If Only You

If Only You
74. When You Cry



...74. When You Cry...


Rahayu


Bolak-balik ia berdiri di depan pintu ICU. Beberapa saat lalu ia menghubungi Tan,


“Dok, tolong ... Koko ... dia, dia ....” Tak lagi bisa berkata-kata. Hanya cucuran air mata yang tak hentinya membobol bak bendungan yang jebol. Terus menghujani pipi dalam kecemasan yang hakiki.


“Tenang saya segera ke sana.”


Kemudian menghubungi Maleo.


“Maleo ... ini Tante. Tante, papi kamu ... sekarang di ICU ... aku,”


“Aku sekarang ke sana.”


Ditatapnya lekat-lekat nama ‘GARUDA’ di daftar kontak ponselnya. Menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak yang terus mengirisi hati dan benak.


Apa ia sanggup memberitahu kondisi Torrid pada anaknya?


Sementara ia tahu Garuda pasti terguncang dengan berita ini. Ia memejamkan mata sesaat. Mengusap luapan embun dengan kasar dari mata yang terus lolos menerobos.


Sebah di dada melesak tak terelak. Ia redamkan dengan mengatur pernapasannya. Hingga beberapa kali sampai merasa lebih baik. Paling tidak ia tak boleh terpuruk saat menghubungi Ru.


Bismillah ....


...***...


Garuda


“Hon, sore nanti aku langsung jenguk papi.” Tukasnya ketika mobil mereka tiba di depan lobi kantor istrinya.


Hari pertama kerja setelah menghabiskan akhir pekan bersama. Ia mengantarkan Mala terlebih dahulu ke kantornya.


Mala menerbitkan senyum. Meraih tangannya dan menciumnya. “Hati-hati. Salam buat papi.”


Ia memberikan kecupan di kening Mala. Mengusap kepalanya.


“Ish, udah nutupi belum?” tanya Mala sebelum keluar. Membenarkan letak syal yang meliliti leher


Refleks ia tergelak. Ada-ada saja kelakuan istrinya.


“San, langsung ke kantor,” titahnya pada sang sopir. Setelah Mala keluar dan hilang di balik pintu kaca.


Tenang.


Itu yang dirasakannya. Melihat foto papi yang tengah bersama ibu. Dan menurut penuturan ibunya, papi terlihat bahagia. Bahkan ibu juga mengiriminya foto bersama papi duduk di taman.


Rasanya luapan kebahagiaan itu tak dapat dijabarkan. Momen yang selalu ditunggunya. Terlebih ditunggu oleh papi. Ia tahu papi sangat mencintai ibunya. Kendati ... cinta mereka tidak bisa bersatu hingga menua.


Beda dengan dirinya dan Mala.


Sudut bibirnya tertarik ke atas. Mengembuskan napas seiring San menghentikan mobil di depan lobi.


“Pagi, Pak.” Toni menyambutnya.


“Sepertinya pagi ini cerah,” imbuh Toni mendongak melihat langit. Padahal kalimat sindiran yang dikhususkan untuk atasannya tersebut. Yang mana terlihat berseri dan terpancar aura bahagia di wajah generasi ke-3 pemilik Torrid Group.


“Kamu ngledek aku,” sergahnya. Tanpa melihat sekretarisnya itu.


Toni terkekeh ringan. Menyejajarkan langkah dengan atasannya. “Efek honeymoon 2 hari, ya, Pak? Apalagi kalau—” kalimat Toni terjeda ketika mereka memasuki lift.


“Saya ikutan happy kalau Bapak happy,” imbuh Toni saat keduanya ada di dalam kotak besi yang terus bergerak naik.


Ia berdeham. Terus mengayunkan langkah memasuki ruangannya setelah pintu lift terbuka.


“Bagaimana strategi tim lawyer kita?” ia memerintahkan Toni untuk menyelidiki surat perjanjian yang mengaitkan dirinya sebagai penjamin hutang tanpa sepengetahuannya.


“Masih dipelajari Pak Mulya dengan timnya. Tapi info sementara yang saya peroleh. Sebagai pihak ke-3 tidak serta merta bertanggungjawab melunasi perkara pokok hutang piutang antara pihak 1 dan pihak 2. Atau dengan kata lain hanya dipertanggungkan untuk membayar sebagian dari perutangan pokok pihak 1,” urai Toni.


Dahinya mengerut. Sialan. Bahkan sebagian pun ia tidak akan sudi! Ia menghempaskan tubuhnya di kursi. Termangu sejenak. 


“Artinya memang penanggung sebagai pihak ke-3 tidak mengikatkan diri dalam perjanjian itu. Hanya sebagai tambahan atau bersifat accesoir. Dan biasanya memang penjamin hutang piutang ini dilakukan karena ada hubungan keluarga, bisnis, atau pertemanan dekat.”


Layar ponselnya berpendar. Nama ibunya tertera di layar.


“Wa’alaikumsalam,” sahutnya ketika suara ibunya menyapa dari seberang.


“Ru,”


Hening tidak ada kalimat lanjutan.


“Ya, Bu.”


“Bisakah ... kamu kesini, sekarang?”


DEG.


Tatapan matanya jatuh tepat pada lukisan papi yang menggantung di dinding. Lukisan dirinya bersama papi. Hanya berdua.


“R-Ru ....”


Entah mengapa suara ibu terasa berbeda di tangkapan indra pendengarannya.


Tanpa menunggu lama. Ia menghubungi Mala.


“Sekarang, Mal. Aku tunggu.”


“Tolong kamu siapkan semuanya!” titahnya kemudian pada Toni.


Tergesa kaki keduanya melangkah menuju ruang ICU. Tatkala tiba di rumah sakit negara tetangga. Di sana tampak ibunya, Maleo, Tyo dan Tan.


“Apa yang terjadi?” tanyanya dengan napas memburu. Degupan jantungnya kian tak menentu. Menangkap wajah-wajah yang murung dan mendung. Tak seperti beberapa hari lalu.


Rahayu merengkuhnya. Tan menepuk pundaknya. Sedangkan Maleo mengusap bulir-bulir yang keluar dari pelupuk matanya.


Tyo menunduk dalam.


Mala ikut mengusap punggungnya.


“Papi-mu,” lirih Rahayu tersedat. Sedu sedan tak lagi bisa ditahan.


“Kenapa, Bu?” ia mengguncang bahu Rahayu. Matanya berkaca-kaca. Menatap satu persatu orang-orang di sana.


Suara pintu ruangan ICU terbuka. Tim dokter keluar dan mempersilakan keluarga untuk melihat kondisi terakhir.


Setelah satu jam setengah diupayakan tindakan pertolongan. Ternyata takdir berkata lain. Torrid dinyatakan meninggal 10 menit yang lalu.


Tak ada yang bersuara. Semua dalam kediaman serta kesenduan. Menguatkan diri sendiri dan mengikhlaskan kepergian orang yang begitu mereka sayangi. Sesekali terdengar isak lirih. Begitu menyayat dan pedih.


“Masih hangat, ini masih hangat.” Ia mengusap lengan dan wajah papi. “Bu, papi masih bisa ditolong. Ini ... ini masih,”


Rahayu menggeleng. Mala yang berada di sampingnya ikut menenangkannya. Mengusap punggungnya, “Mas,”


Tubuhnya merosot seketika. Menenggelamkan wajahnya di sisi pembaringan tubuh papi. Tepat di tepian brankar.


Cukup lama ia mencoba menenangkan hatinya. Menyelami takdir yang menimpanya. Kehilangan papi, baginya kehilangan separuh jiwanya. Bagaimanapun sosok papi di matanya tetaplah sempurna. Ayah yang menyayangi anak-anaknya. Meski di pandangan orang lain banyak cela.


Ia menumpahkan kesedihannya di sana.


Hingga terdengar suara Atat, Sandra dan Vivi yang merangsek masuk langsung menghambur brankar dan menangis.


Ia mengusap wajah, bangkit berdiri. Merengkuh Mala dengan erat.


“Ikhlaskan, ini yang terbaik dari rencana Tuhan,” bisik istrinya. “Papi sudah tenang di sana.”


 


...***...


Gemala


Setelah semua keluarga berkoordinasi, hari itu juga Torrid di bawa ke Jakarta. Kabar mengenai meninggalnya papi juga hanya kalangan tertentu saja yang mengetahuinya. Kendati demikian, canggihnya teknologi tak urung kabar itu cepat menyebar. Menjadi suguhan lezat bagi pewarta yang butuh asupan untuk mengisi kolom berita.


“Assalamu’alaikum ... Ma, papi ... papi meninggal 1 jam yang lalu.” Ia mengabarkan pada mama dan papa.


Kabar meninggalnya papi juga ia kabarkan ke keluarga terdekat.


“Kak Nisha ....”


“Sabar ... kamu terus dampingi Garuda. Kasih support dan perhatikan kesehatannya. Kesedihan bisa saja membuat orang lupa akan kesehatannya sendiri.” Pesan Ganisha. “Mungkin sore kami baru sampai Jakarta.”


“Kak, Papi Garuda ...,”


“Sabar. Ikhlaskan ... aku turut berduka cita, Mal. Aku sama mama dan papa besok pagi ke Jakarta.”


Tiba di kawasan tempat tinggal papi berbagai karangan bunga dari kolega, rekan dan sahabat berjejer menghiasi sepanjang jalan memasuki kompleks perumahan elite tersebut. Bahkan sejak masuk area kompleks para wartawan dilarang masuk untuk meliput.


Suasa sendu mengharu-biru ketika rombongan keluarga beserta mobil ambulans memasuki halaman kediaman papi yang sudah diubah sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan mereka. Tatapan orang-orang yang menyambut dengan tangisan. Raut-raut wajah sendu kehilangan. Begitu menggetarkan kalbu. Dan membuat bulu kuduknya meremang.


Terlihat anak-anak papi lebih tegar dibandingkan saat masih di rumah sakit. Begitu juga Garuda, yang berusaha kuat dan tabah. Menyambut tamu yang memberikan penghormatan terakhir dan mengirimkan doa untuk papi.


Khusyuk.


Itulah suasana yang terasa.


Lantunan ayat-ayat suci. Doa-doa yang dipanjatkan dari para pelayat serta anak-anak yayasan yang entah didatangkan oleh siapa. Menguar memenuhi gendang telinga. Semua seolah berlomba-lomba mengirim untaian doa. Untuk papi yang telah pergi selamanya.


Rahayu menghampirinya, “Mala. Kasih tahu Ru untuk makan dulu. Sebelum kita ke pemakaman. Ini sudah mendekati Ashar.”


Ia mengangguk.


Mendekati Garu yang tengah berbincang dengan beberapa pelayat. “Mas, kita makan dulu.” Ia berucap lirih.


Ru menoleh padanya sekilas. Lalu meminta izin pada yang lainnya. Ia menyiapkan piring berserta isinya kala Garu duduk di meja makan. Menyodorkan pada laki-laki itu.


“Kebanyakan,” sela Garu.


“Harus diisi. Makan siang sudah terlewat.”


“Tapi, Mal. Gak sebanyak itu juga. Perutku mual.”


“Kalau gitu sepiring berdua,” usulnya. Sebab ia sendiri juga lengah akan asupan makan siang. Kesibukan menyambut para tamu. Mendampingi laki-laki itu. Seakan membuatnya tak punya waktu hanya sekedar mengisi lambungnya.


“Kamu juga harus makan. Pasti melewatkan makan siang juga, ‘kan?!”


Sudut bibirnya terangkat ke atas. Tebakan Ru memang selalu benar.


Sore harinya seusai salat asar, jenazah papi dibawa ke pemakaman. Dimasukkan ke dalam liang lahad tepat di samping pusara Hartawan—kakek Garuda.


Seluruh prosesi begitu khidmat. Semua anak-anak Torrid mengambil bagian dalam prosesi tersebut. Hingga perlahan tanah merah itu menutup liang kubur sampai rata. Lalu ditaburi kelopak mawar, melati dan kantil di atasnya. Menyelimuti tanah yang masih basah tersebut hingga sempurna.


Ia menyimpan rangkaian bunga lily putih di samping nisan. Sesekali butir-butir air matanya luruh ke bumi.  Kembali berdiri di samping Garuda yang duduk berjongkok seraya menyiram selimut bunga tabur dengan air mawar.


Sementara Rahayu di sebelahnya menunduk dalam.


Tidak ada yang bersuara selain pemuka agama yang menutup dengan doa. Bertepatan dengan matahari yang tenggelam di peraduan.


Satu persatu para pelayat meninggalkan pemakaman. Menyisakan keluarga dan sahabat dekat.


Ganisha dan Mas Abhi yang baru saja tiba dari Surabaya langsung menuju pemakaman. Menghampirinya, “Ikhlaskan,” ucap Ganisha. Ia memeluk kakaknya itu. “Kami ikut berdukacita, Mal.”


Sementara Mas Abhi mendekati Ru yang baru saja bangkit berdiri. Menepuk bahu laki-laki itu. “Allah punya rencana kepada semua umatnya, Brother. Kami sekeluarga ikut berduka cita. Semoga Pak Torrid mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah. Husnul khotimah.”


Keduanya saling mendekap. Menguatkan. Mas Abhi kembali menepuk punggung Ru.


“Makasih, Mas.” Balas Garuda.


Ganisha dan Abhi bergantian menyalami keluarga yang lain.


“Pulanglah duluan,” ucap Ru sembari membenarkan letak pashmina hitamnya yang melorot. “Nanti aku menyusul.”


“Tap—”


“Ini sudah malam. Mungkin juga akan hujan,” Ru menengadahkan kepala. Cahaya kilat  berpendar menyambar. “Jangan khawatir ... aku pasti pulang.”


Sekilas ia menatap orang-orang yang tersisa. Jebe, Atat, Maleo, Toni, Max, Tan, Tyo dan Om Prasetyo. Kekhawatiran sedikit berkurang. Ia mengangguk.


Pulang bersama Ganisha, Abhi dan Rahayu. Tiba di rumah suasana masih ramai. Lantunan ayat-ayat suci masih terus dikumandangkan. Bahkan sebagian tamu terus berdatangan. Mengucapkan bela sungkawa dan ikut memanjatkan doa.


Ponselnya sedari tadi bergetar dari dalam tasnya. Ia merogoh dan menyimpan begitu saja di atas meja. Membersihkan diri di kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


Kala keluar dari sana. Ganisha ternyata sudah menunggunya duduk di sofa.


“Kita balik dulu ke hotel, Mal. Besok pagi sebelum pulang ke Surabaya kita ke sini lagi. Mudah-mudahan bisa ketemuan sama mama, papa dan Gayatri,” ujar Ganisha.


“Kamu gak pa-pa, kan? Aku tinggal,” imbuh kakaknya itu.


Ia mengangguk.


“Jangan lupa ... selalu dampingi Ru di saat-saat seperti ini. Dia butuh kamu untuk menguatkan langkahnya maju ke depan,”


“Makasih, Kak.” Ia memeluk Ganisha. Mengantarkannya hingga ambang pintu. Lalu kembali duduk di sofa. Meraih ponsel yang menyisakan getaran sepersekian detik lalu.


Ada panggilan tak terjawab dari Dila, Desti dan Davin. Yang paling banyak dari Davin. Lalu pesan chat beruntun dari teman-teman kantornya. Yang intinya menanyakan keadaannya. Tidak semua pesan tersebut dibukanya.


Ia menghela napas dalam. Memang tadi pagi ia hanya minta izin pada manajer HRD saja. Teman-teman satu ruangannya bahkan tidak ada yang tahu. Apalagi Davin. Pasti teman sekaligus rekan kerjanya itu mencarinya.


Suara pintu terbuka. Membuatnya refleks menoleh ke sana.


“Baru pulang?” tanyanya sembari berdiri menyambut kedatangan Garuda.


Pakaiannya setengah basah. Tadi saat ia tiba di kediaman papi. Hujan deras mengguyur bumi.


“Kehujanan?” tanyanya lagi.


Laki-laki itu mengangguk dan langsung masuk kamar mandi tanpa bersuara.


Ia menyiapkan pakaian ganti Ru. Menoleh sebentar ke pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Lalu beralih pada jendala kaca yang belum tertutup kordennya.


Curahan air hujan berdentam-dentam menghajar kaca jendela. Ia lekas melepas pengait gorden dan menutupnya.


Membantu laki-laki itu memakaikan kemeja putihnya. Mengusap dada dan mendongak menatapnya.


“Istirahatlah, kalau kamu capek.” Garuda mengusap kepalanya.


Ia menggeleng.


“Aku keluar dulu,” ucap Ru.


“Em, Honey ...,” panggilnya.


Garu yang hendak berlalu pergi langkahnya terhenti.


Ia langsung menghambur ke pelukan laki-laki itu. Ru membalasnya tak kalah erat. “Aku di sini ... gak ke mana-mana. Selalu ada di samping kamu,” gumamnya.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏