
...72. Beauty is in The Eye of The Beholder...
Gemala
“Kenapa gak pernah tertarik?” Penasaran dengan jawaban suaminya. Bukankah sudah tidak rahasia lagi jika para lelaki merupakan makhluk visual yang menyukai keindahan. Terutama kecantikan kaum hawa.
Apa mata Garuda belekan?
Ah ... mustahil.
Bahkan menurut studi kasus yang pernah ia baca bahwa karakter lelaki tersebut tidak akan padam meskipun sudah terikat hubungan resmi dengan pasangannya. Buktinya banyak kasus terjadi. Perceraian akibat perselingkuhan.
Garuda menghentikan buggy car di teras depan. Masuk ke dalam rumah tanpa menunggunya.
Ia menggerutu kesal. Pertanyaannya belum juga dijawab. Tapi, seolah-olah laki-laki itu tak peduli. Padahal semua wanita butuh kepastian. Butuh kejelasan.
Tujuannya bukan menghampiri Ru yang tengah menelepon sembari mengambil air minum dari dalam lemari pendingin. Melainkan masuk ke kamar.
Percuma pikirnya.
Lebih baik ia membereskan pakaian mereka. Entah kenapa tadinya rencana pulang sore, mendadak ia majukan. Kalau bisa secepatnya. Berada satu pulau dengan ... dengan wanita itu membuatnya gerah.
“Pulang sekarang?” tanya Ru yang baru masuk. Melihatnya mengemasi pakaian ke dalam koper.
“Katanya sore,” imbuh Ru. “Gak jadi mau lihat penangkaran hiu sama penyu?”
Ia bergeming.
Ru menghempaskan tubuhnya ke kasur. Melipat kedua tangan menjadi bantalan. Menatap langit-langit plafon.
“Kalau gak jadi aku mau tidur dulu. Bangunin setengah jam lagi,” pesan Ru sambil memejamkan mata.
Helaan dan embusan napasnya kentara. Ia pikir laki-laki yang menyandang status suaminya itu akan peka. Nyatanya ....
Tepat setelah makan siang mereka memutuskan untuk kembali pulang. Selama perjalanan hanya sesekali ia menjawab. Jika Garu bertanya. Lebih banyak menikmati pemandangan di bawah sana. Hingga heli tersebut mendarat sempurna di atas gedung TG.
Pun, selama mobil melaju membelah jalanan protokol yang lancar tanpa kendala. Sampai-sampai tiba di apartemen lebih cepat dari biasanya.
Bi Yati menyambut kedatangan mereka. Memberi kabar bahwa Wu dua hari ini sakit.
“Wu?”
“Burung kesayangan Pak Torrid,” sahut Yati.
“Nanti malam kami ke sana, Bi.” Ru menukas dan langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya.
...***...
Garuda
Begitu membuka pintu, Toni sudah menunggunya di dalam.
“Gimana?” tanyanya. Ia menghempaskan pantatnya kasar di kursi kerjanya.
Toni yang awalnya duduk di sofa berpindah, duduk di depannya.
“Anda terlihat lelah, Pak.” Toni menatapnya.
Ia mengerutkan kening.
“Apa sebaiknya kita membahas ini nanti saja setelah Bapak beristirahat. Wajah Bapak juga tampak pucat,” imbuh Toni.
Ia menyapu wajahnya. Merasa baik-baik saja. “Lanjutkan, aku tidak apa-apa. Mungkin hanya lelah.”
Toni mengangguk. “Salim meminta pelunasan secepatnya, Pak. Melalui Robin.”
Sudah diduga. Pasti Salim atau Li akan terus mendesaknya. “Berapa yang dimintanya?”
“Selama beberapa tahun semenjak kematian Ibu Meylan, hutang-hutang itu terus berlipat ganda sesuai bunga yang disepakati dua belah pihak. Di sini ...,” Toni menggeser amplop berwarna cokelat lebih dekat dengannya. “Rincian hutang-hutang berserta bunga.”
Ia meraih dan membuka amplop tersebut. Merogoh isinya. Ada beberapa kuitansi bermateri yang ditanda tangani Meylan. Lalu ... ada 3 lembar berkas perjanjian yang juga bermeterai. Terdapat nama Meylan sebagai pihak pertama. Sementara Salim Pangestu sebagai pihak kedua pemberi pinjaman. Disertai saksi-saksi. Dan klausul-klausul kesepakatan antara pihak I dan II.
Ia memejamkan mata. Sialan! Namanya tercantum di sana sebagai penjamin pihak I.
Tangannya mengepal kuat meremas salinan berkas yang digenggamnya. Giginya mengetat menahan geram dan kesal sekaligus. Selama ini memang Meylan selalu bersikap manis terhadapnya. Namun, ternyata ... semua ada alasannya.
“Setelah dihitung beserta total bunga selama ini. Dana yang dipinjam Ibu Meylan mencapai 20 M, Pak.”
Ia menggeleng.
“Saya rasa memang inilah momen yang ditunggu Salim. Bos besar tersandung masalah dan sakit. Sebab menurut informasi, Salim takut dengan Pak Torrid. Beberapa kali berhadapan dengan beliau, Salim kalah. Dan sepertinya memang Ibu Meylan sengaja membawa nama Anda menjadi penjamin. Bukan Pak Torrid, Pak Maleo maupun Pak Atat. Mungkin ....”
Ia mengangkat tangannya, menginterupsi. Melarang Toni untuk berbicara lebih banyak. Lalu mengibaskan tangan.
Toni mengangguk. Mengerti bahwa dirinya harus keluar dan membiarkan atasannya itu sendiri.
Ia kembali menyapu wajahnya kasar. Memijit pangkal hidungnya.
“Satu hal yang perlu kamu tahu. Mamimu tidak pernah menyayangimu dengan tulus. Mamimu hanya berusaha mengalihkan perhatianmu. Membalas sakit hatinya pada Rahayu lewat kamu, dan aku baru menyadari jika Meylan telah berhasil mempengaruhimu.”
Embusan napasnya berat dan kasar. Ia berdiri dan menghampiri lemari kaca. Membukanya tanpa melihat.
Sialan ... baru menyadari ketika isi lemari itu telah berubah.
Foto-foto mereka. Saat Mala tertawa, berada di tengah-tengah anak rimba. Saat mereka di Yarra cruise. Foto pernikahan yang sederhana. Saat ia memasukkan cincin ke jari manis istrinya, mengecup keningnya dan ... foto-foto candid yang justru terkesan lebih bagus serta natural.
Sudut bibirnya melengkung ke atas.
Rasa ingin mengonsumsi minuman yang juga dikenalkan Meylan lenyap dalam sekejap.
“Kenapa aku bodoh. Tidak menyadarinya,” gumamnya menyesal.
Ia meminta Toni untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Tiba di sana ia langsung menuju ke sebuah bangunan dengan gaya arsitektur yang khas.
Menatap bangunan tersebut tanpa melakukan kebiasaan yang dilakukannya selama ini. Selama 7 tahun belakangan ia kerap mengunjungi setahun 2 kali. Membawakan bunga kesukaannya beserta hio yang akan dibakar setelahnya.
Kali ini.
Tatapannya menghunus tajam pada bongpay yang terbuat dari marmer. Meylani Lau dengan tulisan kanji China di sebelahnya.
“Kamu sudah puas?”
“Puas memperalat diriku,”
“Menipuku ... manis di depanku. Bahkan tega mempengaruhiku untuk membenci ibu kandungku sendiri. Kamu puas, hah!?” giginya gemeletuk menahan amarah.
Tangannya yang berada di bawah mengepal kuat. Hingga buku-buku jarinya tampak memutih.
“Aku tidak akan lagi memanggilmu mami. Bahkan julukan yang cocok buatmu wanita iblis,”
“Kematianmu masih saja menyisakan masalah buatku. Apa ini yang kamu mau?”
Ia meluapkan kekesalannya, kemarahannya. Juga kebodohannya.
“BODOH!! Aku tidak akan melunasi hutangmu itu. Kamu dengar? Aku tidak sudi mengeluarkan sepeser pun untukmu.”
Netranya menangkap ada bekas rangkaian bunga di meja persembahan. Mungkin Maleo atau Atat yang belum lama berkunjung ke sini.
Ia bergegas meninggalkan memorial park khusus etnis Tionghua tersebut. Setahunya memang Meylan kembali menganut kepercayaan leluhurnya. Entah sejak kapan. Bahkan teman-teman komunitasnya yang menginginkan wanita itu dimakamkan di sini.
Tiba di apartemen ia melihat Mala tengah tertidur lelap. Setelah keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Mala. Menghidu surai panjang milik istrinya yang beraroma wangi, segar dan ia suka. Lalu merengkuhnya.
“Kamu tahu, cantik saja tidak cukup bagiku. Tapi pesona daya tarik itu yang membuatku jatuh hati padamu. Kamu menentramkan. Membuatku nyaman,”
Ia kembali menghidu kepala Mala. Kali ini cukup lama. Bahkan matanya memejam hanya sekedar untuk meresapi emosi yang menyelimutinya.
“Beauty is in the eye of the beholder (kecantikan itu ada pada mata yang melihatnya—subyektif),” lirihnya. “Dan kamu cantik di mataku. Melebihi apa pun.”
“Buat apa cantik kalau suka diobral dan dijadikan objek banyak mata pria. Murahan.” Urainya. Ia memang dari dulu tidak suka wanita yang suka mengobral kecantikan. Apa lagi Suri. Model yang wara-wiri berpakaian seksi. Para pria dengan begitu mudah menyentuh tubuhnya.
Ia mendekap erat Mala. Perlahan memejamkan mata yang memang lelah butuh diistirahatkan.
“Is that true?”
Keningnya berlipat matanya terbuka kembali, “Kamu belum tidur, Hon?”
Mala memutar tubuhnya. Berusaha menahan senyum ... dengan pipi merah merona.
Garu menggesekkan cuping hidung pada keningnya. “Kamu pura-pura tidur.”
“Apa yang kamu bilang tadi benar?” desak Mala.
“Yang mana? Bukankah kamu katanya tidur. Kok bisa dengar aku bicara.”
Mala tampak ter geragap—ketahuan berbohong. “Aku,”
Ia menipiskan bibirnya.
“Maksud aku, aku dengar kata-kata kamu yang terakhir,” kelit Mala.
Alisnya terangkat sebelah, “Yang terakhir?”
Mala mengangguk.
“Yang mana. Aku sendiri lupa.”
“Em ... yang ‘beauty is in the eye of the beholder’.”
Ia tertawa lepas.
Istrinya mendesis, “Apanya yang lucu!”
Mata mereka bertumbukan sejenak. Ia menatap impulsif Mala. Bahkan gerak kedip mata dengan iris cokelat gelap tak luput dari pengawasannya. Pun, embusan serta helaan napasnya tak sedikit pun terlewatkan.
Istrinya salah tingkah.
“Artinya ... kamu dengar dari awal aku bicara. Jadi,” ia sengaja menggantungnya. Matanya memberi kode isyarat—untuk jujur.
Hening menjeda sejenak.
“Oke ... oke. Aku memang mendengarmu ... dari sejak masuk kamar,” aku Mala dengan intonasi di akhir kalimat yang lirih.
Ia terkekeh ringan kemudian berdecak, “Kita tidur dulu. Nanti baru ke rumah papi.”
Mala lekas menyanggah, “Apa yang tadi benar?! Lagian aku gak ngantuk. Aku sudah tidur.”
“Ssttt ... aku ingin tidur ditemani. Sebagai hukuman karena kamu sudah berani berbohong.”
“Ta—”
Ia mencium bibir yang tidak bisa diam itu, “Ssttt!”
Gemala mengembuskan napas. Terpaksa menuruti kata laki-laki itu. Kembali memejamkan mata meski terasa paksa. Akan tetapi suara dengkuran halus dari laki-laki yang mendekapnya pada akhirnya menularkan kembali rasa kantuk padanya.
Kendati menurut teori dan penelitian tidak ada hubungan yang dapat dipertanggungjawabkan tentang kantuk yang menular. Tapi, entah mengapa mitos tersebut seolah-olah benar. Padahal yang terjadi mungkin hanya karena rasa empati belaka.
...***...
Gemala
Ini kali pertama ia menginjakkan kaki di rumah papi. Rumah yang tidak begitu besar, namun dengan halaman luas. Baik halaman depan, samping maupun belakang.
Garu langsung mengajaknya ke teras belakang. Belum juga mereka sampai di teras sudah disambut dengan sipongang berbagai cuitan burung.
“Wu sakit, Pak.” Petugas yang khusus merawat hewan-hewan peliharaan papi itu melaporkan. “Sudah 2 hari,” imbuhnya.
“Kamu sudah panggil dokter?” tanya Ru.
Pria itu mengangguk, “Menurut dokter yang biasa kesini, Wu mengalami preening. Bisa karena frustrasi, sehingga beberapa hari ini juga makannya kurang. Tidak aktif seperti biasanya.”
Mereka tiba di depan kandang Wu. Burung itu bertengger. Tampak lesu dan tak bersemangat seperti biasanya.
“Wu, are you okay?” tanya Ru. Memberikan makanan kesukaan burung tersebut.
“Rrrrr ...,” burung itu tak berminat mengambil makanan dari telapak tangan Garuda. Bertengger dengan satu kaki. Mencabuti bulu-bulunya sendiri.
“Selamat datang ... makanlah,” Ru menyodorkan telapak tangannya. Lebih dekat.
Wu tak bergairah. Tetap saja mencabuti bulunya. Tak acuh, dengan keberadaan mereka.
“Apa kata dokter?” tanya Ru.
“Bisa jadi memang Wu kesepian, Pak. Sebab setiap hari Wu selalu bermain dan berinteraksi dengan Pak Torrid. Tapi semenjak,” pria itu menjeda. Tak berani melanjutkan. “Kata dokter, disuruh menyarikan pasangan untuk Wu.”
Garuda menyahut, “Kamu carikan secepatnya pasangan untuk dia.”
Pria tersebut undur diri setelah diberikan perintah.
“Burungnya cantik. Apa mungkin dia kehilangan papi dan merasakan kondisi papi,” lirihnya.
Ru mengangkat bahunya. “Kita pulang,”
“Eh, kok pulang.” Ia terpaksa mengikuti langkah Garu yang menggandengnya. Baru sebentar pikirnya, belum sempat melihat koleksi burung yang lain. Padahal ingin sekali melihat burung-burung lain dan mendengar suara merdu mereka layaknya di sebuah hutan sebagai habitat aslinya.
“Kamu mau menginap di sini?” tanya laki-laki itu.
Ia menggeleng.
Mobil yang membawanya meninggalkan kediaman Torrid. Melaju dengan kecepatan sedang.
Ia melongok layar ponsel Ru yang berpendar. Bi Yati calling ....
“Ya.” Ru sengaja me-loudspeaker.
Suara Yati terdengar jelas. “Pak, Wu ...."
“Wu, kenapa lagi?”
“Itu ... Wu, baru saja mati.”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏