
...19. Open Your Mind ... Your Eyes ... Your Ears...
Garuda
Ia kembali ke kamar perawatan papi. Masih ada dokter Tan di sana, Tyo, suster yang disewa khusus dan tentunya tim dokter yang menangani papi juga baru saja datang.
Setelah memeriksa keadaan papi tim dokter undur diri. Papi disarankan untuk beristirahat. Sebab kondisinya kembali melemah. Di saat seperti itu pasien diharuskan istirahat total.
Perlahan papi memejamkan mata. Dokter Tan menepuk pundaknya seraya memberikan isyarat mata dengan mengangguk sekilas. Lalu pergi.
Ia menoleh pada Tyo dan suster yang masih berdiri tidak jauh darinya. “Aku pergi sebentar,” tukasnya lalu meninggalkan kamar papi.
Ia menyusul dokter Tan yang telah menunggunya di taman.
“Menurut tim dokter kemungkinan akan dilanjutkan pengobatan berikutnya.” Tukas dokter Tan. Ketika ia berdiri di samping papa Max tersebut.
“Beruntung diagnosis lebih dini. Sel kanker belum menyebar ke organ lain. Tapi kita harus tetap waspada dan bersabar. Pengobatan ini akan membutuhkan waktu lama dan berkelanjutan,”
Ia bergeming, menelinga.
“Kalau kamu mau kembali ke Indonesia, pulanglah. Saya dan Tyo akan menjaganya.”
Ia masih bergeming.
“Jangan khawatir, kami akan melaporkan setiap perkembangan dan kondisi papimu. Peluang kita masih tinggi. Asal papimu mau menuruti semua anjuran dokter. Pasti bisa sembuh. Yang penting ada semangat sembuh. Itu kunci utama seorang pasien.”
“Apa perlu papi melakukan transplantasi hati?”
“Sementara belum mengarah ke sana. Tumor sudah diangkat. Sel kanker sendang dihancurkan. Semoga dengan terapi yang sedang dijalani pertumbuhan sel kanker terhambat lalu mati.”
Semoga, batinnya berucap penuh harap.
...***...
Gemala
Tujuh hari sejak ia meletakkan undangan di atas meja. Undangan itu tetap di sana. Tidak bergeser sedikit pun. Tidak juga berubah posisi.
Ia mengembuskan napas. Dua hari yang lalu Gayatri mengirimi pesan. Kemungkinan hari ini pulang. Atau besok.
“Morning!” Sapa seseorang dari balik pintu.
Ia menghentikan sejenak jemarinya di atas laptop. Melongok ke kaca jendela.
“Ah, Maria ... please come in.” Ia membukakan pintu.
“Am I disturbing you?” Maria mengekorinya hingga ke ruangan tengah. Ia menggeleng. Lalu menyilakan Maria untuk duduk. Tapi, justru Maria menuju meja makan. "I just wanted to droop these,” Maria meletakkan sebuah boks dari kertas di atas meja.
“Uh, what is it?”
Maria membuka bungkusan tersebut. “Pumpkin pie,” seru Maria.
“Wow .... thank you. I could never repay you,”
“Terima kasih,” Maria tersenyum. Membalas dengan ucapan bahasa Indonesia. Kemudian pamit pulang.
“Maria, terima kasih.”
Maria tertawa, “Kem-bali kasih,” perempuan itu menghentikan langkah sesaat di teras, “it’s that true?” memastikan pelafalannya benar.
Ia mengangguk.
Baru hendak menutup pintu kembali, Gayatri datang.
“Aku kira Kakak gak akan pulang.”
Gayatri langsung menuju meja makan. Menuangkan air minum dalam gelas. Menegaknya hingga tandas.
“Mobil Kakak di mana?” pasalnya saat berangkat Gayatri menggunakan mobil.
“Di kantor,” sahut Gayatri.
“Ada undangan reunian alumni Monash. Besok.” Ia menyambar undangan yang disimpannya di atas meja, “nih,” menyodorkannya pada Gayatri.
Tangan Gayatri yang memegang potongan pie lekas mengembalikan kue tersebut kembali ke wadahnya. “Temani, ya. Males sendirian.” Membaca sekilas dan meletakkannya asal.
“Males ah. Gak ada yang kenal.” Jawabnya tak acuh. Lebih baik ngerjain tugas akhir pikirnya. Biar cepat selesai. Sebelum musim panas tiba ia harus sudah wisuda. Sebentar lagi.
“Makanya itu, biar kenal datang. Masa gak ada satu pun yang lo kenal?” Gayatri melanjutkan makan pie.
“Teman Kakak juga, kan banyak. Sampai sana nanti aku dicuekin, males ah.”
“Lo, bisa ngobrol dan kenalan sama mereka. Bukan cuma Indy dan Indy dan Indy lagi,” sindir Gayatri.
Ia menggembungkan pipinya. Ikutan duduk di seberang kakaknya, “Indy satu-satunya alumnus Monash WNI di KJRI. Kalau disuruh nyebutin seluruh staf KJRI, pasti aku kenal semua. Siapa yang tidak aku kenal?” Akunya berani menerima tantangan. Bergaul dan cukup sering bertemu pegawai KJRI otomatis mengenal mereka. “Masalahnya ini alumni Monash yang WNI. Yang aku kenal ya cuma Indy lah ... plus Gayatri,” imbuhnya terkekeh.
“Cih, Indy doang! Kakak tingkat lo, kan banyak?”
“Ya, mana kutahu Kak! Beda fakultas, beda jurusan. Emang wajib kenal?” selaknya.
“Makanya besok ikut. Biar kenal. Siapa tahu, lo besok butuh mereka, bisa jadi relasi, koneksi, atau pacar cadangan.” Kakaknya itu tertawa—mengejek.
Ia mencebik. Beranjak dari kursi.
“Mau ke mana, lo?”
“Ke asia market. Stok kita habis.”
Asia market yang dituju masih di kawasan Clayton Rd. Ia memilih berjalan kaki. Hanya sekitar 300 meter dari tempat tinggalnya.
Kawasan Clayton Rd memang multikultural. Banyak pendatang dari berbagai negara. Terutama dari Asia. Sehingga dengan mudah ia menemukan barang-barang yang mirip di negaranya.
Ia berhenti tepat di depan Hongkong Supermarket. Mengambil troli dan mendorongnya. Ponselnya berdering dalam tas.
“Ya, Kak.” Sahutnya dengan tangan kiri memegang ponsel yang ditempel ke telinga kirinya. Sementara tangan kanan mendorong troli. Melewati rak-rak barang.
“Mal, gue nitip pembalut. Lagi dapat nih.”
“Oke,” Ia berhenti pada rak buah-buahan. Mengambil beberapa apel, pluot (persilangan antara plum dan aprikot), dan strawberry.
“Jangan lupa camilan gue,”
Ia kembali memasukkan beberapa barang sesuai catatannya setelah berpindah rak.
“Anything else, Nyonya Gayatri?!”
Gayatri hanya menyahut dengan tawa lalu mematikan telepon.
Satu kantung eco bag telah penuh. Ia keluar dari supermarket tersebut. Melewati jalan yang sama. Sebuah restoran Jepang tampak ramai. Benar saja, ia menoleh pada arloji di pergelangan tangan. Jam makan siang. Kemudian melewati toko bakery and cafe. Ia berhenti sebentar. Memutuskan untuk mengganjal perutnya yang mulai keroncongan. Maklum, tadi pagi hanya terisi segelas susu. Bahkan pie dari Maria belum sempat masuk ke perutnya.
Ia mendorong pintu kaca, bersamaan lonceng yang berbunyi karena bergoyang. Salah satu pegawainya menyambut ramah. Ia memilih beberapa potong kue. Sebagian dibawa pulang. Sebagian lagi ia makan di tempat.
Sepuluh menit kemudian ia keluar melanjutkan perjalanan pulang. Tapi tanpa sengaja matanya menangkap sosok Ethan di depan toko majalah ‘newsXpress’ bersama....
Oh my god. Apa ia tidak salah lihat.
Ia berdiri memaku. Di belakang mereka. Tiga hari lalu Ethan mengabarkan masih berada di Paris. Tiga hari lalu juga pria itu bilang akan kembali dalam 7 hari ke depan. Tapi apa yang dilihatnya tidak salah? Mereka? Bukankah itu?
Pasangan itu berlalu bersamaan dengan taksi yang membawa mereka pergi. Ia memejamkan mata sejenak. Dadanya bergemuruh, rasa kesal, marah dan entah apalagi ... ia mendesahkan napas ke udara.
Tiba di rumah ia meletakkan begitu saja barang belanjaan sembarang di atas meja dapur hingga terdengar kasar.
BRAK.
Bahkan sebagian isi belanjaan menghambur.
“Mala, are you okay?” tanya Gayatri yang baru keluar dari kamarnya.
“Kakak pernah berapa kali lihat Ethan jalan sama orang lain?” tanyanya dengan wajah kesal. Merah padam.
“Kenapa?” Gayatri mengerutkan dahi.
“Baru saja aku lihat Ethan jalan sama ... sama,” ia malas untuk melanjutkan.
“Sama Elyzabeth?” tebak kakaknya. Dan benar. Sontak ia menoleh pada kakaknya itu.
“Dua kali,”
Ia terperangah, “Hah?!” tidak mungkin. Elyzabeth anaknya Maria. Tetangga sebelahnya. Astaga, ia memegangi kepalanya.
“Sama—”
“Sama siapa lagi?”
“Aku curiga, 'Ethan' ...." Gayatri hanya memeragakan tanda kutip.
“Astaghfirullah ... Kak! Jangan nuduh sembarangan.” Tandasnya. Ia belum percaya benar apa yang disimpulkan kakaknya.
Gayatri berdecak, “Open your mind ... open your eyes, and then open your ears. Kita tinggal di benua sub tropis. Negara barat dengan karakteristik yang beda. So, jangan disamain dengan negara kita.” Kakaknya menyanggah.
“Makanya gue lebih dukung lo sama si nasty. Yang kayaknya gak macem-macem. Ya ... paling semacem aja jadi nasty,” Gayatri tergelak.
Ia memberengut. “Gak lucu tahu! Eh, tapi gue setuju open your mind ... open your eyes ... open your ears, and then closed marriage. Itu baru benar!” tandasnya mengakhiri obrolan hari itu. Dan meninggalkan kakaknya sendirian.
Sementara Gayatri terdiam membisu.
Keesokan paginya ia mengirimkan pesan singkat pada Ethan. Ya, ia harus mengonfirmasi temuannya. Bukannya suatu hubungan harus dijalani secara terbuka. Jujur. Dan ia ingin hubungannya bersama Ethan sebagai hubungan yang sehat.
Ia telah menunggu pria itu di sebuah taman kota. Sepuluh menit telah berlalu tapi sosok yang ditunggu tak kunjung datang.
“Time is money. Tiga menit. No extra time.”
Ia menggeleng. “Garu,” ucapnya tanpa sadar.
“Sorry.” Ethan berdiri di depannya. Napasnya terengah-engah.
Ia mendongak. Kemudian berdiri menjajari Ethan.
“Kapan kamu datang dari Paris?” tanyanya.
“Tiga hari yang lalu. Sorry ... tidak memberitahumu. Aku langsung mengadakan pameran di D’art galery. Jadi aku,”
Ia tersenyum samar, “Aku melihatmu kemarin di toko majalah. Aku kira bukan kamu. Bukankah kamu masih di Paris?” ia menggeleng, “tapi ternyata mataku tidak salah lihat. Itu benar kamu.”
“Mal, aku ....” Ethan terlihat salah tingkah.
Ia mengangguk, “Ya, aku lihat kamu menggandeng Elyzabeth. Kalian?”
“Okay, aku akan jelaskan ke kamu.” Ethan mengatur napasnya. “Bolehkah aku duduk,”
Ia mengangguk, “Ya,” ia ikut duduk di sebelah Ethan.
“Sorry, bukan maksud aku untuk membuatmu curiga. Membuatmu berburuk sangka.”
Hening sejenak menyelimuti.
Ia menunduk. Tak sedikit pun menyela.
“Mala, kamu pernah dengar pansexual?”
Ia ragu. Tapi ia menggeleng saja.
“Oke. Aku mau buat pengakuan. Sebenarnya aku, aku seorang pansexual. Sorry, baru sekarang aku memberitahumu.”
Ia pernah mendengar seseorang dengan orientasi se*ksual dengan pansexual. Apa maksudnya ini?
“Aku suka kamu karena karakter kamu. Kamu ceria, kamu baik dan kamu mau menerima aku. Tapi aku rasa, aku telah membohongi kamu. Sorry ....”
Ia mengerutkan alis.
“Elyzabeth juga punya karakter yang dominan. Aku suka dia. Benar-benar mencerminkan kebalikan dari aku sebenarnya.”
Alisnya semakin berkerut.
“Dan ... aku juga suka Zeyn. Seorang transsexual yang selama ini membantuku untuk mengikuti berbagai event pameran lukisan. Dia yang memberikan support. Memberikan waktu dan perhatian. Bahkan selalu memberikan masukan disetiap lukisanku.”
Ia menggeleng. “Are you kidding me?”
Ethan tersenyum masam, “Sorry ... kamu boleh marah. Sebenarnya aku ingin berterus terang soal ini sudah lama. Tapi?”
Ia berdiri, “Jadi semua omong kosong? Soal cinta, sayang bahkan rindu?” menatap penuh pria yang ... oh sial.
“Bukan begitu. Aku sayang kamu.”
“Bullshit! Cinta hanya karena karakter. Lantas kamu juga melakukan open relationship?” ia menggeleng kuat, “ini gila! Kamu keterlaluan.”
Ia mendorong Ethan bersamaan pria itu hendak berdiri. Melangkah secepat kilat berharap segera menjauh dari pria itu.
Pansexual
...Pansexual...
^^^Pansexual^^^
Oh, sial! Ia memukul kepalanya. Kenapa ia tidak menyadari gelagat Ethan yang sebenarnya sudah tersirat dari awal. Mereka tidak ada kata ‘pacaran’. Hanya sebatas dekat, saling mengungkap ‘I love you’. Tapi ternyata dia hanya suka karakternya. Itu saja, tidak lebih. Ethan jarang menghubunginya. Bahkan sibuk dengan dunianya—melukis. Ethan juga menaruh kepercayaan tinggi padanya. Tapi di balik itu semua ....
Ia segera merogoh ponselnya dalam tas. Menggulirkan layar pada mesin pencarian. Ia mengetik ‘pansexual’. Hanya dalam 3 detik layar itu terpenuhi artikel yang dicarinya.
Ia terduduk di rumput taman. Mengusap wajahnya. Mengembuskan napas berat. Setelah membaca beberapa artikel yang ia cari. Semua seakan sulit untuk dipercaya. Lalu menenggelamkan wajahnya pada kedua kaki yang ditekuk. Cukup lama.
5 menit pertama. Ia bergeming.
5 menit kedua. Bodoh ... bodoh ucapnya dalam hati. Sambil kakinya mengentak-entak rumput.
5 menit ketiga. Bodoh ... bodoh ucapnya dalam hati. Sambil meninju rumput dengan kepalan tangannya hingga berbunyi.
Bug! Bug! Bug! Bug!
“Kamu bisa dikenai denda dan sanksi karena telah merusak fasilitas umum. Rumput bukan tempat melampiaskan kekesalan. Kasihan rumput itu harus mati karena kecerobohanmu.” Ujar seseorang di belakangnya.
Ia berhenti memukul. Lalu menoleh ke belakang, “Kamu!”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏