If Only You

If Only You
57. Take Me As I am



...57. Take Me As I am...


Gemala


“Siapa?” Gumamnya. Dalam benak pun bertanya-tanya. Hingga akhirnya ia mengurungkan untuk menutup pintu.


Satu persatu penumpang dalam mobil keluar. Dan bibirnya terkembang sempurna tatkala melihat Garuda dan Rahayu. Menyusul mama, papa, serta Ganisha dan suaminya.


Seketika keningnya berkerut. Ada apa? Kenapa semua ke sini? Batinnya berucap penuh tanya. Belum menyadari jika mereka datang membawa kabar baik.


“Apa kabar Mala?” Rahayu menyapanya pertama kali.


Ia membalas dengan menarik sudut bibirnya, “Baik, Tante.” Mencium punggung tangan Rahayu.


Kemudian menatap Ru dengan air muka yang ... laki-laki itu melempar senyum padanya.


“Kamu gak mau menyambutku, Hon?” ucap Garu.


Patah-patah ia mengulurkan tangan. Menatap bergantian orang-orang yang telah berkumpul di teras.


“Mari masuk ...,” ajak Larasati.


Ekor matanya menatap sekilas papa. Yang ikut beranjak dan masuk ke dalam bersama yang lainnya seakan mengabaikannya. Ada apa ini? Kenapa semua berkumpul. Apa ...? Yang pasti membahas hubungannya dengan Garuda, bukan? Dan ia yakin malam ini akan menjadi penentu hubungannya.


“Hon, sebaiknya kita masuk. Biar kamu dengar kabar yang aku bawa,” laki-laki ini merangkum bahunya. Datang tiba-tiba tanpa berita sebelumnya. Ia sedikit kesal. Sebab terakhir mereka saling kontak 2 hari yang lalu. Tanpa membicarakan pertemuan ini. Lalu, maksudnya ini?


“Eiit ... masih ada kami nih,” Ganisha nyelonong dari belakang. Membawa kebaya berwarna broken white.


Keningnya semakin berlipat.


Ditambah Sri yang membawa 1 koper dan beauty case. “Mbak ditaruh di mana ini?” tanya Sri.


Ganisha menyahut, “Kamar Mala aja, Sri.” Ia menatap adiknya sejenak, “tahan dulu, besok baru boleh,” kelakarnya sambil berjalan meninggalkan mereka.


“Ru, ada apa?” tanyanya masih belum mengerti.


“Sebaiknya kita masuk,” laki-laki itu mengusap punggungnya mempersilakan dirinya untuk masuk terlebih dahulu.


Di dalam semua orang telah duduk. Menempati kursi kayu ukir yang dibalut busa berwarna kecokelatan.


Ia duduk di samping Ganisha. Sementara Ru bersebelahan dengan Rahayu.


Papa membuka perbincangan. Mengabarkan bahwa pernikahannya akan dilangsungkan besok sore.


DEG.


Sontak ia menatap tak percaya papa yang duduk tidak jauh. Meski ia senang mendengar kabar ini. Tapi tidak dapat dipungkiri, masih ada ganjalan dalam hatinya.


Pertemuan itu hanya sebentar. Ditutup dengan acara makan malam bersama. Garuda dan Rahayu di giring Pak Mun ke vila sebelah.


“Pa,” ia menghampiri papa yang tengah duduk di ruang tamu sendirian. Mendudukkan dirinya perlahan di sebelah papa.


“Ini yang kamu inginkan, ‘kan?” tukas papa.


Ia terdiam. Matanya mendadak memanas. Ada desiran asing menyelinap menyayat hatinya.


Bulir air matanya jatuh.


“Papa merestui kalian. Tapi Papa tidak bisa memberikan lebih,”


Ia menelan ludahnya kasar.


“Mala minta maaf,” seumur hidupnya ia tidak pernah menentang sang papa. Tidak pernah membantah apa pun aturan maupun keinginan papa.


Papa merengkuhnya, “Kamu tahu posisi, Papa.”


Ia mengangguk.


“Besok kamu akan menikah. Papa ikhlas," tutur Imam. "Tanggung jawab Papa selesai. Tapi bukan berarti hubungan kita juga selesai. Kamu masih anak Papa sampai kapan pun.”


Ia kembali mengangguk. Dengan air mata yang tak kuasa lagi ditahannya. Mendekap erat papa. Membenamkan wajah di dada papa. Meski interaksi keduanya tak sering dan sedekat ini disebabkan oleh jarak. Tapi ia tahu papa sangat menyayanginya.


“Sudah,” Papa merangkum wajahnya. “Masa calon pengantin nangis. Besok gak manglingi. Malam ini harus tidur cukup.” Papa mengulas senyum menatapnya.


Ia mengangguk, “Makasih, Pa.” Lalu mendekapnya lagi. Ia pikir momen ini tidak akan pernah terjadi. Ia pikir hubungan dengan Garuda akan berakhir begitu saja. Ternyata papa ... “I love you, Pa.” Ucapnya lirih.


Tiba di kamar tak kalah terkejutnya mama dan Ganisha telah menunggunya.


“Nah, calon pengantin datang.” Ganisha bangkit dari tidurnya. Duduk di tepi ranjang.


Ia sengaja duduk di tengah-tengah mama dan Ganisha.


"Makasih, Ma,” memeluk mama. Sementara Ganisha menepuk pundaknya.


“Jangan berkecil hati,” ujar Ganisha. “Belum saatnya pernikahan kalian dipublish. Tapi percaya, waktu itu pasti akan datang. Yang penting kalian menikah dulu.”


Mama mengusap punggungnya, menegarkan hatinya. “Kamu tahu gak? Mama gak nyangka kamu menikah secepat ini. Kakakmu pasti ngomel-ngomel kalau tahu. Bisa-bisa minta pelangkahan,” ia menyusut sudut matanya dengan ibu jari. “Gak nyangka juga jodohmu Garuda, anak temen Mama.”


Ia mengerutkan dahi.


“Gak nyangka dengan cara seperti ini,” sambung Mama.


"Mama hanya berpesan, Mala harus pandai-pandai menjadi pendamping Garuda. Dalam kondisi apa pun. Abaikan orang yang akan menjadi kerikil dalam pernikahan kalian.”


Ia mengangguk. Menyeka pipinya yang telah basah.


“Ma, kasih wejangan malam pertama. Biar gak kaget.” Celetuk Ganisha yang ditanggapi mama dengan, “hush!”


Ganisha terkekeh. Lalu ikut menghambur memeluk adiknya dan mama. Bertiga larut dalam keharuan dan kebahagiaan.


...***...


Garuda


“Gimana? Nyaman gak?” tanya Rahayu berdiri di sampingnya yang tengah menjajal jas warna hitam dari brand Giorgio Armani di depan cermin.


Ia mematut menyamping kanan. Tak lama menyamping kiri. Tiga detik kemudian kembali berhadapan dengan cermin dengan kedua tangan memegang ujung kancing.


“Kata Toni biasanya ukurannya ini. Tapi besok dia nyusul bawain jas lain. Barangkali yang ini gak nyaman,” sela Rahayu.


Memang terlihat kurang nyaman. Sebelum ke bandara mereka tadi mampir ke butik rekomendasi Ganisha. Tidak sempat mencoba di sana. Karena terburu harus ke toko perhiasan mencari cincin.


“Gak pa-pa, Bu.” Ia melepas jasnya. Tangan Rahayu meminta dan kembali menyimpan jas di gantungan.


Ia duduk di tepi ranjang. Melepas kancing kemejanya satu persatu. Lalu menyisakan kaos putih yang melekat di tubuhnya.


“Kamu yakin gak memberitahu papi?” tanya Rahayu ikut duduk tak jauh darinya.


“Ia menyahut, “Nanti saja, Bu. Setelah dari sini kami menemui papi,” pikirannya menerawang.


Besok ia akan menikah. Dengan gadis impiannya. Gadis yang dicintainya.


Gemala.


“Sebaiknya kamu istirahat, Ru. Jangan banyak pikiran. Serahkan semuanya sama Yang Maha Mengatur. Semoga niat kamu dan kita dipermudah lancar sampai waktunya,” tukas ibunya.


“Semua berkat Ibu,” sanggahnya. “Berkat Ibu, jalan aku dipermudah.” Ia menatap wanita yang telah melahirkannya itu.


Rahayu menepuk pangkal lengannya. “Ini yang namanya jodoh, apa pun cobaan yang dihadapi pasti diberikan jalan. Jangan lupa berterima kasihlah sama ...,” bola matanya memutar ke atas.


Bibirnya terkembang.


Nyatanya setelah Rahayu keluar kamarnya. Ia tidak bisa memejamkan mata. Berbagai posisi tidur dicobanya. Namun tetap saja banyak pikiran bergelayut membuatnya gelisah.


“Jam berapa ini! Kenapa lo telepon gue malam-malam!” sahut sahabatnya menggerutu. Jam 12 malam dipaksa bangun. Bodohnya ia lupa mengganti mode silent. Ponselnya meraung-raung memekakkan telinga. Pasalnya ia tengah terlelap akibat beban kerja yang menyita waktu dan tenaganya akhir-akhir ini.


Ia berdecak, “Gue butuh lo,”


Hening. Terdengar suara grasah-grusuh. Dan suara air gemerusuk.


“Lo, lagi ngapain?” imbuhnya curiga.


Lalu suara kelegaan yang kentara.


“Ck, gue mau nikah besok.”


“What!!” teriak Jebe. Saking tak percaya. Yang membuatnya refleks mengusap-usap daun telinganya.


“Apa, lo bilang!”


“Gue mau nikah besok!” ucapnya dengan nada tak kalah bervolume.


Jebe terbahak.


Ia mengernyit, aneh ini orang pikirnya.


“In your dream!” cibir Jebe dengan derai tawa tak berkesudahan.


“Gue sama Mala mau menikah besok. Kalau lo gak percaya. Gue kasih alamatnya sekarang.” Ancamnya kesal.


Tawa sahabatnya itu seketika terhenti.


“Wait! Are you serious?!”


“Gue becanda,” sungutnya. Lalu, “I mean it this time (kali ini gue serius).”


“Come on, Man. Gue datang beneran. Masa sahabat gue nikah gue absen. Tidak lucu, bukan?!”


“Gue awalnya despair, tapi akhirnya orang tua Mala merestui. Walaupun ...,” ia menyugar rambutnya. “Pernikahan gue harus dirahasiakan di depan publik. You know, Papa Mala punya alasan sendiri.”


Jebe mendengar serius.


“Gue jadi merasa bersalah. Harusnya gue memberikan pernikahan yang semua wanita idam-idamkan di seluruh dunia. Pernikahan sesuai impiannya. Pernikahan yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Harus berkesan. Tapi ... gue malah ...,” jeda sejenak. “Gue takut mengecewakannya.” Helaan napas akibat sesal dan kecewa bercampur.


Jebe mendecih, “Pikiran lo terlalu sempit. Belum tentu dia mengimpikan pernikahan yang ada di kepala lo itu. Kenapa lo gak tanya ke dia? Atau lo ganti aja dengan honeymoon keliling Eropa. Sewa cruiser keliling Jepang atau Selandia. Gampang, Man. Jangan dibuat ribet,” tukas Jebe.


Nyatanya menelepon Jebe malah membuat pikirannya bercabang. Mungkin ada benarnya apa yang dibilang sahabatnya itu. Tapi ....


Ia mengirimkan pesan pada Mala.


Garuda : Hon, thank you ... take me as I am 😊


Garuda : Maaf ... pernikahan kita tidak seperti yang kamu harapkan.


Pesan itu masuk. Namun status Gemala offline. Mungkin gadis itu telah tertidur. Ia kembali mengirimkan pesan.


Garuda : See you on my dream ... nyonya Garuda 😘


...***...


Gemala


Ayam jantan jenis onagadori di belakang rumah berkokok bersahutan. Ia menggeliat. Tidurnya semalam benar-benar nyenyak. Bahkan jauh berbeda dengan tidurnya selama di sini. Yang sulit dan gelisah menjelang tidur. Dan ia harus melelahkan mata terlebih dahulu dengan membaca buku atau mencari bacaan di e-book.


Tapi tadi malam ... serasa beban yang selama ini mengimpit berangsur hilang. Meski belum sepenuhnya.


Ia menghela napas dengan memejamkan mata. Kemudian mengeluarkannya perlahan melalui hidung.


This is my a big day.


Menjeremba ponsel di atas meja samping ranjang. Beserta kaca matanya. Beberapa hari ini ia sedang malas menggunakan softlens.


Ada notif pesan yang masuk. Garudanya Mala.


Senyum terkembang sempurna kala membaca pesan dari Garuda. Ia menekan tombol panggilan.


“Hem,” suara Ru terdengar baru bangun.


“Wake up, Ru. Ini sudah pagi. Kamu dengar?” suara azan berkumandang di musala. Biasanya Pak Mun yang jadi muadzin jika sedang menginap di perkebunan. Atau salah satu security.


“Ya,”


“Tandanya kamu dipanggil. Kamu mau papa membatalkan pernikahan kita gara-gara kamu tidak ada di musala?”


Garuda bangkit seketika, “Apa itu wajib?” tanyanya serius.


“Terserah kamu. Tapi papa suka calon menantu yang rajin beribadah.”


“Oke ... oke. Aku ke sana sekarang. Tapi bisakah kita bertemu setelah ini?” pinta Garu.


“No, Ru. Kita ketemu nanti sore. Saat kamu mengucapkan janji suci,”


“Yah,” suara Ru terdengar kecewa. “Sebentar saja apa tidak boleh?” ia mengiba. Melakukan penawaran. “Atau ... aku lihat kamu di layar saja. Cukup jadi mood booster aku sampai nanti sore, please ... Honey.”


“Ru,”


“Please,”


“Oke, tapi sebentar.” Ia mengubah panggilan telepon menjadi video call.



“Thanks, Hon. Kamu memang bidadari ... I love you.”


-


-


Menuju kesabaran menanti kehalalan ... 😁


📷 : unsplash (artist by Rashmika Maddana)


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏