
...94. Tak Mudah Mengatakan...
“Apa huruf kelima dalam abjad?”
“E,” sahut Dila.
“Salah,” putus Desti.
“Ya, E lah.”
“Coba dengerin baik-baik pertanyaanku,” Desti mengulangi lagi. “Apa huruf kelima dalam abjad?”
“D,” sambarnya.
“Nah,” Desti menunjuknya. “Jawaban, lo benar, Mal.”
“Next,” potong Dila.
“Misalkan dalam 1 kelas isinya binatang semua. Nih, kira-kira ... menurut kalian binatang apa yang sering terlambat sekolah?”
Dila tampak berpikir.
“Jawabanku, Panda.” Dengan percaya diri. Sebab ia yakin jawabannya benar.
Desti menggeleng, “Masih salah.”
“Harusnya, Panda. Kan dia hewan pemalas, tidurnya saja sampai 10 jam per hari. Badannya gemuk, jarang bergerak dia. Karena lebih banyak dihabiskan makan bambu. Makanya sering terlambat sekolah.”
“Masih salah, Nyonya Garuda.”
“Siput,” sela Dila.
Desti mengibaskan tangannya.
“Ah, jangan susah-susah kasih pertanyaan,” protes Dila.
“Tidak bakalan susah kalau kalian mikirnya tidak pakai ribet.”
Ia menyergah, “Kukang. Karena maksimal hanya bisa menempuh perjalanan sejauh 38 meter. Jadi kalau jarak sekolahnya 1 kilometer bisa berapa hari dia untuk sampai ke sekolah.”
Desti menggeleng.
“Mal, lebih lambat siput. Siput hanya mampu bergerak sepanjang 25 meter saja setiap hari. Karena energinya terkuras untuk memproduksi lendir,” sanggah Dila.
“Artinya siput pantas dijuluki si ences?” tangkasnya.
“Hahaha, maybe ...,” Dila mengangkat bahu sambil menipiskan bibir.
“Si ences dan si lambat. Kasihan banget julukannya.”
Desti menggeleng, “Ko, malah pada bahas ences, sih?!”
Ia menyilangkan tangan ke atas.
“Tet tot,” ujar Desti. “Time is over,” imbuhnya.
“Kesempatan terakhir. Jawaban lo, apa Dila?” tanya Desti.
“Owl,”
“Hah! Ko bisa burung hantu?” tukasnya.
Dila senyam-senyum. Yakin 100 persen jawaban benar.
“Kamu bayangkan ... tuh owl kan termasuk hewan nokturnal. Jadi kalau siang dipakai tidur. So, dia malas sekolah. Hahaha ...,” tawa Dila meledak sendirian.
Ia dan Desti mencebik. Rasanya tidak ada yang lucu. “Kalau burung hantu mah, bukan terlambat sekolah Dil. Yang ada dia gak pernah sekolah. Takut badannya gosong kena sinar matahari,” dengkus Desti.
Ia membungkam mulutnya, melihat ekspresi Dila—yang memberengut.
“Terus jawabannya apa dong?” tandas Dila.
Ia mengangguk, sepakat untuk mengetahui jawabannya secepatnya.
“Kalian kira-kira memakai sepatu bertali membutuhkan waktu berapa lama?” tanya Desti balik.
“10-20 detik,” sambarnya. “Tergantung talinya simple atau belibet.” Ia pernah mencobanya. Ternyata memakai sepasang sneakers bertali membutuhkan sekitar 20 detik.
“Terus,” timpal Dila.
“Kalian bisa bayangkan,” mimik muka Desti serius. Ia dan Dila menelinga. “Bagaimana tidak terlambat jika seekor binatang kaki seribu memakai sepatu rata-rata 10 detik untuk 1 kaki saja, padahal dia punya 1000 kaki berapa waktu yang dibutuhkan. Apa tiap hari tidak terlambat masuk sekolah?" jawab Desti sambil mengulum bibir.
“GAK LUCU!” balasnya.
“Garing,” imbuh Dila.
“Memangnya kamu sudah hitung kakinya sampai 1000?” tantangnya.
Desti meringis, “Belum.”
“Huuuuuu ...!” ia meneriaki. Lalu membereskan berkas di atas meja. Menyambar tas dan mencangklongnya. “Gue duluan, ya. Bye,” ia melambaikan tangan. Begitulah isengnya mereka menunggu jam kepulangan kantor. Apalagi tugas sudah beres. Kata Desti, untuk penyegaran otak yang sudah stuck oleh beban pekerjaan. Kendati begitu, mereka juga tetap harus berpikir meski bukan logis. Anehnya, akan menjadi bahan lelucon setelahnya. Dan pada akhirnya membuat mereka tertawa.
“Mal,” cegah Desti. Ia menoleh pada sahabatnya tersebut.
Desti salah tingkah, “salam,” cicitnya.
Dahinya melipat.
“Buat ... itu,”
Matanya memicing sebelah.
“Hehe, sekretarisnya Pak Garuda.”
Spontan ia tergelak. Di susul Dila yang ikut tertawa.
“Aissh,” Desti memanyunkan bibirnya maju hingga beberapa senti.
“Beres,” ia mengacungkan jempol seraya menipiskan bibir.
Langkahnya terus terayun menuju lift. Sesekali menyapa beberapa orang yang dikenalnya.
“Pulang, Mal.”
“Iya, Mbak. Duluan.”
Memasuki kotak besi yang telah berisi beberapa orang di dalamnya. Ia melempar senyum ramah. Memilih berdiri dekat pintu.
“Tunggu!” teriak seseorang membawa hand bag dan tengah menelepon menerobos masuk. “Pokoknya project ini harus secepatnya—” Sambungan telepon mati. Orang tersebut tampak kesal. Menggerutu tak jelas dengan posisi membelakanginya.
“Ta, lo jadi handle project punya Torrid palm?”
“Jadilah. Gue sama tim udah mulai kerja minggu ini.”
“Lo, mau ikutan terjun ke sana?”
“Gue mau membuktikan, kalau gue adik kelas dia yang gak akan mengecewakan. Gue jamin!”
“Cih, bisaan lo.”
Pintu lift berdenting. Setelah 3 detik kemudian terbuka. Ia keluar terlebih dahulu tanpa menoleh pada yang lainnya. Ternyata Garuda telah menunggunya di lobi bersama Prayoga. Keduanya terlihat mengobrol di sana.
“Sudah?” tanya Ru.
Ia mengangguk. Mengukir senyum. “Pak, maaf kami duluan,” ucapnya sungkan.
“Silakan, Mala.”
Sementara Benita dan temannya yang berdiri tak jauh di belakang terpaku menatapnya.
“Lo, yakin Ta mau handle project kakak kelas lo itu?” pasalnya, wilayah baru yang akan dibuka Torrid palm berada di Pulau Kalimantan. Yang termasuk dalam wilayah kerja area bagian tengah. Sementara dirinya menjadi koordinator project area bagian barat.
Benita bergeming. Menatap kepergian sepasang suami istri yang semakin menjauh. Sialnya, ia yang pernah 1 sekolah dan nyata-nyata adik kelasnya malahan tidak diundang dalam pesta pernikahannya. Bahkan dari sekian banyaknya pekerja di WRI hanya segelintir saja yang diundang. Akan ia buktikan bahwa dirinya layak dekat dengan Garuda.
Bola raksasa dunia kian melandai di kaki barat. Sebagian penduduk ibukota masih terkungkung dengan padatnya lalu lintas yang terurai lambat.
Ia menyandarkan kepalanya di bahu Garuda.
“Capek?” tanya Ru mengusap kepalanya.
Ia menggeleng.
“Mau makan malam di luar?”
Ia kembali menggeleng. Hening menjeda. Ia memikirkan perkataan Ganisha. Sedangkan Ru memikirkan pesan Max. Keduanya tenggelam sementara waktu. Tak ada yang tahu, bahwa mereka hanya ingin membahagiakan pasangannya. Memberikan waktu kebersamaan yang mungkin ... bisa jadi berkejaran dengan hal di luar kuasa. Atau, bisa juga akan terjeda.
Terjeda.
“Mas, kita jenguk Mbak Vivi bentar, ya,” ucapnya masih bersandar di bahu laki-laki itu. Dan Ru menjawab, “ke rumah sakit, San.”
Mobil yang kendarai San mengarah ke rumah sakit tempat Vivi di rawat. Tiba di sana. Mereka langsung menuju kamar perawatan Vivi. Ia memang telah mendengar kabar yang menimpa keluarga kakak iparnya tersebut. Dan ialah yang mengusulkan untuk mengabarkan kehamilan Vivi pada Atat. Sebab tadinya Vivi tidak ingin memberitahukan pada suaminya. Mengingat perubahan Atat yang menurut Vivi aneh dan mencurigakan. Vivi hanya ingin mencari momen yang tepat. Namun justru momen saat Atat ke tangkap menjadi waktu yang terpaksa untuk mengungkap kehamilan yang ditutupi Vivi.
“Mbak Vivi udah enakan?” tanyanya ketika mereka masuk melihat Vivi telah selesai menyantap makan malamnya ditemani ibunya. Sementara Ru ikut bergabung berdiri di sebelahnya.
Vivi berusaha tersenyum. Meski ia tahu tidak mudah. Di saat seorang wanita sedang hamil pastilah ingin ditemani suaminya. Pasti ingin mendapat perhatian yang lebih dari Atat. Akan tetapi, ini malah berkebalikan.
Ia duduk di tepi ranjang. “Tante,” sapanya pada ibunya Vivi.
Ibu Vivi mengulas senyum membalasnya, “Makasih, udah mau jengukin Vivi. Padahal kalian baru pulang dari kantor. Pasti capek.”
“Gak kok, Tante. Ini sekalian arah pulang. Jadi mampir,” ungkapnya benar adanya.
Ru pamit padanya sebentar menemui Max di ruangannya. Ia mengobrol dengan Vivi. Tentang kondisi janin yang beruntungnya masih bisa diselamatkan. Mungkin inilah cobaan dan berkah untuk rumah tangga Vivi. Di satu sisi Vivi harus tegar menghadapi rumah tangganya dengan Atat yang sedang dipertaruhkan. Akan tetapi di sisi lain ia diberi kenikmatan dengan mengandung buah cintanya dengan Atat. Yang mana telah lama mereka tunggu-tunggu.
“Mbak Vivi yang sabar, semoga setelah ini Kak Atat kembali seperti dulu. Aku yakin Kak Atat pasti saat ini ingin di sini, menemani Mbak Vivi. Pasti Kak Atat bahagia mendengar kabar Mbak hamil. Bagaimanapun, anak ini adalah anugerah. Dan kalian sangat menantikannya,” urainya.
“Makasih, Mala. Semoga kalian juga lekas menyusul.”
“Aamiin. Mbak, aku pamit ya. Sudah malam.” Ia bangkit dari kursi. “Tante saya pamit.” Ibunya Vivi yang muncul dari ruang sebelah membalas, “Oke, Mala. Terima kasih.”
“Sama-sama.” Ia mencium pipi Vivi, “hope you get feeling better soon,” disertai lengkungan di bibir dan mengusap bahu Vivi.
“Thanks, Mala,” balas Vivi.
Pandangannya mengarah ke segala arah. Menurut Vivi ruangan Max satu lantai di atasnya. Artinya ia harus mencari keberadaan lift untuk menuju ke sana. Mengikuti beberapa petunjuk yang terpampang dengan jelas. Sangat membantu.
Tiba di lantai yang dituju, ia kembali mencari ruangan Max. Dan tepat 2 ruangan setelahnya terlewati ia menemukannya. Seorang perawat kebetulan lewat. Menanyakan kepentingannya.
“Saya ingin bertemu dengan dokter Max,” sahutnya.
“Dokter sedang ada konsul pasien, Bu. Bisa tunggu sebentar. Saya lapor dulu dengan beliau.” Perawat tersebut bersikap sopan.
Ia mengangguk. Duduk di kursi tunggu. Tak berapa lama tampak Max dan Garuda keluar. Saling berhigh five dan laki-laki itu mendekatinya.
“Sorry, Hon. Kamu sampai menyusul ke sini. Udah lama?”
“Baru saja.” Ia bangkit manakala Ru mengulurkan tangannya, menyambutnya dengan senyum.
...***...
Esok pagi kala tiba di kantor Toni melaporkan jadwalnya hari ini. Dua meeting yang harus dihadirinya. Satu meeting saat jam makan siang dan setelahnya sore hari pukul 15.30 WIB. Toni pamit undur diri.
Ponselnya berpendar, nama ibu tertera di layar.
“Wa’alaikumsalam,”
“Apa Ibu mengganggu kerjamu?”
“Tidak sama sekali.”
Hening menjeda tanpa kata.
“Ru, kenapa kamu tidak memberitahukan sama Ibu?”
DEG.
“Apa Gemala juga tidak tahu?”
Ia menelan ludahnya yang terasa kesat. Tak mudah mengatakannya pada Gemala.
“Ru, hal sebesar ini. Sepenting ini kenapa kamu hadapi sendirian?” suara Rahayu terdengar kecewa. Namun sepersekian detik, “Ibu mohon, Ibu bisa dan mau menjadi pen—”
“Bu,” selanya. Ia menggeleng. Sang ibu boleh jadi telah tahu kondisinya. “No worries, I’m okay.”
Rahayu membungkam mulutnya. Menahan tangis yang tak tampak anaknya. Kristal cair meluruh tanpa disuruh. Ia kembali didepak oleh kenyataan pahit sebagai seorang dokter penyakit dalam sekaligus seorang ibu.
“Aku baik-baik saja. See ... Ibu dengar, I’ll be fine. Max sudah mengajukan waiting list. Dan aku masih bisa menunggu. Ibu jangan khawatir,” pungkasnya. Ia mengakhiri sambungan telepon. Mendadak merasakan mual hebat. Lekas melesat masuk ke kamar mandi dan menumpahkan segala isi perutnya di sana. Keringat dingin langsung bermunculan. Diikuti tremor dan pandangan berkunang-kunang.
Toni yang baru saja masuk ke dalam ruangan atasannya merasa aneh. Sebab baru beberapa saat lalu meninggalkan ruangan tersebut dan hendak mengingatkan kembali bahwa meeting pertama dimajukan 30 menit. Ternyata ruangan atasannya kosong. Ia mencoba mencari di kamar mandi. Perasaannya tidak enak ketika mengetahui pintu kamar mandi terbuka lebar dan atasannya terkulai di sana.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ...