
...46. SULKY...
Melbourne
Satu jam lalu Clayton diguyur hujan lebat. Beruntung Gemala belum sempat keluar rumah. Agendanya hari ini hanya ke perpustakaan. Mengerjakan modul esai. Lalu ke kampus Caulfield.
Gadis itu sengaja membawa mobil. Sebab cuaca hari ini benar-benar tidak bisa ditebak. Tadi gloomy, sekarang glowing, entah 2 jam yang akan datang.
Dua minggu sudah ia kembali menjalani rutinitas. Gayatri masih di Surabaya. Kontrak kerja sama dengan pemerintah diperpanjang. Entah juga sampai kapan kakaknya itu akan stay di sana.
Kabar putusnya hubungan Gayatri dengan Richard juga sudah terdengar oleh mama dan papa. Meski sudah bisa ditebak oleh semua, tetap saja Gayatri tidak mau menyebut alasan yang mendasarinya.
Setidaknya di balik kekecewaan ia bisa berucap syukur. Gayatri tidak jadi mengikuti saran Richard. Dan ia berharap kakaknya itu menemukan pengganti Richard. Tentunya yang lebih baik.
Tiba di perpustakaan ternyata Nayla sudah di sana. Ia melambaikan tangan. Ikut duduk di samping sahabatnya tersebut.
“Rajin sekali newlyweds?” selorohnya.
Nayla membalas dengan senyum.
“Aih, muka berseri-seri ... aura happy ... buat aku iri,” imbuhnya. Meletakkan tas selempang di meja. Merogoh ponsel, modul, buku catatan dan pena.
“Nay, bicara donk! Jangan smile ... smile terus. Mentang-mentang lagi seronok ... seronok ... seronok.”
Nay terkekeh ringan.
“Aissh,”
“Cem mana nak bagi? Nanti you mau juga. Payahlah, siapa tu pasangannya?” balas Nayla sambil geleng-geleng kepala.
“Hem, tak payah bagi yang roman-roman. I don’t want to either,”
“Are you serious? Tak nak?” pancing Nayla. “Rasanya ...,” Nayla sengaja menjeda. “Become addictive,”
Ia mengerutkan dahinya.
Tawa Nayla berderai, “Hahaha ....”
“Sstt ...,” ia memperagakan mengunci mulutnya. Pasalnya gelak tawa Nay mampu membuat pengunjung lain menoleh.
Satu jam setengah ke depan mereka masih di perpustakaan.
“How about he?” tanya Nayla membuka lembaran buku James C Scott tanpa melihatnya.
“He?” alisnya terangkat sebelah.
“Haiiss, pura-pura tak kenal pula?!” tukas Nayla.
Helaan napas bersamaan tubuhnya ditegakkan. Ia menghentikan kegiatan menulis.
“I can’t say for sure,” gumamnya.
Kini alis sebelah Nayla yang terangkat. Tak lama bilang, “What do you say?”
“Hah!” ia menoleh ke Nayla, “nevermind!” serunya.
Keduanya menuju kampus Caulfield. Dua jam mengikuti kelas. Ia mengantarkan Nayla ke apartemennya.
“Thanks, Mala my bestfriend.” Nayla melambaikan tangan ketika ia memutar setir kemudinya. Memberikan klakson dan berlalu dari sana.
Tiba di rumah kala rembang petang. Saat ia keluar dari mobil. Terdengar suara gaduh dari rumah sebelah. Siapa lagi? Rumah tetangganya Maria.
Ia melongok sebentar. Benar saja Maria dan Elizabet tengah bertengkar. Bantingan pintu dan teriakan Elizabet membuatnya menjengit.
Dengan cepat ia lekas masuk dalam rumah.
“Surprise!” seru Gayatri saat ia menutup pintu kembali membuatnya menjengit untuk kedua kali. Ia mengelus dada. Lalu menggelengkan kepala.
“Bikin orang jantungan tahu, gak!?” omelnya kesal.
“Kayaknya gak senang gue balik?” Gayatri membuntutinya.
Ia menuju dapur. Membuka lemari es. Meraih botol air mineral dan membawanya duduk di kursi setelah menggeretnya.
"Senang sih, tapi kata lo kontrak diperpanjang?” tangkasnya.
“Emang. Gue harus laporan dulu ke kantor. Paling 2-3 mingguan balik Surabaya lagi.”
Di atas meja penuh dengan oleh-oleh yang dibawa Gayatri dari Surabaya.
“Spesial untuk lo,” Gayatri ikut duduk di depannya. “Ada lapis surabaya, spikoe, bandeng asap, kacang mede dari Tante Anita. Pas banget datang ke rumah. Bawa cucunya yang kembar itu ... gemesin banget lihatnya. Tahu gue mau balik kesini, dia bawain ini. Katanya buat lo, sang keponakan.”
Ia menuang air dari botol ke dalam gelas bening, menegaknya hingga tandas tak bersisa. Tenggorokannya yang dahaga langsung tersirami seketika.
“Ada kabar apa di Surabaya?” tanyanya. Tangannya meraih spikoe. Mengambil 1 potongan. Memasukkan ke dalam mulutnya. Rasanya jangan ditanya. Enak sekali.
“Yaa, gitulah. Tidak ada yang berubah.”
“Maksud aku, apa papa di panggil lagi jadi saksi? Kasus apa sih?” satu potongan habis. Ia kembali meraih camilan yang lain. Lapis surabaya.
Gayatri mengangkat bahu. Beranjak dan membuka lemari es yang berada sejajar dengan kitchen set.
“Apa kasus Om Bagas itu? Yang katanya berhubungan dengan ayahnya Mbak Kirei?”
Lagi, lagi Gayatri tidak menyahut.
“Gue mau mandi, gerah.” Gayatri berlalu meninggalkannya.
Helaan napasnya kentara. Ia menatap berbagai camilan yang masih berantakan di atas meja.
Namun pikirannya bukan tentang oleh-oleh berbagai macam itu. Melainkan ada satu nama. Garuda.
Kontak dengan Ru terakhir kali ... mungkin seminggu yang lalu. Teleponnya tidak diangkat. Laki-laki itu hanya membalas melalui pesan singkat : Aku sedang bersama Maleo dan Atat. Nanti aku hubungi lagi.
Nyatanya satu minggu kemudian tidak ada kabar. Telepon maupun pesan.
Ia merogoh ponselnya dalam tas selempang yang ia simpan di atas meja. Mengharap ada pesan atau call log dengan nama yang ditunggu-tunggunya.
Tapi nihil.
...***...
Jakarta
Satu minggu setelah sidang pledoi. Tim kuasa hukum mempersiapkan langkah berikutnya.
Pun Garuda harus terbang ke Lampung guna menyelesaikan persoalan dengan pihak GK Investama. Robin yang diduga sang ketua kelompok telah tertangkap polisi di daerah Mesuji. Sementara anak buahnya tidak ada satu pun yang mengakui keterlibatan Robin dalam kerusuhan malam itu di proyek GL dan GK Investama. Ternyata berpredikat sebagai residivis tak membuat Robin jera.
Dari proyek di ibukota ia beranjak ke perbatasan pulau Sumatera dengan Selat Sunda. Tepatnya di bagian selatan Lampung. Proyek yang digadang-gadang akan dijadikan wisata besar mengusung konsep kawasan wisata terpadu yang terintegrasi dengan pelabuhan tersebut telah dimulai.
Ia menghadiri acara groundbreaking yang dibuka oleh menteri BUMN, Gubernur dan Bupati. Serta sejumlah rekan perusahaan yang memenangkan tender termasuk GL yang dipimpinnya.
Seremonial itu berlangsung hampir 2 jam lamanya. Tepat setelah makan siang ia kembali ke Jakarta. Kali ini ia menggunakan jalan darat. Menyeberang dengan kapal ferry cepat untuk sampai ke pelabuhan Merak.
“Pak, pembebasan lahan untuk proyek GL di Yogya sudah progress 60%,” lapor Toni.
Entah ide itu datang dari mana. Tiba-tiba saja ia ingin membangun real estate di sana. Setelah bertukar pikiran dan ide dengan sang ibu tentunya.
Rahayu merekomendasikan di daerah Kaliurang. Sebidang tanah warisan dari Eyang Noto untuknya. Tanah itu bahkan sudah Rahayu hibahkan menjadi 2. Untuknya dan Ganjar.
Lokasinya masih berhawa sejuk. Selain tidak terlalu jauh dari kota. Juga hawa kesejukan pegunungan masih terasa. Setelah sekali melihat lokasinya. Ia langsung tertarik.
Mungkin tahap pertama ia hanya akan membangun 20 unit tipe eksklusif modern. Terbatas. Real estate residensial itu nanti sepenuhnya ia dedikasikan untuk ibunya.
Ia juga punya mimpi dengan sebidang tanah yang akan dibangun untuknya sendiri yang tak jauh dari real estate yang akan dibangunnya. Rumah impian dan masa depan.
“Pak,”
Panggilan Toni menyadarkan pikirannya yang mengembara.
“Sorry, Ton. Aku mau jalan-jalan sebentar.” Ia beranjak dan meninggalkan asisten pribadinya tersebut. Padahal Toni hendak melaporkan progress kerja lainnya.
Ia memilih ke atas bagian anjungan kapal. Menatap hamparan laut di hadapannya dengan kacamata hitam. Tak lupa topi hitam yang melindungi kepalanya dari sengatan matahari.
Hanya beberapa orang yang terlihat di sana. Mengabadikan dengan berswafoto. Mungkin juga cuaca menjadi penyebab para penumpang enggan. Ditambah lagi bola raksasa dunia itu masih menyengat kulit.
Tangan kanannya menggenggam ponsel sedari tadi saat keluar dari mobil. Nama Gemalanya Ru yang dilihatnya.
Kontak bergambar gadis cantik sedang menatap sunrise di pantai. Yogyakarta. Di mana ia mencium pertama kalinya gadis itu.
“Mala,” gumamnya.
Perlahan ia menggeser tombol panggilan. Meletakkan ke bagian sisi telinga kanan.
“Hai,” sahutnya saat panggilan itu tersambung.
“Hem,” terdengar balasan malas dari ujung sana.
“Siang, Honey. Maaf—”
“Di sini petang. Hampir malam,” ketus Mala.
“Ups, maaf. Aku lupa di sana lebih cepat. Aku lagi—”
“Kalau sibuk jangan maksain. Toh juga seminggu gak ngubungi gak pa-pa, kan?!”
“Hon, aku—”
Terdengar decakan dari Mala.
“Sorry, aku lagi di atas kapal. Mau menyeberang ke Merak. Pemandangannya bagus, Hon. Kapan-kapan kita coba naik kapal ke sini. Ada teman aku punya resor di Pulau Pahawang. Bagus banget. Kapan-kapan kita coba ke sana. Atau, kita jadikan tempat honeymoon nanti. Gimana?”
Tak terdengar suara Mala dari seberang.
“Hon,”
“Aku takut Gunung Krakatau meletus,” sembur Mala masih kesal.
Ia terkekeh mendengar Mala mengulas alasannya. Lucu menurutnya. “Gunung itu jauh. Tidak akan sampai ke Pahawang.”
“Aku gak mau ke pantai. Akhir-akhir ini gempa juga tsunami.”
“Oke ... oke. Kamu mau ke gunung?”
“Tidak juga gunung. Banyak gunung meletus.”
“Terus kamu maunya ke mana?”
Hening.
“Aku tidak mau ke mana-mana.”
Ia mengembuskan napas. Mengelap cucuran peluh yang mulai membasahi wajahnya. Menyandar pada railing pembatas yang terbuat dari besi.
Kapal bergerak membelah lautan. Goyangannya tak terlalu terasa. Tapi membuat hatinya mencelus kala gadis itu kecewa terhadapnya. Ya ... mungkin andilnya juga.
“Oke, nanti kita akan menghabiskan di rumah saja. Masak. Tidur. Nonton. Makan. Tidur lagi. Kayaknya ide yang bagus,” seringainya. Meski gadis di ujung sana tak melihatnya.
“Terserah kamu,”
Sambungan telepon itu diputus Mala. Ia menghela. Memang wajar Mala marah padanya. Bahkan ia sendiri juga marah dengan kondisinya sekarang.
Namun 10 menit kemudian nama Gemalanya Ru berpendar di layar.
Bibirnya tertarik ke atas.
“Ya, Hon ....”
“Hai ... gue Gayatri,” sahut suara dari seberang. Ia mengernyit. “Mala lagi ngambek. Sabar, ya ... biasa,” suara kakak Mala itu lirih.
“Kakak!!” terdengar suara Mala berseru. “Kenapa telepon Ru gak bilang-bilang!” dengus Mala kesal lalu menyerobot ponselnya.
“Ru, are you still there?”
Ia berdehem. “Are you still sulky?”
Hening menyelimuti.
“Ya,” keduanya menjawab bersamaan.
Hening kembali.
Lalu terdengar gelak keduanya.
Ia berdecak, “Sorry Hon, aku benar-benar sibuk. Aku lupa balas chat kamu. Lupa kalau ada janji buat telepon kamu balik. Lupa—”
“It’s okay ... sekali nasty kamu tetap nasty.”
Ia berdecak, “Okay ... nasty yang ngangenin, yang ganteng, yang segalanya,” pujinya pada diri sendiri.
“Ya ... ya ... up to you.”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏