If Only You

If Only You
7. Reccuring Dreams



...7. Reccuring Dreams...


 


Garuda memutuskan untuk menginap satu hotel dengan gadis itu. Merasa malas kalau harus kembali ke apartemen. Meski jarak apartemennya dengan hotel ini tidaklah jauh.


Mengantarkan Gemala terlebih dahulu hingga di depan pintu kamar 1212. Barulah menuju kamarnya yang masih berada di satu lantai. Gadis itu masih bergeming—mogok berbicara lagi. Semenjak mereka dalam perjalanan pulang dari Bende.


Saat ia ingin ikut masuk, pintu sengaja ditutup dengan keras. Hingga tak kurang dari 5 senti meter lagi hidungnya mencium kayu berwarna gelap tersebut. Beruntung, ia refleks segera mundur satu langkah. Tak ada pesan apa pun dari gadis itu.


Ia mengembuskan napas panjang—mungkin Gemala masih kesal padanya.


Begitu sampai di kamarnya, ia langsung menghempaskan tubuhnya terlentang. Menanggalkan sepatu dengan asal. Menatap langit-langit kamar. Embusan napasnya mulai teratur. Perlahan matanya memejam. Namun sesekali terbuka kembali.


Hari ini baginya indah. Bisa berkumpul dengan keluarganya. Bahkan mengenalkan dan mengetengahkan gadis itu pada mereka. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Meski samar. Lalu perlahan ia merasuki ketenangan dan kenyamanan. Lelap dalam buaian malam.


“Sini, anak Ibu. Belajar apa tadi, Sayang?”


“Menggambar Papi, Ibu sama aku.”


“Oh ... ya? Coba Ibu lihat.”


Ia mengeluarkan selembar kertas berisi hasil lukisannya di sekolah dari dalam tas. “Ini Papi,” tunjuknya pada gambar orang yang paling tinggi di antara lainnya. “Ini Ibu,” tunjuknya pada gambar yang punya rambut panjang, “dan ini aku.” Tunjuknya pada gambar yang berada di tengah di antara papi dan ibu. Ketiganya saling bergandengan tangan.


“Bagus sekali, Ru Sayang.”


“Gambar apaan ini?!” hardik mami kemudian. “Mana gambar kakak-kakakmu? Harusnya, Papi-Kak Maleo-Kak Atat-kamu-Mami!”


Ia ketakutan. Menunduk dalam.


“Kita berlima. Bukan bertiga!” Seru mami menyobek selembar kertas hasil tugas gambar dari sekolah dengan tema ‘family’. Meremasnya hingga membentuk gumpalan. Membuangnya sembarangan.


“Kamu cuma punya Mami.”


“Mami itu ibu kamu. Yang lebih menyayangi kamu. Kamu harus tahu itu.” Mami menangis. Mendekapnya ketat. Lalu mengguncangnya, “Mami sayang kamu. Kamu dengar, ‘kan?”


“Ru, Sayang.”


“Mami sayang kamu.”


“Ru, Sayang.”


Kilasan wajah ibu dan mami bergantian dalam putiran waktu hampir bersamaan.


“Mami sayang kamu.”


“Ru, Sayang.”


“Mami sayang kamu.”


Ia lekas terbangun dan terduduk. Napasnya menderu. Bercampur peluh. Ia mengusap wajahnya. Kenapa mimpi itu selalu datang berulang?


Tak lama ponsel yang tergeletak di sebelahnya meraung-raung.


“Ya,” sahutnya dengan menyandar di kepala ranjang. Kepalanya masih sedikit berat. Ia memijit pelipisnya.


“Gue di Back Room.”


Ia berdecak.


Tiba di sana Jebe sudah memesankan minuman untuknya.


“JW Blue label,” sahabatnya itu menyodorkan segelas minuman berwarna kuning jernih padanya.


Awalnya ia berdecak. Tapi dalam sekejap ia meneguknya sekaligus. Menggeleng, “Thanks.” Seorang bartender menambahkan kembali minuman ke dalam gelasnya yang kosong.


“Gue mimpi itu lagi,” keluhnya. Entah sadar atau tidak. Ia merasa mimpi tapi seperti nyata. Terus muncul dan berpendar dalam kepalanya tiap tahun di tanggal yang sama. Bahkan pernah dalam setahun bisa 2 kali muncul.


Ia menegak kembali minumannya.


Jebe menepuk bahunya, “Just a dream.”


Ia menggeleng, setelah meneguk entah yang ke berapa. “Do you think it’s just a dream? (Apa kamu pikir ini hanya sebuah mimpi?)”


“Gue pernah tanya si Max,” Max temannya yang berprofesi sebagai psikiater. “Katanya gue mengalami reccuring dreams,” ia memainkan gelasnya. Menggoyang-goyangnya perlahan. “Mimpi yang berulang karena masa lalu yang ....”


Jebe kembali menepuk pundaknya.


“Apa perlu gue temani?” Jebe menimpali dengan memotong percakapannya saat ia menjeda.


“Sekian tahun. Sekian lama ... gue.”


“Come on, Man. Kalau memang dia sayang lo seperti dalam mimpi lo. Harusnya dia jauh-jauh hari datang. Membuktikan bahwa dia sayang sama lo. Tapi ini?”


Ia menunduk. Menatap lantai meja glass black yang memantulkan wajahnya secara siluet. Max benar. Tapi Jebe juga ada benarnya. Harusnya dia mencarinya, bukan? Keberadaannya bukan hal yang begitu sulit untuk ditemukan. Tapi selama ini apa dia mencarinya? Merindukannya? Atau bahkan menyayanginya seperti dalam mimpi itu.


Mengedikkan bahu cara ia mengelak. Sekaligus jawaban telak.


“Anyway, gimana dengan cewek itu?” Jebe mengalihkan perhatian.


Ia menyergah, “Cewek aneh.” Seraya menipiskan bibirnya.


Jebe terkekeh, “Seaneh apa? She doesn’t know. Lo, pewaris Torrid Group.”


Ia berdecak, “Biasanya cewek-cewek lihat pesona gue langsung tidak berkutik. Tapi dia,”


Jebe terkekeh lagi sambil menggeleng—tidak percaya seorang Garuda Torrid tidak diinginkan oleh wanita—hebat sekali wanita ini pikirnya.


“I mean it this time (kali ini gue serius).”


“Okay ... I hear you,”


“Cewek yang beda. Gak seseksi Suri,” teman kuliah mereka blasteran Belanda-Indonesia. “Tapi, dia punya daya ketertarikan yang buat gue—”


“Ho*ny!” sosor Jebe setengah berbisik di telinganya. Sembari tergelak.


“Sialan!” protesnya. Meski tebakan sahabatnya itu tidak sepenuhnya salah. Gemala memang cewek yang beda.


Dengan tampilan sederhana saja seperti waktu masuk hutan, menemui temenggung Bekilat. Atau saat gadis itu tertidur di mobil jelas memancarkan aura kecantikan alami. Belum lagi saat tampilan perdana pertemuannya dengan keluarganya. Walau polesan makeup simpel, tapi benar-benar cantik dan ... sempurna. Tidak seperti perempuan-perempuan yang mendekatinya selama ini.


“Gue penasaran, seperti apa sih dia?” Jebe menerka-nerka, “kalau Suri seseksi itu gak sebanding. Sepertinya gue harus lihat dengan mata kepala sendiri.”


Obrolan 2 sahabat itu terus berlanjut hingga mereka kembali ke kamar masing-masing.


Tapi bukan kamarnya yang dituju melainkan kamar 1212.


Gadis itu membukakan pintunya. Menyambutnya dengan senyum terkembang. Manis dan cantik. Ia agak sempoyongan berjalan ke ranjang. Tapi gadis itu membantunya duduk di sana hingga sempurna.


“Lo, belum tidur?”


Gemala menggeleng.


“Kenapa? Mikirin gue?” ia terkekeh sambil melepas kancing kemejanya satu persatu.


“Betul, ‘kan kata gue. Kalau lo sudah terkena pesona gue,” lalu ia tergelak puas. Melempar kemejanya begitu saja menyisakan kaos putih polos brand buatan negara adidaya.


“Hah,” desahnya lega. Ternyata gadis itu menyukainya. Bahkan telah jatuh dalam pesonanya. Bukankah ini yang diinginkannya?


Ia menatap gadis itu yang juga duduk di tepi ranjang. Dalam ... dan penuh guyuran cinta. Manik mata mereka saling bertumbukan. Cukup lama. Entah sejak kapan keduanya terperangkap dalam kondisi yang memabukkan ini.


Perlahan ia meraih tangan Gemala. Meremasnya lembut. Merefleksikan isi hatinya lewat sentuhan.


Gadis itu malah tersenyum seraya mengerjapkan matanya. Ia pun membalas.


Lambat laun, sensasi sentuhan antar saraf kulit itu mengantarkannya pada rangsangan yang membuatnya seolah tersengat listrik. Dari mulai telapak tangan. Lalu menyebar ke seluruh tubuh. Naik ke kepala merangsang bagian hipotalamus memproduksi hormon oksitosin—hormon cinta yang memabukkan.


Kini, ia merengkuh gadis itu. Mendaratkan bibirnya di puncak kepalanya. Terjeda di sana. Lalu merayap ke kening. Disusul turun menyusuri lekuk hidung yang mancung di bagian ujung. Turun lagi ke bawah.


Gemala memejamkan mata. Ia mengulum senyum.


Bukan lagi gelenyar aneh yang menguar diperutnya. Tapi gempuran bertubi-tubi tak kasat mata di dada. Hatinya mengalami emosi badai yang memabukkan. Sungguh memabukkan! Membuatnya melayang ke awang-awang. Melawan hukum gravitasi bumi. Bahkan dobrakkan itu membuat bagian tubuhnya di bawah sana mendesak dan mengetat.


Sial! Benar-benar sial umpatnya. Kenapa ia tak bisa menguasai diri jika di dekat gadis itu. Ia mengumpat dalam hati agar tak bisa melakukan lebih jauh lagi.


Tapi ....


Ia terpaksa menjeremba ponselnya, “Ya,” sahutnya.


“Jangan lupa, pagi ini kita pergi ke CFD. Gue mau makan empal gentong Mang Asep yang dekat GBK,”


“Bye ... see you.”


“Hah!” Ia terperangah.


 


...***...


 


Baru tiba di JPO Sudirman, Gemala minta berhenti sejenak. Gadis itu membungkuk, napasnya menderu satu-satu. Belum lagi peluh yang membanjiri wajahnya. Bukan bau asem atau kecut yang menyergap indra pembaunya. Tapi parfum itu malah membuatnya berimajinasi liar. Ditambah lagi dengan lelehan peluh ... oh ... anjreeet!


Cukup tadi malam ia harus terjebak dalam mimpi dan utopis semata. Ia pikir itu nyata. Ternyata,


“Bagaimana tidur, lo semalam?” tanya Gemala pagi-pagi saat menyamperinya di kamar. Tepatnya kamar gadis itu.


“Lo gedor pintu kamar gue. Pencet bel kayak orang kebelet,”


“Lo, tuh mabuk, ya tadi malam. Pantes! Otak dan gerak tubuh lo, gak sinkron.”


“Jadinya gue terpaksa pindah ke kamar lo. Untung alarm ponsel gue berbunyi. Demi semangkok empal getong yang merongrong perut gue yang mulai kosong. Gue rela bangun lebih pagi.”


Gemala mengibaskan tangannya di depan wajahnya. “Hei! Hellooooo! Otak lo perlu dicuci sepertinya.” Sergahnya sambil melanjutkan larinya.


Ia yang baru tersadar dari keterpanaannya langsung terkesiap. Gadis ini sungguh menguji nyali dan kesabarannya.


Sepiring empal gentong telah ludes baru saja. Mereka lekas beranjak dari sana. Sebab antrean pelanggan yang lain menunggu giliran. Kini ia mulai terbiasa makan di kaki lima. Awal yang berat. Harus bersosialisasi dengan Salmonella, E.colli, Shigella dan kawan-kawannya. Diganjar diare parah. Tapi, pada akhirnya perutnya mulai terbiasa.


“Pulangnya naik Busway saja, ya.” Pinta Gemala. Rupanya gadis itu akhirnya menyerah.


“Sayang, nih. Si empal kalau dibuat lari lagi,” Gemala mengusap perutnya sambil cengengesan. Mudah sekali membuat gadis itu kembali ke mood-nya hanya dengan makanan.


“Gak usah naik Busway, tuh ... teman gue dateng.” Ia melambaikan tangan pada seseorang.


“Kenalin, temen gue.” Imbuhnya.


Gemala tersenyum lalu mengulurkan tangannya, “Gemala.”


“Jebe,” sahabatnya itu menyambut dengan lirikan mata ke arahnya tentunya.


Jebe setengah berbisik, “Anjreeet yang begini mah setara Lisa Soeberano. Top number 1 of 100 most beautiful faces list."


Gadis itu mengernyit. Lalu menggelengkan kepala—mendengar celetukan Jebe.


Ia menyikut dada pria Gorontalo itu. “Please be a good boy!” desisnya. Ketika gadis itu beranjak meninggalkan mereka.


Rupanya tak sampai di situ. Celetukan Jebe memancing Gemala bertanya. “Kalian teman sekolah?”


“Teman kuliah,” sahutnya.


“Teman kuliah, hangout, bahkan lebih dari itu,” sahut Jebe bersamaan dengannya. Disertai senyum merekah penuh bangga.


Ia menoleh pada sahabatnya itu yang sedang mengemudi. Sambil menghunuskan tatapan tajam.


“Pantes.” Balas Gemala tak acuh dari bangku kedua.


“Mau ke mana lagi nih?” tanya Jebe.


“Pulang!” sahut keduanya bersamaan.


Jebe tergelak, “Kalian bisa klop gitu, ya? Jangan-jangan ...?”


Gemala menyambar, “Jangan-jangan apa?”


“Kode nih. Tidak jodoh sekarang mungkin di masa depan. Atau di lini masa yang kita tidak tahu.” Jebe menukas.


“Dengan dia maksudnya?” Gemala menunjuknya yang duduk di depan. “No way! Mau di masa kini atau nanti. Sorry,” ia menghempaskan punggungnya.


Ia berdehem. Baru semalam dirinya bermimpi dengan gadis itu. Tapi pagi ini justru kenyataannya jauh berbeda.


...***...


“Max,” panggilnya melalui sambungan telepon. Saat ia baru saja membersihkan tubuhnya.


“Hei, Bro. Tumben ... tentang mimpi itu lagi?” tandas Max mampu menebak pikirannya.


Tak ada sahutan. Tapi Max paham.


“Mimpi itu bagai cermin dari pikiran bawah sadar. Bisa jadi hal-hal yang ditakuti atau sering tidak diingat secara sadar bisa muncul dalam mimpi. Dan bermimpi tentang orang tertentu dapat berarti banyak, dan itu didasari banyak alasan juga.”


“Lo, yakin tidak akan menyelesaikan penyebab mimpi lo, itu?”


“Kemungkinan hubungan emosional dengan orang tersebut belum sepenuhnya terselesaikan atau belum sama sekali selesai. Sehingga pikiran bawah sadar lo, memainkannya seperti yang diinginkan dalam mimpi,”


Ia mendesah.


“Lebih baik ....” Bla, bla, bla suara Max mendengung sama percis dengan solusi yang diberikan sejak 5 tahun yang lalu. Saat kali pertama ia menceritakan mimpi berulang setiap tahun dari dirinya berumur 6/7 tahun silam.


Tapi dari mana ia akan memulainya?


“Lo, jangan menunggu dia. Tapi bergeraklah dinamis. Mungkin dia pun menunggu lo. Pendapat gue sesuai profesi yang gue emban saat ini, lo harus menyelesaikannya. Secepatnya.” Urai Max memungkasi sesi tanya jawab ala pasien dan dokternya.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏