If Only You

If Only You
84. Don't be Stubborn



...84. Don’t be Stubborn...


Gemala


Tiba di lokasi langsung menemui kepala daerah setempat. Menunjukkan surat tugas dan surat izin penelitiannya. Mendatangi beberapa responden yang telah terpilih.


Sementara laki-laki itu terus mengekorinya. Kendati terkadang menjauh untuk menerima telepon. Atau menunggu di mobil kala harus memeriksa laporan dari Toni.


Jelang pergantian hari mereka kembali ke hotel. Dan keesokannya paginya mereka akan pergi menemui anak-anak rimba.


“Kamu gak lihat Torrid palm sekalian, Mas?” Tanyanya ketika keluar dari kamar mandi. Mengusap-usap rambutnya yang masih basah.


“Ada Maleo,” sahut Ru yang duduk di atas kasur bersandar di ujung ranjang menolehnya sekilas. Kemudian kepalanya menunduk kembali melihat layar ipad di genggaman.


Ia ikut duduk di tepian ranjang. “Kalau Kak Maleo gimana tanggapannya? Soal,”


Ru mengedikkan bahu.


Ia menghela.


“Sejauh ini hubungan kita, maksud aku hubungan aku sama Maleo baik-baik saja. Tidak ada masalah. Hanya saja, sejak rapat luar biasa itu Atat sedikit berubah. Tapi ... ya, masih profesionallah ....”


“Hanya saja? Pasti suasananya tidak nyaman. Benar, ‘kan?” ia mendesahkan napas. “Bagaimanapun, darah yang mengalir dalam tubuh saudara itu sama. Kalau bisa jangan sampai terjadi perpecahan. Papi juga pasti sedih melihat anak-anaknya seperti ini.”


Garuda terdiam. Matanya hanya menatap ke depan.


“Besok, setelah selesai dari TNBD aku ke lokasi penelitian yang terakhir. Dan kamu bisa pulang ke Jakarta?”


“Mal ... aku bisa handle semua dari sini.” Ru mengangkat ipadnya


“Sayang ....” ia menggeleng, tidak setuju. Tahu percis bahwa Garuda bukan orang yang bisa dengan mudah menyepelekan pekerjaannya. Bahkan dengan jabatan tertinggi pun, dia masih turun ke lapangan. Memantau semua pekerjaan berjalan lancar dan terkendali.


Laki-laki itu tersenyum, “I like it,”


“Issh, lagi serius!” ia memelotot.


Ru tergelak, “Aku suka panggilan itu.”


Ia beranjak menuju kamar mandi menyimpan handuk ke kapstok. Mengeringkan rambut sebentar dengan hairdryer di sana. Lalu kembali menghampiri Ru.


Menyibak selimut dan merebahkan tubuhnya miring menghadap laki-laki itu yang masih duduk bersandar di headboard.


“Belum selesai?” tanyanya.


“Ada masalah sedikit di SGC.”


“Apa gara-gara masalah dengan wasiat papi?”


Ru bergeming. Menurutnya memang manajemen Atat terlalu gegabah. Menangkap para pedemo dan menetapkan beberapa dari mereka tersangka akibat bentrok yang terjadi. Menyangkut seorang nelayan yang meninggal. Dicurigai keracunan limbah.


Setelah sekian lama SGC beroperasi memang beberapa kali terjadi demo. Karena akan selalu ada pihak yang pro dan kontra dengan perusahaan tambang tersebut.


Akibatnya organisasi nirlaba advokasi tambang memberikan desakan pada kementerian terkait dan pihak-pihak yang berhubungan untuk melakukan moratorium PT. SGC. Bahkan bukan hanya SGC saja, sejumlah perusahaan tambang juga digaungkan untuk dilakukan moratorium terkait beberapa hal isu dan fakta di lapangan.


Lantas ... bagaimana jika itu terjadi? Tentu akan mempengaruhi iklim investasi. Apalagi jika moratorium existing  yang diberlakukan. SGC bersiap-siap mengalami kerugian besar, akibat stopnya operasional.


Jangan sampai.


Garuda menggelengkan kepala.


“Hei, lagi mikiran apa?” tanyanya sambil mengusap lengan Ru.


Refleks laki-laki itu menoleh padanya. Tersenyum kaku. “Nothing,” sahut Ru. “Soal kerjaan,”


“Boleh dibagi?”


Laki-laki itu menyimpan ipad di atas nakas. Ikut merebahkan tubuhnya. Masuk dalam selimut yang sama.


“Apa yang mau istriku tahu?” tantang Ru. Mengusap kepalanya dan mengubah posisi menghadapnya.


“Cerita aja. Barangkali aku bisa bantu. Atau paling tidak, aku bantu dengan doa.” Ia terkekeh ringan.


“Kalau itu harus,” telunjuk Garuda menelusuri garis wajahnya. “Doa kamu aku butuhkan setiap saat. Setiap waktu. Jadi kekuatan buatku.”


Ia menatap wajah suaminya. Memberikan senyuman terbaiknya.


Garuda mencium keningnya. “Honey, berapa hari lagi?”


Keningnya berkerut.


“Kamu janji, ya, kalau di sini sudah ada,” Ru mengusap perutnya. “Kamu cuti kerja. Sampai dia kuat dan–”


“Massss,” protesnya. Ia saja masih menstruasi. Tapi laki-laki ini sudah merencanakan jauh-jauh hari. Nggak lucu bukan?


Ru tergelak. Tangannya bergerak ke atas.


“Mau ngapain?” sergahnya.


Tangan jahil itu melepas kancing pertama piyama tidurnya.


“Can I ... kiss you ... sekwilda mungkin?” menyelusuri tulang selangkanya.


Keningnya semakin mengerut, “Apa sekwilda?”


Ru bangkit. Tangan kokoh itu mengungkungnya. “Masa gak tahu?” godanya sambil mengulum bibir.


“Issh, jangan main tebak-tebakan!” desisnya sebal.


“Kalau gitu kita praktekan langsung.” Tangkas laki-laki itu. Membuka lanjutan kancing piyamanya.


“Mas, ini mau ngapain?”


“Honey ... just sekwilda. Sekitar wilayah dada. That’s it. No more ... no less ... promise!” laki-laki itu sigap mematikan sakelar lampu nakas. Menarik selimut hingga menutup sampai kepala.


“Maasss ....”


Keesokan paginya ia kesal bukan main. Garuda memberikan stempel banyak bukan pada tempatnya. Sehingga ia harus kembali mencari cara agar stempel tersebut tertutup sempurna. No more ... no less hanya manis di bibir. Kenyataannya ....


“Hon, kamu kayak di kutub” sindir Ru. Tergelak melihat penampilannya. Memakai sweater tipis dengan kerah tinggi hingga lehernya tertutup semuanya.


“Jangan berisik. Aku kegerahan tahu, gak!” bibirnya mengerucut kesal. Pasalnya gara-gara laki-laki di sebelahnya ia harus berpakaian seperti ini.


“Tapi cocok sih, kita mau masuk hutan. Pakaian harus tertutup. Kamu ingat ... dulu kamu sempat digigit pacet? Gara-gara gak pakai baju benar,” tukas Ru. Mengingatkannya pada kejadian lalu.


“Kalau begini ...,” imbuh laki-laki itu dengan mengancungkan jempol.


Ia mencebik. Benar apanya? Celana jeans panjang, dalaman kaos diselubungi sweater. Ibarat tengah berada di musim gugur. Atau musim semi. Ah ... iya, jika itu di negara 4 iklim, exactly. Sementara ini ... ia mengelap peluh. Cuaca terik semakin membuatnya tak nyaman. Ia kegerahan.


“Hon, kalau tidak nyaman buka saja. Toh, itu wajar kenapa harus malu?”


Wajar?


“Sini aku bantu lepas.”


Ia kembali memelotot, “Mas, jangan aneh-aneh deh!”


Ru terkekeh.


Tiba di basecamp LSM TNBD ia dan Ru dibantu beberapa anak rimba menurunkan beberapa kardus dari bagasi mobil.


Tadi ketika ia baru datang ke basecamp anak-anak rimba ternyata masih mengingatnya. Menyambutnya dengan antusias.


“Bebet!!” seru mereka yang langsung menghambur.


Hatinya langsung tersirami. Rindu pada mereka langsung terobati.


“Bagaimana kabarnya semua?”


“Baaiikkkk ...!” jawaban mereka bersamaan kompak.


Wajah-wajah ceria. Penuh semangat dan tekad kuat. Buktinya mereka masih belajar sampai sekarang. Bahkan menurut laporan para pengajar mereka mengalami kemajuan. Naik kelas.


“Nyalin,” sapanya pada gadis remaja tersebut yang duduk paling pojok. Ia melongok ke lantai bawah. Tampak Garuda dan pengurus basecamp tengah mengobrol di sana. Ia duduk di sebelah Nyalin yang terlihat termenung sedari tadi.


“Hei, ada apa?”


“Aku kangen lho sama Nyalin dan anak-anak di sini,”


Jeda sesaat.


“O, ya. Gimana kabar ... bapak, mamak, sama—”


Nyalin menggeleng.


“Nyalin sudah sampai mana belajarnya?”


Nyalin tetap menunduk.


Ia menghela napas. Tidak mudah membuat Nyalin bercerita mengungkapkan isi hatinya. Ini pernah terjadi manakala Nyalin akan dijodohkan dan menikah. Saat itu ...


“Bepak sudah meninggal,” sergah Nyalin.


Ia terkejut. Menatap Nyalin yang masih menunduk.


“5 bulan yang lalu,” lanjut Nyalin. “Karena sakit.”


“Aku ikut berduka. Nyalin yang sabar, ya. Maaf, kalau aku—”


“Aku tidak jadi menikah.”


Ia mengusap punggung Nyalin.


“Dan induk telah menikah lagi.” Pungkas Nyalin.


Jujur ia tidak bisa berkata-kata lagi. Nyalin yang terlihat muram ternyata kecewa dengan kondisinya sekarang. Satu bulan yang lalu ibunya mengikuti keluarga baru yang melangun entah ke mana. Sementara Nyalin sendiri memilih tinggal di basecamp selama ini. Memilih untuk tetap bertahan sekolah. Namun ternyata pilihannya itu membuat ibunya Nyalin marah.


...***...


Garuda


“Mala, sepertinya aku memang harus kembali ke Jakarta,” ujarnya ketika mereka telah sampai di Pesisir Selatan.


“Kamu tidak apa-apa, aku tinggal sendirian?”


Mala mengangguk. Lalu tersenyum, “Hati-hati.”


“Take care, Hon. Nanti aku jemput kalau kamu sudah selesai. Ingat! Jangan berjalan sendirian. Jangan keluar sendirian. Jangan ke mana-mana tanpa sopir yang sudah aku siapkan. Aku tidak mau terulang lagi untuk yang ketiga kali. Aku merasa gak berguna saat kamu mengalami tindak kejahatan. Dan bukan aku yang menolong pertama kali,” putusnya.


“I’m fine ... tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”


“Ck,” mencubit ujung hidung Mala. “Don’t be stubborn! (jangan keras kepala)”


Mala menyunggingkan senyum. Lalu, “Baik, your Majesty.”


Ia menyentil kening istrinya.


“Issh, sakit.”


Sepersekian detik, ia mengecup bekas sentilannya. “See you ...,” kembali mendaratkan kecupan di pipi dan bibir.


Ia keluar dari mobil, menghampiri sopir yang telah di sewanya. “Tolong jaga istriku, selama melakukan pekerjaan di sini. Awasi dia ke mana pun. Jangan sampai kenapa-kenapa. Laporkan semua kejadian. Jangan sampai kecolongan sekecil apa pun. Mengerti!” cecarnya pada sopir yang sekaligus berprofesi sebagai petugas keamanan. Ia sengaja menyewa sopir kali ini yang tergabung dalam perusahaan jasa keamanan. Pengalaman tidak kejahatan yang kembali menimpa Mala membuatnya semakin waspada.


“Baik, Pak.”


Ia menepuk pundak sopir tersebut, “Kalau berhasil saya tambahkan bonus buat kamu,” pungkasnya.


Sopir tersebut menunduk hormat, “Baik, Pak.”


Kemudian ia menelepon Toni, “Aku ke Jakarta sekarang.”


Pemberitaan mengenai penuntutan Atat atas hak waris jadi merembet ke mana-mana. Juru warta bahkan lebih sigap mencari data-data Gemala dan Rahayu. Meskipun sebagian informasi tersebut merupakan sebuah opini. Yang jelas kebenarannya tidak bisa di pertanggungjawabkan.


Menurut Mulya, surat kuasa dari papi tetap sah. Kendati, tidak ditanda tangani oleh penerima kuasa. Sebab tidak ada ketentuan hukum yang mewajibkan hal tersebut. Bahkan penerimaan surat kuasa juga bisa terjadi secara diam-diam.


Tiba di kantor ia berencana menemui Atat. Berharap penyelesaian konflik tidak berujung pelik di pengadilan.


“Pak, maaf ...,” sekretaris Atat berusaha mencegahnya. “Pak Atat sedang menerima tamu,” imbuhnya.


“Oke. Saya tunggu di situ,” dagunya menunjuk sofa di ruang tunggu.


Sekretaris Atat berlaku ramah, “Silakan.”


Lima menit jari jemarinya mengetuk sandaran tangan di sofa.


Sepuluh menit kini giliran kakinya yang ditumpangkan mengayun-ayun. Sebenarnya siapa tamu Atat?


Lima belas menit kemudian, ia sudah tidak tahan lagi. Bangkit dari kursi dan menerobos pintu ruangan kerja Atat meski sekretarisnya berusaha mencegahnya.


“Pak, saya mohon tunggu sebentar.”


Ia tak peduli.


“Maaf, Pak. Di dalam Pak Atat sedang menerima tamu penting. Saya mohon, Bapak ....” Tentu sang sekretaris bisa jadi dilema. Ia yang lebih berkuasa di sini. Sementara Atat juga bisa memecatnya kapan saja.


Ia lagi dan lagi tak peduli. Wasting time  pikirnya. Tamu penting siapa? Ia bahkan beberapa kali berusaha untuk menemui Atat, akan tetapi kakaknya itu seolah-olah menghindarinya. Begitu pintu terbuka sedikit kasar. Betapa kagetnya saat menemukan Atat dengan ....


“Oh, sialan!” gumamnya seraya memalingkan muka.


“Sorry, waktu yang tidak tepat. Gue perlu bicara sama lo. Tapi,” ia menoleh sekilas pada orang tersebut. Beralih pada Atat setelahnya. “Mungkin tidak sekarang,” bergegas ia pergi keluar dan meninggalkan ruangan kakak keduanya tersebut. “Damn!!” umpatnya kesal.


"Ton, temani gue." Tangkasnya pada sambungan telepon, "sekarang! Gue baru keluar dari ruangan Atat."


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏