
...36. I Love You...
Gemala
Ia tak menyangka bisa sampai Jakarta. Pun tak menyangka ketemu Ru dan ibunya sekaligus.
Berawal video call yang menampilkan kekonyolan 2 sahabat di layar. Berujung smackdown ala mereka. Sementara sambungan vicol terus berjalan. Sehingga ia masih bisa mendengar.
“Cih, beraninya hanya saat jauhan. Datangin dong. Atau lo kasih dia tiket. I miss you, kalau cuma di bibir ... it’s useless. Harus ada action,” ejek Jebe.
“Bukan urusan lo!” Sanggah Ru kesal.
Jebe malah semakin membuat panas Ru, “Cemen lo, ah!”
“Anjreeet! Sialan, lo!”
Satu minggu setelah kejadian itu Ru kembali menelepon. Menawarinya sebuah tiket PP Melbourne-Jakarta. Menarik sih. Kemudian ia melihat jadwal kuliahnya. Terpaksa, ada dua mata kuliah yang harus dikorbankan. Mau tidak mau. Yakin tidak yakin. Akhirnya ia memutuskan pergi.
Tiba di Jakarta ia dijemput Ru di bandara. Tangannya digenggam laki-laki itu hingga mereka masuk ke dalam mobil.
“Kalau kamu ingin melepas rindu dengan Jakarta kamu bisa keliling sama sopir. Ke mana saja sesuai permintaanmu. Tapi, hari ini aku tidak bisa menemani,” begitu kata Ru saat mobil yang membawa mereka melaju di atas jalan tol. Bukan hanya rindu Jakarta sebenarnya. Tapi rindu ... kamu juga!
It’s okay. Ia paham pekerjaan Garuda. Paham dengan kesibukan laki-laki itu.
Hari pertama saat bola raksasa itu sudah melandai di kaki barat ia hanya menghabiskan waktu di kamar. Memesan makanan kesukaannya. Menonton film.
Ru datang entah jam berapa. Tapi sepertinya malam sekali. Sebab mereka sempat chat terakhir pukul 20.30 WIB. Ru, tak membalas pesan terakhirnya. Ia sampai ketiduran.
Terbangun ketika seseorang menepuk-nepuk pipinya. Itu juga entah yang ke berapa. Sebab ia paling susah dibangunin.
“Hem,”
“Ayo bangun. Kita pergi.”
Ia berusaha mengerjapkan mata. Tapi urung. Matanya kembali menutup sempurna.
Dan kini langkahnya terseok-seok mengikuti Ru yang melangkah panjang-panjang. Laki-laki itu berhasil membangunkannya. Dengan caranya. Yaitu hanya dengan menekan jempol kakinya. Sontak ia terkejut sambil memberengut. Sementara Ru, mengulum senyum—berhasil.
Begitu sampai di tempat tujuan disambut dengan keriuhan. Kanan-kiri suasana begitu ramai. Parkir kendaraan juga penuh. Sayup-sayup orkestra konser jalanan terdengar. Musik ritmis yang terdiri dari angklung, gandrang, kendang, tamborin, dan drum mengalun menghasilkan harmonisasi yang sempurna.
...Dug dug dug dug ces...
...Dug dug dug dug ces...
...Hai kenapa kamu kalau nonton dangdut sukanya bilang ... buka ... dikit jos...
...Apa karena pakai rok mini jadi alasan...
...Sukanya Abang ini lihat lihat bodyku yang seksi...
...Senangnya Abang ini intip intip aku pakai rok mini...
Mereka melewati panggung orkestra, terus menyusuri jalanan yang ramai. Dari penjual sate taichan, soto betawi, chinese food, roots coffee, sop kaki kambing, nasi uduk dan masih banyak lagi warung tenda berjejeran.
“Kamu mau makan apa?” tanya Ru berhenti di salah satu tenda berwarna kuning. Bertuliskan ‘Martabak 65A’
Ia mengembuskan napas, “Kamu ngajak aku dari tadi jalan dari ujung sampai sini. Baru nawari makan di sini?” dengusnya.
“Ini martabak yang enak di sini,” dalih Ru. Lalu memesan martabak. Lumayan antre panjang.
Suara deru kendaraan lalu lalang. Tidak pernah sepi dan lengang. Padahal ... ia melihat jam di ponselnya. Sudah pukul 23.30 WIB. Tapi kawasan wisata kuliner Pacenongan belum beranjak dari kata sepi.
Mereka duduk di kursi plastik warna merah.
“Kenapa harus kesini? Kan bisa DO, lagian kamu bisa makan di pinggir jalan kayak gini?” tanyanya.
“Kamu, kan suka wisata kuliner. Malam ini aku temani kamu. Makan sepuasnya sebelum pulang ke Melbourne,” tukas Ru.
“Tapi ya gak gitu juga, Ru. Ini udah malam banget. Kamu juga pasti capek,” ia yakin laki-laki itu belum sempat pulang. buktinya kemeja yang dipakai masih sama. Hanya dasinya saja yang tanggal entah di mana.
“Sstt,” Ru menempelkan jari telunjuk di bibirnya, “jangan berisik.”
Matanya membola. Pipinya menggembung—kesal.
Ru terkekeh ringan. “Gak kamu, gak Siren ponakan kamu yang gemesin, apalagi Juna. Semua sama.”
Ia mengerutkan kening, “Sama? Maksudnya?”
“Sama kalau lagi kesal ekspresinya bikin ketawa,” sindir Ru.
“Nomor 14,” teriak penjual martabak. Ru berdiri mengambil pesanannya lanjut membayar.
Mereka memutuskan untuk kembali ke parkiran. Langkah Ru yang panjang dan cepat membuatnya sering tertinggal di belakang. “Punya perasaan gak sih, dia? Nasty-nya kambuh! Tahu gitu gak usah bangun, enakan tidur ... kencan apaan ini? Jauh-jauh datang cuma gini doang? Huh!” Sederet kalimat membuatnya masih bergumam-gumam tak jelas.
TIN ... TIN
Klakson mobil beberapa kali terdengar bersahut. Ia berusaha melipir lebih ke pinggir.
Tanpa kata, Ru menarik lengannya. “Kalau jalan pakai mata,” tandas Ru dengan terus melangkah mengabaikan dirinya yang kepayahan menyesuaikan langkah.
Sementara sepanjang perjalanan ia masih menampakkan wajah kesal. Hingga mobil terparkir di area hotel.
Ru membukakan pintu mobil begitu saja. Tanpa bersedia menunggunya. Namun ia tetap mengekori laki-laki itu hingga di taman.
Lak-laki itu duduk di salah satu bangku taman. Menyimpan kotak martabak dan botol air mineral di sebelahnya. Lalu memeriksa ponsel.
Ia masih berdiri di belakang kursi yang diduduki Ru. Terdiam beberapa waktu.
“Sampai kapan kamu berdiri di situ?”
Ia bergeming.
Ru tetap membelakanginya. Ia mengentakkan kaki. Terpaksa menyeret langkahnya dan menghempaskan pantat di sebelah laki-laki itu sedikit kasar.
Sepotong martabak masuk ke dalam mulut Ru. “Kamu gak mau nyoba? Hok lo pan ini enak. Martabak kekinian yang jadi pioner.” Ru menjeda menghabiskan potongan tanpa sisa.
“Hok lo pan diciptakan oleh orang keturunan Tionghua-Hokkian di Bangka,” sambung Ru.
Ia terdiam. Masih menelinga, meski dalam hati mengumpat. Siapa yang nanya?
“Aak,” Ru menyodorkan sepotong martabak manis di depan mulutnya.
Ia menggeleng, “Aku bisa makan sendiri,” balasnya ketus.
“Jarang-jarang aku mau nyuapi orang. Jadi rugi kalau kamu menolak.” Tandas Ru.
Ia terpaksa membuka mulutnya. Lalu menggigit potongan kue tersebut. Tapi dengan sengaja ia juga menggigit jari Ru, hingga Ru mengaduh.
“Kamu sengaja?” tangkas Ru, “Nih, makan sendiri kalau gitu.” Ru menggeser kotak martabak lebih dekat padanya.
Ia mencebik, “Aku bilang bisa makan sendiri.”
“Aku juga bilang jarang-jarang mau nyuapi orang.” Ru tak mau kalah. Menyandarkan punggungnya ke belakang.
“Besok ketemu sama ibuku. Kamu sudah siap, 'kan?” tanya Ru yang menengadah melihat gelapnya langit ibukota.
Keningnya terlipat, “Apa yang harus aku persiapkan?”
Ru kembali terkekeh ringan, “Kamu lucu!”
Ia menipiskan bibirnya. Lucu apanya? Batinnya memberontak. Namun keduanya tetap menikmati potongan demi potongan martabak. Hingga tak terasa 1 porsi ludes tidak bersisa.
Malam itu Ru mengantarkannya hingga ambang pintu. Mengusap pipi sebelum meninggalkannya.
“If only you could see. With you is what I want ... aku akan datang saat itu,” Ru menatap matanya penuh.
“Ru,”
Ru mendaratkan ciuman di kepalanya, “Have a good rest. Good night,” senyumnya terkembang. “Masuklah. Aku akan pergi setelah kamu masuk.”
Meski ia berat untuk menutup pintu. Tapi ia yakin esok Ru masih ada untuknya. “Good night! See you tomorrow,” balasnya seiring pintu yang menutup perlahan.
Keesokan harinya, ia menemui dan menemani ibu kandung Garuda. Kesan bertemu dengan Ibu Rahayu begitu lekat. Ia bahkan tak pernah terpikir dengan sosok ibu kandung laki-laki itu.
Ia juga tak pernah menemukan wajah Ibu Rahayu tampil di media sebagai istri. Pun sosoknya tak pernah diungkap.
Ia jadi mengerti, kenapa wajah Ru berbeda dengan Maleo dan Atat. Itu karena mereka beda ibu. Dan wajah Garu lebih cenderung mirip dengan ibunya.
Menghabiskan waktu bersama dengan wanita bersahaja itu tak terasa bergulir cepat. Banyak hal yang ia baru ketahui. Terutama bahwa Ru punya adik laki-laki dari lain ayah. Ru pernah tinggal di Yogya selama 6 tahun. Anak yang pintar dan cerdas. Rahayu juga menceritakan hubungan mereka yang baru membaik dan tersambung kembali. Meski secara eksplisit tidak dijelaskan alasan-alasan di balik, mengapa hubungan Ru dan ibunya buruk. Intinya lebih banyak tentang masa kecil Ru selama bersama Rahayu.
Ia mengembuskan napas. Masalah apa yang sedang dihadapi Ru? Kenapa laki-laki itu enggan berbagi dengannya.
Ah, ia seperti tidak tahu saja tabiat Ru. Matanya perlahan terpejam. Malam ini ia begitu bahagia. Bisa bertemu Ru, juga mengenal Ibu Rahayu.
...***...
Garuda
Hari ini terakhir Mala di Jakarta. Gadis itu memilih sarapan ketoprak Ciragil dari pada di hotel. Sempat mengantre beberapa saat hingga pada akhirnya bisa menghabiskan sepiring ketoprak yang melegenda tersebut.
Dari sana mereka berhenti sebentar di taman Suropati. Taman yang tidak jauh dari kediaman papinya.
“Kamu yakin hari ini pulang?” tanyanya untuk ketiga kalinya.
Mala menyahut, “Ru,”
“Iya ... iya. Tiket sudah dibooking. Hari ini pulang,” kekehnya.
Konsep taman tropis yang berada di tengah kota dengan berbagai vegetasi pohon. Membuat terlihat rimbun dan sejuk. Tempat yang sesuai untuk cuaca panas yang sudah menyelimuti ibukota di pagi hari.
Mereka memilih duduk tepat di depan rumah merpati tak jauh dari air mancur. Beberapa burung mendekat di kaki mereka.
“Sini,” Mala mengeluarkan bungkusan roti dalam tasnya. Burung-burung jinak itu semakin mendekat.
“Kadang kita kalah ya sama burung seperti ini,” telapak tangan Mala terbuka, di atasnya sengaja diletakkan remahan roti. Merpati-merpati itu mengambilnya tanpa takut-takut.
“Mereka pasangan yang romantis, lihat Ru!” seru gadis itu menunjuk pasangan merpati yang bertengger di atas kandangnya.
Ia menyela, “Apanya yang romantis? Mereka cuma seekor burung.”
“Mereka jadi simbol pernikahan,” Mala duduk di sebelahnya. Menatap merpati-merpati yang berada di sekitar kaki mereka. “Karena mereka pasangan setia. Memiliki 1 kekasih seumur hidupnya.” Imbuhnya.
“Kamu meragukan aku, Mal?” ia mengubah duduknya, menghadap gadis itu.
“Aku percaya kamu—”
Ia menyergah, “Tapi apa?”
“Apa yang dibilang Jebe benar?”
Helaan napasnya kentara, “Kamu malah percaya sama Jebe?!” tangkasnya.
“Bukan begitu. Aku hanya ingin meyakinkan saja. Kata Jebe kamu belum pernah jatuh cinta? Apa itu benar?” Entah itu pertanyaan apa sindiran.
Ia kembali bersandar ke sandaran bangku taman, “Aku malas membahas itu.” Ia bangkit dan berlalu. Meninggalkan Mala yang masih duduk.
“Bukankah suatu hubungan harus ada keterbukaan?” Mala menyusulnya di belakang.
Mereka memasuki kabin mobil. Perlahan Alphard putih itu melaju pelan. Ia menutup partisi antara sopir dan penumpang belakang. Ia butuh privasi.
Keduanya terdiam. Hingga beberapa saat lamanya. Mungkin ego mereka masih mampu menguasai perasaan keduanya.
Mala membuang pandangan ke sisi kirinya. Sementara ia juga membuang muka ke sisi kanan.
Tidak ada yang mau memulai memecah keheningan.
Hingga, “Aku minta maaf,” tukas Mala. “Aku percaya sama kamu. Hanya saja kadang aku berpikir ...,” ia menghela. “Mungkin karena aku pernah gagal. Kamu tahu hubunganku sama Ethan dulu, karena ... karena tidak adanya keterbukaan. Aku memupuk begitu saja rasa percaya. Hingga akhirnya,”
Mala mengusap bulir kristal cair yang melewati pipi, “Baiklah, kita jalani saja seperti ini.” Putus Mala. Meski ia sendiri kadang ragu.
Hening kembali menyelimuti. Cukup lama.
Mobil telah memasuki area bandara. Berhenti tepat di area parkir dekat pintu keberangkatan.
“Terima kasih,” ucap Mala. Lalu meraih tas punggungnya.
Namun dengan cepat ia menahan lengan gadis itu. Mala menatapnya. Manik mata mereka bertemu 5 detik.
“Kamu percaya sama aku. Aku hanya butuh waktu. Sebentar lagi. Setelah itu aku akan memilikimu ... seutuhnya.” Ia meyakinkan gadis itu.
“Sebentar lagi, aku pernah bilang kita akan melewati ini. Mungkin akan menyiksa. Tapi aku akan datang menjemputmu."
Ia mengusap kristal cair yang kembali membasahi pipi Mala dengan kedua ibu jarinya.
“Kamu, mau ‘kan?”
Mala menatapnya kembali lalu mengangguk perlahan. Ia merengkuh gadis itu, “Maaf ... buat kamu menunggu.”
Beberapa saat mereka terhanyut dalam rengkuhan kerinduan.
“Aku harus pergi,” ucap Mala lirih.
Ia mengurai rengkuhannya. Mencium kening gadis itu. Kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir ranum milik Mala. Ia menyapukan bibirnya di sana. Menyalurkan segala rasa yang ia persembahkan untuk gadis itu. Ya ... gadis yang telah mengisi hatinya. Menempati ruang khusus di sana.
Gemala perlahan menyambut. Mengikuti gerakan demi gerakan yang kian membuat keduanya terhanyut.
“Ru,”
Ia tak menggubris. Yang ia inginkan hanya membuat gadis itu percaya. Ia hanya butuh waktu. Butuh kepastian.
“Ru, aku harus pergi.” Gadis itu kembali berbicara lirih. Ia melekatkan keningnya pada kening gadis itu. Napas mereka masih memburu satu-satu.
Tangannya perlahan merangkum pipi Gemala, “I love you,”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏