
...52. Asal Kamu Tetap di Sampingku...
Garuda
“Ka-kamu?”
“Mala mana?”
“Mala,” ia tampak kebingungan.
Gayatri berdecih. “Dia kekeh nyusulin kamu ke sini. Padahal kondisinya lagi gak fit.” Gayatri kesal pasalnya ia tak menemukan adiknya. Malah laki-laki yang dicari Mala juga tidak tahu posisi adiknya. Ia merogoh ponsel dalam saku coat-nya.
Tambah kesal karena, “Gak aktif,” ucap Gayatri. Beberapa kali ia menghubungi adiknya. Kemudian menukas, “dia lagi sakit. Kamu tahu gak? Tadi pagi demam. Belum sempat makan. Hanya ingin bertemu kamu sebelum kamu balik Jakarta.”
Ia tak bisa lagi berkata.
Sementara Gayatri pergi berlalu saja.
“Aku ikut,” tukasnya. Rasa bersalah kembali menggelayuti. Sakit? Gemala sakit? Apa semua karena dirinya.
Mereka masuk ke dalam mobil. Gayatri berusaha kembali menghubungi Mala. Tapi nihil.
“Kira-kira dia ke mana?” tanyanya khawatir.
“Bentar,” Gayatri teringat kalau sang adik punya sahabat. “Nayla. Ya, pasti ke tempat Nayla.” Ia langsung menghubungi Nayla.
Terdengar nada sambung. Dan pada dering ke-3 suara Nayla menyahut. Mereka berbicara sebentar. Kemudian sambungan terputus.
“Gimana?”
Gayatri menggeleng. “Dia gak ada di sana. Kita pulang saja,” putusnya. Sebab ia tahu Gemala tidak akan pergi jauh. Adiknya itu tidak suka pergi ke tempat-tempat hangout atau semacamnya. Apalagi kondisinya tengah sakit.
Tiba di rumah, Gayatri keluar lebih dahulu. Sementara dirinya menyusul kemudian setelah mematikan mesin mobil.
“Mal,” panggil Gayatri ketika membuka pintu. Tidak ada sahutan. Ia membuka pintu kamar adiknya perlahan. Tampak Gemala meringkuk mendekap tubuhnya sendiri, membelakanginya meski sudah bergelung dalam selimut.
Bergegas Gayatri mendekat dan melekatkan punggung tangannya di dahi Mala, “Panas. Kamu demam, Mal?!” ucapnya. Namun Gemala tak menyahut. Justru terdengar suara menggigil dari gumaman Mala.
Gayatri keluar sebentar mengambil air minum dan obat. Sementara ia membantu mengompres Mala. Lagi-lagi rasa bersalah menggulung perasaannya.
Ia membantu Mala meminumkan obat. Setelah itu menyelimutinya kembali. Gadis itu masih memejamkan mata. Bahkan mungkin kehadirannya tak diketahui sama sekali.
“Apa gak sebaiknya kita bawa saja ke dokter?” usulnya pada Gayatri. Ia juga tak ingin melihat Mala sakit. Apalagi disebabkan olehnya.
“Tunggu 1-2 jam. Kalau obatnya gak bereaksi baru kita bawa ke dokter.” Gayatri beranjak. Saat tiba di ambang pintu, “kamu sudah makan?” menoleh padanya.
Ia menggeleng.
“Makanlah dulu. Kamu harus tetap sehat. Sebelum menghadapi kenyataan,” ejek kakak kedua Mala tersebut.
Senyumnya samar mendengar kalimat Gayatri. Namun tak urung juga mengikuti sarannya.
“Boleh aku menunggunya di kamar?” ia meminta izin pada Gayatri setelah mereka menyelesaikan makan siangnya.
“Boleh. Tapi pakai syarat.”
Syarat apa pun tentu akan dilakukan. Semua demi menebus rasa bersalahnya.
Ia mengangguk.
Satu jam ke depan ia duduk di kursi di samping ranjang Mala. Menatap gadis itu yang masih terlelap. Dengan gurat wajah pucat dan kuyu.
Adalah dirinya penyebab Mala jatuh sakit.
Ia beralih duduk di tepi ranjang. Meraih tangan Mala lalu mengusapnya, “I’m so sorry ....” Mencium punggung tangan gadis itu dengan hati-hati penuh kelembutan.
“Aku gak akan ngebiarin kamu berjuang sendiri. Kita akan sama-sama melaluinya. Thank you for loving me ... xìe xie ni de ai,” ia kembali mencium punggung tangan yang lemah itu. Meletakkannya perlahan.
Rasa kantuk sepertinya menular padanya. Hampir dua jam ia menunggui Mala. Akhirnya ia memilih merilekskan tubuhnya di sofa. Setidaknya ia masih di dekat gadis itu. Kalau terjadi apa-apa ia lah orang pertama yang akan menolongnya.
Tidur dengan posisi duduk meluruskan kaki sama tinggi dengan bantuan kursi bulat. Ia siap memasuki ruang mimpi.
Namun ia melihat Mala duduk mendekap kedua kaki dengan tatapan lurus. Tampak seperti nyata.
Ia mendekati gadis itu. Dan tanpa aba merengkuhnya dari belakang, “Maafin aku,” bisiknya.
Mala tak merespons.
“Aku akan memperjuangkan kamu.”
Lagi-lagi gadis itu terdiam.
“Aku tahu ... telah membuatmu sakit. Membuat kamu seperti ini. Maaf,” ujarnya. Sungguh rasa bersalah itu begitu besar.
Tak dinyana Gemala beranjak. Lalu berdiri dengan posisi masih membelakanginya. “Maaf, Ru. Maaf ... aku harus pergi.” Berlalu tanpa melihatnya.
“Mala, Mal ....” Panggilnya. Ikut berdiri. Namun gadis itu tetap berlalu menjauh tak memedulikannya.
Hatinya mencelus seketika.
Apa ini balasan yang Mala berikan? Meninggalkannya?
“Mala!” serunya.
Suara dering ponsel membuatnya segera terjaga dari tidurnya. Ia membuka mata dan menyapu wajahnya. Hanya mimpi. Lalu melihat nama yang berpendar di layar.
Peristiwa yang menyita psikisnya membuat lupa, bahwa siang ini harusnya ia kembali ke Jakarta. Panggilan tak terjawab dan pesan berjumlah belasan dari Toni dan Capt. Robby tak dihiraukannya.
“Ya,” sahutnya. “Cancel penerbangan. Nanti aku kabari lagi. Aku masih ada urusan.” Ia menutup panggilan sepihak. Bertepatan dengan netranya yang mengarah pada ranjang. Gadis itu?
“Mala,” ia bangkit. Menyibak selimut yang menutupi guling. Tidak ada Mala di sana. Ia melihat di kamar mandi, membuka pintu. Nihil. Juga tidak ada gadis itu.
Ia pun keluar kamar. Gayatri yang duduk di sofa ruangan tengah menunjuk ke arah teras belakang. Artinya gadis itu berada di sana.
Kakinya terhenti tepat di belakang Mala yang duduk setengah baring di kursi santai. Dengan jemari saling bertaut di atas perut. Mata menerawang, entah apa yang dipikirkan.
“Maaf, Ru. Maaf ... aku harus pergi."
Kalimat Mala yang berada dalam mimpinya barusan berbayang. Apakah gadis itu akan meninggalkannya?
Apakah sekarang akan berkebalikan? Ia yang akan memohon, meminta untuk tetap bersamanya. Apa pun akan dilakukannya. Asal gadis itu tidak pergi darinya.
Ia berdeham, “Mal,” mendekati Mala yang masih bergeming. Duduk di kursi satunya. Mala sama sekali tak menatapnya.
“Aku, aku minta maaf,” sesalnya. “Sakitmu gara-gara aku. Membiarkanmu kedinginan. Membiarkanmu sendirian,”
Mala masih bergeming. Benar-benar tak mau melihatnya. Apalagi melirik.
“Okay ... I made a mistake. Aku minta maaf. Bisakah kita ... kita mulai dari awal lagi. Kita lalui berdua, apa pun. Apa pun yang ada di depan kita. Kita hadapi bersama. Aku janji,” ia mengacungkan jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V.
Mala bangkit dari duduk. Memutar bola matanya jengah, kesal dan ... sedikit tergelitik. Oo ... tidak semudah itu, bukan?
Gadis itu berdiri belum mau berucap.
“Mala, please ... what can I do? Untuk mendapatkanmu lagi. Apa pun akan aku lakukan,” bujuknya seraya ikut berdiri.
“Mal,” ia mengiba. Memasang wajah memelas.
Gadis itu mengembuskan napas, memutar tubuhnya 90 derajat hingga berhadapan dengannya. Manik mata mereka bertumbukan cukup lama.
Desiran, getaran juga gelenyar aneh menghinggap tiba-tiba. Keduanya terpukau. Terhanyut dengan suasana melankolis yang terjadi sore itu.
Ia merengkuh Mala. Mencium puncak kepalanya, “Aku minta maaf,” hanya itu yang terus digaungkan. Sungguh, sejatinya ia tidak ingin berpisah dari Mala. Tidak ingin kehilangan gadis ini. Tapi ia berbuat bodoh, karena kebodohannya ia hampir kehilangan Mala.
Mala membeku. Belum merespons perlakuannya.
Tapi itu hanya beberapa waktu. Sebab ia semakin mempererat pelukannya. Tanpa meminta persetujuan gadis itu, ia menghujani ciuman di kepala Mala berulang kali.
...***...
Gemala
Hatinya mendadak seolah ter selimuti salju. Rasa kesal. Marah. Berkecamuk. Menguasai setiap aliran darah dalam tubuhnya. Mereda dan menjadi dingin perlahan.
Ia ingin egois. Tapi melihat penyesalan laki-laki itu rasanya kesal itu menguap entah ke mana.
Awalnya ia berharap besar. Ru mengubah keputusannya. Tapi ... laki-laki itu tetap bergeming.
Akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Toh, sudah tidak ada yang perlu dipertahankan lagi. Hubungan mereka benar-benar kandas.
Tatkala keluar lobby ia menuju halte bus yang bertepatan dengan sebuah bus yang berhenti. Tapi ia merasakan kepalanya berdenyut, pening dan rasanya ia tak akan sanggup untuk berganti bus dua kali hingga tiba di rumah. Maka ia memutuskan untuk naik taksi. Beruntung pilihannya tepat.
Selama di dalam taksi ia merasakan kedinginan. Badannya menggigil. Mungkin efek tadi malam. Ditambah air matanya yang terkuras. Suaranya hilang juga ia kehilangan gairah makan.
Semua berimbas pada tubuhnya.
“Aku gak bisa napas,” keluhnya. Menjadi kalimat pertamanya setelah demo membungkam mulut.
“Eh, sorry ...,” Ru mengurai dekapannya. ”Kamu masih sakit?” imbuh laki-laki itu, meletakkan punggung tangan di dahinya. “Masih hangat, sebaiknya kita masuk. Di luar dingin.”
Ia menggeleng. “Hati aku lebih sakit. Dan kamu,” tunjuknya tepat di dada laki-laki itu. “my heartbreaker,”
Dengan sigap tangannya diraih Garu, diciumnya lembut, “So sorry ... kamu boleh menghukum aku apa saja.”
Sudut bibirnya melengkung ke atas samar. Apa katanya ‘maaf’? Enak banget laki-laki ini bilang maaf. Setelah membuat hatinya pontang-panting. Berkeping-keping. Ia berpikir mencari hukuman yang pantas untuk laki-laki ini.
“Aku mau pulang ke Surabaya.” Entah mengapa tiba-tiba ia ingin ke sana. Program graduate degree sudah selesai. Tinggal menunggu wisuda pikirnya.
“Aku akan antar kamu,” sergah Ru cepat.
“Kamu yakin?” matanya menyipit. Meragukan Garuda. "Bertemu papa-mama?” lanjutnya.
Ru menyahut, “Siapa takut?!” tantangnya.
Saat bola raksasa dunia itu melandai di kaki barat. Ia dan Garuda memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Mereka menikmati makan malam di atas ketinggian 40 ribu kaki. Garuda sengaja memesan makanan spesial untuknya.
“Beneran kamu yakin mau bertemu papa-mamaku?” tanyanya lagi memastikan kesungguhan laki-laki yang duduk di hadapannya.
“Kamu meragukan aku?”
Ia menipiskan bibirnya.
“Asal ... kamu tetap di sampingku,” imbuh Ru yakin.
“Papaku galak,”
“Tidak masalah.”
“Mamaku cerewet kayak wartawan,”
“Justru lebih bagus.”
Ia mengernyit. Bagus apanya?
“Papaku serem,”
“Yang penting bukan pocong.”
“Papaku kalau marah bisa-bisa tanduknya keluar,”
“Yang penting gak makan orang.”
Ia berdecak, “Memangnya papaku zombie?”
Garu terkekeh ringan. Mengusap kepalanya. Ia kesal menggembungkan pipi seraya memutar bola mata malas. Laki-laki itu semakin tergelak. “Aku kangen kamu seperti ini.”
“Isshh,”
Seorang awak kabin menghampiri dengan membawakan dessert. “Silakan,” dengan senyum ramah menyimpan yoghurt frozen di atas meja. Kemudian mengambil piring sajian yang telah kosong.
“Makasih, Mbak,” balasnya.
“Bagaimana kalau papaku ... tidak setuju?” imbuhnya.
Ia menjeda. Suara deru dalam kabin menjadi latar kebisuan.
Ru mengelap mulutnya dengan napkin folding setelah menyelesaikan makannya. “Akan aku hadapi, asal kamu tetap di sampingku.”
Ia menatap Garuda. Membaca kesungguhan dari sorot matanya, “Ru,”
“Hem,” laki-laki itu menggenggam tangan kirinya.
“Aku harap kamu sabar menghadapi masalah yang menimpa papi kamu.” Giliran tangannya yang mengusap perlahan punggung tangan Garu. “Aku harap, kamu tetap menjadi Garuda yang aku kenal. Kuat. Tangguh. Tidak gampang menyerah ... seperti,”
“Kemarin,” potong Ru.
Ia mengangguk.
“Aku akan berusaha. Asal kamu tetap di sampingku,”
Ia mengulas senyum. Begitu juga Garuda.
Tiba di Surabaya hampir tengah malam. Garuda memutuskan untuk menemui orang tuanya besok pagi. Menginap di hotel yang tak jauh dari kediamannya.
Ia sengaja tidak memberitahukan papa-mama atas kepulangannya yang mendadak. Pun tidak ingin mengganggu istirahat mereka. Diam-diam ia bersekongkol dengan penjaga rumah yang membukakan pintu untuknya. Mengultimatum mereka untuk tidak memberitahukan kedatangannya.
Merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur yang selalu dirindukan. Ah, rasanya beban di dada sedikit lega. Paling tidak mereka akan menghadapi berdua ke depannya.
Entah apa tanggapan papa dan mama setelah ini. Ia pun tidak bisa menerka. Apakah ini ujian berikutnya buat mereka?
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan baik vote, like, comment dan gift ... Xìe xie ni de ai🙏
Love you all 💕... semoga semua dalam keadaan sehat dan lancar urusannya.