
...75. Profesionalitas Dan Integritas...
Kala terbangun pagi hari. Gemala tak mendapati Garuda di sisi. Apa tadi malam laki-laki itu tidur bersamanya, ia pun tak mengetahui. Sebab tadi malam ia langsung terlelap begitu acara pengiriman doa yang rencananya akan diadakan berturut-turut selama 7 hari ke depan usai.
Justru suara berbagai jenis burung di teras belakang bersipongang membangunkan lelapnya. Bersinergi dengan alam yang mulai berganti hari menjadi terang. Artinya ia telah melewati hari penuh sungkawa kemarin.
Kendati begitu semua masih terasa mimpi.
Ia menyibak selimutnya. Membuka gorden dan menatap pemandangan di luar dari kaca jendela. Matahari belum sepenuhnya keluar dari singgasananya.
Namun di teras belakang sudah ramai orang-orang beraktivitas. Seperti tidak ada kedukaan yang sebelumnya. Atau memang ini sudah kebiasaan. Sebelum dan setelah papi meninggal tidak ada yang berbeda.
Langkah kakinya terus mengarahkannya ke teras belakang. Setelah membersihkan diri, menunaikan kewajiban ia putuskan untuk mencari Garuda.
“Sudah bangun, Mbak.” Bi Yati menyapanya. “Pak Ru bersama Pak Pras sedang di kandang Merak,” imbuhnya.
Ia mengulas senyum, “Makasih, Bi.” Namun urung menyusul ke sana. Ia lebih tertarik melihat bermacam burung dalam sangkar yang sebagian di gantung. Kata perawat yang bertugas mengurus burung-burung tersebut, burung harus ‘dijemur’ mendapatkan sinar matahari pagi. Setelah itu baru dimandikan. Dan dijemur kembali.
“Gimana tidurmu semalam, Mala?” tanya Rahayu menghampirinya.
“Baik, Bu,” jawabnya. “Ibu bisa tidur? Maaf tadi malam,” ia menjeda. Melihat ibu mertuanya itu menutup mulutnya karena menguap. Tadi malam ia membiarkan Rahayu mengobrol dengan Pras, Tyo dan yang lainnya. Entah sampai jam berapa. Sebab ia pamit terlebih dahulu.
Mereka memutuskan duduk di teras belakang. Yati datang membawakan minuman teh hangat.
“Setelah kamu masuk kamar, tidak lama aku pun pamit tidur,” Rahayu menguap kembali. “Tapi, setelah aku masuk kamar ... entah kenapa mataku susah terpejam. Mungkin sampai pagi. Entahlah ... yang aku rasakan memang baru tidur sebentar, alarm ponsel sudah berbunyi.”
“Ibu harus jaga kesehatan. Ru pasti sedih, kalau Ibu juga sakit setelah ini.”
Rahayu tersenyum, “Jangan khawatir. Ini hanya beberapa hari. Setelah itu semua akan berjalan semestinya.” Ia menghela, “wajar ... kehilangan seseorang pasti berdampak. Mengubah sesuatu yang tadinya ada menjadi tiada itu sulit. Tidak hanya aku, Mala. Tapi mungkin lebih terasa untuk anak-anaknya.” Menyandarkan punggungnya ke belakang. “Maafkan Ibu ... membawamu sampai dititik ini.”
Ia menggeleng. “Semua sudah takdir, Bu. Kita tidak boleh menyesali.”
Rahayu meraih tangannya. Mengulas senyum tulus. “Makasih, Mala. Terima kasih ....”
Jelang siang mama, papa dan Gayatri datang. Disambut Rahayu dan Om Pras serta Garuda. Ia menemani mereka mengobrol sebentar. Kemudian membantu Yati menyiapkan makan siang.
“Mal,”
Ia menoleh, “Eh, Kak. Duduk saja. Pasti capek, ‘kan? Dari sana pagi buta. Pasti masih jet lag,” sahutnya tak tega melihat Gayatri membantunya mengatur piring.
“Ck, emangnya gue udah tua banget?!” tak terima. “Kalau mama sama papa, wajar. Kalau gue ... tuh lihat!” Gayatri memperlihatkan otot bisepsnya. Yang jelas-jelas tidak ada.
Ia mencebik.
“Eh, jangan pamer otot donk di rumah orang!” tandas Jebe yang baru datang. Ikut duduk di salah satu kursi meja makan.
“Isshh, masa gue dibilang jet lag ... udah biasa kaliii. Wara-wiri di dunia penerbangan,” Gayatri sesumbar jemawa.
“Kalau gue percaya,” sambar Jebe.
“Gue gak nanya, lo!”
“FYI (For Your Information),” sela Jebe sambil terkekeh mencibir.
Jebe dan Gayatri asyik mengobrol meski bukan membahas soal serius. Bahkan saling mencela dan mencibir. Usia terkadang memang tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai seseorang. Buktinya 2 orang yang asyik ini tengah beradu argumen. Layaknya anak kecil saling berebut mainan.
“Eh, ada apa ini Bos Jebe?!” Toni datang ikut bergabung. Menggeret kursi dan duduk di sana sembari meletakkan buket bunga anyelir di atas meja.
“Itu dari siapa?” tanya Gayatri menunjuk bunga tersebut.
Ia yang baru datang dari dapur juga ikut penasaran. Kenapa Toni yang membawanya langsung? Biasanya security di depan yang menerima dan membawanya ke dalam. Sejenak ia berdiri di samping kakaknya. Sebelum meraih note yang tergantung.
“Suri,” sahut Toni.
Urung ia meraih note dengan deretan untaian kata yang tercantum di sana.
“Ada yang cemburu, nih!” cibir Jebe meliriknya sekilas.
Ia kembali meninggalkan ketiga orang tersebut. Nama Suri benar-benar belum berdamai dengan hatinya meski ia percaya Garuda tidak akan membalas wanita itu. Tapi ....
“Mala, udah siap?” tanya Rahayu yang datang dari belakang. “Ajak mama sama papa dan yang lainnya makan.”
Ia menyahut, “Sudah, Bu.”
Siang itu mereka menikmati makan siang bersama. Sesekali ditemani obrolan Rahayu dengan papa dan mama. Lalu ditimpali Om Pras. Setelah makan siang, Abhi dan Ganisha juga langsung pamit pulang ke Surabaya.
Sore harinya mereka kembali datang ke pusara papi. Semua tertunduk dalam kala papa memimpin doa. Garuda menyorongkan kaca mata hitamnya yang merosot. Masih jelas kesenduan di netra dan wajah laki-laki itu.
“Aamiin ....” gumaman dari seluruh yang hadir mengelilingi pusara Torrid. Lalu menelungkupkan kedua tangan yang tengadah ke wajah.
Sementara tadi pagi keluarga Maleo dan Atat dari pihak istri mereka telah terlebih dahulu menyambangi dan mengirimkan doa dari pusara papi.
Pada malam harinya semua berkumpul di kediaman Torrid. Bergabung dengan anak-anak yayasan di bawah naungan TRD Foundation. Untuk mengirimkan doa.
Hingga pada hari ketiga mama, papa dan Gayatri harus pamit pulang kembali ke Aussie. Di susul Jebe dan keluarga Om Prasetyo. Menyisakan Rahayu yang masih menemaninya hingga hari ketujuh.
Bukannya ia menutup mata atas berita di luaran sana. Berada di sisi Garuda itu artinya ia siap menjadi sumber berita.
Beberapa kali ia mendapati berita meninggalnya papi di media televisi saat pertama bekerja di hari ke empat. Di ruangan lobi. Di ruangan penerimaan tamu lantai 6. Televisi layar datar yang tertanam di dinding masih saja memberitakan kematian papi meski sudah 4 hari lalu tersiar.
Bahkan berita mengenai meninggalnya Torrid sebagai pengusaha sekaligus terpidana masih menghias sebagian portal dunia maya. Akan tetapi masih kalah dengan berita politik yang mungkin lebih menyita publik. Seperti penyiraman air keras terhadap salah satu penyidik komisi pemberantasan anti rasuah. Atau kasus penipuan yang disangkakan oleh pemilik agen travel atas puluhan ribu costumer-nya yang menjadi korban. Masih menjadi trending topic mengalahkan berita lainnya.
Senangkah?
Jujur ia jarang melihat siaran berita di televisi. Membuka berita dari berbagai situs. Atau mengikuti perkembangan peristiwa terkini. Ia mendapatkan semua informasi tersebut dari kiriman teman. Atau tanpa sengaja melihatnya.
Dan meskipun kematian Torrid sempat tersebar luas. Bukan dikarenakan dia seorang pengusaha taipan, melainkan kasusnya yang mengikat hingga akhir hayat.
Ia mendesakkan napas. Menegakkan punggung. Menatap layar komputer namun pikirannya ke antah berantah.
Bukankah, ia sudah berusaha untuk profesional. Masuk kerja sesuai aturan perusahaan. Apalagi ia staf baru. Integritasnya juga masih dipertaruhkan.
Pesan mama sebelum pulang juga membuatnya resah, merasa ... bersalah. Akibat Gayatri yang keceplosan, “Om Bagas sama Papa lagi renggang.”
“Apa karena aku?” tanyanya. Kendati ia bisa menebak jawabannya.
“Sudahlah ... tidak usah dipikirkan,” elak Gayatri.
“Mala harus sabar. Cobaan kamu setelah ini mungkin masih ada. Atau bisa juga malah lebih besar. Mama sama Papa akan selalu mendoakan. Agar pernikahan anak-anak Mama sehat, kuat dan terus berjalan hingga akhir. Buktikan bahwa kalian bisa melalui setiap ujian. Buktikan bahwa pilihan kalian tidak salah.”
“Eh, ngelamun!” pundaknya ditepuk Desti dari belakang.
“Mikirin apa sih?” Cecar Desti. “Tiga hari ngilang tanpa kabar, datang-datang kerja tidak semangat. Ada masalah, ya?”
Ia menggeleng.
“Bukan ada masalah, tapi bokapnya meninggal.” Dila datang dan menyambar percakapan. Duduk di kursi kerjanya.
“Oya?!” manik mata Desti membola—tak percaya dengan berita tersebut. “Kok, lo gitu sih ... gak kasih kabar ke kita-kita,” cebiknya kesal.
“Kok, kamu malah yang sewot?” sanggah Dila. “Kita seharusnya memberikan penghiburan buat Mala. Mal, so sorry ... aku juga baru tahu kemarin. Aku tanya Mbak Lisa selaku manager HRD. Tebakanku pasti beliau tahu. Dan prakiraanku tepat. Mbak Lisa memberitahu bahwa lo sedang kemalangan. Kami ikut berduka cita, Mal. Yang sabar ya ....”
Sudut bibirnya tertarik ke atas. “Thank you so much guys ... sorry bukannya gue gak mau balas dan angkat telepon, waktu itu.”
Desti menyergah, “Kita paham dan ngerti. Gue juga minta maaf ... tidak bisa datang ke rumah, lo.”
“Sebenarnya ...,” ia menjeda sesaat. “Bokap mertua gue yang meninggal.”
“Eh,” Desti beranjak dari kursinya. Duduk di tepian meja kerjanya, “jadi beneran lo udah nikah?” tanyanya. Sebab ada selentingan yang mengatakan Mala telah menikah. Dengan seorang pengusaha. Yang kaya dan sering mengantar jemputnya.
Ia mengangguk.
“Jadi gosip itu benar,” tukas Desti memastikan.
“Ish, memangnya kalau menikah kenapa?” tangkas Dila.
“Ya, gak sih. Cuma ada gosip lo anak baru tapi status udah menikah. Menikahnya juga sama pengusaha kaya. Terus ngapain kerja, nikmati saja kekayaan suaminya ... bla ... bla ... bla, banyak banget deh gosip tentang lo. Dari yang mobil mewah parkir di basement berserta sopir. Sampai lo yang ....”
Dila menggeleng. “Jangan percaya gosip. Makin digosok makin sip. Harusnya kita abaikan. Lagian merugikan kita sendiri, buang waktu dan tenaga. Nambah dosa juga. Itu urusan pribadi. Jangan dibawa-bawa. Perusahaan juga tidak melarang.”
Dila memang teman yang baik. Tak pernah menyudutkan siapa pun. Wanita muslimah yang selalu menjaga auratnya. Pun, menjaga perkataannya.
Thanks, Dila.
Sejak pertama bersua dengannya, Dila memang beda. Beberapa kali menjadi penolongnya. Bahkan sampai detik ini. Ingat Dila otomatis mengingat Nayla. Keduanya punya karakter yang hampir mirip. Pun, sama-sama punya darah Malaysia.
“Ya, dengan Mala.”
“Mal, ke ruanganku bentar.” Sahut dari interkom yang baru saja diangkatnya.
“Ya, Mbak.”
“Siapa?” tanya Desti tanpa suara.
“Benita, koordinator proyek dan monitoring.” Ia menjawab dan beranjak dari kursinya. Seusai meletakkan kembali gagang telepon.
“Hati-hati,” pesan Desti.
Dila langsung menimpali, “Des!” dan menggelengkan kepala.
Desti terkikik geli. Sementara dirinya hanya mengulas senyum melihat tingkah Desti.
Tiba di ruangan Benita ia mengetuk pintu, “Mbak,” sapanya. Berdiri di depan wanita yang tengah cuek duduk di kursi kerjanya. Tanpa menyuruhnya untuk duduk misalnya. Atau balas menyapanya, mungkin.
Ia dibiarkan berdiri menunggu. Hingga beberapa saat.
“Kamu gak tahu kesalahan kamu apa?” tanya Benita yang masih tak acuh, sibuk memeriksa laporan proyek kerja sama. Tanpa melihatnya sedikit pun.
“Tidak, Mbak.” Jawaban klise. Toh, memang ia tidak tahu menahu kesalahannya apa.
“Coba kamu ingat-ingat!” air muka Benita tampak masam dan ... terkesan dingin.
Ia menggeleng. Setelah berusaha mengingatnya. Yang jelas pasti berurusan dengan pekerjaan, bukan? Tapi nihil. Ia merasa semua perkerjaannya lancar dan ....
“Lo, gak sadar. Lo, itu kerja tim. Lo punya tim. Tapi berasa paling. Paling ... hebat,” Benita tergelak spontan. “Paling ... pintar. Paling ... segalanya. Nonsense!”
Tetiba tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia berupaya untuk menelan ludahnya.
“Lo, kalau udah merasa hebat. Gak usah kerja di sini deh. Lagian, yang gue dengar lo anak orang kaya. Punya sopir pribadi yang siap antar jemput lo tiap hari. Buat apa kerja? Kalau tidak bisa membedakan mana profesionalitas,” cibir Benita.
“Ngapain, lo capek-capek kerja. Dan akhirnya profesionalitas lo dipertanyakan. Lo, sadar deh ... lo staf baru. Absensi lo aja banyak off-nya. And the end ... tim lo yang ketar-ketir ngerjain tugas yang harusnya menjadi tugas lo.”
“Sampai sini integritas lo juga dipertanyakan!” imbuh Benita. Bersamaan menutup laporan yang sedari tadi ditekurinya.
Keluar dari ruangan Benita, ia menghela napas dalam. Memang benar dalam 1 bulan ini, ia off banyak. Bertepatan dengan hari nahas ia dijambret. Kemudian meninggalnya papi. Dan ... semua tugasnya banyak dikerjakan oleh Davin yang kebetulan 1 tim dengannya. Apa karena hal itu profesionalitas dan integritasnya dipertanyakan?
“Gue, ingin bukti!” kata Benita sesaat sebelum menyuruhnya keluar dari ruangannya. Seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat padanya.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏