If Only You

If Only You
64. Calon Daddy?



...64. Calon Daddy?...


Garuda


Gemala muncul dari balik pintu membawa nampan berisi sepiring pasta dan salad buah. Menyimpannya di atas meja sofa. Lalu duduk di sana.


“Masih lama?” Tanya Mala melihatnya masih menekuri laporan di layar laptop.


Ya, 15 menit yang lalu GK Investama melaporkan rombongan preman kembali mendatangi proyek mereka. Kendati sudah memberikan pengamanan internal. Tetap saja mereka kalah jumlah.


Ini sudah keterlaluan.


Kerugian akibat kerusakan oleh kelompok Robin Cs saja belum pulih. Sudah datang kelompok perusuh yang cari-cari masalah lagi. Selama ia menangani proyek di Garuda Land memang tidak sedikit gesekan terjadi antara pihaknya dengan pihak-pihak yang mengatas namakan ‘penguasa daerah’. Akan tetapi baru kali ini ia menghadapi kelompok-kelompok yang tidak gentar dan jera. Seakan-akan mereka punya kepentingan. Atau jangan-jangan punya dendam.


Apa sebenarnya motif mereka?


“Mas,”


Ia langsung menoleh pada Mala. Mengerutkan kening. Namun sepersekian detik melipat bibir dan beranjak dari kursi mendekati Mala.


“Panggil apa tadi?” ia duduk di sebelah Mala. Dengan senyum masih dikulum.


“Tidak ada siaran ulang!” cebik Mala meraih piring berisi pasta. Mengaduk-aduknya. Memutarkan garpu untuk melilit pasta, “aak,” perintahnya agar ia membuka mulut.


Ia berusaha menahan tawa. Membuka mulut menerima suapan.


“Gak lucu,”


“Siapa yang bilang lucu.”


“Itu kenapa ketawa?”


“Emang ketawa dilarang?!”


“Ishh ....”


“Aak,” ia membuka mulutnya lagi. Sebab terlalu lama pikirnya Mala memutar-mutar garpu. Sementara ia memang lapar. Dengan aktivitas berenang ditambah kejahilannya mengerjai Mala yang mengasyikkan. Awalnya hanya iseng. Ia ingin menghibur istrinya. Menghilangkan kesedihannya. Tapi, malah ia kehilangan kendali setelahnya. Apalagi melihat Mala juga merespons dan memberikan balasan yang luar biasa. Mengeluarkan kalori yang berlipat ganda. Sehingga kini, ia butuh asupan pengganti.


“Mas, kamu kelihatan pucat.” Mala menukas menatapnya.


Ia terkekeh meski dalam mulutnya masih tersumpal pasta yang tengah dikunyah.


“Kan ... malah ketawa lagi,” sungut Mala kesal.


“Aku merasa gimana gitu, kamu manggil aku Mas,” elaknya. Memang terdengar menggelitik.


“Terus aku manggil apa? Kata mama aku harus manggil kamu pakai gelar,”


“Terserah kamu asal jangan bapak seperti waktu kita ketemu di Jambi. Aku merasa tua dan dituakan,” ia terkekeh ringan sambil mulutnya terus membuka saat stok dalam mulut habis.


“Wajar sih, kita beda 10 tahun lebih. Kamu sudah bisa berhitung dan lancar menghafal. Sementara aku, baru keluar melihat dunia.”


“Kalau kamu umur 10 tahun ngapain aja?” tanya Ru mengambil alih piring yang di genggamnya. Menyuapkan sendiri makanan ke dalam mulutnya banyak-banyak. Lalu menyuapi Mala setelahnya.


“Aku?”


Ia mengangguk.


“10 tahun itu,” Mala bersandar ke belakang. Tampak mengingat memori lama yang tersimpan. “Kelas 4 kalau tidak salah. Udah bisa move on sih. Cuma masih suka sedih.”


“Kenapa?” suapan terakhir masuk mulutnya. Piring berisi pasta itu telah tandas tak bersisa.


Mala menyergah, “Mau lagi? Masih ada di dapur.”


Ia menggeleng sambil mengusap perutnya. Lalu menarik tisu di atas meja dan mengelap mulutnya.


“Satu tahun pertama benar-benar stres. Harus tinggal jauh dari papa dan mama. Meski ada Kak Nisha sama Kak Gayatri serta Bi Ema. Tapi tetap ada yang beda. Ada yang kurang,”


“Belajar dari awal semuanya. Bahasa, budaya, kebiasaan orang-orang sana, lingkungan, cuaca dan itu masih terjadi hingga di tahun kedua,”


“Memasuki tahun ketiga, semua berjalan biasa. Mulai bisa menerima keadaan. Apalagi mama selalu menyempatkan datang berkunjung. Kalau papa jangan ditanya. Sibuk. Kami yang selalu mengalah untuk pulang ke Surabaya.” Mala mengambil salad buah. Menyendoknya, “mau?”


Ia menggeleng. “Terus?” cerita masa kecil Mala menarik pikirnya.


“Ya ... lama-lama betah. Melbourne jadi rumah kedua setelah Surabaya. Jadi di saat aku umur 10 tahun itu sudah bisa beradaptasi. Bisa menerima keadaan. Dan aku mulai menikmati,” urai Mala.


“Kenapa waktu SMA balik ke Surabaya terus kuliah pindah lagi ke Melbourne?” tanyanya penasaran.


“Papa purna-tugas. Mama menyuruh aku pulang dan sekolah di sana. Tapi pada akhirnya aku kembali memilih kuliah di Melbourne. Seperti ada medan magnet, menarik untuk ke sana lagi.”


“Sampai sekarang medan magnet itu masih ada?”


Gemala terdiam. Meliriknya, “Mau tahu jawabannya?” ucapnya menggoda—menipiskan bibirnya.


Ia tergelak. Mulai pintar memancing pikirnya.


Mala menatapnya. Ia tersenyum.


“Medan magnetnya sekarang di sini,” tunjuk Mala pada dadanya. “Di sini kutub U,” Mala menulis huruf U di dadanya. “Di sini kutub S,” menunjuk dadanya sendiri. “U dan S. Akan saling tarik menarik. Memberikan kekuatan dan dorongan untuk selalu bersatu dan bersama. Apa pun halangan. Mereka berusaha untuk menyatu.”


“Ya ... aku akan melewatinya,” Mala mengangguk-angguk. “Bersama kamu,” imbuhnya sambil berdiri. Berjalan ke arah almari kaca.


“Boleh aku ...,” istrinya menoleh padanya. “Menyimpan semua minuman ini?”


Dahinya berkerut. Ikut bangkit. Berdiri di belakang Mala. Maksudnya? “Ini sudah disimpan,” tandasnya.


“Sejak kapan mulai mencoba minuman seperti ini?” tanya Mala bersedekap. Kepalanya miring kanan, lalu ke kiri. Tampak membaca satu persatu minuman alkohol terbaik dari berbagai negara.


Ia berdecak, “SMP mungkin?”


“Hah?!” Mala berbalik sejenak menatapnya—kaget. Lalu kembali mengedarkan pandangan ke berbagai minuman dengan warna dominasi kuning jernih. “Sedini itu sudah mencoba minuman ini?” tanya istrinya itu tak percaya.


“Dikenalkan oleh mami waktu itu, kata mami minuman terbaik. Bahkan bisa dibilang aku lebih sering melihat mami meminumnya. Daripada minum air putih,” jawabnya.


“Dan mulai kecanduan?” Mala masih membelakanginya.


“SMA.”


“Apalagi tinggal di Melbourne lama. Di sana bebas,” tebak Mala.


Ia kembali berdecak. Merasa terpojok dengan pernyataan istrinya yang benar.


...***...


Gemala


Esok paginya mereka berangkat ke Singapura.


“Kamu sudah merasa lebih baik?” tanya Garuda kembali meyakinkan keputusannya untuk tetap ikut melihat papi.


Ia mengangguk.


“Tunggu,” Garu memasangkan masker di wajahnya. “Wajahmu terlalu berharga hanya untuk sebuah berita sampah,” lanjutnya.


Ia menyunggingkan senyum.


“Come on,” Ru mengulurkan tangannya. Ia meraih tangan tersebut. Laki-laki itu menariknya untuk keluar mobil dan terus menggandengnya hingga memasuki kabin pesawat.


Perjalanan sekitar 1,5 jam dilewati dengan bertukar cerita. Ru sengaja merebahkan kepala di pangkuannya. Entah mengapa mendadak laki-laki itu begitu manja padanya.


“Mmuah, jadi ...,” kata Ru dengan bahagianya. “soon to be ... daddy,” jedanya. “Calon daddy?” tanyanya pada diri sendiri dengan mata memicing. Sepersekian detik terkekeh.


Ia yang mendengarnya tersipu malu. Belum juga sebulan pikirnya.


Atau tanpa sengaja tangannya tertarik untuk menyugar rambut Ru yang mulai panjang. Begitu juga saat ia menyentuh rambut yang mulai tumbuh kasar di dagu dan kumis tipis mulai menghias di sana. Entah sudah berapa lama Ru tak mencukurnya. Padahal seingatnya waktu mereka menikah, wajah laki-laki ini mulus hanya tampak titik-titik hitam saja.


Sekarang, “Geli,” ucapnya dalam hati saat mengusap dagu dan mengingat Garu dengan pesona berubah lebih mature saat mencumbunya.


“Kayaknya waktunya harus dicukur,” tukasnya seraya kembali mengusap dagu Ru. Kemudian pindah ke kepala.


Justru Ru menggesekkan wajah di perutnya, “Mmuah, geli-geli tapi suka,” sindir laki-laki itu.


Kenapa Ru bisa membaca benaknya?


Pipinya menggembung. Matanya membola memutar malas.


Ru tergelak. “Hon,”


Ia berhenti menyugar surai Ru. Menunduk menatap wajah suaminya yang tepat di bawahnya. “Hem,” sahutnya.


“Aku ingin anak kita seperti kamu,”


Keningnya melipat.


“Karakternya seperti kamu,”


“Wajahnya seperti kamu,”


“Semua yang ada di kamu aku suka,” pungkas Ru lalu membenamkan wajahnya sambil mengecupi perutnya yang terlapisi midi dress santai berwarna biru tua dengan tali kimono di pinggang.


“Ma-Mas geli. Aku malu ...,” ia menahan kepala Ru agar berhenti bermain-main di sana. Justru laki-laki itu semakin merengkuh pinggangnya. Berbaring miring menghadap perutnya.


Ia pasrah. Setelah beberapa menit kemudian tak ada pergerakan dari Ru. Bahkan dengkuran halus terdengar. Apa Garu tertidur? Cepat sekali.


Tadi malam memang ia kembali ke kamar terlebih dahulu. Sementara Garuda melanjutkan pekerjaan di ruang kerjanya. Dan tak lama juga Toni datang.


Entah sampai jam berapa mereka di sana. Yang jelas saat ia terbangun dini hari. Hendak ke kamar mandi, ia sudah melihat Ru tertidur di sebelahnya.


Ia membangunkan Garu ketika Capt. Robby memberitahukan sebentar lagi pesawat akan mendarat di tempat tujuan.


Tiba di rumah sakit ia masih mengenakan masker. Berjalan beriringan dengan laki-laki itu. Ru selalu bilang, “Jangan lepaskan masker selama jalan sama aku,” pesannya.


Tidak tahu sampai kapan jalan ini ia pilih. Mereka pilih. Tapi yang pasti mereka butuh waktu. Entah sampai kapan? Belum pasti.


Sesaat sebelum masuk ruang intensif mereka bertemu Maleo dan Tan.


“Papi baru saja tidur,” ucap Maleo.


“Belum ada perkembangan signifikan. Tapi kita akan terus pantau.” Tan menukas. Menepuk pundak Ru dan melempar senyum tipis padanya.


Ia dan Ru masuk ke dalam ruang di mana papi terbaring dengan selang infus di punggung tangan. Oksigen di hidung. Mereka berdiri di ujung ranjang. Tepatnya di bagian kaki.


Menatap tubuh pria yang mengalami perubahan fisik secara drastis. Ia mengaitkan tangan ke lengan Ru dan mengusapnya naik turun perlahan. Ia tahu suaminya sedang dalam kondisi sedih. Melihat papi terbaring sakit.


Lima belas menit ke depan mereka masih di sana. Keduanya kini duduk.


“Aku antar kamu ke apartemen,” ajak Ru yang melihatnya menguap.


“Tapi,”


“Ayo,” Ru bangkit mengajaknya berdiri. “Setelah beristirahat kamu bisa ke sini lagi,” sambung laki-laki itu ketika menutup pintu.


Garuda benar-benar mengantarkannya hingga ke apartemen milik Maleo. Di sana sudah ada Sandra. Ru langsung kembali ke rumah sakit, “Istirahatlah.” Pesan laki-laki itu ketika meninggalkannya.


Sandra menyambutnya ramah. Mengantarkan ke kamar milik anak semata wayangnya.


“Nanti pas makan siang aku bangunin kamu,” Sandra menutup pintu.


Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Memejamkan mata sesaat. Melepaskan penat dan lelah yang menghinggap.


Hingga tak menyadari jika Sandra berulang kali membangunkannya. Tetap saja ia merasa nyenyak di peraduannya. Sandra mengalah dan membiarkan adik iparnya itu kembali tertidur.


Ia terbangun ketika rembang petang. Pun perutnya keroncongan.


Saat matanya terbuka sempurna baru menyadari. Jika ia melewatkan makan siang. Ia mengusap layar sentuh ponselnya.


Nama Garu meninggalkan jejak panggilan tak terjawab 4 kali. Ya ampun. Ia bergegas masuk kamar mandi. Membasuh wajahnya. Mengeringkan dengan handuk.


“Mbak Sandra, maaf.” Ia merasa tidak enak hati.


Sandra tersenyum, “Kata Ru kamu paling susah dibangunin. Jadi aku biarkan. Kamu pasti lapar, kan? Makanlah dulu. Baru nanti kita ke rumah sakit.”


Ia mengangguk. Menyantap makan siang yang sudah terlewat. Sembari mengobrol dengan Sandra.


“Jadi apartemen ini untuk Sean, pas nanti masuk SMA?” tanyanya.


Sandra membenarkan dengan mengangguk, “Prepare sih. Anak itu maunya di sini. Udah aku tawari pilih mana. Eropa, US atau London. Dia tetap pilih Singapura. Katanya biar dekat. Lagian sebenarnya aku juga tidak tega, kalau dia jauh-jauh ... hehehe,”


Ia menghabiskan cepat makanannya. Lalu mandi dan berganti pakaian. Sebelum pergi ke rumah sakit.


Tiba di sana. Sandra pamit sebentar ke toilet. Ia menunggu tidak jauh. Berdiri menunduk sambil jemarinya memeriksa dan membalas pesan yang masuk ke ponselnya.


Gemala : Aku masih di bawah. Bentar lagi naik.


Garudanya Mala : Okay Hon, aku tunggu. Jangan lupa pesananku.


Gemala : I


“Gemala!” seru seseorang memanggil namanya.


Jemarinya terhenti seketika kala ia akan membalas pesan dari Ru. Dan menegakkan dagu guna melihat orang tersebut.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏