
...24. Pernikahan Hanya simbolis Semata...
Garuda
Ia menjemput papi ke Singapura. Bersama dengan Atat dan istrinya. Beberapa media telah menunggu mereka di pintu kedatangan bandara. Entah dari mana kabar itu menyebar. Padahal mereka selalu menutup rapat soal kehidupan pribadi keluarga. Bahkan hanya orang-orang terdekat yang tahu kondisi papi.
Ia meminta pihak keamanan untuk memberikan jalan lain. Saat ini bukan waktunya. Dan sampai nanti juga tidak akan pernah ada. Meski ia paham, bahwa media juga yang mengangkat pamor TG. Tapi prinsip kehidupan pribadi harus terpisah dengan bisnis sudah melekat sebagai ajaran mutlak.
Lantas bagaimana dengan istri Maleo. Yang dekat dengan media.
Sandra tidak pernah membawa kehidupan keluarganya terangkat publik. Ia begitu rapi menyimpan. Dan enggan berkomentar soal pribadi. Begitu juga dengan istri Atat.
“Ru, aku langsung balik kantor.” Ucap Atat yang keluar dari mobilnya. Begitu rombongan mobil mereka tiba di rumah papi.
Atat dan istrinya pamit dengan papi.
“Kalau ada apa-apa calling gue.” Pesan Atat memeragakan jemarinya seolah membentuk gagang telepon.
Ia mengacungkan jempolnya.
Berjalan di sisi papi yang duduk di kursi roda didorong oleh Tyo.
“Yo, biar aku saja.” Ia menyela. Mengambil alih. Tyo mengangguk lalu memberikan ruang untuknya.
“Papi mau ke mana?” mereka melewati ruang tamu dan tengah yang sangat luas.
“Papi mau ke teras belakang. Kangen dengan Yi, Erl, San, Wu dan Liu.” Sahut Torrid.
Mereka adalah burung-burung kesayangan papi. Yi, Erl dan San adalah jenis burung murai batu. Wu adalah kakaktua raja. Dan Liu adalah jalak nias. Sementara masih ada belasan lainnya yang ketika tiba di teras belakang seolah-olah berada dalam arena kontes burung.
Semua berunjuk gigi. Sahut menyahut. Sambung menyambung. Dan mengeluarkan suara merdu khasnya masing-masing.
“Selamat datang ....” Wu menyambut mereka ketika ia dan papi mendekat.
“Torrid, are you okay?” imbuh Wu.
Ia tersenyum. Sementara papi membalas, “Good.”
“Good ... I like it, I like it.” Wu membalas.
Papi memberikan hadiah pada Wu. Makanan kesukaannya tentunya.
Ia duduk tidak jauh dari Wu bertengger. Papi masih berdiri sambil memberikan makanan pada Wu.
“Papi suka burung. Makanya anak-anak Papi semua diambil dari nama burung.” Celetuknya sambil menggelengkan kepala.
“Maleo adalah burung endemik dari Sigi. Atat adalah sebutan kakaktua jambul kuning di Bali. Sementara aku ....”
“Kamu mau protes?” sahut papi.
“Nama kamu bukan saja karena papi cinta Indonesia. Tapi karena di garudalah Papi pertama kali langsung jatuh hati sama ibumu. Tepatnya di hotel Natour Garuda, Malioboro,” terang papi. Ikut duduk di sebelahnya.
“Beruntungnya lagi anak-anak Papi semua laki-laki. Jadi tidak salah memberikan nama itu,” elak Torrid.
“Tapi pada akhirnya namaku jadi buah bibir. Jadi bahan bully-an waktu aku kecil, bahkan sampai sekarang,” sergahnya.
Torrid terkekeh, “Siapa yang berani mem-bully anak papi?”
Ia berdecak. Lalu tersenyum samar. Bahkan namanya di kontak Gemala saja aneh. Garuda 5ila?
Ingin rasanya waktu itu mengubah nama kontaknya dengan, ‘My Garu’ atau ‘GG’. Tapi gadis itu keburu terbangun dari tidurnya. Jadinya ia tak sempat mengganti nama kontaknya.
Ah ... GG itu maksudnya Garudanya Gemala. Romantis, bukan?
Astaga. Kenapa ia jadi lebay begitu. Narsis. Dan bukan dirinya. Ia menyugar rambut hitamnya.
Papi menepuk pahanya. “Papi akan melanjutkan cerita kemarin yang sempat tertunda."
...***...
Torrid
Masih di rumah sakit tempat Rahayu koas.
Setelah dinyatakan sehat dan bisa pulang. Aku berkemas. Tentunya dibantu Rahayu. Dokter muda itu bahkan mengantarkan aku sampai di depan pelataran rumah sakit.
“Hati-hati, Mas. Eh ... maksudku Ko.”
Hem ... sebutan koko adalah panggilan permintaanku. Untuk menjelaskan bahwa aku laki-laki lebih tua. Dan aku suka dipanggil koko oleh Rahayu.
Sementara, “Aku boleh memanggilmu Ayay, kan?” pintaku. Alasanku karena Rahayu terlalu panjang. Dan Ayu panggilan orang-orang—sudah umum. Aku ingin berbeda. Karena Ayay lebih spesial serta cocok berpasangan dengan koko.
Rahayu mengangguk.
Tak perlu waktu lama. Dua minggu kemudian aku bertemu lagi dengan Ayay. Aku kembali ditugaskan papa untuk menemui investor. Kedekatan kami semakin intens. Hanya saja aku harus memastikan bahwa Ayay juga menyukaiku.
Kami membuat janji temu. Menyusuri jalan Malioboro sampai perempatan gedung agung. Sekarang namanya titik nol KM Yogya.
Berbagi cerita. Hingga tak terasa siang telah berganti rembang pentang.
“Jadi tahun ini kamu lulus, Ay?”
Rahayu mengangguk, “Mudah-mudahan.”
“Apa rencanamu setelah ini?”
Rahayu tersenyum, “Bekerja di rumah sakit.” Menjeda dengan menghela napas, “sebenarnya aku ingin mengambil spesialis. Ah ... nanti sajalah. Baru dipikirkan lagi.” Tukasnya.
“Ay,” dengan keberanian tinggi aku menggenggam tangannya. “Aku menyukaimu. Sejak ... aku melihatmu di hotel Natour Garuda. Saat grand opening hotel waktu itu. Aku,”
Rahayu mengernyit.
“Ya, aku melihatmu naik delman. Lalu aku kehilangan jejakmu.”
“Aku telah jatuh hati padamu sejak saat itu.”
“Baru kali ini aku merasakan cinta. Aku merasakan jatuh cinta. Dan itu sama kamu.”
“Maaf, kalau aku lancang berbicara seperti ini. Tapi ini benar-benar yang aku rasakan.” Aku menatap penuh Rahayu. Sementara dia tampak tersipu malu. Wajahnya merona. Lalu menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya.
“Tidak perlu dijawab sekarang, Ay. Aku akan menunggu.”
Di pertemuan kedua aku sudah memberanikan menyatakan perasaanku. Tentu aku sadar. Aku tidak bisa terus menutupi statusku. Setelah mendapat kepastian di pertemuan selanjutnya. Aku berjanji akan membuka jati diriku. Apa pun nanti jawaban Rahayu.
Sayangnya, pertemuan ketiga ternyata tak seperti harapanku. Selama 1 bulan penuh aku ditugaskan papa ke Pulau Sumatera. Memantau kegiatan membuka lahan untuk ditanami pohon sawit.
Tentu di sela-sela itu aku mengirimi surat untuknya. Meski tidak dibalas, tapi aku yakin. Rahayu menerima dan membacanya.
Hingga pada akhirnya ada waktu untuk pertemuan kami ketiga. Pertemuan yang aku tunggu-tunggu.
Bertempat tak jauh dari rumah sakit tempatnya mengabdi.
Aku menunggu kedatangannya dengan jantung berdebar-debar. Keringat dingin yang entah kenapa mendadak mengemuka. Dan perasaan tidak tenang.
Sepuluh menit kemudian, Ayay datang dengan senyum manisnya. Sambil menenteng jas putih. Senyum yang selalu kurindukan.
Kami duduk bersisian. Di atas meja sudah ada 2 gelas es teh manis.
“Minumlah dulu, Ay. Kamu pasti haus,”
Rahayu meraih gelas tersebut. Menegaknya beberapa kali. “Terima kasih,” katanya setelahnya.
“Apa aku harus menjawabnya sekarang?” imbuh Rahayu. Jas putihnya disimpan di atas pangkuan.
Aku menatapnya. Kami saling beradu pandang. 5 detik mungkin. Tapi semakin menambah irama tak menentu detak jantungku.
Rahayu mengembuskan napas. Lalu mengangguk.
Aku memastikan sekali lagi. Dengan menatapnya. Kali ini anggukan kepalanya 2 kali.
Yes!
Aku diterima.
Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.
Tapi beberapa menit berlalu kebahagiaan itu harus aku bayar dengan kejujuran. Itu janjiku. Aku laki-laki. Sekali berjanji harus ditepati. Apa pun risikonya nanti.
Aku meraih kembali tangan Rahayu yang telah resmi menjadi pacarku. Menggenggamnya erat. Menciumnya sekilas.
“Kamu boleh marah Ay. Boleh juga menarik kata-katamu yang telah menerimaku. Atau boleh juga memukulku,”
Kening Rahayu berlipat.
“Sebenarnya di usiaku ini. Aku ....” Manik mata Rahayu menatapku. Menunggu kelanjutan kalimat yang akan kuucapkan.
“... Aku telah menikah.”
Aku merasakan genggaman erat tangan Rahayu melemah. Seiring tatapan mata dengan bulu lentik itu sayu. Lalu bersandar.
“Maaf aku berterus terang baru sekarang. Bukan maksudku untuk menipumu. Bukan. Kalau aku mau menipumu mungkin aku tidak akan mengatakan hal ini sampai aku menikahimu,”
“Aku menikah di usia 25 tahun. Dijodohkan oleh Mama. Perjodohan kami sudah lama, mungkin setelah aku lulus SMA.”
Aku ikut menyandarkan punggungku.
“Tujuan Mama menjodohkanku dengan sesama etnis Mama karena, Mama percaya dengan menikah sesama etnis mereka dapat meneruskan garis keturunan leluhur. Mereka juga masih menganut sistem patriarki. Meski mama juga menikah dengan warga pribumi,”
“Mama bersikukuh menikahkan aku dengan wanita itu. Wanita dengan etnis murni, lahir di negaranya. Kami menyebutnya totok.”
“Sebagai anak aku hanya ingin berbakti. Dan aku menerima perjodohan itu. Tapi ... seiring waktu berjalan, aku pikir cinta itu akan datang dengan sendirinya. Aku bisa menerima Meylan,” Aku menggeleng.
“Ternyata tidak. Perangai Meylan sangat buruk. Suka mabuk-mabukan. Bermain mahyong dan berjudi. Meski berulang kali aku melarangnya tapi sepertinya aku tidak dianggap. Meylan tidak berubah.”
Hingga pada suatu malam aku yang tidak terbiasa minum-minuman alkohol. Entah mengapa kepalaku terasa pusing setelah Meylan memaksaku untuk meminum suguhan yang diberikannya.
Paginya setelah sadar. Aku baru menyadari bahwa ternyata aku dijebak. Meylan memberikan minuman itu kepadaku agar aku memenuhi kebutuhan batinnya. Ya, setelah menikah aku belum pernah melakukannya dengan Meylan. Bahkan menyentuhnya.
Bulan berganti bulan rasanya pernikahanku semakin seperti neraka. Meski Meylan mengakui bahwa dirinya hamil. Tapi tetap saja perangainya tidak berubah. Aku jengah. Aku memutuskan untuk pindah rumah. Sesekali aku menjenguknya, untuk melihat calon anakku yang tengah dikandungnya.
Anak pertamaku lahir dengan selamat. Meski prematur. Beberapa bulan aku kembali ke rumah. Untuk melihat dan mendampingi Maleo tumbuh. Untuk memastikan kehidupannya layak dan terpenuhi. Karena Meylan seperti tak acuh. Tetap memprioritaskan kelompoknya di saat Maleo membutuhkan seorang ibu.
Aku menjeda sejenak. Mengaduk es teh itu dengan sendok. Menegaknya. Rasanya sudah tawar. Mungkin karena es batunya telah mencair sempurna.
“Apa kamu masih mau mendengarkan, Ay?” tanyaku.
Rahayu mengangguk pelan.
Kebodohanku terulang. Aku dijebak untuk kedua kali. Kali ini bukan dengan minuman alkohol, tapi entahlah. Kepalaku berat. Tapi masih sadarkan diri. Bahkan hasratku memuncak, meski aku tahu Meylan yang siap aku terkam bukanlah pilihan. Tapi, aku baru menyadari setelah keesokan paginya.
Aku kesal. Geram. Dan berang bukan main. Cukup sudah. Permainan Meylan terhadap kehidupanku.
Aku menjatuhkan talak saat itu juga.
Meylan tersungkur. Menangis. Menyesal dan meminta ampun.
Tidak. Aku tidak mau lagi hidup bersamanya. Aku membawa Maleo pergi dari rumah. Tapi sayangnya, lagi dan lagi Meylan mengaku hamil.
Bagaimanapun talak itu tertunda sampai Meylan melahirkan. Tapi aku tetap memilih tinggal di rumah berbeda.
Dengan tekad kuat. Setelah Meylan melahirkan adik Maleo. Akhirnya kami berpisah.
“Kalian bercerai?” Rahayu menyela.
“Kami bercerai secara agama. Bahkan aku menalak 3 untuknya. Bukan tanpa alasan. Setelah mempunyai 2 anak, bahkan ancaman perpisahan tetap saja tidak mengubah perangai buruknya. Cukup sudah. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan.”
“Jadi status kalian masih suami-istri secara hukum negara?” tanya Rahayu.
Aku mengangguk. “Mama tidak menyetujui kami bercerai. Dikhawatirkan hubungan bisnis papa dengan papanya Meylan juga akan berimbas.”
Hening sejenak. Dua orang pengunjung warung baru datang, duduk berjarak 2 meja dari kami.
...***...
Garuda
“Torrid, are you okay?” suara Wu memecah keheningan.
Ia menghela napas panjang. Ia tahu papi dan mami memang berpisah. Tinggal beda atap. Meski terkadang mereka tampak akur dan baik-baik saja. Papi yang memilih tinggal di rumah ini. Sementara mami menempati rumah satunya.
Tapi ia tidak tahu jika pernikahan mami dan papi begitu tragis. Dan lebih mengejutkan lagi masa lalu mami yang ... yang, tidak mungkin mami melakukannya.
Ia menyugar rambutnya. Bukankah ia juga mengenal alkohol dari mami?
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa sikap mami berubah?”
Torrid menegakkan punggungnya, “Setelah aku menikahi ibumu. Meylan terlihat dan mau menyayangi anak-anaknya. Mulai meninggalkan meja judi dan mengurangi mabuk. Tapi itu juga, tidak bisa menghilangkan kebiasaan yang sudah mendarah daging sepenuhnya. Meylan di akhir hidupnya masih tetap bermain judi dan mabuk-mabukan.” Tandas papi. Lalu beranjak dari kursi.
“Papi lelah. Tapi Papi berjanji akan menceritakan kelanjutannya.” Torrid berlalu dan meninggalkannya.
“Torrid, are you okay?” suara Wu terdengar seiring langkah papi yang mulai menjauh.
Ia melempar makanan Wu. Dan burung berbulu gelap itu sigap mengambilnya. Mengocek kulitnya dengan cepat hanya dengan bantuan lidah dan paruh bengkoknya.
“Rrrrr ... good, I like it, I like it.”
Ia memelotot sejenak. Lalu melempar lagi makanan Wu. Dan berlalu dari sana.
-
-
Catatan :
Etnis Tionghua di negara Indonesia terbagi menjadi 2 unsur kebudayaan yaitu totok dan peranakan. Totok untuk etnis murni, bahkan lahir di negaranya. Bisa juga dipakai oleh etnis yang baru datang 2 generasi. Sementara peranakan untuk etnis yang telah tinggal lama di Indonesia bahkan sejak jaman kolonial. Juga berlaku bagi etnis yang telah menikah dengan warga pribumi.
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏