If Only You

If Only You
22. Fight OR Flight



...22. Fight OR Flight...


Garuda


Satu pekan sudah ia berada di Jakarta. Persoalan tentang Garuda Land proyek reklamasi masih berdengung satu dua di media massa. Tapi tak menjadi soal baginya.


Hanya saja banyak petinggi perusahaan yang menyayangkan keputusannya untuk mundur dari proyek tersebut. Bahkan sempat membuat harga saham GL di bursa efek melemah. Selama sepekan terakhir juga saham GL masuk dalam top losers. Mengalami penurunan indeks sebesar 6,5%. Melantai bebas selama 7 hari. Membuat para investor sempat ragu atas kepemimpinannya.


Ia berusaha untuk mengejar target proyek lain agar tepat waktu. Memperoleh tender baru dan tentunya mengembalikan kepercayaan investor.


“Pak, Pak Maleo menunggu Anda di ruangannya,” ucap Toni. Yang baru saja masuk dalam ruangannya.


Ia beranjak, “Kamu pastikan project di Lombok awal bulan depan selesai. Peresmian akan dihadiri oleh orang no 1 di negeri ini.” Titahnya pada Toni. Kemudian berlalu.


Tiba di ruangan Maleo ternyata kakak iparnya juga berada di sana.


“Bagaimana kondisi Papi?” tanyanya. Ia duduk di seberang mereka.


“Mengalami perkembangan yang signifikan. Kemungkinan minggu depan sudah bisa pulang ke Indonesia,” jawab Maleo.


Sandra menyela, “Babe, aku duluan ya,” bangkit dari sofa. Mencium pipi Maleo. “Bye, Ru. Sorry gak bisa lama. Ada syuting 1 jam lagi.” Kakak iparnya itu berprofesi sebagai entertainer. Wara-wiri di televisi.


Ia mengangguk.


“Kamu sudah dengar berita mengenai Papi?” tanya Maleo.


Ia bergeming.


Maleo menghela napas, “Nama Papi diseret-seret dalam kasus pembunuhan seorang wartawan senior belasan tahun lalu.” Maleo bangkit menuju meja kerjanya. Mengambil sesuatu dan menyerahkan padanya. “Dan ... pelapornya seorang wartawan yang tak lain adalah anaknya sendiri.” Maleo kembali duduk.


Ia mengerutkan dahi setelah membaca lembaran berita dari sebuah media cetak, “Kirei?”


Maleo menyahut, “Ya. Kirei anak wartawan itu membuka kasus kematian ayahnya yang telah ditutup belasan tahun lalu. Padahal kasus itu telah selesai. Dalang kasus itu juga telah keluar penjara menutaskan hukumannya.”


“Tunggu! Kamaru? Demas Kamaru?” alisnya berkerut.


“Kenapa, kamu kenal?”


Ia memejamkan mata, mengetatkan giginya. Lalu beranjak pergi.


“Ru,” panggil Maleo. Tapi ia tak acuh. Terus meninggalkan kakaknya yang masih memanggilnya.


“Gue tunggu di pantai Blue Marlin .” Ucapnya dalam sambungan telepon.


Tubuhnya tegak berdiri dengan tangan bersedekap. Menatap ombak yang bergulung-gulung lalu pecah menghantam karang dan sebagian menyapu kakinya.


Bagaimana mungkin!


Ia tak percaya. Ia harus memastikan. Apa semua ini benar?


“Tumben, Bro. Tampaknya ada hal urgen sampai lo datang ke sini.” Tukas Jebe dari belakang mendekat. Lalu berdiri di sebelahnya.


Tanpa aba ia mencengkeram kerah kemeja Jebe, lalu mendorongnya. “Kenapa lo tidak bilang? Hah! Kenapa lo sembunyikan hal ini pada gue.” Pekiknya tertahan.


Jebe terhuyung ke belakang.


“Lo ...,” rahangnya mengeras—menahan emosi. Menatap tajam Jebe. Lalu melepasnya dengan sekali sentakan dengan kuat. Hingga sahabatnya itu terperenyak di pasir.


Ia mengambil kerang dilemparnya ke laut. Berkacak pinggang sambil menengadah. Berteriak lantang, “Aarrgggghh!!” meninju ke udara. Lalu menyugar rambutnya gusar.


Jebe berdiri dan masih terdiam.


“There’s a lot of sh*it that goes on! (Banyak kebohongan yang terjadi) dan lo merasa seolah-olah fine-fine saja!”


“Ru, gue bisa jelasin,” Jebe berusaha mendekat.


“Pantes. Pengajuan kerja sama GL ditolak. Dan lo masih bisa bilang semua fine-fine saja!” ia tersenyum getir, “you’re completely soaked! (Kamu benar-benar bre*ngsek). Papi gue tidak mungkin yang melakukannya! Gue jamin.”


Jebe memejamkan mata. Mengembuskan napas berat, “Terlepas dari semua. Kita tetap berteman. Kita tetap bersahabat.”


“Teman? Sahabat lo bilang? Gila lo! Sepupu lo mau menjebloskan bokap gue. Dan lo bilang kita bersahabat?!”


“Ru, itu masa lalu mereka. Itu mereka. Persahabatan kita tidak akan berubah karena hal itu.”


Ia berteriak lantang, “Bullshit!"


“Gue juga baru tahu. Dan gue tidak bisa mengatakannya ke elo. Karena hanya papi lo, yang berhak mengatakannya.”


“Damn you!”


“Terserah lo. Gue ... gue tidak memihak mana pun,” helaan napas Jebe berat. “Sampai kapan pun lo tetap sahabat gue ... sorry ....” Jebe memutar tumitnya berlalu dari sana. Ia paham sahabatnya itu butuh waktu untuk memahami semuanya.


Ia berteriak sekali lagi, “Aaaggggrrh!” lalu bersimpuh. Meninju pasir pada saat gelombang datang. Air asin itu muncrat mengenai wajahnya. Menunduk lama. Seekor anak kepiting menyembul dari gulungan ombak berjalan patah-patah mendekatinya.


“Kasihan ... go ... go ... fighting.” Kalimat gadis itu muncul bersamaan kepiting kecil yang berusaha bertahan dari gelombang yang datang berikutnya. Ia mengambil kepiting tersebut. Lalu melepasnya perlahan di bibir pantai yang jauh dari sapuan gelombang. “Bertahanlah,” gumamnya.


“Ton, kirimkan compro (company profile) SGC. Secepatnya aku tunggu!” begitu ia mengakhiri panggilan telepon langsung memberikan perintah pada pilot, “kembali ke Jakarta.”


Ia akan mencari tahu sendiri. Kemungkinan Maleo dan Atat tidak tahu persoalan mengenai masalah yang akan dihadapi papi. Ia berjanji akan membuktikan kebenarannya. Memulihkan nama papi. Secepatnya.


Beberapa hari ia bisa mengumpulkan informasi mengenai company profile SGC sampai ke dalam-dalamnya. Dan tidak ada satu pun yang terlihat ganjil. Hanya saja pada tahun awal-awal pendirian memang ditentang oleh warga sekitar. Padahal semua persyaratan lengkap dan legal.


Ia bolak-balik fokus pada laporan 2 tahun awal berdirinya SGC. Lalu jemarinya sibuk di atas layar sentuh. Mencari pada mesin pencarian.


“Oh, I am a sh*it.” Suaranya lirih. Ia tidak menemukan apa pun kejadian belasan tahun silam. Hanya berita terbaru yang percis diberikan Maleo padanya.


Ia mengembuskan napas kasar. Apa lagi ini? Ia menopang keningnya.


“Pak,” Toni masuk setelah mengetuk pintu.


“Ini tambahan compro yang Anda minta. Saya langsung memintanya dari departemen GA SGC langsung.” Toni meletakkannya di atas meja.


“Apa kamu menemukan sesuatu di sana?”


Toni menggeleng, “Semua sesuai prosedur dan legal.”


“Menurutmu apa yang harus aku lakukan?” ia menghempaskan punggung ke belakang sandaran.


“Peristiwa itu sudah sangat lama. Saya rasa jika Bapak ingin mengetahui kejadian pada saat itu lebih baik bertanya langsung pada bos besar. Beliau yang memimpin SGC pada waktu itu.”


Ia terdiam. Kondisi papi tidak mungkin ia paksakan untuk mengungkap peristiwa lama itu. Dan ia juga belum yakin apa papi terlibat? Rasanya tidak mungkin.


“Hubungi pengacara kita, Ton. Mereka harus bersiap-siap dari sekarang.”


“Baik, Pak.”


...***...


Rahayu


“Dok,” panggil Ningsih. Ia bergeming dengan bertopang dagu.


“Dok, jadi gak hari ini?” ulang Ningsih


Ia terkesiap, “Hah. Apa Ning?” menatap Ningsih kebingungan.


“Tiket ke Singapura sudah siap. Satu jam lagi dokter harus ke bandara.” Ningsih mengingatkannya.


Ia memaksa menarik sudut bibirnya, “Makasih, Ning. Tolong batalkan semua schedule sore ini.”


“Sudah, Dok. Semua sudah beres.” Ningsih tersenyum, “taksi juga sudah menunggu di depan.”


Ia menepuk pundak Ningsih, “Titip klinik.”


“Aman. Dokter Rahayu juga mudah-mudahan selamat sampai tujuan. Dan balik lagi kesini secepatnya.” Ningsih terkekeh ringan.


Penerbangan siang itu berjalan lancar. Meski ada sedikit keraguan tersimpan. Tapi semua ia enyahkan. Tidak dapat dipungkiri, dia adalah ayah bagi anaknya. Dan ia berusaha berdamai dengan masa lalu.


Tiba di rumah sakit ia langsung menuju kamar perawatan. Berbicara sebentar dengan seorang dokter yang bertemu dengannya di selasar.


“Apa kabarnya, Ko?” tanyanya begitu ia masuk dan melihat Torrid tengah duduk di sofa. Sepertinya baru saja usai makan siang.


Seorang laki-laki dan suster yang berada dalam ruangan itu pamit keluar. Ia mengulas senyum pada mereka.


Torrid menyulam senyum. “Terima kasih ... kamu masih mau datang menjengukku, Ay.”


Ia memilih duduk di sofa satunya. “Bagaimana bisa kamu meremehkan kesehatan kamu? Bukankah aku pernah bilang. Kamu punya penyakit HCV. Dan penyakit itu bisa kambuh kapan pun jika kamu tidak bisa mengatur pola hidupmu.”


“Mungkin, kalau aku tidak sakit seperti ini kamu tidak akan datang. Jadi setidaknya sakit ini membawamu kesini.”


Ia memutar bola matanya, malas. Mengembuskan napas.


Torrid masih menebar senyum.


“Mulai detik ini kamu harus benar-benar jaga kesehatan. Kalau kamu masih mau hidup lama.” Tangkasnya kesal. Pria di sebelahnya ini sangat keras kepala. Sesuai hasil diagnosa yang ia baca. Kanker hati itu tidak tumbuh begitu saja. Tapi akibat HCV yang kronis. Bertahun-tahun di dalam tubuh tanpa disadari. Mengakibatkan kerusakan pada hati. Dan pada akhirnya berkomplikasi menjadi kanker.


Dulu ia pikir HCV itu telah benar-benar sembuh. Bahkan selama mereka bersama virus itu tidak pernah kambuh. Tapi setelah itu ....


“Aku akan hidup lama, kalau kamu mau bersamaku, Ay.” Kilah Torrid, “menebus kesalahanku. Atau mungkin ini ganjaran yang harus aku terima.”


Ia menyahut, “Dari dulu kamu keras kepala, Ko.”


“Kamu masih hafal sifatku. Masih perhatian sama aku, Ay.”


“Kita sedang tidak bercanda. Aku berharap setelah ini kamu benar-benar menjaga kesehatanmu. Itu lebih penting dari segalanya.”


“Terima kasih, Ay. Kamu masih peduli denganku. Itu saja sudah membuatku bahagia,”


“Dan maaf ... aku belum sempat menceritakan semua sama Ru soal—”


Ia menggeleng, “Sudahlah ... aku hanya menyerahkan semua takdir ini. Aku yakin suatu saat dia akan mengerti.”


Suasana di ruangan perawatan VVIP itu hening sejenak. Sepasang mantan suami istri itu terdiam dalam senyap.


“Bagaimana kalau kita melamarkan gadis itu untuk Ru?” entah ide itu datang dari mana tercetus tiba-tiba oleh Torrid.


Ia menggeleng, “bukan ide yang bagus. Apa kamu juga yakin mereka saling cinta?”


“Aku yakin, Ru menyukainya.”


Ia menggeleng lagi, “Kita tunggu saja kelanjutan hubungan mereka seperti apa?”


“Maaf ... Ay. Aku membuatmu skeptis dengan laki-laki. Dan mungkin kamu juga skeptis soal cinta.”


Hem, mulai lagi. Berbicara dengan pria yang berstatus ayah anaknya ini memang menguras energi psikisnya. Tidak akan bisa lari dari masa lalu. Dan akan terus berkubang dalam kenangan.


“Lebih baik kita cari udara segar,” tukasnya.


Mereka memutuskan keluar ruangan. Ia mendorong kursi roda Torrid ke arah taman. Keduanya dalam keterdiaman yang menjeda. Hanya suara gemercik air mancur. Dan semilir angin yang menerpa.


“Ini mungkin kesempatan terakhirku, Ay. Bisakah aku menebus kesalahanku?” Ucap Torrid membuka keheningan.


Ia mendesahkan napas kemudian berucap, “Bagaimana kalau kita bahas yang lain?” tawarnya. Meski ia sendiri pun bingung. Tujuannya kesini untuk melihat kondisi pria ini. Selebihnya ... ia sendiri tidak tahu.


“Aku dihubungi Prasetyo. Dia mengirimkan salam buatmu,” ia duduk di kursi taman. Tak jauh dari Torrid.


“Aku berhutang budi padanya,”


“Bukan cuma kamu. Tapi aku juga.”


“Prasetyo memilih tinggal di kampung. Menikmati masa tua dengan alam. Keinginan sederhana yang membuatku iri.”


Ia mengernyit, “Bagaimana bisa kamu iri? Bukankah dari dulu kamu tinggal di kota dengan segala fasilitas. Apa yang kamu butuhkan semua tercukupi. Hingga kamu berada di puncak kesuksesan,”


“Apalah artinya semua itu. Jika kebahagiaan tidak bisa tergapai. Aku ingin seperti Pras, menikmati masa tua dengan pasangan di kampung terpencil. Meski harus berbagi sepiring berdua,”


“Kamu terlalu hiperbolis. Siapa yang akan membiarkan seorang Torrid makan sepiring berdua. Bahkan mereka bisa menyajikan piring berlapis emas buatmu.” Ia menukas dengan tawa kecil.


“Kita pernah makan sepiring berdua Ay, dan itu kebahagiaan yang tidak pernah kulupakan. Sampai kapan pun.”


Ia hela napas dalam.


“Kalau kamu meminta kembali ... rasanya aku belum bisa dan aku rasa seperti inilah yang tepat buat kita sekarang.”


“Aku minta maaf,” lirih Torrid seraya menunduk sesaat. Kemudian menatapnya penuh harap. “Dengan apa aku harus menebus kesalahanku, Ay?”


Mata itu, ya mata kejujuran Torrid yang bisa dibacanya. Tak pernah meleset. Entah sudah berapa ribu maaf itu terucap. Entah sudah berapa ribu pria itu memintanya kembali. Bahkan ia sendiri tak bisa menghitungnya. Perlahan desiran menyakitkan itu menyelimuti hatinya. Memanaskan indra penglihatannya.


Akhirnya kristal cair itu mendesak keluar lewat sisi matanya. Ia menggeleng.


“Aku bodoh. Melukaimu ... melepasmu begitu saja. Apakah ini hukuman buatku, Ay?”


Ia menggeleng lagi. “Berjanjilah. Berjanjilah untuk terus menjaga kesehatan. Patuhi kata dokter. Jaga pola hidup sehat. Itu saja,” tandasnya. Sebab nalurinya menginginkan pria ini hidup lebih lama. Meski mereka tidak bisa bersama.


Torrid beranjak dari kursi roda. Bersimpuh di hadapannya. Memohon dengan tatapan khasnya, “Rahayu Notonegoro, maukah kamu menerimaku kembali?”


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏