
...82. Gentala Arasy...
Gemala
Mobil yang membawanya melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan yang tidak begitu ramai. Sesekali sopir di depan melajukan lebih cepat.
Tidak ada yang membuatnya sebahagia ini. Terkecuali ....
“Aku akan bicara dengan papa. Mungkin papa hanya menunggu dari kami. Tenang saja, papa tidak akan mengorbankan hubungan kekeluargaan ini menjadi hancur.” Kirei menukas, meyakinkannya akan keputusan yang ia anggap akan menyakiti banyak pihak. Terutama keluarga sepupunya.
Terlebih ... hubungan papa dan Om Bagas yang sekarang memang renggang.
Lega.
Setidaknya apa yang dikhawatirkannya tidak seperti apa yang ia bayangkan selama ini. Ia pikir ... keluarga Danang akan bereaksi seperti orang-orang yang menyudutkannya. Ia pikir ... hubungan darah yang mengikat mereka akan tercerai berai.
Senyumnya tersungging samar.
Namun sepersekian detik sudut bibir itu kembali datar. Mengingat ... hampers. Ah, iya ... buat apa Garuda mengirimi Kirei hampers?
“Hanya soal kerjaan. Gak penting. Lagian aku selalu nolak dan mengembalikan semuanya,” tandas Rei saat ia menanyakan soal hampers.
Hah! Selalu? Semuanya? Itu artinya lebih dari satu. Kenapa Garuda tidak pernah cerita? Kenapa laki-laki itu selalu menyembunyikan perihal yang menurutnya penting. Tapi bagi dia?
Ah ... memang menyebalkan.
“Pak, sudah sampai mana?” tanyanya pada sang sopir.
“Bayung Lencir, Bu.”
“Saya istirahat sebentar, ya, Pak. Bapak, gak apa-apa, kan, gak ada teman ngobrol?” tanyanya lagi.
Sang sopir terlihat senyum dari kaca spion tengah, “Sudah biasa, Bu.”
Ia mengatur posisi bangku agar lebih landai. Memasang travel pillow lebih nyaman.
Tadi pagi sebelum berangkat sempat berdebat dengan Garuda yang memaksanya menggunakan pesawat heli. Toh, mereka juga sudah sepakat dari awal. Tapi mendadak Ru katanya harus ke ujung timur Pulau Jawa. Ada permasalahan dengan PT. SGC.
“Maaf, Hon. Harusnya hari ini aku ke sana. Atau aku suruh kapten Donny ke sana?”
Ia menggeleng. Melihat raut wajah Garuda yang tampak lelah di layar. Ia tidak tega.
“Aku bisa pakai mobil. Lagian, kamu harus pergi dengan heli ke sana.”
Garu menyergah cepat, “Aku bisa pakai yang lain,”
Ia menggeleng lagi. “No. Kamu lebih membutuhkannya. Aku bisa pakai mobil.” Meskipun ia tahu, Ru pasti akan menyewa heli lain demi dirinya. Tapi rasanya ia egois jika harus mengorbankan laki-laki itu dan pekerjaannya. Lagi pula, ia masih bisa menjangkaunya dengan kendaraan.
“I miss you ... kalau pekerjaanku sudah selesai secepatnya aku akan menyusul ke sana.”
Senyum mekar terukir di bibir. Ia menatap laki-laki itu lama, “Miss you too ....” Layar ponselnya kembali gelap dalam beberapa saat kemudian.
...***...
Garuda
Harusnya weekend ini ia menyusul Gemala ke Palembang. Tapi berbagai masalah membelitnya. Mulai dari gugatan Atat ke Pengadilan Negeri (PN) atas sengketa hak warisan. Gugatan itu didaftarkan 2 hari yang lalu.
Secara lengkap Atat menggugat dirinya, Mulya sebagai pengacara, Yohan sebagai notaris, 4 orang saksi termasuk Tan dan Rahayu yang juga mendapat dana hibah dari papi.
Menurut Atat, pembagian harta warisan dan penyerahan kekuasaan Torrid Group padanya menyalahi aturan. Dan mengapa pada saat penandatanganan aset warisan itu hanya ada dirinya, Mulya dan keempat saksi. Sementara Atat dan Maleo tidak mengetahui hal itu sama sekali.
Masalah lain adalah Atat merasa Torrid tidak adil, yang mana seharusnya yang menjadi penerus nomor 1 di TG adalah anak tertua dari istri pertama. Bukan anak dari istri kedua, bahkan pernikahan Rahayu dan Torrid yang secara diam-diam dicurigai tidak sah. Sebab tanpa izin dan restu dari istri 1. Keabsahan pernikahan itu juga akhirnya dimasukkan dalam dalih gugatan.
Helaan napasnya berat.
Belum keseluruhan aset yang dimiliki Torrid menjadi pelik ketika, Atat lagi dan lagi memiliki data yang menurut versinya. Bahwa total keseluruhan aset yang dibagikan tidak sama dengan data investigasinya.
Ia mengusap dahinya.
Genderang perang telah ditabuh Atat. Saat kakak tirinya itu keluar dari Pengadilan Negeri sempat memberikan pernyataan kepada wartawan;
“Saya hanya ingin keadilan. Memperjuangkan apa yang menjadi hak saya maupun hak kakak kandung saya. Saya meminta hak saya sesuai undang-undang, sesuai hukum, sebesar legitime portie atau bagian mutlak ahli waris sesuai KUH (Kitab Undang-undang Hukum) perdata,” ucap Atat.
“Bagaimana sebenarnya status pernikahan ayah Anda dengan Ibu Rahayu ini, Pak?” tanya salah satu wartawan.
“Jika perkawinan diam-diam, tanpa sepengetahuan dan persetujuan istri pertama itu menurut Anda semua bagaimana?”
“Saya tidak ingin membahas hal itu. Yang jelas saya hanya ingin keadilan. Hanya ingin mempertahankan hak saya dan saudara kandung saya sebagai anak dari istri pertama yang sah di mata hukum,” pungkas Atat dan tidak berkomentar lagi saat wartawan mengejarnya dengan banyak pertanyaan.
“Ru,” sapa ibunya dari seberang melalui sambungan telepon. Ia tahu, pasti ibunya akan menanyakan kabar perselisihannya dengan Atat menyangkut warisan.
“Ya, Bu. Apa kabar? Maaf, Ru belum sempat jenguk Ibu.”
“Ibu, baik. Alhamdulillah. Ibu hanya ingin tahu kabar kamu. Kalau misalnya—”
“Ibu jangan khawatir. Hak prerogatif aku mengangkat Ganjar di posisi itu. Siapa pun tidak bisa melengserkannya. Kecuali kinerja dia buruk. Lagi pula ... hasil RUPS kemarin menyetujui Ganjar menempati posisi itu. Ibu tidak perlu risau,” potongnya.
“Soal dana—”
“Itu juga. Ibu jangan khawatir,” potongnya.
“Bukan begitu Ru. Jika dana itu membuat kalian seperti ini. Ibu akan kembalikan.” Hibah tanah seluas 5000 meter persegi di Yogyakarta diberikan padanya. Memang dulu Torrid pernah menjanjikan jika akan membangunkannya sebuah rumah sakit. Mengingat klinik yang berdiri di samping rumah sudah tidak lagi mampu menampung pasien.
“Bukankah itu pemberian papi untuk Ibu? Jika Ibu menolak, artinya papi di sana akan bersedih. Bukankah ibu juga akan memanfaatkannya untuk banyak orang? Agar papi di sana bisa tersenyum bahagia.”
Hening menjeda.
“Ibu hanya tidak ingin,”
“Percayakan padaku. Aku akan menyelesaikannya.”
Sambungan telepon itu terputus. Ia menghempaskan punggungnya ke belakang. Memejamkan mata.
“Pak,” Toni masuk dan membuat kelopak matanya kembali terbuka.
“Robin mendapatkan informasi pernikahan Anda dari ponsel Mbak Mala yang sempat hilang. Ponsel itu sempat ditangan orang kedua dan mereka memindahkan sebagian data-data. Orang tersebut masuk dalam komplotan jaringan Robin,” jelas Toni.
“Tapi Bapak jangan khawatir, semua data-data itu telah kita minta beserta data copy-nya. Robin bersedia bungkam. Ancaman kita ternyata membuat nyalinya menciut.”
“Tapi,” Toni menjeda kalimatnya.
Ia masih menelinga. Mendengarkan Toni memaparkan hasil temuannya bersama tim investigasi internal.
“Salim sepertinya mendekati kakak Anda. Sebaiknya Anda berhati-hati,”
Ia menyambar, “Aku tahu. Ton, siapkan heli sekarang kita ke SGC.”
...***...
Gemala
“Sudah sampai mana, Pak? Tanyanya ketika ia terbangun. Kendaraannya yang membawanya masih melaju di jalanan aspal.
“Tempino. Sebentar lagi sampai, Bu.”
“Nanti langsung saja ke hotel, Pak.” Ia mengedarkan pandangannya ke sebelah kiri. Cuaca di luar begitu terik. Mengecek ponselnya. Hanya ada Dila dan Davin yang menanyakan kabarnya.
Tiba di kota tujuan ia memerintahkan langsung ke toko buku. Mengambil berbagai macam buku yang dibutuhkan. Memasukkan ke dalam troli belanjaan. Hingga tak terasa kala keluar dari toko buku hari sudah gelap. Pun, langit suram dengan awan kelam.
“Sepertinya mau hujan,” gumamnya.
Ia meminta sang sopir langsung mengantarkannya ke hotel. Tempat pertama kali ia datangi saat menginjakkan kaki di kota ini.
Keesokan paginya ia bertemu dengan penggiat sekaligus pendiri LSM pemberdayaan perempuan. Sekalian berdiskusi dan mengambil data yang telah dititipkan padanya sebelumnya.
Orangnya energik. Kiprahnya tak perlu diragukan lagi.
“Terima kasih, Kak Ena atas bantuannya. Saya ... terbantu sekali berkat Kak Ena dan tim,” ujarnya memberikan salam sebelum berpisah.
“Sama-sama, Mala. Kalau masih perlu bantuan kami. Kapan pun kontak saja. Tidak usah sungkan,” Ena berpesan.
Mereka bersalaman. Saling cium pipi kanan dan kiri. Ia meninggalkan tempat janji temu sekaligus posko LSM itu berada. Yang tak jauh dari jembatan ikon kota ini. Tepatnya berada di sisi utara.
Ia memilih berjalan menyusuri dan menikmati jembatan penghubung kawasan kota selatan yang penuh bangunan, mall dan tempat-tempat strategis lainnya dengan kawasan utara yang terdiri dari pemukiman tradisional untuk kembali pulang ke hotel.
Menyuruh sang sopir untuk menunggunya di seberang.
Kata Ena aman. Belum pernah mendengar tindak kejahatan di atas jembatan tersebut. Maka ia putuskan untuk melewati sekaligus menikmati suguhan jembatan unik yang pertama kali dilihatnya ini. Jembatan yang berdiri di atas Sungai Batang Hari sepanjang 500 meter tersebut hanya dikhususkan untuk pejalan kaki. Sedikit berbeda dengan jembatan Ampera yang dilihatnya kemarin. Sementara untuk kendaraan baik roda dua maupun empat harus melewati jembatan lain dan memutar lebih jauh.
Sesungguhnya sebuah pemandangan yang sangat jomplang apabila disandingkan. Antara pemandangan sebelah sisi utara dan selatan.
Setelah beberapa saat menyusuri jembatan ia berdiri tepat di tengah-tengah. Menatap lalu lintas sungai yang tak pernah senyap.
TING.
Layar ponselnya berpendar. Sebuah pesan masuk.
Garudanya Mala : Hon, di mana?
Bibirnya tertarik ke atas.
Gemala : Di sini ....
Tak ada balasan dari Ru. Ia kembali melihat aktivitas kapal yang melintas.
TING.
Garudanya Mala : Aku di belakang kamu. Coba kamu berbalik.
Ia memutar tumitnya. Mengedarkan pandangan. Lalu menipiskan bibir. Tidak mungkin dan tidak ada laki-laki itu di sini.
Garudanya Mala : Kamu dengar dan lihat?
Gemala : Aku tahu kamu penuh kejutan. Tapi bukan berarti kamu bisa membohongiku.
Ia yakin Ru tidak mungkin menyusulnya secepat ini. Tadi malam laki-laki itu baru tiba di Jakarta hampir tengah malam. Bahkan saat tadi pagi meneleponnya Ru belum bangun. Jadi ....
TING.
Garudanya Mala : Aku tidak bohong.
Ia menengadah. Mencoba menajamkan indra pendengarannya. Lamat-lamat terdengar suara meraung-raung. Kian dekat semakin terdengar jelas. Heli itu mendekat ke arahnya.
Garudanya Mala : Hon, I’m here.
Ia menggelengkan kepalanya. Meski tanpa sadar sudut bibirnya melengkung ke atas.
Gemala : Jangan bikin kehebohan di sini. Aku tunggu kamu di seberang jalan. See you in kopitiam.
Ia memberikan kode menunjuk ke seberang jalan kota. Lalu bergegas ke sana. Sebuah kedai kopi yang sangat terkenal. Sementara heli yang ditumpangi Ru menjauh dan mendarat entah di mana.
-
-
Catatan:
Gentala Arasy adalah jembatan penghubung 2 kawasan utara dan selatan di atas Sungai Batang Hari.
📷 atas: dokumentasipribadi; bawah: unsplash
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏