If Only You

If Only You
5. Feel Guilty



...5. Feel Guilty...


Gemala


Ia pikir tujuannya untuk menemui kelompok Bekilat akan berjalan lancar. Bisa melihat bayi Nyede, anak-anak lainnya yang selalu antusias dengannya. Dan bisa mengobrol lagi dengan mereka. Tapi ternyata ....


“POGI!” Teriak beberapa orang menatapnya dengan tajam menghunjam.


Tubuhnya didorong mereka untuk menjauh.


“POGI!”


Ia terhuyung. Lalu terperenyak. Ulu hatinya begitu nyeri diperlakukan seperti itu. Sebegitu besarkah kesalahannya? Hingga mereka sangat membencinya. Bahkan mengusirnya dengan cara seperti ini.


“POGI!” Bahkan ada yang mengacungkan parang ke arahnya.


Katanya ia membawa sial bagi mereka. Kematian Nyede dan bayinya adalah perkara utamanya.


Seandainya Nyede ditangani dukun mereka. Seandainya Nyede tidak dibawa ke rumah sakit. Seandainya dia tidak datang waktu itu. Pasti Nyede masih hidup sampai sekarang. Begitu juga bayinya. Itu yang selalu diutarakan mereka.


Ia juga tak menyangka 3 hari setelah bayi Nyede dibawa melangun ikut meninggal. Bayi yang harusnya masih harus tetap dipantau kesehatannya dibawa paksa pulang dari rumah sakit. Dan harus merasakan dinginnya udara luar. Ditambah kondisi sudung yang memprihatinkan.


Bulir air matanya mengucur deras.


“Sebaiknyo kamu pogi,” Bekilat menengahi. Membantunya berdiri.


“Bukan maksud sa-saya,” akunya jujur. Tergagap sebab isak dan beban di dada.


“Iyo, sayo paham. Di sini bukan tempatmu.” Pungkas Bekilat.


Beberapa kali ia menyeka air matanya yang masih saja meluncur. Seraya berjalan menyusuri jalan setapak. Dengan berat hati ia harus pergi. Membawa sebongkah kesedihan yang mengganjal nurani.


“Hei, kamu kenapa?” tanya Garu saat mereka berpapasan. Ia terdiam sambil terus berjalan mendahului laki-laki itu.


“Hei ....” Garu meraih lengannya. Tapi dengan tangkas ia lekas menepis.


“Something wrong?!” kejar Garu.


Ia langsung masuk kabin mobil begitu tiba di sana.


...***...


Garuda


Menunda meeting ternyata keputusan yang tepat. Ia kembali ke sudung Bekilat. Menemani gadis itu. Toh, hanya sebentar 2 jam mungkin. Atau malah tak sampai.


“Ton, putar balik. Kita kembali ke sana.”


Namun saat ia di pertengahan jalan setapak. Gadis itu menangis. Sambil berjalan cepat.


Ia berusaha mencari musababnya. Tapi Gemala terdiam. Sepanjang perjalanan pulang pun, gadis itu masih mengatupkan mulutnya. Mengalihkan padangan sama sekali tak mau melihatnya.


Ia mendesahkan napas.


Rumit sekali jalan pikiran perempuan pikirnya. Tinggal bilang saja. Mudah, kan?


Sesampainya di rumah, gadis itu langsung melesat ke dalam kamar. Terdengar bunyi kunci 2 kali diputar. Artinya memang Gemala tidak mau diganggu saat ini.


Saat ia berbalik ternyata Toni di belakangnya.


“Mbak Gemala kenapa, Pak?” tanya Toni.


Ia mengangkat bahunya. Lalu berlalu begitu saja.


 


...***...


Gemala


“Apa gue salah, Kak?” tanyanya di telepon. Setelah menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.


“Ya, gaklah ... lo udah berusaha menolong mereka. Buktinya temenggungnya gak nyalahin kamu, kan?”


Temenggung adalah pemimpin kelompok atau kepala adat dalam kelompoknya.


Ia menggeleng, “Tapi ... mungkin mereka ada benarnya, Kak. Coba kalau saat itu gue gak bawa ke rumah sakit. Cukup ditangani dukun mereka. Mungkin,”


“Gila, lo, ya!” decak Gayatri di ujung telepon.


“Itu namanya sudah takdir. Mau sama rumah sakit atau dukun sekalipun. Kalau kata yang di Atas mati ya mati ....”


Ia menyergah, “Kak,”


“Udah sih, gak usah dipikirin! Don’t feel guilty,”


“Don’t be a crybaby!” Gayatri terkekeh.


Ia mendesis sebal.


“Gue, jadi pengen pulang. Gue kangen mama-papa.” Suasana hatinya masih melow. Setetes cairan bening itu meluncur lagi.


“Baper, lo ... ah. Pulang ya tinggal pulang aja sih.”


“Kak?”


“Hemm ....”


“Apa gue sudahi aja ya, penelitian ini.” Ia mendesahkan napas ke udara.


Keheningan menjeda percakapan kakak-beradik itu.


Targetnya 2,5 bulan. Tapi belum genap 2 bulan, sudah begitu banyak peristiwa yang sulit untuk diterangkan. Rasanya ia tidak mampu untuk melanjutkan. Berat. Dan entah apa lagi yang akan dihadapi kemudian hari.


“Kenapa lagi?”


“Gue ....”


Suara pintu kamarnya diketuk dari luar.


“Mbak Mala, makan siangnya sudah siap.” Teriak Bi Yati—salah satu asisten rumah tangga Garu.


“..., Kak, nanti gue telepon lagi.” Setelah memutuskan sambungan telepon ia melempar begitu saja ponselnya di atas kasur.


Ia membuka pintu kamarnya, “Iya, Bi. Nanti saya makan.” Ujarnya saat melihat Bi Yati masih berdiri di depan pintu.


“Pak Garu sama Pak Toni sudah menunggu di meja makan,” sambung Bi Yati.


Ia melongok ke ruang tengah yang luasnya seperti lapangan futsal. Dua laki-laki itu terlihat memang sudah duduk di meja makan.


“Makasih, Bi.” Balasnya sembari menutup kembali pintu kamarnya. Lalu melangkah mendekati meja makan.


Ia menggeret kursi dan mendudukkan tubuhnya di sana. Tak ada yang memulai berbicara.


Tapi hidungnya mengendus bau masakan yang asing. Aneh. Tapi membuatnya penasaran. Ia mengambil satu potongan ikan yang mirip gulai.


Sensasi asam, manis, asin dan pedas langsung mengentak kerongkongannya. Masakan apa ini?


“Mbak Mala suka tempoyak rupanya?” Toni menyergah.


“Tempoyak?”


“Iya, tempoyak. Masakan khas sini.”


Ia mengerutkan keningnya. Baru kali ini ia mendengar kata tempoyak.


“Itu yang Mbak Mala ambil namanya gulai tempoyak ikan patin,” terang Toni.


“Tempoyak itu dari durian yang difermentasi.” Garu menimpali.


Tiba-tiba ia merasakan perutnya mual. Lalu membungkam mulutnya dan secepat kilat lari ke kamar mandi.


Ia memuntahkan semua isi perutnya. Bahkan gulai tempoyak yang baru saja ia makan beberapa suap.


“Kamu kenapa?” tanya Garu yang menyusulnya ke kamar mandi. Pun, Toni berdiri di belakang Garu. Keduanya tampak panik.


Ia menggeleng.


“Kamu alergi? Gak bisa makan durian?” tebak Garu—seperti punya nujum sebab terkaannya tepat.


Ia mengangguk lemah. Lalu berjalan melewati dua laki-laki itu perlahan. Duduk di sofa ruangan tengah sambil memegangi perutnya.


Bi Yati datang membawakan segelas teh hangat.


“Makasih, Bi.” Ia menerima gelas tersebut dan menegaknya beberapa teguk.


“Aku hipersensitif sama buah durian,” sahutnya lemah. Setelah menyimpan kembali gelas ke atas meja.


“Kalau tahu begitu, besok-besok tidak ada lagi sajian durian.” Timpal Garu. Lalu menoleh ke arah Bi Yati, “Bi,”


Yati mengangguk, “Baik, Pak.”


Ia menggeleng, “Okay, gak apa-apa. Paling hanya mual dan muntah saja.”


“Ton, carikan antihistamin.”


Toni beranjak hendak melangkah tapi, “Tidak perlu. Lagian ini juga tidak parah. Baru sedikit yang masuk,” alibinya. Reaksi alergi terhadap buah yang dijuluki king of fruit itu memang mual dan muntah. Pernah parah sampai ruam-ruam. Kata dokter kandungan sulfur tinggi pada durian menjadi penyebabnya.


Setelah beristirahat beberapa saat ia merasa lebih baik. Waktu juga sudah beranjak sore. Ia menjeremba ponselnya di atas nakas.


Tampak di call log, Ethan menghubungi 2 kali. Mama 3 kali.


Lalu chat berderet.


Gayatri (2)


Ethan (3)


Mama (2)


Garuda 5ila (1)


Ia lebih tertarik membuka pesan dari Garu.


Garuda 5ila : Jam 16.00 kita berangkat.


Hah, pesan apaan ini?


Ia melihat jam pada layar ponselnya. Masih ada waktu 15 menit pikirnya.


Namun 15 menit terasa tidak cukup. Saat laki-laki itu mengedor pintu kamarnya. Sementara ia baru saja keluar dari kamar mandi. Masih mengenakan handuk kimono.


Ia mengerutkan dahi. Mana bisa begitu. “Lima menit,” tawarnya—tak mau diatur dan alasan apa ia harus menuruti laki-laki itu.


“Time is money. Tiga menit. No extra time.” Laki-laki itu seperti biasa. Arogan dan bossy.


“Huh!” Ia menggerutu sambil tangannya terus sibuk mengenakan pakaian. Langkahnya mondar-mandir. Otaknya di setting cepat untuk berpikir. Lagian, dia pikir seorang Gemala punya kecepatan relativistik apa? Kalau sudah begini ia hanya bisa berandai-andai soal dilatasi waktu.


Ya, meski hanya beberapa detik sih dengan kecepatan yang ia punya. Soalnya tidak akan mungkin ia bergerak melesat secepat kilatan cahaya. Atau secepat pesawat jet. Wuusss ....


“Satu menit!”


Atau dengan kekuatan bulan, waktu aku pause beberapa menit. It’s impossible. Memangnya aku Sailor Moon? Tapi dari sekian tokoh anime itu ia lebih suka Sailor Neptunus. Meski bukan tokoh utama dan datangnya selalu belakangan, tapi kesannya girly, rambut hijau toska panjang, cantik banget kesannya. Lho ... kok jadi bahas tokoh anime kesukaannya, sih?! Ia cekikikan dalam hati. Apalagi membayangkan Garu sang CEO CPO mukanya cengo waktu ia pause. Ups!


“10, 9, 8 ....”


Oh sial! Waktu ternyata belum bisa didilatasi maupun di pause. Ia menepuk kepalanya sendiri.


“... 5, 4, 3 ....”


“OKE ... OKE!” sergahnya tak mau kalah.


“Sat—”


Ia membuka pintu kamarnya dengan memasang wajah imut dan senyum semanis mungkin. Kamuflase dari batinnya yang bergejolak oleh hormon cartisol yang meningkat. Mubazir bukan, stres gara-gara laki-laki itu.


Melewati Selat Sunda, air laut tampak berkilauan. Pancaran oranye-keemasan dari bola raksasa dunia yang mulai tenggelam di ufuk barat menghias cakrawala. Laksana memantul dari cermin.


Tiba di Jakarta dari ketinggian 800 kaki ia bisa melihat hamparan gedung-gedung pencakar langit. Membentuk siluet-siluet indah seperti patah dan doyong. Sangat cantik.


Transportasi heli memang paling cocok untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Lingkungan yang memungkinkan untuk heli mendarat di mana saja. Tidak butuh space seperti jet pribadi. Praktis. Bisa bermanuver di mana pun.


Ya, seperti saat ini. Mereka hinggap di atap gedung. Di sebuah helipad bertuliskan  simbol ‘TG’.


“Kamu akan diantar sopir ke hotel.” Ucap Ru saat mereka memasuki lift.


“Berapa hari kita di sini?” tanyanya. Ia tidak tahu misi laki-laki ini apa mengajaknya. Bahkan tujuan ke Jakarta saja tidak ada dalam benaknya. Mau ngapain coba? Mending ia mengumpulkan data riset. Biar secepatnya selesai. Secepatnya pulang. Dan secepatnya lulus. Lalu secepatnya ketemu ....


“Kamu butuh refreshing.”


Ia langsung menatap laki-laki itu. Tak lupa menipiskan bibir, dan ia tak bisa lagi menahan gelak tawa, “Bwhahaha ...,” sambil menutup mulutnya.


Garu melihatnya aneh. Sementara Toni menahan senyum.


“Tidak ada yang lucu!” Garu menyanggah.


Ia masih menyisakan derai tawa ringan.


“Thank you so much, Bapak Garu yang baik hati dan ....” Ia pura-pura berpikir, menengadah dan mengetuk dagu dengan jari.


Laki-laki itu menaikkan alis sebelahnya.


“..., dermawan.” Batinnya terkekeh.


Raut wajah Garu datar. Tidak ada ekspresi sama sekali yang bisa ditebak.


Di lantai 30, Ru keluar sendirian. Sementara ia dan Toni terus melanjutkan ke lantai 1.


“Pak Toni mau mengantar saya sampai hotel?” tanyanya.


“Panggil saja, Toni, Mbak.”


“Saya hanya mengantar sampai lobi,” imbuh Toni.


Ia mengangguk, “Baiklah,”


Tiba di lobi memang benar. Sopir dengan pakaian hitam-hitam menyambutnya. Ada nama sopir di badge atas saku kanan, terbaca ‘Susanto’. Lalu badge ‘TG’ di atas saku sebelah kiri. Semua dibordir dengan benang sutera berwarna putih.


Di leher bapak itu juga menggantung name tag. Terinformasikan mengenai nama lengkap disertai foto, jabatan, divisi dan NIK (Nomor Induk Karyawan).


Ia tersenyum, “Saya Gemala.” Memperkenalkan diri pada sang sopir.


Pak Susanto membalas senyumnya ramah.


Setelah Toni menginstruksikan pada Susanto. Ia duduk manis di bangku kedua. Mobil berjenis Alphard putih itu membelah jalanan protokol kawasan Thamrin yang cukup padat. Bertepatan dengan jam kepulangan kantor.


“Pak, sepertinya jalan kaki lebih dekat, ya.” Ia sudah tidak betah berlama-lama duduk. Padahal jarak gedung dari awalnya tadi ia berangkat menuju hotel Pullman dekat. Terbaca pada peta digital masih 1 garis lurus dalam kawasan Thamrin.


“Capek, Mbak. Memang jaraknya cuma 700 meter.” Sahut Susanto.


“Begitulah Jakarta.” Tandasnya. Sebagai ungkapan satire yang menggambarkan ibu kota negaranya. Jauh sekali dengan suasana traffic di Melbourne. Atau juga di Australia.


Pak San terkekeh ringan.


Tapi, itulah yang membuatnya rindu. Meski ia bukan warga Jakarta, tapi beberapa kali ke Jakarta. Rasanya ada yang ngangenin. Terutama wisata kulinernya. Yang susah didapatkan di Melbourne.


Ponselnya bergetar dalam tasnya. Ia merogoh. Nama Ethan muncul di sana.


“Hei, Babe.”


“Hai ....”


“How are you?”


“Good,”


“My chat messages haven't been answered?”


“Em,” beberapa chat dari Ethan memang belum dibalasnya. “Sorry, rencana setelah tiba di hotel.”


“Hotel?”


Hah! Kenapa ia malah bilang hotel.


“Iya ... eh, maksudnya aku lagi di Jakarta. Ada keperluan.”


“Oh ... okay, take good care of your self.”


“Love you,”


“Love you too.”


Baru beberapa detik ponsel itu dalam kondisi gelap, masih dalam genggaman. Layarnya kembali menyala. dibarengi dengan getaran. Tampilan ‘Garuda 5ila’ tertera. Ia masih membiarkan.


Tapi beberapa jeda kemudian layar berpendar kembali menampilkan 'Garuda 5ila' untuk kedua kali.


“Lama amat sih!” sahut ketus laki-laki itu, begitu ia menggeser terima panggilan.


Ia menghela napasnya pelan.


“Sudah sampai mana? Kenapa belum sampai hotel?”


Ia tetap menelinga, namun malas menjawab.


“Punya kuping gak sih!”


“Jalannya kayak siput, tahu gak! Semua orang mau pulang. Kayak lo gak pernah tinggal di Jakarta aja.” Ia membalas dengan wajah cemberut. Walau laki-laki itu tidak akan bisa melihatnya.


Jeda sesaat.


“Okay, ini udah sampai depan hotel. Bye!” ia memutuskan sambungan telepon. Rasa kesalnya kembali mencuat. Rasanya malam ini ia ingin menikmati hotel dengan segala fasilitasnya. Kasur empuk, berendam di bathup, order makanan kesukaannya, chatting dengan teman-temannya, melupakan sejenak masalah yang menerpa. Sebelum back to the jungle. Ia mengulas senyum merayakan rencana yang telah disusunnya.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏