah. Saya baik, Bu. Oya perkenalkan ... ini,” ia menunjuk pada Garuda yang telah duduk di sebelahnya. “Anak pertama saya,”


Imam dan Laras semakin dibuat terkejut.


“Maaf membuat Pak Imam dan Bu Laras bertanya-tanya. Dan mungkin terkejut dengan pengakuan ini,” urainya. Mendudukkan diri di sebelah Garuda.


“Kedatangan saya di sini juga ingin meluruskan masalah anak-anak kita,” sambungnya.


Imam dan Laras masih terdiam menelinga.


“Saya menikah dengan Torrid, yang tak lain papinya Garuda. Lalu kami berpisah 8 tahun kemudian. Dan saya kembali menikah kedua kalinya namun kembali gagal. Menghasilkan anak laki-laki. Mungkin Pak Imam dan Bu Laras masih ingat. Saya pernah bercerita jika saya punya anak 2, semuanya laki-laki.” Ia menyelanginya dengan lengkungan bibir ke atas.


Larasati mengangguk-angguk.


Sri datang membawa nampan berisi minuman dan camilan. Perbincangan itu terjeda sesaat.


“Silakan, Dok.” Larasati mempersilakan mereka untuk meminum suguhan yang telah tersaji di atas meja. Ia dan Garuda tentu menyambut hangat perlakuan tersebut.


“Maaf jika Garuda kemarin datang kesini tanpa saya. Bermaksud untuk meminta restu,”


“Semua itu memang tanpa sepengetahuan saya. Tapi saya kenal Mala. Dua kali bertemu dengannya dan saya rasa memang anak-anak kita saling mencintai. Mereka serius. Seandainya waktu itu saya tahu bahwa orang tua Mala adalah Pak Imam dan Bu Laras mungkin saat itu juga saya akan memintanya. Melamarnya untuk anak saya. Akan tetapi, saya juga paham. Mala ingin menyelesaikan masa study-nya, terlebih dahulu.”


“Saya sudah mendengar alasan Pak Imam menolak Garu untuk meminta Mala sekaligus meminta restu. Maafkan anak saya Pak Imam. Saya rasa tidak adil jika anak-anak harus dikorbankan dalam hal ini. Mereka tidak bersalah. Cukup orang tuanya yang mendapat hukuman. Mereka jangan dihukum dengan beban moral yang membuat kehilangan kepercayaan diri.”


Larasati tampak meremas jari jemarinya yang berada di atas pangkuan. Sementara Imam tetap terdiam tanpa mau menyela.


“Biarkan anak-anak menentukan masa depannya. Dengan siapa mereka akan menghabiskan sisa umurnya. Bukan kah hal yang mendasar adalah tentang kebahagiaan mereka. Buat apa kita memutus paksa rantai kebahagiaan tersebut. Lalu mengorbankan mereka dan mereka harus membayarnya dengan kesedihan dan luka. Itu tidak adil menurut saya, terlalu picik.”


“Saya mengerti posisi Pak Imam sebagai seorang ayah. Saya juga bisa merasakan apabila berada di posisi Mala. Sulit dan dilema. Dihadapkan dengan pilihan yang rumit.”


“Maaf ... saya juga tidak bisa protes Garuda lahir dari ayah yang punya skandal memalukan. Bahkan saya sendiri juga tidak percaya. Tapi, takdir berkata seperti itu. Kami hanya bisa menjalani dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan,”


Ia menjeda. Menghela napas dan mengembuskan perlahan. Sudut bibirnya tertarik ke atas samar. Bercampur kegetiran yang menyeruak memenuhi dada.


“Garuda memang tidak bisa memilih lahir dari ayah yang seperti apa. Tapi saya yakin Garuda akan bisa memilih menjadi orang tua seperti apa kelak bagi anak-anaknya. Apalagi dia bisa berkaca dari ayahnya yang telah melakukan kesalahan dan ayah yang kurang ideal ditilik dari siapa pun. Untuk dijadikan pelajaran berharga bahwa hal itu tidak boleh dan tidak akan terjadi di keluarganya nanti sekaligus menjadi pengingat dan pelindung diri.” Rahayu memungkasi.


...***...


Garuda


Kelegaan berpendaran di hatinya layaknya kembang api yang meluncur ke angkasa. Bibirnya selalu terkembang. Menghiasi wajah tampan yang mengenakan kaca mata hitam.


Inilah kabar yang dinantinya.


Titik pengharapan sekaligus perjuangan mendapatkan Mala.


Rendezvous (pertemuan) yang membahagiakan.


Setelah ibu menjelaskan panjang lebar. Dan membuatnya tergetar. Akhirnya Papa Mala merestui mereka.


“Baiklah, Dok. Saya akan mengizinkan putra Anda untuk menikahi Gemala. Tapi dengan satu syarat,”


Ia dan ibunya saling pandang sesaat. Syarat?


“Saya merasa menghianati adik saya. Juga keponakan saya jika pernikahan ini tetap dilakukan. Bahkan saya merasa mencenderai keluarga besar saya,” Imam mengembuskan napas berat. Ada beban melingkupinya.


“Untuk itulah saya mengajukan syarat. Pernikahan ini harus dirahasiakan. Saya hanya ingin melindungi Mala. Tidak ingin menambah kegaduhan. Cukup kita saja yang mengetahui pernikahan ini.” Larasati mengusap paha suaminya. Menggeleng perlahan.


Sementara Rahayu juga berusaha menenangkan dirinya dengan cara mengusap lengannya. Sebab ia kurang setuju apabila harus merahasiakan pernikahannya.


“Syarat ini kami setuju, Pak Imam.” Rahayu mengangguk yakin. Meski hati nuraninya sempat protes. Tapi ini mungkin jalan tengah, “kami akan mempersiapkan persyaratan nikah secepatnya. Lebih cepat lebih baik. Menikah itu ibadah. Semoga apa yang kita niatkan mendapat berkah, ridho dan kelancaran.”


“Bagaimana kalau besok sore?” tawar Imam.


Larasati, Rahayu dan dirinya seketika terperangah. Secepat itu?


“Bukankah lebih cepat lebih baik. Pernikahan akan dilakukan di Jember. Di kediaman kami. Mala masih berada di sana,” putus Imam.


“Alhamdulillah,” ucap Rahayu. Menyusul dirinya yang bergumam sama.


Mereka pamit dari kediaman Mala. Sepanjang perjalanan menuju Jember Rahayu menceritakan kisah perkenalannya dengan Imam dan Larasati.


“Ibu dulu ditugaskan di salah satu rumah sakit milik pemerintah Surabaya. Selama 3 bulan.”


Selama berada di sana banyak kejadian bencana alam menimpa. Dari mulai banjir bandang di Jember akibat longsornya pegunungan di lereng Argopuro yang memakan banyak korban. Menewaskan 98 orang, ratusan terluka berat sampai ringan. Ribuan rumah hancur dan sebagian terseret air bah. Ribuan orang mengungsi.


Peristiwa ini terjadi dini hari. Oleh sebab itu banyak warga yang menjadi korban.


Selang satu minggu kemudian bencana banjir juga melanda Situbondo. Menewaskan korban 20 orang meninggal, puluhan luka-luka dengan kerugian materiil yang ditaksir tidak sedikit.


Disusul banjir bandang di Mojokerto, Kediri, Malang dan Blitar bagian selatan. Semua menelan korban. Meski lebih sedikit dari bencana di Situbondo.


Mungkin inilah tahun terpuruk dan terburuk selama kepemimpinan Imam. Bencana datang bertubi-tubi seolah tak bertepi.


Gubernur menyatakan status siaga di wilayah-wilayah yang rawan bencana terutama banjir dan longsor. Sebab intensitas curah hujan yang cukup tinggi di musim penghujan disertai daya dukung lingkungan yang sangat rapuh.


Rahayu yang punya latarbelakang pernah menjadi tenaga medis relawan di berbagai daerah ditunjuk khusus sebagai ketua tim kesehatan dari provinsi mendampingi tenaga medis daerah yang berlokasi di kawasan bencana Argopuro tersebut.


“Apa interaksi Ibu dengan Papa Mala intensif? Sehingga Papa Mala merasa dekat dan berhutang budi sama Ibu?” tanyanya.


Waktu itu Papa Mala baru kembali dari kunjungan di Situbondo. Langsung menuju lokasi. Kondisi saat itu gerimis. Sementara pencarian korban masih terus berlangsung. Diperpanjang 3 hari ke depan karena banyak korban yang belum ditemukan.


Bertepatan Imam datang, lereng kembali longsor. Kondisi tanah yang masih labil menjadi penyebabnya. Semua tim evakuasi berusaha menyelamatnya diri masing-masing. Begitu juga Imam dan ajudannya. Tapi nahas, Imam terjerembap di kubangan lumpur. Ajudannya berusaha menolongnya. Imam yang mengalami syok, mendadak kesulitan bernapas. Meski bisa tertolong dengan bantuan oleh beberapa orang dan di bawa ke tenda pengungsi. Tapi kondisi Imam memburuk. Dia mengalami serangan jantung.


“Ibu yang menolong beliau?” tanyanya.


Rahayu menangguk.


“Kebetulan Ibu yang tengah bertugas pada saat itu. Memberikan pertolongan pertama dengan alat seadanya. Alhamdulillah Pak Imam berhasil melalui fase kritis. Setelah itu beliau langsung dilarikan ke rumah sakit.”


“Setelah itu?” tanyanya kembali.


“Ibu kerap bertemu dengannya sejak kejadian nahas itu. Baik diacara formal maupun non formal. Kami berteman bahkan dengan istrinya Larasati. Pak Imam menganggap Ibu yang menyelamatkan nyawanya. Padahal itu salah satu tugas seorang dokter.”


Ia meraih tangan ibunya. “Makasih, Bu.” Mencium punggung tangan tersebut. Sementara Rahayu tersenyum mengusap lengannya lalu bersandar di bahunya.


...***...


Gemala


Hampir tiap pagi ia mengikuti proses panen kakao dan kopi. Menjelang siang melihat proses pengolahan kakao menjadi cokelat baik lemak cokelat (cocoa butter) yang digunakan untuk memproduksi cokelat maupun cocoa presscake yang merupakan cikal bakal bubuk cokelat.


Indra penciumannya puas menghidu aroma cokelat dan kopi yang menguar setiap hari dari tempat pengolahan ini. Bahkan dari jarak jauh, aroma itu masih tercium. Sebab terbawa angin.


Jene chocolate.


Adalah produk andalan cokelat batangan dari perkebunan milik papa. Selain itu juga tersedia bubuk cokelat dengan merek yang sama.


Menjelang sore. Sebagian para pekerja bersiap pulang. Besok hari libur tentu jam kerja hanya batas tengah hari.


“Mbak Mala, duluan, ya,” sapa salah satu pekerja divisi pengolahan.


“Oke. Hati-hati,” sahutnya berpesan.


“Mbak Mala, kami duluan.” Sekelompok pekerja dari bagian gudang dan kantor mendahuluinya.


“Da ... da, hati-hati.” Ia membalas mereka.


“Malming, Mbak. Ke kota jalan-jalan biar gak suntuk,” celetuk salah satu dari mereka.


Ia hanya tersenyum membalasnya.


Dua minggu lebih ia berada di perkebunan itu membuatnya cepat dikenal banyak orang. Apalagi ia mengikuti kegiatan selayaknya pekerja sungguhan. Dan cepat berbaur dengan mereka.


Itu salah satu cara mengalihkan suasana hatinya yang sedang terimpit beban. Mencari kesibukan. Menghabiskan waktu. Meski pada sore dan malam hari ia kembali pada kesendirian.


Om Bagas juga telah kembali ke Surabaya. Bahkan yang ia dengar akan ke Semarang menjemput istrinya sekaligus melihat cucu kesayangan.


Ia mendesakkan napas. Sering duduk di gazebo saat sore hari membuat Pak Mun hafal. Orang yang dipercaya menjaga fasilitas rumah dan sekitarnya itu selalu membawakan minuman cokelat panas berserta camilan tradisional ke gazebo. Sementara istri Pak Mun yang bertugas memasak. Dan membersihkan area dalam rumah.


Apalagi ternyata papa secara diam-diam menitipkan dirinya pada Pak Mun. Pasangan paruh baya tersebut memilih tinggal di paviliun belakang untuk menemaninya selama di sana. Meski 4 security juga bersiaga di pos depan.


Mengobrol dengan Mun juga mengasyikkan. Membagi pengalaman selama bekerja di perkebunan. Sebab ternyata keluarga Mun turun temurun mengabdi di perkebunan ini.


“Jadi Pak Mun generasi ketiga?” tanyanya.


Mun menukas, “Ya, benar, Mbak.” Ia menengadah, “kayaknya mau hujan. Sekarang musim berubah. Harusnya sudah memasuki kemarau tapi masih ada hujan turun. Giliran musim penghujan, malah kekeringan di mana-mana. Bumi kita semakin tua kali ya, Mbak.” Mun berseloroh.


Ia ikut terkekeh ringan.


Beberapa kali kilatan cahaya menyilaukan mata. Tentu saja membuat kekhawatiran juga. Awan kelam berarak perlahan menutupi sebagian angkasa. Langit menggelap seiring bola raksasa dunia itu kembali ke peraduan.


“Pak Mun, saya masuk ya.” Ia mendongak. Seraya menengadahkan tangan. Rinai halus mulai turun.


“Ya, Mbak. Kalau ada perlu panggil kami di belakang,” balas Mun.


Ia menyahut, “Aman, Pak.” Meninggalkan gazebo. Bertepatan suara gelegar dan kilat menyambar.


Refleks ia menjengit dan menutup telinga. Akan tetapi saat hendak menutup pintu iring-iringan 4 mobil  berhenti tepat di halaman rumah.


“Siapa?” gumamnya. Dalam benak pun bertanya-tanya.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca, dan memberikan dukungan ....🙏