If Only You

If Only You
23. Dengan Caraku



...23. Dengan Caraku...


 


Mata basah itu menembus kaca oval berbahan akrilik 3 lapis. Di luar sana terlihat gumpalan awan seperti kapas yang bergerombol membentuk bulatan-bulatan layaknya bunga kol. Sebagian lagi berbentuk memanjang. Awan kumulus namanya. Dari jendela yang terbuka itulah wajahku diterpa cahaya bola raksasa yang perlahan bergulir di kaki barat. Aku tidak peduli meski para penumpang lainnya menutup jendela mereka. Bahkan desing suara dalam kabin juga tak mampu membuatku terganggu. Justru aku semakin larut akan suasana hati saat ini.


“Rahayu Notonegoro, maukah kamu menerimaku kembali?” kata-kata itu terngiang. Bahkan berulang entah sudah ke berapa kali.


Aku tak menjawab. Hanya mata dan pipiku kian basah dan sembab.


Apakah aku tega melihat Torrid bersimpuh lama. Untuk yang kesekian kalinya.


Aku menggeleng, “Maaf ... maaf aku belum bisa.” Aku berdiri. “Kamu jangan seperti ini, Ko. Kamu tidak pantas melakukan ini.”


Torrid masih bersimpuh. “Bangunlah. Aku mohon.” Pria itu tetap bergeming. Menunduk.


“Aku mohon. Aku tidak ingin kamu semakin sakit dengan kedatanganku kesini. Aku bisa kena marah sama dokter Tan. Ayolah, kamu jangan seperti ini.” Aku berusaha membantu Torrid bangkit dan kembali duduk di atas kursi rodanya.


“Maaf ... aku harus pulang.” Aku menunduk sejenak. Lalu perlahan meninggalkan pria yang bergeming di kursi rodanya.


Sakit.


Tidak berdarah.


Namun mampu membuat luka yang telah aku sumpal itu kembali menganga. Aku seorang dokter. Tahu bagaimana harus mengobatinya. Tapi aku juga sekaligus seorang wanita yang pernah mencinta dan dicinta. Tetap saja perasaanku terkadang mampu menguasai pengetahuan yang aku pelajari. Membawaku terlena. Lalu berakhir nelangsa.


Aku memejamkan mata. Kristal cair itu terdesak dan luruh melelehi pipi. Begitu menyakitkan. Meski cinta itu sejatinya masih tersimpan rapi untuknya. Ya ... benar aku memang masih mencintainya.


Aneh bukan? Aku sendiri juga tidak mengerti. Atau itu namanya cinta sejati? Walau tersakiti tetap menetap di hati. Pengorbanan. Ikhlas serta melihatnya bahagia. Semua sudah terlalui.


Sekian lama aku berjuang untuk bangkit dari keterpurukkan. Menata hidup dari merangkak, terseok-seok, hingga bisa tegap seperti saat ini.


Tidak mudah.


Kegagalan pernikahan pertama tanpa restu keluarga. Dikucilkan bahkan harus melepas segala atribut darah biru yang ditakdirkan sejak lahir. Aku mengorbankan semuanya. Sebab aku yakin mampu melaluinya.


Namun ternyata.


Pilihan hatiku juga lah yang menghancurkan kehidupanku. Aku harus menghadapi Meylani yang selalu menyudutkanku. Meneror. Bahkan menguasai Ru saat kami dipisahkan secara paksa.


Butuh waktu lama.


Konsekuensi menjadi yang ke-2 mengoyak jiwa dan pikiranku. Bukankah cinta bertandang tanpa alasan. Mencela rasa. Membuncah dalam dada. Lalu membuatku mengambil keputusan terpenting. Mengikat janji sehidup semati. Meski harus berbagi. Hingga aku mampu melewatinya sampai usia Ru 6 tahun. Aku percaya cinta, sejatinya akan membawa kebahagiaan. Aku percaya dan memilih Torrid yang akan membahagiakanku. Meski aku dicemooh. Dipandang sebelah mata. Dan dicap pelakor. Mereka hanya tahu kulitnya, tanpa melihat dalamnya.


Namun di tengah malam yang berselimut jelaga. Torrid datang membawa muram durja. Menghadiahi sebuah talak tanpa diduga. Hingga sekian waktu berlalu alasan mama dan Meylani menjadi sebab utama.


Hidupku luruh dan gelap dalam sekejap.


Perpisahan dengan Ru meninggalkan kubangan lara. Disisi lain, Meylani tampak bahagia atas kehadiran Ru. Mengasihi. Menyayangi layaknya anak kandung. Berusaha membuang dan menutup  kenangan 6 tahun dengan tahun-tahun yang digenggamnya. Menjauhkan aku secara perlahan, lalu menanamkan kebencian yang aku sadari secara naluri. Meylani berhasil.


Ungkapan pertama yang menyakitkan ketika Ru tampil di media sangat mencengangkan, “Terima kasih saya ucapkan pada Mami Meylan,” Ru merangkul bahu Meylan akrab. “You’re the best Mom. Tanpa Mami saya tidak bisa berdiri seperti saat ini. Tanpa Mami saya tidak bisa mencapai cita-cita saya. Mami adalah segalanya bagi saya. Mami tidak dapat tergantikan sampai kapan pun. I love you, Mam.” Ru mencium pipi Meylan kemudian keduanya saling berpelukan. Kejadian itu terliput media saat Ru lulus SMA dan mendapatkan beasiswa prestasi ke Melbourne.


Bukan satu atau dua. Tapi banyak kabar yang diam-diam dikirim Meylan melalui orang suruhannya. Foto-foto mereka saat berlibur. Kedekatan mereka. Semua aku ikuti dari bulan ke bulan hingga tahun ke tahun.


Ru tak pernah mencarinya. Dan aku kesulitan mendekatinya. Hanya kabar yang aku dengar dikirim Meylan lewat foto-foto yang menggambarkan bahwa keluarga mereka bahagia. Sangat bahagia.


Sementara aku ....


Sakit.


Tidak berdarah.


Mereka tampak mesra di depan publik. Ru kecil hingga dewasa selalu berada di samping Meylani. Tumbuh berkembang seperti anak pada umumnya.


Apakah aku bahagia?


Tahun pertama aku depresi berat. Kehilangan cinta sekaligus orang-orang yang aku sayangi membuatku kehilangan pondasi. Dan Prasetyo membuatku berdiri untuk bangkit kembali. Ya, Pras datang membantuku menyembuhkan luka. Meski aku tahu Pras dan Torrid adalah sahabat lama.


Dan Pras datang atas rasa kemanusiaan. Merasa punya andil atas pernikahan kami. Menjadi saksi perjalanan sekitar 8 tahun mereguk kebahagiaan. Sekaligus menjadi saksi aku terpuruk dalam kenangan.


“Bangkitlah Ayu. Tatap masa depanmu dengan kebahagiaan lain. Kamu memang kehilangan separuh hidupmu. Tapi kamu bisa memberikan separuh hidupmu yang lain untuk orang-orang yang berjuang melanjutkan hidup,” Pras selalu datang memberikan suntikan semangat.


“Berikan separuh hidupmu bagi mereka yang diambang kematian. Mereka butuh dirimu,”


Dan untuk pertama kali setelah melewati fase depresi, aku iķut dalam misi operasi tumor anak berumur 6 tahun di kepalanya. Dengan kasus komplikasi berat. Rumah sakit daerah menyerah dan mengirimkan ke rumah sakit pusat.


“Lihatlah, mereka bisa tersenyum kembali. Karena siapa? Karena kamu. Tuhan menitipkan kesempatan hidup lewat tanganmu,”


Setelah melewati hari-hari penuh liku. Aku dihadapkan kembali dengan pilihan. Ibu menyuruh aku menikah lagi. Tentu dengan pilihan ibu. Seorang bangsawan yang tak jauh dari kata kekerabatan.


“Ibu yang pilihkan kali ini. Pernikahanmu dengan pilihan hatimu membawa luka dan sengsara. Itu sudah cukup. Jadikan pengalaman yang berharga. Ibu ingin kamu bahagia, Rahayu.” Kalimat ibu terdengar menyejukkan. Tapi apakah aku harus menikah lagi? Dengan pengalaman dan trauma yang pernah dialami.


“Ingat ajaran yang Ibu selalu tanamkan, bahwa kita itu harus ngadeg (takwa), sabar, syukur, narimo, suro (berani), manteb, temen (bersungguh-sungguh), suci, enget (ingat), srono, ikhtiar, prawiro, dibyo (bijaksana), saurjana (cerdas), bener, guno, kuat, nalar, gemi (hemat), yitno (waspada), lan taberi,” ibu selalu mendengungkan ajaran sestradi dari eyang pertama. 21 sifat yang harus ditanamkan apabila ingin memperoleh keseimbangan hidup dan perilaku. Bahkan ajaran itu sudah ditanamkan sejak aku kecil.


Akhirnya dengan tujuan tidak ingin mengecewakan ibu dan tentunya almarhum romo, aku menerima tawaran untuk menikah lagi. Meski suatu hari nanti mungkin keputusan ini akan aku sesali.


Cukup sekali aku membuat luka pada romo dan ibu. Pada keluargaku. Juga lingkungan tempat tinggalku. Ketika mengambil keputusan untuk menikah dengan Torrid. Aku juga ingin membahagiakan mereka.


Aku menikah dengan Mas Hario Gumilar.


Pernikahanku dengan Mas Hario yang seyogianya membawa kebahagiaan ternyata kebalikan. Hanya bertahan 2 tahun. Ternyata cinta memang tidak dapat dipaksakan. Cinta juga akan membawa mata angin hati mengarah ke mana.


Mas Hario berterus terang bahwa ia sudah punya pilihan hati yang lain. Terpaksa menerima pernikahan ini sebab orang tua. Dan kami sudah mencoba berdamai selama 2 tahun. Belajar saling memberi dan menerima. Belajar untuk menumbuhkan rasa. Tapi sekali lagi, cinta tidak dapat dipaksa. Ia akan pergi ke mana hati bermuara.


Dengan berat tapi penuh kelegaan kami memutuskan untuk mengakhiri pernikahan. Tentu dengan baik-baik. Buah hati hasil perkawinanku dengan Mas Hario ikut bersamaku. Dialah tole, anak keduaku dari pernikahan kedua.


Mas Hario pergi ke Belanda untuk menikahi kekasih hatinya. Anehnya aku justru ikut berbahagia. Meski hatiku teriris dengan nasib yang menimpaku. Menjadi janda untuk kedua kalinya. Lelucon apa lagi? Tantangku pada dunia yang seolah menertawakanku. Ya ... meski perpisahan ini kehendak kami berdua.


Perpisahan yang menurut kami sebagai jalan keluar terbaik. Nyatanya tidak serta merta menjadi kabar baik bagi ibu. Juga saudara-saudaraku. Mereka kembali marah. Kembali menghujat. Dan puncaknya ibu terkena stroke.


Beberapa bulan kemudian ibu meninggal. Penyesalan, kekecewaan dan rasa kesal pada diri sendiri menghinggapi. Sempat limbung dengan takdir kedua yang harus dijalani. Sungguh berat. Bukan ini yang diminta dalam setiap doa.


Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menutup lembaran lama. Menutup kenangan rapat-rapat. Kemudian menegakkan dagu untuk anakku. Anak keduaku.


Ganjar Gumilar.


Nasibnya tidak boleh sama. Harus lebih baik. Meski aku hidup dan memilih sebagai single parent. Dan aku cukup melihat Ru dari kejauhan. Melihatnya bahagia itu sudah cukup. Dengan caraku.


Bunyi ‘ting tong’ disusul suara pilot, “Flight attendant, on station secured for landing.” Peringatan dari pilot bahwa pesawat akan mendarat ke tempat tujuan sebentar lagi, menyadarkanku dari masa lalu.


 


 


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏