If Only You

If Only You
66. First Day of Work



...66. First Day of Work...


Gemala


Tak menyangka ia dipertemukan dengan gadis muslimah yang menolongnya.


Dilamurat.


Ya, Dila. Gadis yang pernah mengalami perundungan di trem. Lalu pernah menolongnya saat terjebak aksi demo rasisme.


“Kita ketemu lagi,” kata Dila yang menyambutnya kala ia menjadi peserta terakhir yang masuk dalam ruang meeting.


Keduanya berjabat tangan. Saling menempelkan pipi kanan dan kiri bergantian.


“Rasanya dunia sempit ya, ini pertemuan ketiga. Dan akan jadi pertemuan-pertemuan selanjutnya. It’s nice to see you ... again,” senyumnya tersungging. Kemudian duduk di sebelah Dila.


Di hari pertama masuk kerja mereka dikenalkan lingkungan divisi di bawah naungan WRI. Mereka yang terdiri dari 10 staf peneliti dan analis dibawa berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Di mulai dari divisi kota dan transportasi, tata kelola, iklim, hutan, energi serta laut. Enam bidang  pokok yang mencakup isu-isu penting bagi pembangunan berkelanjutan.


Menjelang siang diberi bekal pengarahan oleh manajer senior iklim dan energi serta Direktur langsung dalam ruang pertemuan. Acara itu berlangsung selama 2 jam ke depan.


Dan berakhir saat jam isoma (istirahat solat dan makan).


“Eh, makan di bawah aja yuk,” ajak Desti.


“Aku bawa bekal,” jawab Dila.


“Mal, lo gak bawa bekal, kan? Yuk ke bawah.” Desti memohon minta ditemani. Bahkan Dila yang duduk di salah satu kursi pantry siap membongkar bekal makanannya pun ikut diseret.


“Aku—”


“Udah, pokoknya kalian ikut. Kita cuma bertiga lho cewek. Yang lain gak mungkin aku ajak-ajak kayak begini,” tukas Desti. Memang benar dari 10 staf baru hanya 3 yang berjenis kelamin perempuan. Sisanya laki-laki.


Pada akhirnya mereka memutuskan untuk makan di kantin bawah.


“Gemala,”


Ketiganya menoleh ke belakang sesaat sebelum melangkahkan kaki masuk dalam lift. Desti menahan pintu agar tak segera menutup.


Sementara Davin berlari demi ikut masuk ke dalam kotak besi yang akan membawa mereka turun.


Napas Davin terengah-engah, “Kalian mau makan di mana?” tanyanya.


“Kantin,” sahutnya.


Davin menyergah, “Boleh gabung?”


Ia menatap Desti dan Dila. Kedua temannya tersebut mengangguk pelan.


Demikian juga Davin menatap 2 temannya secara bergantian memastikan keikutsertaannya tidak ditolak.


Keempat penghuni sementara kotak besi itu terdiam. Davin berdiri sendiri menyandar dinding. Sedangkan ia, Desti dan Dila berdiri di sudut lain. Tak ada yang memulai memecah keheningan. Angka merah terus menyala bergerak turun secara berkala. Menuju ke lantai 1.


Suara lift berdenting disusul pintu membuka secara otomatis. Mereka keluar secara bergantian. Bertepatan suara getar pada ponselnya. Garudanya Mala.


“Sorry, aku terima telepon dulu.” Ia mengangkat benda persegi tersebut. “Duluan aja, nanti aku menyusul,” ujarnya. Ia juga menatap Davin. Pria itu tersenyum lalu perlahan pergi. Berjalan di belakang Desti dan Dila.


“Ya,” sahutnya sepersekian detik setelah menggeser ikon tombol berwarna hijau.


“Kok lama?” protes suara dari seberang.


“Baru turun. Mau makan di kantin.”


“Tadi aku suruh San antar lunch box ke sana. Apa belum sampai?”


“Coba cek pesan dari San. Di mana dia menitipkan lunch box.”


“Bentar,” tukasnya tanpa memutus sambungan telepon ia mengecek kotak pesan. Benar saja ada nama Susanto di sana. Yang mengatakan bahwa lunch box dititip di resepsionis.


“Udah,” imbuhnya kemudian.


“Udah apa?”


“Aku lagi jalan ke resepsionis. Ambil makanan dari kamu. Thanks ya, Mas.”


“Hanya terima kasih?”


“Mbak mau ambil titipan,” ia berbicara pada salah satu resepsionis.


Resepsionis bernama Yuli itu menyerahkan kantong plastik dari restoran terkenal.


“Makasih, Mbak.” Ucapnya setelah menerima bungkusan tersebut. Yuli tersenyum membalasnya.


“Thank you so much Mas Garuda. Mmuaah ...,” kalimat penutup sekaligus merayu suaminya itu agar tidak ngambek.


Hanya terdengar Ru terkekeh dan bilang, “love you.”


...***...


Canberra


Jika di Jakarta tengah hari maka di Canberra waktu sudah berganti sore. Bertepatan musim dingin yang mendukung cuaca tampak lebih gelap dan matahari lebih cepat pulang ke peraduan.


Beberapa waktu lalu Imam mendapatkan kabar mengenai Gemala yang muncul di media. Bersamaan kabar Torrid yang sedang dirawat di rumah sakit.


Berita sumir dan gunjingan mengenai Garuda dan Mala. Tak ayal membuatnya gerah. Hal yang ditakutkan. Di khawatirkan mungkin sebentar lagi terjadi. Hanya tinggal tunggu waktu.


Kendati asa digantungnya pada Garuda yang serius bertanggung jawab penuh untuk menjaga Mala. Namun, sebagai seorang ayah kecemasan atas kondisi pernikahan mereka di tengah kabar tak sedap membuatnya gundah.


“Pa,” Laras datang membawa secangkir minuman herbal hangat. Menyimpan di atas meja dan ikut duduk di sebelahnya.


“Berita itu sudah redam. Dan media yang menyebarkan sudah minta maaf dan membuat klarifikasi,”


“Mama tidak perlu menjelaskan pada mereka yang bertanya.” Akhir-akhir ini memang saudara dekat, kerabat jauh banyak yang mengirimkan pesan pada Laras. Menyangkut hebohnya berita yang menangkap Mala dan Garuda jalan bersama. Mungkin yang tidak terlalu kenal Mala tidak akan tahu. Tapi yang kenal dekat, pasti mengenali fisik Mala. Meski foto yang beredar tidak secara utuh menampilkan anaknya tersebut.


“Bagaimana kalau kita jujur saja sama Bagas dan Anita?” usul Laras. Walau ragu mengungkap ini. Tapi ia merasa harus memberitahukan pernikahan Mala dan Garuda pada adiknya itu. Sebab berhubungan dengan mereka.


Ia masih terdiam. Meraih cangkir di meja sebelahnya. Menyeruputnya sedikit demi sedikit.


“Bukankah itu lebih baik, Pa. Daripada mereka nanti mendengar dari orang lain atau media.”


“Mama rasa, Anita dan Bagas bisa menerima. Bahkan mungkin Kirei dan Danang,” Laras menatap suaminya yang masih bergeming. Lalu mengembuskan napas seraya menyandarkan punggungnya ke belakang kursi.


Keheningan menjeda. Disusul helaan napas berat. Dan embusan sarat beban.


“Aku akan cari waktu yang tepat,” putus Imam.


...***...


Gemala


“Jadi kamu memilih tinggal di Indonesia?” tanyanya pada Dila. Ia membuka lunch box. Setahunya Dila tinggal di Malaysia. Meski mamanya orang Indonesia.


Dila mengangguk. “Aku sudah 3 bulan di sini.”


“Wah enak nih,” timpal Desti menatap makanan di depannya. “Paket komplit,” imbuhnya.


“Boleh nyoba kok, banyak ini gak bakalan habis.” Memang porsi besar menurutnya. Ada nasi limo, asepan daging ayam dan lidah sapi, saus metai, tobiko dan nori. Belum dessert puding sebagai pelengkap.


“Dari siapa?” tanya Davin yang baru duduk membawa nampan berisi makanan. “Untuk kamu,” menyodorkan segelas jus jeruk ke arahnya.


“Wah, kita-kita gak ditraktir juga nih?” Desti menimpali dengan sindiran.


“Boleh, tapi ambil sendiri ya. Nanti aku yang bayar.”


“Oya, Mal kamu di Jakarta tinggal sama siapa? Setahuku keluarga kamu di Surabaya,” tanya Davin.


“Aku ... tinggal di apartemen,”


“Terus itu tadi kiriman dari siapa? Kayaknya perhatian banget sama kamu.” Cecar pria itu.


“Yang pasti dari someone special lah ... ya, gak Mal?” celetuk Desti.


Sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia belum bisa berterus terang mengenai statusnya. Meski statusnya di bagian HRD jelas. Menikah.


Beruntungnya tidak ada persyaratan mengenai status. Atau kontrak kerja yang mengikat. Hanya saja selama 2 minggu, staf baru akan  mendapatkan pelatihan intensif dari para ahli. Baru kemudian akan diberikan kepercayaan bergabung dalam penelitian studi kasus yang tengah digarap WRI. Itu pun masih didampingi staf senior.


Garudanya Mala : Jam berapa pulang?


Gemala : 16.30


Garudanya Mala : San nanti yang jemput. Kita ketemu di rumah.


Gemala : See you soon ... 😊


Garudanya Mala : 😘


Tiba di apartemen, hari hampir gelap. Ia yakin Garuda belum pulang.


Setelah membersihkan diri dan menyiapkan pakaian untuk esok. Sebab ia tak mau kelimpungan lagi. Ternyata pagi harinya keteter harus melayani laki-laki itu dan kebutuhannya sendiri. Maka dari itu ia berusaha prepare sejak malam.


Matanya kembali menangkap paper bag putih pemberian Ru yang belum dibuka. Ia membungkuk dan meraih paper bag tersebut. Membawanya ke atas kasur. Merogoh isi dalamnya.


“Amplop ... sama kotak perhiasan,” gumamnya.


Ia membuka amplop terlebih dahulu. Isinya buku tabungan atas namanya dengan 2 kartu yaitu debit dan kredit platinum.


Sudut bibirnya melengkung. Kemudian meraih kotak perhiasan.


“Mala,” pintu terbuka bersamaan suara Ru terdengar.


Ia menoleh. Menyimpan kotak tersebut kembali dan berdiri menyambut laki-laki itu.


“Bagaimana hari ini?” tanya Ru duduk di tepian ranjang sambil membuka kancing lengan kemejanya.


Ia menyimpan jas di keranjang baju kotor. “My first day of work ... so far so good. Gak nyangka bisa ketemu sama Dilamurat yang pernah nolong waktu terjebak di jalanan karena aksi demo. Terus sama Davin juga,”


“Davin?” Ru bangkit dengan alis mengerut. Jika Dilamurat ia pernah mendegar nama itu disebut. Tapi Davin ....


Ia mengangguk, “Teman SMA.”


Laki-laki itu masuk kamar mandi, “Hon, wait a minute,” kepalanya menyembul di ambang pintu.


Ia terkekeh.


Menyiapkan pakaian Ru. Kemudian turun ke bawah. Setidaknya ada Yati yang banyak membantu meringankan tugasnya. Yati membawa asisten rumah tangga dari rumah papi untuk bertugas membersihkan apartemen. Sementara Yati sendiri bertugas memasak. Ia menghangatkan makanan. Menyiapkan makan malam.


Ru duduk di kursi dengan tampilan lebih segar ditambah aroma sabun yang menguar dari tubuhnya. Membuat aura laki-laki itu bertambah kegantengannya.


Ia tersenyum tipis.


Nyatanya semua tidak lepas dari manik mata Garu, “Kenapa?”


“Nothing,” ia meringis. Salah tingkah.


“Bilang saja, terpukau.”


Hah! Kenapa Ru selalu bisa membaca pikirannya?


Ia menggembungkan pipinya seperti biasa.


Ru tergelak, “Sedikit aja,” ucapnya, masih dengan sisa tawa saat ia mengambilkan nasi di atas piringnya.


Ia menyodorkan piring itu pada suaminya. “Mau apa?” tawarnya. Ru menunjuk perkedel daging dan sop ayam.


Keduanya makan dengan sesekali bercerita. Terutama dirinya yang pertama kalinya masuk dunia kerja.


“Aku ke ruang kerja bentar, ”Ru bangkit  setelah mengelap mulutnya dengan tisu.


Ia membereskan bekas makan malam mereka. Lalu menyusul laki-laki itu ke sana. Membawakan secangkir kopi.


Garuda tampak serius menatap layar laptop saat ia datang. Bahkan tak sejenak pun mengalihkan pandangannya.


“Ada yang serius?” tanyanya mendekat. Menyimpan kopi di meja, lalu melongok sekilas pada layar. Kembali tegak dan hendak duduk di sofa.


“Sini,” Ru mendorong kursi kerjanya ke belakang. Menepuk pahanya. Memintanya untuk duduk di sana.


Ia menggeleng. “Aku gak mau ganggu,”


“No. Aku ingin kamu duduk di sini,” laki-laki itu kembali menepuk pahanya.


Walau ragu, akhirnya ia duduk di sana. “Aku berat,”


Garu mendaratkan kecupan di pelipisnya. “Lebih berat mengatasi masalah ini.”


Ia menelengkan kepala melihat laporan angka-angka yang tidak dimengertinya.


“Ada masalah di GL?” bola matanya masih menatap layar tersebut.


“Sedikit,” ujar Ru disertai senyum samar. Padahal kenyataannya proyek di Lampung dengan rekanan GK Investama mengalami kerugian yang besar. Dan penyelidikan internal masih berjalan sampai dengan saat ini.


Ia bangkit menuju almari yang telah diubah isinya. Foto-fotonya bersama Garuda. Foto pernikahan mereka. Menggantikan minuman yang selama ini menjadi penghuninya.


“Mas, sini sebentar.”


“Hem,” sahut Ru tanpa mengalihkan pandangan.


Ia kembali menukas, “Sebentar,” desaknya. Ingin meminta pendapat laki-laki itu.


Garuda beranjak dan menghampirinya.


“Bagaimana?” tanyanya.


Ia yang belum sadar dengan isi lemarinya yang sudah berubah, menatap foto-foto mereka. Mengulas senyum. Namun sekian detik kemudian membelalakkan mata. Sebab koleksi minuman mahal dari berbagai negara lenyap entah ke mana.


“Hon, di mana?” Ru menyugar rambutnya.


Ia mengerutkan kening.


“Di mana semuanya?”


“Aku,”


“Astaga! Kamu—”


Ia mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. “Aku ... simpan di bak sampah,” cicitnya tanpa merasa bersalah.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏