If Only You

If Only You
92. Familiar and Intimate



...92. Familiar and Intimate...


Gemala


Suara ketukan pintu terdengar, ia menoleh ke samping. Sementara Ru sedang berada di kamar sebelah yang terhubung dengan pintu.


“Mala, ada telepon dari Rei.” Ganisha menyodorkan telepon genggam miliknya yang masih terhubung dengan suara seberang pada adiknya.


“Rei, kita ubah video aja, ya?” pinta Ganisha. Sambungan  berubah menjadi video call.


“Halo, Mala.” Rei tampak melambaikan tangan dengan tersenyum sambil memangku Gry. "Congratulations on your wedding ... I am so happy for you. Kamu cantik banget, Mal.” Rei meraih tangan Gry lalu mengajaknya melambaikan tangan keduanya, “Auntie Mala ... selamat, ya. Maaf kami gak bisa ikut ke sana, adik Gry lagi manja. Benar-benar buat aku gak bisa aktivitas,” keluh Rei.


“Thank you, Mbak Rei. Kedatangan Mas Danang sama Tala sudah mewakili. Meski berasa masih ada yang kurang.”


Ganisha ikut bergabung di layar, “Sudah berapa minggu, Rei?”


“Jalan 9. Kemarin waktu ketemu Mala, masih enakan. Sekarang tiap pagi muntah. Gak bisa buat aktivitas. Mana Gry dan Tala anaknya aktif.”


“Sabar, Rei. Ada masanya, sebentar lagi masuk trimester 2 pasti lebih berkurang. Take care ya,” pungkas Ganisha.


“Terima kasih, Mbak Nisha.”


“Mbak Rei, sehat selalu ya, gemessh lihat Gry. Pengen cubit,” ujarnya geram.


“Oke, Mala. Sekali lagi selamat ya. See you auntie ... mmuaah,”


“Mmuaah ... bye.” Ia melambaikan tangan. Lalu menyerahkan ponsel pada Ganisha.


“Sudah siap?” tanya Nisha pada make up artist yang tengah merombak sedikit dandanannya.


“Ready,” sahut sang MUA.


“Oke. Sebentar lagi keluar. Aku mau nyari  Siren dulu. Tadi ngambek mau ngajak papanya berenang,” urai Nisha beranjak meninggalkannya dirinya.


“Honey, ada telepon dari Nayla.” Ru datang menyerahkan ponsel miliknya. “Dari tadi bunyi,” imbuhnya.


Wajahnya bergairah. Sahabat selama kuliah di Melbourne akhirnya menghubunginya. Meskipun beberapa hari lalu sudah mengabari jika tidak bisa datang. Ia sengaja menyetel mode suara loudspeaker.


“Assalamu’alaikum,”


“Wa’alaikumsalam,” sahutnya yang masih duduk di kursi rias. MUA telah pergi baru saja. Dan Garuda berdiri di belakangnya. Menatap cermin yang menampilkan bayangan mereka. Saling tatap melalui kaca, lalu melempar senyum.


“Mala, congrats on the marriage. May the joy you feel today last a lifetime. (Mala, selamat atas pernikahannya. Semoga bahagia yang kalian rasakan hari ini bertahan seumur hidup)”


“Thank you, Nay. I miss you so much,” sahutnya.


Ru mengusap-usap bahunya. Ikut mendengarkan percakapannya dengan Nayla.


“Miss you too. Sorry, I tidak bisa ke sana. You know ... padahal saya ingin datang.”


“Aku mengerti kondisimu, Nay. Doa dari kamu lebih dari segalanya.”


“Of course! Saya juga doakan kamu lekas menyusul. Punya baby ... biar kita reuni bisa bawa baby sama-sama.”


Ia mengulas senyum. Garuda mencium puncak kepalanya. Mereka terpaksa mengakhiri obrolan sebab harus kembali ke wedding venue untuk acara gala dinner bersama tamu undangan.


Memang wedding dress malam ini sedikit berbeda. Garuda yang memilihkannya. Long sleeve vintage wedding dress menjuntai menyapu lantai. Model kerah-V serta tatanan rambut sanggul modern updo dengan aksesoris mutiara. Sedangkan laki-laki itu mengenakan jas hitam setelan tuksedo. Terdiri dari kemeja putih, rompi hitam, dasi kupu-kupu beserta ikat pinggang dan sepatu yang senada.


“Auntie so beautiful, like princess.” Siren yang berjalan di depan mereka berucap sambil sesekali menoleh ke belakang.


“Thank you so much, Siren sayang.”


“Hush! Lihat jalan,” Juna memprotes.


“Juna,” sela Ru. “Besok sebelum pulang tanding dulu sama Om, ya.”


“Ah, Om pasti capek. Besok pasti sibuk,” tangkas Juna ketus.


“Om janji, sebelum pulang kita tanding. Nanti Om ajak yang lain.”


“Janji?”


“Deal. Tos dulu donk!”


Juna dan Garu melakukan tos. Ia mengetatkan tangan yang mengapit lengan kiri Garuda.


Tiba di venue, laki-laki itu mengajaknya berdiri di panggung sebentar. Memberikan kata sambutan dan mengajak untuk menikmati makan malam bersama.


Suasana penuh familiar and intimate. Sesuai konsep yang kemarin diminta. Tiba acara couple dance. Pasangan diundang ke lantai dansa untuk menari bersama dengan kedua mempelai.


Garuda mengayunkan tangan sambil membungkuk dengan tangan kiri dibalik punggung untuk memintanya naik ke lantai dansa. Lagu Ellie Goulding (How long will I love you) mulai mengalun.


...How long will I love you (berapa lama aku akan mencintaimu)...


...As long as stars are above you (selama bintang-bintang ada di atasmu)...


...And longer if I can (dan lebih lama lagi jika boleh)...


Getaran kebahagiaan pelan menjalari aliran darahnya. Ru memandangnya tanpa kedip. Melukis senyum untuknya.


“Thank you, Honey. Terima kasih karena mau menerima aku apa adanya. Mencintaiku tanpa syarat. Bersamaku meski aku tidak sempurna,” ucap Ru.


“Kamu, bidadari buatku. Yang tulus memberikan cinta untukku. Mau berkorban untuk terus mencintaiku. How can I repay for that? Yang terus bisa aku lakukan hanya mencintaimu dan memberikan apa yang aku punya.”


Desiran asing menyelinap, menatap laki-laki itu dengan berbinar. “I love you,” balasnya.


“I love you more.”


...How long will I want you (berapa lama aku akan menginginkanmu)...


...As long as you want me too (selama kamu juga menginginkanku)...


...And longer by far (dan lebih lama lagi)...


Diikuti beberapa pasang yang turun ke lantai dansa. Mama dan papa. Ganisha dengan Mas Abhi. Ganjar-Gayatri, Maleo dan istrinya. Davin dengan Mely. Dan beberapa pasang dance yang turut memeriahkan.


Ia bergantian pasangan dengan papa. Sementara Garu dengan mama.


“Makasih, Pa.”


“Terima kasih ... Papa merestui kami. Mengabulkan permintaan Mala,” ujarnya.


“Sudah seharusnya sebagai Papa melakukan itu. Untuk membahagiakan anaknya. Itu tugas Papa.”


“Ini hadiah terbesar buat Mala.”


Papa tersenyum dengan mata berkaca, “Mala ... kamu anak Papa yang terakhir. Sedari kamu kecil Papa telah menjauhkan kamu. Maaf kalau tindakan Papa waktu itu salah. Egois. Mungkin pandangan orang-orang Papa tega menjauhkan kamu dari mamamu. Masa-masa sulit kamu lewati sendirian. Maafkan, Papa.”


Ia menyandarkan kepalanya ke dada papa. Papa merengkuhnya erat.


“Mala tidak pernah marah soal itu. Pernah kecewa tapi sebentar. Mala sadar, Papa melakukan itu karena punya alasan. Dan ternyata alasan-alasan itu membuat Mala menjadi seperti sekarang.”


“Apa Papa bahagia dengan pilihan Mala?” ia mendongak menatap Imam.


“Selama kamu bahagia, Papa dan mama juga bahagia.”


...***...


Gayatri


Di saat bersamaan Ganjar dan Jebe menawarkan untuk mengajaknya berdansa. Awalnya ia bingung menerima uluran tangan yang mana. Namun pada akhirnya ia memilih Ganjar.


Sementara Jebe berpasangan dengan ... ah, sepertinya gadis yang tadi sore dipanggil ke panggung karena menerima bouquet toss.


Tak jauh dari mereka Max dan calon tunangannya. Lalu Toni dengan ... Desti. Ya, Desti. Entah sejak kapan Toni kenal dengan teman Gemala tersebut.


“Bagaimana dengan penawaranku kemarin?” tanya Ganjar.


Ia tersenyum samar. Berulang kali berpikir. Tapi belum menemukan jawaban yang memenuhi kepastian hati.


“Tidak ada yang salah,” sela Ganjar.


“Ya, memang. Tapi lucu aja.”


Ganjar tampak menghela napas, perjalanan cintanya sepertinya harus melalui aral. Pernah kehilangan orang yang begitu diharapkan namun nyatanya ia terlambat sebab pernah melepaskan tanpa kejelasan. Membuatnya sedikit waspada.


“Bagaimana kalau kita jalani kedekatan ini sementara waktu. Jika memang berjodoh pasti kita akan lebih didekatkan lagi. Tapi kalau tidak, Tuhan pasti punya rencana lain.” Ia pernah berhubungan dengan 3 laki-laki sebelumnya. Dan ketiganya gagal di tengah jalan. Di usianya sekarang memang sudah sepantasnya berumah tangga. Namun ia tidak ingin gegabah. Pengalaman gagal bersama Richard yang hampir menikah membuatnya semakin lebih selektif.


“Oke, jika itu maumu.”


...***...


Garuda


Satu jam yang lalu pesta telah usai. Kini keduanya telah kembali ke vila. Mala yang keluar kamar mandi sudah berganti pakaian tidur. Menatapnya sejenak. Bertepatan dengan sambungan telepon yang mati.


“Hon, aku pergi sebentar. Kamu gak pa-pa, aku tinggal?”


Gemala menggeleng.


Ia melepas kemejanya yang tadi belum sempat ditanggalkannya. Mala menghampirinya, “Mau ke mana malam-malam begini?”


Ia mencium pipi Mala. Meletakkan kemeja asal dan memakai kaos santai, “Baru saja Maleo telepon. Aku disuruh ke vila Atat. Tidak lama.”


“Apa ada hal penting?” tentu saja Maleo memanggil suaminya pasti ada hal urgen. Apalagi malam sudah hampir berganti.


“Aku tidak tahu. Istirahatlah,” ia kembali mencium kening istrinya. Mengusap kepalanya. “Love you,” pungkasnya dan beranjak pergi.


Toni menunggunya di ruang tengah. “Kita ke vila Atat,” ujarnya. Setelah tadi Maleo menghubunginya. Ia langsung menelepon Toni. Meminta sekretarisnya tersebut menemaninya ke sana. Pasti ada hal yang urgen. Sebab dari nada bicara Maleo terdengar berbeda.


Toni memarkirkan buggy car di teras depan. Dengan gerakan cepat ia membuka pintu dan langsung masuk. Tampak Vivi menangis tengah ditenangkan Sandra. Sementara Maleo sedang menghubungi seseorang. Apa yang terjadi?


“Ru,” Sandra mengetahui kedatangannya.


“Ada apa, Kak?” tanyanya. Toni yang baru datang langsung terhenti memaku ketika melihat suasana memang tidak biasanya.


“Ru, kamu sudah datang?” Maleo muncul dari ruangan sebelah. “Atat kena tangkap.”


Ia mengerutkan alis. Begitu juga Toni yang berdiri tak jauh dari mereka.


Maleo menyapu wajah. Vivi masih terisak seraya menunduk dalam rengkuhan Sandra.


“Atat terjaring polisi. Dicurigai sedang pesta narkoba di apartemen Suri.”


Ia ikut mengusap wajahnya. Mengembuskan napas kasar, “Berapa orang? Apa hasilnya positif?”


“Aku baru saja ditelepon pihak polisi. Hasilnya positif Atat memakai narkoba. Dan semua orang yang tertangkap sekarang dibawa ke Polres Metro Jakarta Selatan. Ada sekitar 5 orang,” tangkas Maleo. Menghempaskan tubuhnya di sofa.


“Sudah hubungi lawyer?”


Maleo mengangguk.


Ia tahu Atat tidak menghadiri undangannya. Bahkan menurut pengakuan cerita Vivi justru Atat pergi ke Bali 3 hari yang lalu karena ada pertemuan dengan beberapa klien di sana. Dan ia mengecek kebenaran posisi Atat. Bahwa benar kakaknya itu berada di Bali. Tapi ia tak menyangka, jika ... Atat bisa tertangkap ikut mengonsumsi Narkoba.


Ia memijit pangkal hidungnya. Cobaan apa lagi ini?


“Vi, apa kamu pernah menangkap basah Atat memakai barang itu?” tanya Maleo.


Vivi menggeleng. Menunduk dalam. Sesekali menyeka air matanya. Sandra mengusap-usap punggung adik iparnya tersebut.


“Apa keputusan kamu, Vi?” imbuh Maleo.


“Mas, Vivi butuh untuk menenangkan pikirannya,” sergah Sandra. “Pikiran sedang kalut begini mana bisa memutuskan suatu masalah. Yang ada malah tambah kacau. Lebih baik Mas Maleo sama Ru selesaikan ini segera. Kalau bisa Atat cukup direhabilitasi. Aku yakin Atat hanya salah pertemanan. Dan perubahan Atat akhir-akhir ini karena barang itu,” urai Sandra.


“Baiklah, besok pagi kita akan urus melalui lawyer. Malam ini kita istirahat. Apa sudah masuk media?” tanya Maleo entah ditunjukkan ke siapa.


Toni menukas, “Saya kira belum, Pak.” Tangan Toni sibuk mencari informasi pemberitaan mengenai tertangkapnya Atat dan 4 orang lainnya di handphone. “Tapi saya ragu,” jeda Toni. “Pak Atat tertangkap bersama Suri. Otomatis—”


“Ya, aku tahu. Berita ini besok pagi pasti langsung terblow up. Karena Suri seorang public figure. Bagaimana caranya agar tidak masuk berita,” timpal Maleo.


Ia menggeleng. “Sulit.”


“Vi,” Sandra menyergah kala melihat Vivi membungkam mulutnya lalu beranjak dan melesat ke kamar mandi. Mengeluarkan semua isi perutnya di sana. Sandra ikut menyusul dan membantu memijit tengkuk Vivi.


“Mas, tolong ambilkan minyak kayu putih di kotak obat!” seru Sandra.


Ia ikut bangkit. “Ton, kamu hubungi orang kita. Kenapa laporan mereka tidak ada memberitahukan Atat sudah berada di Jakarta.”


“Baik, Pak.”


“Satu lagi.” Langkahnya terhenti. “Panggil Max untuk memeriksa Vivi.” Ia menuju buggy car dan duduk di sisi kemudi.


Toni masih termangu di tempat.


“Ton,” panggilnya ketika sekretarisnya tersebut lambat bergerak. Padahal Toni tengah menghubungi Max. Sayangnya, panggilan teleponnya tak juga diangkat oleh Max.


“I-iya, Pak. Pak Max tidak mengangkat teleponnya,” kilah Toni mengendarai buggy car meninggalkan vila Atat.


“Ke vilanya. Kamu gedor pintunya sampai bangun. Begitu saja harus diajari,” ketusnya.


Masalahnya Max 1 vila dengan calon tunangannya. Bagaimana jikalau mereka sedang ...


Ia menoyor kepala Toni, “Pikiran lo digosok pakai detergen Ton.”


Hah!


“Eh, pasangan dansa lo tadi boleh juga, bukannya itu teman Mala?” tanyanya penasaran. “Lo, gak mengejar Suri lagi?” cibirnya.


“Desti, Pak. Dia yang minta saya naik. Padahal saya gak mau. Tapi demi tidak mempermalukan dia, saya terpaksa menemaninya."


“Cih, snobby lo.”


Toni tergelak ringan, “Suri sudah lama saya black list. Ternyata perilakunya seperti bapak bilang, Suri bukan teladan. Pantesan Bos Jebe dan Bapak tidak mau sama dia. Saya pikir orangnya cantik bisa dijadikan gebetan dan masa depan. Nyatanya, cukup dipandang saja ... tapi tidak bisa dijadikan pendamping,” pungkasnya.


Ia menoleh pada Toni. Pendamping?


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ...


 


 


 


 


... ...