
...51. If Only You...
Garuda
Ia menghempaskan tubuhnya ke belakang. Setelah puas berteriak mengeluarkan segala unek-unek yang merasuk memenuhi rongga dada. Bahkan ranjang itu sempat bergoyang akibat hempasan yang terlalu kuat.
Memang dirinya sengaja menghubungi Ganjar sang adik. Karena mengetahui posisinya yang sama-sama di negeri kanguru. Ganjar tiba terlebih dahulu 3 hari yang lalu sebab ada urusan pekerjaan di sana. Entah ini sebuah pertanda apa? Atau memang sebuah rencana dari Tuhan.
“Kamu masih di Sydney?”
“Ya,”
“Bisa datang ke Melbourne sekarang.” Pintanya melalui sambungan telepon. Ia berharap Ganjar tak menolak. Sebab pada siapa lagi ia meminta pertolongan.
Terdengar suara decakan kesal, “Aku ada meeting besok sore,” elak Ganjar.
“Sebelum sore aku pastikan kamu sudah ada di Sydney.”
Penerbangan Sydney ke Melbourne memakan waktu sekitar 1 jam 35 menit. Masih ada waktu pikirnya.
Benaknya waswas menunggu Ganjar yang tak datang-datang. Padahal sudah 3 jam ia menunggu sejak adiknya itu memberitahukan jadwal keberangkatan pukul 20.00 waktu setempat.
Ia semakin gelisah. Tak tahan melihat Mala yang kedinginan. Rasa bersalah perlahan menyelimuti. Bahkan ia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Di balik dinding bangunan.
Namun kala ia beranjak. Ganjar terlihat berjalan ke arahnya. Syukurlah akhirnya ada sedikit kelegaan. Kendati ada rasa takut secara bersamaan. Entah mengapa? Apa keputusannya memanggil sang adik salah.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Ganjar yang belum mengerti maksud menyuruhnya datang ke Yarra river. Sesuai lokasi yang dibagikannya.
“Aku ... aku sama Mala it’s over.”
Ganjar mengerutkan kening.
“Aku tidak tega melihatnya menungguku. Dia,” ia mengalihkan pandangan ke gadis itu yang masih duduk setia di salah satu bangku pedestrian. Ganjar ikut mengalihkan pandangan mengikutinya.
“Dia ....”
Ganjar menukas, “Gila lo, ya!? Membiarkan dia sendirian malam begini. Punya hati gak sih, lo!” geram Ganjar kesal sekaligus kecewa.
“Gue gak bisa. Gue ... lo tahu bokap gue tersandung kasus berat. Gue gak bisa melibatkan Mala.”
Ganjar berdecak lalu menimpali, “Konoyarou! (Kamu brengs*k)” kemudian mendorongnya kasar hingga ia sempoyong ke belakang. Meninggalkannya begitu saja. Dan menghampiri Mala.
Ia sempat melihat interaksi keduanya. Bagaimana Ganjar melepas trench coat-nya untuk Mala. Dan gadis itu tak menolak.
Rasanya ia tak ingin melihat lebih lama lagi. Ia harus segera pergi.
Ia meraup wajahnya. Mengusapnya kasar. Lalu bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Ia butuh membasuh tubuhnya. Membasuh lukanya. Membasuh kesakitan yang tak tampak, namun sangat mengena.
Tubuhnya diguyur air shower dengan tekanan penuh. Ia sengaja menyetel keran hingga terbuka semuanya.
Cucuran air yang menghunjam kepala, punggung serta kulit begitu terasa menusuk. Tapi ia tidak peduli. Kesakitan yang dirasakannya lebih dari ini.
Cukup lama ia berada di sana. Bahkan ia sengaja berlama-lama. Dengan begini mungkin kesakitan lain yang diterimanya akan menghapus kesakitan yang menganga di hatinya.
Setelah membersihkan diri. Berganti pakaian. Ia bersiap untuk check out dari hotel.
“Saatnya pulang,” ucapnya lirih. Memandang suasana kota Melbourne dari jendela yang terbuka gordennya. Mungkin ini terakhir kali ia menginjakkan kaki di kota ini. Kota yang menyimpan kenangan indah bersama gadis itu. Sekaligus kenangan menyakitkan. Sebab ia harus mengakhiri hubungannya dengan Mala.
Ia menghela dan mengembuskan napas berat nan panjang.
Mungkin sang adik juga marah padanya. Bahkan bisa jadi membencinya. Menyuruhnya datang hanya karena ia ingin menghindari Mala. Oh ... betapa buruk dirinya saat ini. Ia memaki diri sendiri. Matanya terpejam. Giginya mengetat, merutuki kekesalan demi kekesalan yang datang bertubi-tubi menghajarnya tanpa ampun.
Dilihat dari sudut mana pun ia tidak akan rela Mala diambil orang. Apalagi Ganjar juga menyukai gadis itu. Bodoh ... bodoh!
Lalu kenapa ia justru memberikan kesempatan Ganjar dekat dengan Mala? Memberikan waktu yang tepat untuk mereka bertemu di saat hati gadis itu juga hatinya rapuh dalam kegamangan.
Sebodoh itukah dirinya?
Wajar saja Ganjar meneriaki idiot. Memakinya kesal. Mungkin memang layak untuknya. Pantas juga adiknya itu marah dan kecewa dengan tindakannya.
Langkahnya beranjak mendekati ranjang. Menghempaskan pantatnya di sana. Beban di dada yang bergumul melahirkan sesak dan kesakitan membuatnya mencari jalan pintas. Menyakiti Mala. Menyakiti diri sendiri. Dan mungkin menyakiti orang lain. Tanpa mau berkompromi dengan orang-orang terdekatnya.
Tapi lagi dan lagi ia memandang bahwa hubungannya dengan Mala begitu rumit. Dan perpisahan adalah jalan yang dirasa baik untuk semuanya.
I’m so sorry ....
Hanya itu kalimat yang mampu terucap. Ia meraup wajahnya. Entah sudah yang ke berapa? Biarlah kenangan dengan Mala akan disimpannya dalam-dalam. Gadis itu akan tetap menempati ruang tersendiri di sudut hatinya. Sampai kapan pun.
“Wait a minute,” teriaknya ketika mendengar bel pintu kamar berbunyi. Mungkin pelayan hotel. Sebab ia tadi memesan broccolatte.
Begitu ia membuka pintu betapa terkejutnya melihat sosok yang berdiri di hadapannya kini.
“Beri aku waktu 10 menit. Aku tahu kamu akan pulang ke Jakarta,” pinta orang itu.
Ia mempersilakan orang tersebut untuk masuk. Tanpa bicara tentunya. Sebab ia bingung harus bagaimana menyambutnya.
Gadis itu berdiri tidak mau duduk. Kaku. Terjeda dalam keterdiaman. Keduanya dalam kecanggungan.
“A-aku,”
“Aku tahu alasan kamu sekarang,” kalimat yang meluncur dari bibir Mala. Mematahkannya.
Ia menatap wajah Mala yang juga tengah menatapnya. Sekian detik manik mata mereka berserobok.
Wajah itu sendu. Mendung dan ... sembab.
“Duduklah, Mal.” Ia menyergah.
Mala menggeleng, “Aku hanya meminta waktumu 10 menit. Setelah itu aku akan pergi.”
Hening.
Ia menukas, “Aku—”
“Kalau itu menjadi keputusan kamu,” Mala memotong ucapannya, “aku terima,” imbuhnya. Jari jemari gadis itu bertaut di bawah sana. Bahkan Mala tak mau melihatnya.
Entah mengapa hatinya berdesir nyeri. Mendengar Mala menerima keputusan itu. Di satu sisi ia tidak mau kehilangan gadis ini. Di sisi lain ia juga tidak mau membawa Mala dalam jeratan masalah keluarganya. Bukankah putusan itu adalah aib yang sudah menjadi rahasia umum?
Bagaimanapun ia anak Torrid, seorang terdakwa yang telah dinyatakan bersalah melakukan tindak kejahatan di meja pengadilan. Kebaikan yang ditanam tidak akan mampu menghapus keburukan yang telah dilakukan. Justru keburukan itu menutupi kebaikan selama ini. Bak pepatah bilang nila setitik rusak susu sebelanga. Atau panas setahun dihapus hujan dalam sehari.
Aib itu akan terus dikenang oleh orang. Dan orang akan lebih mengenal pasal keburukannya daripada kebaikannya. Meski orang itu sudah mendapat ganjaran atas perbuatannya.
“Bagaimana ... seandainya ... aku tidak peduli dengan masa lalu papi kamu. Kesalahan papi kamu. Apa kamu tetap mempertahankan keputusan itu?”
Mala menengadah. Menjeda dengan menatapnya. Sorot matanya suram.
Ia terdiam. Nyenyat sesaat melingkupi kamar tipe marvelous yang dipilihnya.
“Bagaimana ... seandainya ... aku tidak peduli dengan orang-orang tentang kamu?”
Ia masih bergeming. Mencoba menelan ludahnya yang begitu sulit masuk ke dalam kerongkongan.
“Bagaimana ... seandainya ... seandainya aku tetap memilih bersamamu? Apa pun yang terjadi dengan dirimu.”
Mala membasahi bibir atas dan bawahnya. Lalu menggigit bibir atasnya. Sepertinya gadis itu juga menahan kegetiran.
“Seandainya pun kamu ... terlahir kembali bukan dari papi kamu. Aku ... akan tetap memilih kamu yang sekarang.”
“Seandainya kamu ... bisa melihat dan merasakan. Bahwa aku mencintai kamu apa adanya. Mencintai dengan tulus tanpa melihat kamu anak siapa dan punya latar belakang apa.” Mata Mala berkaca. Cairan kristal itu siap tumpah kapan saja.
“Apa kamu tetap dengan pendirian. Bahwa hubungan ini harus berakhir?”
Jeda sejenak. Mereka sama-sama terdiam. Tenggelam dalam langutan masing-masing.
Gadis itu menghela panjang.
“Baiklah, kalau kamu tidak bisa menjawabnya. Aku menyimpulkan bahwa kamu tetap dengan keputusan itu,” dengan sangat berat Mala perlahan memutar tumit dan berlalu pergi.
Ia masih tertegun. Tidak mampu menjawab. Bibirnya terkatup rapat. Meski hatinya ingin berucap. Seandainya ... Mala berada di posisinya. Seandainya ... kondisi mereka tidak seperti ini. Seandainya ... seandainya ia ....
Ah, sialan! Kenapa ia harus berandai-andai. Jika nyatanya memang semua benar adanya. Tapi jika ditelaah, gadis itu mencintainya apa adanya. Apa pun kondisinya. Siap menerima dirinya yang punya banyak kekurangan. Artinya? Mala?
Ia tersadar ketika gadis itu sudah pergi tak terlihat lagi.
“Mal ... Mala.” Ia berusaha mengejar Gemala yang terlanjur masuk ke dalam lift. Bersandar di dinding dengan pandangan menunduk. Pintu itu sejengkal lagi tertutup. Dan tepat ia sampai, kotak besi itu benar-benar tertutup lalu bergerak turun.
Aarrggh.
“Mala,” ujarnya sambil menekan tombol lift berulang kali. Tapi kotak besi yang membawa gadis itu terus turun ke lantai lobby. Ia beralih pada lift satunya menekan paksa dan tergesa. Tentu saja dengan perasaan teraduk-aduk tak karuan. Berharap secepatnya menyusul gadis itu. Sebelum semuanya terlambat.
Please.
Please.
Come on!
Come on!
Hurry up!
Batinnya meronta dan berkecamuk menunggu lift yang masih tertahan 2 lantai di atasnya.
Aarrgghh ....
Ia menyugar dan mengacak-acak rambutnya kesal.
...***...
Gemala
Berjalan gontai setelah keluar dari lift. Melewati lobby dan mengulas senyum ketika concierge membukakan pintu untuknya.
Ia menuju halte bus yang tak jauh dari hotel. Bertepatan dengan bus yang berhenti. Perlahan roda bus bergerak melaju meninggalkan halte.
Sementara Garuda berlarian mengejar bayangan gadis itu yang keluar lobby dan menuju shuttle bus.
“Mala!” seru Garuda. Berlarian dengan napas memburu. Bus sudah menjauh dan lambat laun tak terlihat lagi.
Laki-laki itu membungkuk seraya berkacak pinggang lalu menegakkan tubuhnya. Dan menengadah. Membuang napasnya kasar.
Aarrggh ....
Terlambat. Ru menyapu wajahnya kasar.
Garu kesal dengan kondisi seperti ini. Keadaan benar-benar mempermainkannya. Kenapa seolah-olah memang takdir begitu tega. Mempertemukan cinta dengan orang yang berhubungan dengan masa lalu orang tuanya. Apa salahnya?
Laki-laki itu putus asa. Jika memang ini jalan yang harus dilalui mereka. Ia hanya bisa pasrah. Artinya memang mereka tidak bisa bersatu. Dan harus melepas cinta pertamanya.
Mata Garuda menatap nanar arah perginya bus yang membawa gadis itu. Padahal bus tersebut sudah tak terlihat lagi. Hatinya bergejolak nyeri. Seperti disayat sembilu. Pedih. Luar biasa.
Sepertinya memang ia harus mengikhlaskan gadis itu. Tidak ada jalan lain lagi.
I love you ...
Mata laki-laki itu memanas. Menghasilkan desakan-demi desakan cairan yang cepat memenuhi pelupuk matanya.
Lama Garu terdiam membeku di tempat. Mengharap keajaiban yang sepertinya ogah menghampiri. Alasan apa ia mendapat keberuntungan sesuai harapannya? Ia manusia penuh dosa. Tidak pantas berdoa. Apalagi meminta.
Laki-laki itu menghela dan mengembuskan napas kentara. Kemudian memutar tumit. Berbalik untuk kembali ke hotel.
Namun alangkah terkejutnya ketika ia mendapati seseorang yang ternyata berdiri di belakangnya.
“Ka-kamu?”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏