
...16. Open Marriage...
Melbourne
“Open marriage?!” Pekik Gemala tak percaya. Malam itu ia tidak jadi tidur, meski mata dan tubuhnya lelah. Setelah sang kakak menceritakan hubungannya yang tengah renggang dengan Richard.
Ia menggeleng kuat, “Sumpah. Ini gila, Kak!”
Sementara Gayatri hanya menghela napas. Mengembuskan kasar. Beban hatinya sungguh berat dan ingin mengeluarkannya dengan segera.
Ia menatap kakaknya tak percaya. Yang katanya Richard telah mengalami ujian cinta. Dan hasilnya sesuai ekspektasi. Tapi ini, baru saja yang ia dengar ...? Seperti petir di siang bolong. Usianya memang masih 22 tahun. Tapi ia paham apa itu open marriage.
Open marriage.
Adalah suatu hubungan pernikahan yang memperbolehkan pasangannya berhubungan dengan orang lain. Baik hanya sekedar ‘jalan’ maupun sekedar berhubungan badan. Dan itu semua berdasar kesepakatan. Bahkan mereka akan membuat aturan-aturan yang disepakati.
Misalnya, tidak boleh cemburu selama salah satu dari mereka jalan dengan pasangan lain. Tidak boleh mengatur. Tidak boleh melihat ponsel pasangan. Dan diyakini tidak boleh melibatkan perasaan dalam menjalin hubungan dengan yang lain.
Huh! Ia tak habis pikir. Lalu menggeleng lagi.
“Ini bukan seperti yang kamu bayangkan, Mal. Bukan perselingkuhan, bukan main serong atau apalah ....” Gayatri menjelaskan. Ia yakin keputusannya akan ditentang adiknya.
“Aku tidak setuju,” putusnya tegas. “Meski ini bukan selingkuh. Tapi, tapi ini hubungan yang tidak sehat, Kak.”
“Bagaimana Kakak akan menjalani hubungan seperti itu? Kita orang timur, tidak mengenal hubungan seperti itu, Kak!” tandasnya berapi-api.
Gayatri menunduk.
“Bagaimana kalau papa-mama tahu? Bagaimana kalau Richard gak cuma berhubungan dengan 1 wanita tapi lebih. Lalu having s*x, lalu bawa penyakit, lalu ....” Ia sudah tidak dapat lagi membayangkannya. Terlalu mengerikan.
Gayatri menggeleng, “Bukan seperti itu, Mal. Kamu pernah dengar artis dalam negeri atau luar yang ngejalani OM (open marriage), sebenarnya banyak, gak cuma artis. Bahkan di negara-negara maju, itu sudah menjadi life style. Ya, ibarat kata kalau jaman dulu raja-raja punya banyak permaisuri sebagai istri resmi. Tapi juga punya selir, harem atau sejenisnya. Istri resmi tetap utama. Yang lain hanya selingan,”
“Dan mereka punya rules. Itu pasti, tidak sembarangan. Intinya, bermain se*ks aman, tidak bawa penyakit, dan tidak punya anak di luar dari pasangan resmi.”
Ia sampai melonjak kaget. Bangkit dari kursi, “Kalau gitu Kakak mending poligami. Beres. Sesuai keyakinan kita.” Tangkasnya menyanggah. Bagaimanapun ia pernah mempelajari keyakinan dan kepercayaannya hingga lulus primary school dengan guru agama yang diminta papa untuk mengajari anak-anaknya selama di Melbourne. Sedikit banyak ilmu itu masih dipegang teguh. Meski tidak semua ia aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Salat 5 waktu misalnya, ia akan berusaha mengerjakannya, meski ya ... masih ada bolongnya. Puasa yang terkadang sangat berat jika jatuh pada musim dingin atau musim panas yang menyengat, tapi masih ia jalani. Lalu berkerudung, entah kapan ia bisa melakukannya. Tinggal di negara yang minoritas muslim membuat kewajiban-kewajiban itu sulit dilaksanakan. Butuh perjuangan lebih dibanding teman-teman yang tinggal di Indonesia.
Tapi, ia akan memegang prinsip hidup sesuai keyakinannya. Sampai kapan pun.
“Poligami itu harus menikahi beberapa orang. Ada syaratnya. Ribet. Dan itu tidak mudah. Menguntungkan pihak pria, sementara kita?” Gayatri menggeleng.
“Apa pernikahan hanya mengandalkan se*ks semata? Apa cinta sejati itu gak ada? Apa orang yang melakukan OM itu gak punya hati?” sambungnya memprotes, “belum masuk ke analogiku. Cinta itu fitrah. Mencintai dan dicintai. Pasti nurani kita inginnya dicintai dan disayangi oleh 1 pasangan. Sebisa mungkin sampai selamanya. Kalau sampai pasangan kita ‘mendua’,” ia memakai tanda kutip dengan jarinya pada kata mendua. “Ya, berarti ada yang tidak beres,” simpulnya.
“Papa-mama Richard dulu pernah OM. Dan pernikahannya baik-baik saja hingga kini.”
Ia mengernyit, “Dulu? Berarti sekarang? Berapa tahun mereka OM?”
“Menurut cerita Richard sih sampai anak-anaknya besar masuk sekolah menengah.”
“Mungkin karena kamu masih menganggap monogami itu satu-satunya jalan terbaik. Dan aku juga. Tapi,” ujar Gayatri. Meski dalam relung hatinya ia juga menginginkan seperti itu.
“Tentu, Kak. Siapa sih, yang tidak ingin punya pasangan sehidup semati. Sampai maut memisahkan.” Sahutnya cepat.
“Ini lebih menguntungkan mala. Daripada setelah kita menikah, tiba-tiba si dia main selingkuh diam-diam di belakang kita. Tiba-tiba punya anak dari orang lain. Tiba-tiba bilang ‘gue mau menikah lagi’ setelah pernikahan 5 tahun, 10 tahun .. itu yang bikin bencana dalam rumah tangga. Ribut. Akhirnya perceraian menjadi jalan akhir.”
“Kalau OM, semua dibicarakan jauh sebelum menikah. Sebelum pernikahan terjadi. Semua penuh keterbukaan. Tidak ada yang dirahasiakan. Bahkan kita buat aturan-aturan yang wajib kita taati. Yang penting kita komit, siap.”
Oh, my god. Ia mengusap wajahnya.
“Kamu juga bisa menjalani OM. Misal kamu suatu saat nikah sama Ethan, terus bisa jalan sama si Nasty. Si Ethan juga bisa jalan sama cewek yang pernah aku lihat,”
Ia menggeleng, “No way, aku gak akan memakai konsep itu, Kak.”
“Ini bukan tabu lagi, Mal. Apalagi di sini. Kamu bisa melihat sendiri. Mereka yang menjalani OM, enjoy, fun, dan pernikahan tetap berjalan semestinya.”
“Entahlah ...,” ia pusing. Meninggalkan Gayatri.
Perdebatan mereka sampai tengah malam belum mencair juga. Saling mempertahankan pemikiran masing-masing. Bahkan ia tak habis pikir, kakaknya setuju dengan konsep yang ditawarkan Richard. Astaghfirullah ... ia mengusap keningnya. Kalau open book, open mind, open the door, open buat kue ia sangat setuju. Tapi ... ini ... open marriage ... unbelieveable.
Keesokan harinya ia pergi ke kampus. Mencari bahan referensi di perpustakaan. Lalu siangnya menghadap prof. Dat Paul.
Semua berjalan lancar. Sesuai harapannya. Sekarang gilirannya menemui Ethan. Laki-laki yang satu tahun belakangan ini dekat dan mengisi hatinya.
Ethan membentangkan tangannya, menyambut kedatangannya di sebuah taman kota. Ia pun membalas.
“Your presence makes me a happy person,”
Ia mengurai pelukannya, lalu mengajak Ethan duduk di bangku taman.
“Aku juga bahagia, prof Paul mempermudah dan membantu selama penelitian. Sepertinya aku bisa wisuda tahun ini.”
Ethan mengerutkan dahi, “Aren’t you happy to see me? (kamu tidak bahagia bertemu denganku?)”
Ia melempar senyum, “Maksud aku. Aku bahagia bisa secepatnya kembali ke sini. Ketemu kamu dan semuanya.”
Ethan tersenyum, “I have to go to Paris in two days,”
“Oh, ya.”
Laki-laki itu mengangguk, “Mendapat undangan dari Museum D’orsay adalah sebuah kehormatan yang sangat besar. Apalagi hasil lukisan kita di sandingkan dengan pelukis terkenal,”
Ia ikut bahagia, “Congratulation Ethan. I know, you dying for it. Dan kamu pantas mendapatkannya.”
“Thanks, Babe. Bagaimana lukisanku harus bersanding dengan karya Georges Surant, Wassily Kandinsky. Dan tentunya Vincent van Gogh. Like a dream,” mata Ethan berbinar. Wajahnya semringah. Laki-laki itu memang bermimpi bisa menampilkan karyanya bersanding dengan pelukis idolanya—Vincent van Gogh.
“So sorry, I have to go for a long time, (aku harus pergi dalam waktu lama)” Ethan merengkuh tangannya. Lalu menciumnya.
“How long?”
“About 1 month,”
Pertemuan dengan Ethan ditutup dengan makan di sebuah restoran. Lalu Ethan mengantarkannya hingga di depan pintu rumahnya.
Ia mengembuskan napas, sambil mendorong pintu. “Kak,” panggilnya. Tidak ada sahutan. Mungkin kakaknya itu belum pulang. Pekerjaan Gayatri sebagai desain interior di sebuah perusahaan arsitektur terkadang tak mengenal waktu. Kadang kakaknya itu seharian bekerja dari rumah. Terkadang seharian tidak pulang, bahkan beberapa kali pernah menginap di kantor.
Tapi begitu langkahnya melewati dapur yang bersisian dengan teras belakang. Tampak Gayatri dan Richard sedang duduk di sana. Entah apa yang mereka bicarakan.
Satu minggu setelah pembahasan OM, tidak ada lagi perbincangan kakak-beradik itu. Gayatri juga tengah sibuk mempersiapkan desain museum kota. Sementara dirinya juga sibuk menyelesaikan tugas akhirnya.
Ia sengaja menerima tawaran Nayla, teman satu kelasnya untuk pergi menemani gadis Malaysia itu melihat festival Tulip di Kota Silvan, 40 KM dari pusat Melbourne.
Tiba di sana, pemandangan bunga tulip bermekaran menghampar kebun yang luasnya 10 hektar tersebut. Berbagai jenis tulip dikelompokkan sesuai varietasnya. Cantik dan sungguh indah. Tak menyesal ia mendatangi tempat ini. Pun terbayar sepadan.
“Di Indonesia ada tulip tak?” tanya Nayla saat mereka ber-selfie di hamparan tulip yang diberi papan keterangan ‘Tulips in Turkey’. Tema yang di selenggarakan pada minggu pertama.
“Aku rasa ada. Tapi mungkin di daerah dataran tinggi. Karena tulip jenis tanaman budidaya sub-tropis.”
Mereka berpindah tempat. Di hamparan tulip yang berwarna kuning.
“Yang aku dengar, tulip kuning melambangkan persahabatan dan juga keceriaan.” Tukasnya sambil membelai satu persatu bunga itu.
Nayla menyahut, “Ya, saya pernah juga dengar. Tapi kalau kamu terima tulip yellow dari seseorang yang kamu suka ... artinya cinta kamu ditolak."
Keduanya saling pandang, kemudian tergelak.
“Kalau ini,” ia memegang tulip putih, menciumnya sebentar. “Lambang permohonan maaf atau belasungkawa.”
“Putih selalu suci,” Nayla menimpali.
“How about red?” tanya gadis Malaysia itu. Mereka berada pada kumpulan tulip merah.
“Yang aku tahu, lambang cinta. Kasih sayang. Cocok untuk mengungkapkan isi hati,” ia tersenyum simpul.
“I agreed. Merah itu berani.” Nayla mengacungkan jempolnya.
“Menurutmu, apa cinta sejati itu ada?” tanyanya ketika mereka duduk di bangku taman.
“Sure,”
Ia menghela napas, “Apa pendapatmu soal ... cinta yang melakukan open marriage?” ia ingin mendengar pendapat lain selain dari Gayatri.
Nayla menatapnya, mengerutkan kening. “Open marriage?”
Ia mengangguk.
“Well, saya tak paham betul open marriage. Di negara saya tak menganut itu. Pun keyakinan saya juga tak boleh. Tapi, di negara barat mungkin menjadi hal yang biasa.”
“Soal cinta. Dunno, apa mereka melakukan itu sebab cinta atau ...,” Nayla mengangkat bahu, “hanya pelampiasan. No hard feeling, ya ... kadang mereka beralasan karena kebutuhan se*ks tinggi, pasangan tak bisa melayani atau faktor lain. Bisa juga pasal kaum hawa di negara maju tak mau selalu jadi objek, mereka menyeru emancipation ... so, berhak menentukan pilihan.”
“Yang pasti mereka melakukan itu apa punya cinta atau tak, saya tak bisa jawab. Sebab bukan pelaku. Dan, apa perlu kita teliti?” Nayla mengangkat sebelah alisnya.
Ia terkekeh, “Boleh juga. Budaya pasangan yang melakukan open marriage di kota X. Atau ... perilaku pasangan yang melakukan open marriage.”
“Nah, perlu diajukan. Tapi, mungkin masuk psychology class? Or sociology?”
“Anthropologhy juga bisa kali,” sambarnya.
“Kalau di Indonesia nanti jadi sebuah anekdot.”
“Anekdot?”
Ia mengangguk, “Cerita lucu yang mengocok perut. Biasanya yang terjadi di sekitar kehidupan kita. Atau sebuah sindiran untuk seseorang atas fenomena sosial.”
“For example, kalau kita melakukan open marriage. Ini misal ya, amit-amit jangan sampai. Kamu menikah sama pacar kamu katakanlah si Arfin. Lalu kamu menjalin hubungan dengan Paul—”
“Mister Paul?” protes Nay. Pasalnya Paul adalah paman Arfin.
“Just an example,” sanggahnya.
“Jadilah nanti ‘Pamanku itu Dosenku, Mantanku'.” Ia ketawa setelahnya.
Nayla menggeleng dan dahinya berlipat. Entah mengerti atau tidak.
...***...
Jakarta
Toni masuk ke dalam ruangan atasannya. Tidak banyak yang berubah. Hanya papan tanda pengenal saja yang diganti.
“Pak, proyek reklamasi di Semarang sedikit mengalami hambatan.” Toni melaporkan progress harian proyek. Masih dengan berdiri.
“Hambatan apa?” tanya Ru tanpa melihatnya. Ia fokus menatap layar laptop.
“Nelayan sekitar reklamasi tidak terima. Protes dan berdemo ke pemda. Pihak LSM juga melayangkan surat keberatan pada kita dan pemerintah. Mereka melampirkan keberatan tersebut dengan bukti-bukti, yang semuanya belum tentu benar. Ditambah lagi,”
Ia mengerutkan dahi. Menunggu kelanjutan, “Proyek kita menjadi headline sebuah TV di sana. Mereka gencar memberitakan dan menyudutkan kita, Pak.”
“Aku akan pelajari lagi berkas reklamasi itu. Tugas kamu, mengamankan situasi dan kondisi. Kamu pasti mengerti dan tahu apa yang harus kamu lakukan.”
“Baik, Pak.” Toni sudah memutar tumitnya hendak pergi.
“Ton,” Toni kembali menghadap atasannya.
“Selesaikan baik-baik.”
Toni mengangguk, “Baik, Pak.” Berlalu dari sana.
Jemarinya mengetuk meja. Sebenarnya ia sudah mempelajari proyek yang telah digarap kakaknya itu. Banyak temuan-temuan ganjil menurutnya. Tapi, ia harus melanjutkan proyek itu. Apa pun risikonya.
Bahkan, jika seandainya ia harus membeli saham Kurenai Metal. Perusahaan Jebe yang menyediakan pasokan besi-baja untuk konstruksi. Rahangnya mengetat, dahinya berlipat.
Bisa-bisanya Maleo ceroboh. Bekerja sama dengan perusahaan besi-baja yang kualitasnya di bawah standar! Ia memijit pangkal hidungnya. Tak ada pilihan lagi. Ia harus segera mengambil tindakan.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏