If Only You

If Only You
95. Putaran Takdir



...95. Putaran Takdir...


Gemala


“Jadi begitu setelah kita mendapatkan hasil dari analisa data. Kita buat kesimpulan. Dan pada akhirnya merekomendasikan kepada pihak yang berkepentingan. Ingat, kita selalu menggunakan formula count it (terukur), change it dan scale it (perluas). Ok. Saya rasa diskusi kali ini cukup. Dan sudah jelas semuanya, ya. Sampai ketemu lagi minggu depan.” Pertemuan pagi itu berakhir. Pertemuan rutin yang diadakan seminggu sekali oleh ketua tim project.


Ia dan Dila langsung keluar ruangan.


“Mal, aku ke toilet dulu,” ujar Dila. “Oke,” sahutnya. Ia bergegas ke ruangannya. Rasanya ia melupakan sesuatu saat tadi memasuki ruang meeting. Dan benar, ponselnya ketinggalan di dalam tas. Ia pikir pertemuan seperti biasa paling tidak memakan waktu 1 jam. Ternyata hari ini lebih molor 1 jam. Sehingga total pertemuan berlangsung 2 jam lamanya.


Ia merogoh ponselnya dalam tas. Tampak nama Gayatri menghubunginya 3 kali.


“Apa ada yang penting?” gumamnya. Ia menghubungi balik Gayatri. Nada sambung pertama tidak diangkat. Kedua masih sama. Baru di nada sambung ketiga, “Mal,” sahut kakaknya.


“Ada apa, Kak?”


“Tadi pagi Garuda baik-baik saja, kan?” tanya Gayatri yang membuatnya mengerutkan alis.


“Iya. Kenapa, Kak?”


“Lebih baik kamu sekarang ke rumah sakit ....” Gayatri menyebutkan rumah sakit milik Tan.


“Ru, kenapa?” ia mulai panik.


“Tenang. Lebih baik kamu ke sana sekarang ....” Gayatri baru mendapat kabar sebatas itu sebab Ganjar menyuruhnya menghubungi adiknya untuk memberitahukan bahwa Garuda dibawa ke rumah sakit milik Tan. Tidak ada lagi informasi lainnya. Pun, ia sendiri bertanya-tanya. Ru sakit apa? Namun hanya menggantung di benak.


Ia langsung menyambar tasnya dan keluar ruangan bertepatan Dila yang akan masuk. Hampir saja mereka bertumbukan.


“Dil ... Dila, aku ... aku harus pergi. Garuda masuk rumah sakit. Aku ... aku,”


“Oke. Tenang. Apa aku perlu temani?”


Ia menggeleng. Dengan pikiran berkecamuk. Sebab tadi pagi suaminya itu tidak mengeluh sakit, juga terlihat baik-baik saja.


“Take care."


Ia mengangguk. Tujuannya hanya satu segera melesat ke rumah sakit. Bahkan sepanjang perjalanan ia tak tenang. Mencoba menghubungi Toni, namun tidak diangkat. Begitu juga Max.


Tiba di rumah sakit, dengan setengah berlari mencari keberadaan Garuda. Namun nihil. Ruang ICU tidak ada nama Garuda maupun sosok Toni di sana. Pun, Max yang dikenalnya.


Ia merasa bahunya ditepuk seseorang. Begitu memutar tumit orang tersebut berkata, “Ikut denganku.”


...***...


Garuda


 


“Kenapa, lo bawa gue kesini?” dengusnya.


“Maaf, Pak. Tadi saya lihat Bapak hampir pingsan di kamar mandi. Jadi saya panik langsung bawa ke sini,” dalih Toni. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan atasannya tersebut. Ialah orang pertama yang selalu berada di sampingnya. Jadi Toni harus bertanggungjawab penuh.


“Bro, tindakan Toni sudah benar. Membawa lo kesini.” Max membela Toni. Sudah cukup ia menyimpan rahasia sahabatnya ini. Karena Max juga tidak tenang melihat perkembangan kesehatannya, yang semakin hari semakin turun.


Ia berdecak kesal.


“Gue sudah daftarin di rumah sakit Singapura, Cina, Jepang, Korea, dan ...,”


BRAK!


Ketiganya mengalihkan pandangan pada pintu yang terbuka kasar. Gemala berdiri di ambang pintu. Tak lama Ganjar berdiri di belakangnya.


Ia memasang senyum dan menyambut Mala, “Honey. I’m okay ... si Toni ini yang bawa aku kemari. Padahal aku gak sakit hanya mual dan pening ... sedikit,” kelitnya dengan senyum yang masih terkembang. Namun detik selanjutnya lengkungan bibirnya berubah menjadi datar dengan cepat. Melihat Mala yang menangis.


Oh ... my God. Ia tidak bisa melihat Mala bersedih.


Ia berusaha turun dari ranjang. Mencoba melepas jarum infus sialan yang menjerat punggung tangannya. Akan tetapi lekas dicegah oleh Max dan Toni.


Gemala menggeleng dengan napas terengah-engah mendekatinya. Tadi saat mencari keberadaan ruang perawatan suaminya, ia menambah kecepatan langkah dibanding Ganjar, demi secepatnya melihat kondisi laki-laki itu.


“Honey, kita pulang sekarang. Aku sudah tidak merasakan sakit.


“Bro.”


“Pak,”


Cegah Max dan Toni refleks menahannya yang berusaha kembali melepas jarum infus.


“Bisa tinggalkan kami,” ucap Mala yang berdiri tak jauh darinya. Menatapnya dengan mata sendu dan basah.


Ia memejam sesaat. Toni dan Max keluar di susul Ganjar yang menutup pintu.


Mala menghambur memeluknya. Ia mengeratkan rengkuhannya, “I’m fine, Honey. Jangan khawatir,” bujuknya. Mala masih bergeming. Hanya terdengar suara tarikan ingus dan kemejanya yang terasa lembab.


Ia menghujani kepala Mala dengan ciuman. Menghela napas dan mengembuskan perlahan. Mengurai tumpat tak kasat mata memenuhi rongga dada.


“Sshhh ... I’m okay. No worries.”


Mala mengendurkan pelukannya. Ia menunduk. Mengusap lembut pipi yang basah. Mengecup mata yang sangat indah baginya. Namun, justru bola mata itu kembali mengucurkan kristal cair yang membuat dadanya semakin terjejal.


“Jangan bersedih, justru aku marah pada diriku sendiri kalau lihat kamu begini.” Bukankah janjinya telah terpatri, ia tidak akan membuat Mala kedinginan, kelaparan, sedih dan kesakitan. Sampai kapan pun ia akan berusaha membuat Mala bahagia.


“Kenapa kamu tidak berterus terang? Kenapa seolah kamu anggap aku orang lain? Kenapa—”


Ia mengecup bibir yang berucap gemetar. Hangat. Ia merasakan ketenangan dan kebahagian di sana. Bagaimanapun kondisinya saat ini. Bagaimanapun putaran takdir untuknya. Setidaknya, ia bahagia. Bahagia telah memiliki Gemala seutuhnya. Bahagia bisa hidup bersama orang yang dicintainya. Meski ia tidak tahu ke depannya akan seperti apa.


“So sorry,” ia menatap Gemala. Mengulas senyum. “Aku tidak ingin membuatmu khawatir. Aku tidak mau membuatmu bersedih. Lagian, aku masih bisa beraktivitas. Masih bisa ... menemani istriku. Masih bisa ... membuatnya kelelahan,” ia terkekeh pelan.


Gemala memberengut. Lalu berdecak sebal, “Nasty! Dari dulu sampai sekarang nasty kamu gak berubah. Aku kesal sama kamu.”


Ia tergelak, “Itulah Garuda. Kalau nasty berubah jadi nice guy. Bukan Garuda namanya,” ia kembali mengusap pipi yang lembab. Menatap Mala dengan senyum.


Gemala memukul dadanya kesal. “Nyebelin.”


“Aduh, sakit Hon,” adunya berpura-pura.


Gemala terlihat panik, “Sorry, aku gak sengaja. Yang mana yang sakit?”


Ia mengajak Mala duduk di tepi ranjang. Mengaitkan helai surai istrinya yang tampak lepek tak beraturan ke belakang telinga.


“Listen to me,” ia meraih kedua tangan Gemala. Mengusapnya lembut. Mengecupnya sejenak. “Aku pasti baik-baik saja. Dan aku yakin semua akan baik-baik saja. Don’t worry, okay.”


...***...


Rahayu


Begitu tiba di Jakarta langsung menuju rumah sakit milik Tan. Pembicaraan dengan Tan melalui sambungan telepon kemarin tak urung mencegahnya untuk tak datang. Bahkan penjelasan Tan kian tak bisa membuat tidurnya nyenyak.


“Kapan Ru terakhir medical check up?”


“Empat tahun lalu. Saya selalu mengingatkan dia untuk datang ke rumah sakit melakukan general medical check up. Setiap 6 bulan sekali. Namun Garuda selalu menunda-nunda. Dengan alasan kesibukan. Dan ... merasa dirinya baik-baik saja. Mengingat hasil yang sudah-sudah memang selalu menyatakan dia sehat.”


“Maaf dokter Rahayu, saya jujur juga baru tahu dari Max. Sebab ternyata Garu meminta Max untuk menyembunyikan kondisi kesehatannya. Saya—” jika dulu Tan diminta Torrid untuk menyimpan rahasia kesehatannya. Kenapa sekarang Max yang mengalami hal sama.


“Sudah pada kondisi seperti apa?” selanya. Berharap keajaiban memayunginya.


Hening terjeda memeluk percakapan 2 orang melalui sambungan telepon tersebut hingga beberapa saat.


“Alcoholic fatty liver, tidak ada virus penyerta. Seperti hepatitis B maupun C. Yang juga diidap Pak Torrid. Kecurigaan besar mengarah pada pola hidup Garuda yang mengonsumsi alkohol sejak muda.”


Tamparan keras menghantam pipinya. Satu buliran kristal cair melesat cepat kala ia memejamkan mata sambil terus mendengarkan Tan yang menjelaskan kondisi Garuda. Sejak muda? Sejak kapan? Kenapa papinya tidak melarangnya! Ya ... Tuhan. Ia menangkup wajahnya.


Max sudah merekomendasikan dokter spesialis untuk memantau dan memberikan pengobatan sementara. Namun poin terakhir dokter menyarankan untuk melakukan transplantasi hati. Meski semenjak menikahi Mala, Ru telah berhenti total mengonsumsi alkohol tapi bukan berarti mengembalikan fungsi sel hati yang telah rusak. Bahkan tidak bisa meregenerasi kembali. Yang ada hanya mencegah supaya kerusakan tidak semakin meluas.


“Sirosis hati sudah mencapai tahap dekompensasi,” terang dokter spesialis penyakit dalam yang menangani anaknya. Ia duduk mendengarkan penjelasan kondisi terkini Garuda di ruangan Tan. Dekompensasi ... artinya kondisi hati sudah mengalami jaringan parut. Dan berakibat fatal sebab bisa menyebabkan komplikasi lainnya. Bahkan ia sudah melihat tanda-tanda itu dalam Garuda. Kelelahan, jaundice atau penyakut kuning pada sklera mata dan kulit. Meski pada kulit tak terlalu mencolok. Bahkan menurut laporan Ganjar yang mengatakan kakaknya itu mengalami mual muntah dan pembengkakan pada perut. Tan menyodorkan hasil pemeriksaan Garuda padanya.


Ia menatap nanar. Membaca satu persatu lembaran tes uji laboratorium. Dari pemeriksaan fisik, darah, pencitraan berupa CT scan,  MRI serta USG. Dan semuanya ... menyatakan bahwa ... ia memejamkan mata. Dadanya kembali tertohok oleh lembing tepat menancap di sana.


“Jika secepatnya mendapatkan donor yang sesuai, kita akan melakukan transplantasi segera. Baik living donor maupun donor kadaver (mayat). Sebelum terlambat.”


“Tolong, periksa saya, Dok. Saya pasti sesuai dengan anak saya.” Ia menyergah dengan cepat. Dipastikan dengan golongan darah O ia bisa menjadi pendonor bagi siapa saja. Namun selain golongan darah ada syarat lain yang harus terpenuhi tentunya. Apa pun akan dilakukannya. Apa pun ...


“Dok,” sanggah Tan. Menatapnya penuh iba, “saya mengerti kecemasan dokter. Tapi bukan berarti abai dengan prosedur dan syarat. Dokter Rahayu pasti tahu apa saja syarat sebagai pendonor,” tukas Tan. “Bukan hanya golongan darah dengan tipe jaringan yang sama, tapi syarat lain juga mengikat.”


Ya, banyak syarat yang harus dipenuhi. Selain yang disebut Tan. Termasuk rentang usia, yang dianjurkan antara 19-55 tahun. Kondisi fisik dan psikis dinyatakan sehat, tidak memiliki riwayat penyakit serius apalagi menular, dan syarat lainnya yang memang tidak mudah. Matanya berkaca, siap tumpah kapan saja. “Saya siap dengan segala risikonya,” tangkasnya tak kalah emosional.


Tan menggeleng. “Max sudah mencari ke berbagai rumah sakit di luar juga di sini. Tapi ini tidak gampang. Bahkan ada pasien kami yang 1 tahun masuk waiting list sampai sekarang belum mendapatkan yang sesuai. Tapi kita tidak akan menyerah. Kita akan terus berusaha,” tukas Tan.


Pintu terbuka, Ganjar dan Max serta Toni masuk. Duduk di sebelahnya. “Dokter periksa saya. Saya siap menjadi pendonor,” sela Ganjar sekonyong-konyong.


Ia menyanggah, “Le,”


“Bu, aku dan Mas Garuda punya hubungan darah. Aku yakin ... pasti kami punya kecocokan.”


Ia menggeleng. Meskipun mereka bersaudara tapi golongan darah mereka jelas berbeda. Ganjar punya golongan darah sama dengan ayahnya. Sementara Ru mengikuti papinya. Golongan darah menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi terlebih dahulu.


Ganjar terlihat kecewa. Begitu juga Toni dan Max yang juga telah memastikan bahwa golongan darah mereka tidak bisa menjadi pendonor.


Tarikan dan embusan napasnya sungguh berat. Putaran takdir kembali menghunjam dengan kejam. Membelit membuatnya terlilit tanpa bisa berkelit.


...***...


Gemala


“Aaak,” ia memaksa Garuda membuka mulutnya.


Laki-laki itu menggeleng, “Enough, perut aku begah.” Ru mengusap perutnya yang memang tampak lebih besar. Padahal baru 5 suapan.


Ia menyimpan piring di atas meja overbed table. Menggeser meja tersebut ke dinding. Mengangsurkan segelas air pada Ru. Laki-laki itu meminumnya sedikit. Kemudian kembali menyimpan gelas ke tempat semula.


“Gimana dengan rencana sekolah Nyalin?” tanya Ru. Menyandarkan kepala ke belakang. Dengan ranjang yang telah diatur lebih tegak.


Ia duduk di kursi samping ranjang. Mengambil potongan buah dan menusuknya dengan garpu, menyodorkan ke arah mulut Garuda.


“Honey buat kamu saja,” Ru membelokkan sendok garpu ke mulutnya. Ia tersenyum kemudian membuka mulut.


“Semua sudah oke,” jawabnya sambil mengunyah. “Guru homeschooling juga sudah oke. Kak Gaya juga bersedia menampung Nyalin. Perlahan-lahan Nyalin akan beradaptasi. Tapi belum tahu kapan menjemput Nyalin,” tuturnya. Harusnya dalam minggu ini, sebab minggu depan Nyalin sudah mulai sekolah. Mengingat Nyalin, rasanya bangga pada anak remaja tersebut. Manakala ia menawari Nyalin sekolah di kota bersamanya, anak itu langsung mengangguk. Ia tidak bisa memaksa Nyalin untuk langsung ikut sekolah umum sebab ia tahu kondisi sosial Nyalin sulit beradaptasi dengan orang baru di luar lingkupnya menjadi kendala utama. Maka dari itu perlahan ia memberikan homeschooling sementara. Paling tidak, agar tak ketinggalan pembelajaran juga mengajarkan cara bersosialisasi pada Nyalin tahap demi tahap. Tujuannya adalah mempersiapkan Nyalin terjun ke lingkungan lebih luas.


“Kenapa tidak menyuruh Toni?”


Ia menggeleng. “Takut dia gak nyaman sama Toni. Mas tahu sendiri mereka sama orang luar menjaga jarak.”


“Iya sih, tapi Toni beberapa kali ke sana. Pasti Nyalin tidak asing.”


“Nanti kalau aku punya waktu senggang. Aku yang akan menjemputnya,” jika sekarang rasanya berat meninggalkan Garuda di tengah kondisinya seperti ini.


“Bagaimana kalau weekend besok, kita jemput dia?” usul Ru. Yang langsung mendapat tatapan dengan kedipan cepat—tak setuju.


“Hon, aku masih bisa—”


“Masss ...,” geramnya kesal.


Justru Garuda terkekeh ringan melihat reaksinya yang antisipatif.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ....