If Only You

If Only You
37. K e s e n d i r i a n



...37. K e s e n d i r i a n...


Melbourne


Rasanya memang waktu berjalan melambat. Ditambah musim dingin yang harus dilewati sendirian. Gayatri dalam 3 bulan ke depan pulang ke Indonesia. Ada project kantornya bekerja sama  dengan pemerintah Surabaya.


Musim dingin kali ini juga berbeda dengan beberapa tahun terakhir terasa begitu menggigit. Jarang-jarang Melbourne mengalami suhu sampai minus. Bahkan di beberapa titik negara bagian seperti New South West dan Victoria jatuh hingga -10°C. Rekor dalam beberapa tahun terakhir. Australia mengalami musim dingin yang paling ‘beku’.


Pagi-pagi pemandangan tak biasa menghampar. Rumput terselubung es. Mobil tertutup salju putih.


Beberapa kegiatan juga terganggu. Seperti aktivitas penerbangan. Pihak maskapai terpaksa harus melumerkan es di badan pesawat.


Begitu juga para warga yang rentan dengan kondisi semacam ini. Kondisi imun mereka sedang tahap rentan-rentannya.


“Mal, buat minuman hangat. Jahe di rebus kasih gula merah, kasih cinnamon. Selain menghangatkan juga sebagai imun,” pesan mama saat meneleponnya.


Sepekan lebih perkuliahan juga terhambat. Dosen pengampu lebih banyak memberikan tugas di rumah. Melakukan diskusi melalui forum online.


“Lo, gak main salju lagi Mal kayak waktu di Jepang?” sindir Gayatri yang sedang berenang bersama Siren dan Juna dalam vicol beberapa waktu lalu.


Ia hanya berdecak kesal.


“Auntie! Siren mau buat patung salju,”


“Hush!” Juna menghardik, “anak kecil nanti masuk angin.”


Ia tergelak melihat 2 keponakannya yang tidak bisa anteng itu.


“Un, kirimkan saljunya ke sini dong!” Siren kembali menukas.


Juna menyahut, “Cair tahu! Dasar bocil.”


Ia kembali terkekeh. Melihat kericuhan suasana di rumah Surabaya membuatnya rindu pulang. Padahal, baru beberapa waktu lalu ia pulang ke Jakarta. Ya ... Jakarta.


Setelah melewati musim dingin yang terbilang rekor. Melbourne siap menyambut spring (musim semi).


Artinya harapan baru kembali datang. Semua makhluk hidup yang lama berhibernasi kembali keluar beraktivitas. Daun kembali tumbuh menghijau. Bunga-bunga mulai siap bermekaran.


Tulip.


Festival Tulip selalu diselenggarakan di musim ini. Tahun lalu saat ia baru datang dari penelitian di Jambi ia dan Nayla melihat festival Tulip.


Tahun ini?


Tidak ada yang berubah. Tulip akan selalu ada di musim semi. Bermekaran menghias setiap sudut kota. Toko. Market. Dan tentu saja sudut hatinya. Setiap melihat tulip merah mengingatkannya pada laki-laki itu. A special world.


Namun sayangnya bunga cantik dan mewah tersebut harus kembali meredup setelah melewati musim semi. Meski sudah banyak perlakuan untuk bunga Tulip agar terus bermekaran di setiap musim. Tapi Tulip secara alami akan bermekaran sesuai kodratnya.


Summer.


Tepat tanggal 1 Desember  Australia memasuki musim panas. Prakiraan Iklim Biro Meteorologi Australia mengemukakan bahwa di tahun ini Australia dilanda cuaca ekstrem. Banjir dan kebakaran diprediksi akan melanda di beberapa negara bagian.


Suhu panas bahkan diperkirakan mencapai 47°C di bagian timur dan sebagian tenggara Australia. Melbourne juga tidak luput dari imbas badai tropis La Nina.


Suhu di Melbourne mencapai 40°C. Terik. Kering. Pemerintah menghimbau untuk para warganya agar tetap berada dalam rumah pada jam-jam terpanas. Mengurangi aktivitas berat. Serta cukup terhidrasi. Sebab dalam suhu tersebut tubuh manusia dalam kondisi dehidrasi akut.


“Mal, kamu gak apa-apa? Apa gak sebaiknya pulang dulu ke Surabaya. Mama lihat bule-bule Aussie lagi pada eksodus. Kayak dioven sekarang di sana ya? Mama khawatir, Mal.”


Tak lama Ganisha menelepon.


“Mal, akhir tahun ini kami gak bisa liburan ke sana. Padahal Siren sama Juna pengen banget liburan ke sana lagi. Cuaca lagi gak bersahabat kasihan anak-anak kalau dipaksa ke sana,” memang agenda keluarganya setiap akhir tahun selalu datang ke Melbourne. Di samping mengunjungi dirinya dan Gayatri. Kota ini sudah seperti rumah kedua bagi keluarganya.


Sangat disayangkan. Pergantian tahun baru harus dilewatinya sendirian.


Sementara Gayatri, “Lo, pulang ke Indo aja gih. Gue belum bisa balik.” Pesan yang masuk setelah Ganisha.


Gemala : Yah 🥺


Balasnya pada Gayatri. Entah kenapa tahun ini tahun yang penuh perjuangan baginya. Berada dalam kesendirian. Sudah 1 tahun juga hubungannya bersama Garu berjalan. Seperti biasa, laki-laki itu sibuk. Dalam 1 bulan mungkin hanya 3-4 kali menelepon. Kirim pesan singkat juga sesuai namanya singkat. Bahkan sesingkat-singkatnya. Kalau tidak singkat bisa ditebak. Toni dibaliknya.


Justru kadang ia tahu aktivitas Ru melalui Toni. Ponsel Garu lebih banyak dipegang Toni. Bahkan sesekali Tonilah yang membalas.


Garudanya Mala : Good morning to you


Gemala : Morning, Ru. Have a nice day


Garudanya Mala : Sure, cause you’re all the energy I need.


Pernah suatu ketika, ia bisa menebak jika Tonilah yang membalas.


Gemala : Have a good day


Garudanya Mala : It means a lot for me. Missed you so much.


"Ru," ia langsung menelepon.


"Ya, Mbak," sahut Toni.


Nah, pasti Toni yang disuruh membalas atau disuruh menulis. Sesibuk itukah dia sampai tidak ada waktu?


Sore itu ia menuju Southbank Promenade. Kawasan pedestrian di sisi Yarra river. Memarkirkan kendaraannya di Southgate car park. Lalu berjalan sebentar menuju kedai kopi.


Seseorang melambaikan tangannya. Ia membalas, seraya tersenyum, “Sorry nunggu lama, ya?” tukasnya menggeret kursi duduk di seberang orang tersebut.


“Gak juga. Baru 10 menit,”


“Gimana sudah selesai urusannya?” tanyanya. Seorang pelayan menghampiri. Ia memberikan pilihan minuman. Pelayan tersebut mengangguk dan berlalu.


“Sudah. Seharian kemarin benar-benar meeting. Jadi baru selesai sore ini. Besok free dan planning mau pulang.”


“Pulang?” tanyanya dengan kening berkerut.


“Ya, pulang.”


“Tunggu, tunggu. Pulang ke mana dulu nih? Indonesia apa Jepang?” sahutnya.


“Rencana mau mampir dulu ke Indonesia, beberapa hari mungkin. Baru ke Jepang.”


“I see. Pasti sudah jauh-jauh hari merencanakan pulang kampung. Jadi iri nih, pengen pulkam juga.”


“Kenapa tidak? Kita bisa pulang bersama, Mal. Akhir tahun libur summer break bukan di sini?”


Ia mengangguk.


“Ayolah kita bisa pulang bareng, kalau kamu mau.” Bujuk orang tersebut.


“Nanti akan aku pikirkan.” Ia sudah mengambil summer course. Tidak mungkin canceled.


...***...


Garuda


Tepat di kota yang berjarak 5.204 kilometer dari Melbourne ia menatap suasana hiruk pikuk jalan di bawah sana. Menyelipkan kedua tangan pada saku celana samping. Pandangannya tak beranjak sedikit pun.


“Pak,” Toni memanggilnya untuk ketiga kali. Namun masih tidak ada sahutan dari atasannya.


BRAKKK.


“Guoo ... blok!! Cuma wartawan semut aja bikin runyam.” Suara 1 sambil menggebrak meja. “Singkirkan. Secepatnya.” Suara 1. “Sebelum rapat RUPS, saya gak mau tahu pokoknya.” Suara 1.


“Setuju. SGC harus di selamatkan. Pihak-pihak yang menentang, kita singkirkan.” Suara 2. “Investasi besar buat negeri kok, malah gak pada setuju. Ujung-ujungnya, ya pajak masuk negara to.” Tambah suara 2.


“Westah lah, atur ae. Ngadi-ngadi arek iku. (Sudahlah, atur saja.  Orang itu mengada-ada—wartawan). Tinggal .... ” Terdengar suara ‘kek’  seperti mencekik leher. “Beres!” Suara 3 dibarengi tawa sesudahnya.


“Boras bares cangkemmu ... pedemo pada tumbang, korban berjatuhan. Kasih bolu semua biar pada menclep (diam).” Suara 1.


“Siyap, Bos. Laksanakan.” Suara 4.


“Jangan bolulah!” Sergah suara 2. “Minimal brownis. Biar cepat redam.” Lanjut suara 2.


“Aman, Pak. Semua sebentar lagi terkendali.” Ucap suara 5, “Bm oke! TB 1 siap! Metro 1 ....”


Hening sesaat.


“Metro siji, pie?” suara 1.


“Cincay lah, bisa diatur.” Sahut suara 5.


“Nggiiiiiiiiiiiiiinggggg ....” Suara berdenging bersamaan dengan ringtone ponsel berbunyi.


“Halo ... Po’o? ... Aman ta? ... Oke, suwun.“ Suara 5. Seperti sedang menerima telepon. “Laporan  TB 1 pedemo terkendali. Kita ganti rugi sedikit, yang penting SGC tetap jalan,” imbuh suara 5.


Lalu terdengar suara berdecak, “Arek iku malah provokasi, beritane nyerang terus, jur kepie iku? (Orang itu malah provokasi, beritanya nyerang terus, lalu maunya digimanain?)” masih suara 5.


“Wes ngko bengi ae, dikerjai (udah nanti malam saja, dikerjain). Aman.” Suara 3.


“Tak pasrahke ro awakmu. Koen tangani arek iku. Aku, bagiane Bm sama TB 1.” Suara 5.


“Brownis sudah dihitung semua?” Tanya suara 1. “Khusus lapis legit sendirikan.” Sambung suara 1.


“Aman, Bos.” Sahut suara 4.


“Arek iku wes ora berkutik. Kemungkinan kuburan. Minimal koma.” Suara 3. Lalu terbahak, “Hahaha ....”


“Langsung kirim brownis sama lapis legit,” suara 1.


“Siyap, Bos.” Sahut suara 4.


“Pokoknya amankan RUPS saya gak mau tahu! SGC itu nyawa buat saya.” Suara 1. “Kalo perlu double. Biar lagsung deal.” Masih suara 1.


“Gimana laporan terakhir TB 1?” suara 1.


“Semua terkendali, Bos.” Jawab suara 5. “Arek iku dibawa ke RS Surabaya. Kondisi koma.” Sambung suara 5. “RUPS aman, semua dalam genggaman.” Imbuhnya lagi.


Giginya gemeretak. Rahangnya mengetat. Suara bukti rekaman beredar luas. Suara 1 yang diyakini Torrid membuatnya seperti terhempas ke dalam lorong gelap. Belum bukti-bukti lain yang membuatnya semakin tidak punya harapan lagi.


Satu minggu lagi adalah sidang pledoi papi. Sudah lama ia tak menjenguknya. Tidak ada komunikasi dengan papi. Cukup lama. Sementara memang tim penasihat hukum yang menjadi jembatan antar mereka.


“Papi baik-baik saja,” itu yang selalu didengungkan. Meski ia tidak yakin dan jawaban papi untuk menutupi keadaannya yang sebenarnya.


“Pak,” ternyata Toni masih berdiri di tempatnya cukup lama.


Ia menegakkan dagu. Langit ibukota tampak kelam. Percampuran polusi dan awan yang memang sedang tak bersahabat.


Melihat atasannya berubah sedikit posisi, Toni kembali melanjutkan, “Itu, meeting dengan PT. GK Investama 15 menit lagi. Tim GK menginformasikan sudah berada di lobby.” Lapor Toni.


Ia tak menyahut.


“Em ... itu,” Toni ragu.


Ia menunggu. “Apa lagi,” tanyanya. Sebab Toni tidak kembali melanjutkan kata-katanya.


“Em, Mbak Mala. Mbak Mala kirim pesan. Summer break tidak jadi pulang. Dia mengambil summer course,” kata Toni.


“Hem,”


“Itu saja!” batin Toni berucap. Biasanya suruh balas ini. Balas itu. Ucapkan selamat pagi, malam dan tidur. Lha, ini?! Toni ngedumel. Tentunya dalam hati lagi.


Toni memberanikan diri, “Ada lagi, Pak?”


Ia menggeleng.


“Baik, Pak. Saya pamit. 10 menit lagi Bapak ditunggu di ruang meeting.” Toni beranjak dan meninggalkan ruangannya.


Saksi-saksi pihak penuntut umum terdiri dari;


1. Saudara Bagas Tri Jaya, mantan Kapolda Jatim


2. Saudara Imam Luwi Jaya, mantan Gubernur Jatim


3. Nani Prasetyo, istri korban


4. Saudara Pambudi, mantan Kapolres Banyuwangi


5. Saudara Toto S, dokter RS tempat korban dirawat


6. Saudara Sapri ... dan total ada 15 saksi yang diajukan.


“Imam Luwi Jaya?”


“Beliau kakak dari Bagas Tri Jaya. Mereka bersaudara. Anak Pak Bagas ini yang bernama Kombes Danang, suami dari Kirei Fitriya, anak daripada korban.” Terang Mulya—ketua tim penasihat hukum Torrid.


Deg.


“Tunggu,” ia mengusap wajahnya kalut. “Siapa saja anak dari Imam Luwi Jaya ini?”


Mulya terbengong. Buat apa mengetahui anak salah satu dari saksi? Toh tidak ada hubungannya.


Ketua tim pengacara itu menggeleng, “Tapi saya bisa cari tahu, Pak.” Selanya. Gampang saja. Ia langsung masuk beranda mesin pencarian. Tidak lama.


“Imam menjabat Gubernur Jatim selama 2 periode. Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin yang jujur, amanah, disiplin, bersih dan dekat dengan rakyat. Lahir dari pasangan purnawirawan TNI. Istri bernama Saraswati. Mempunyai 3 anak. Anak pertama bernama Ganisha, anak kedua Gayatri, dan anak ketiga—”


“STOP!” jeda sesaat. Ia menelan ludahnya kasar, “cukup.”


Ia keluar dari ruangan Mulya. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin!


Krriiiing ....


Dering interkom menyeret pikirannya untuk kembali pulang. Ia menghela napasnya berat. Memejamkan mata sesaat. Lalu melangkah perlahan.


Nyatanya selama meeting berlangsung ia masih saja susah berkonsentrasi. 5 menit pertama pikirannya entah mengembara ke mana. 5 menit kedua, tidak satu pun penjelasan tim GK Investama mampu dicerna, dan pada 5 menit ketiga,


“Maaf,” ia menginterupsi. “Bisa meeting dijadwalkan ulang minggu depan. Saya ada keperluan mendadak. Urgen.” Jelasnya.


Ia melajukan mobil sendirian. Membelah jalanan protokol yang cukup lengang. Sebab masih jam perkantoran.


“Aku tunggu di tempat biasa,” begitu ucapnya pada seseorang di ujung sana melalui sambungan telepon.


Ia sengaja mengambil tempat yang lebih private. Bahkan memesan minuman lengkap. Ia tidak mau diganggu oleh siapa pun selama berada dalam ruangan tersebut. Pelayan itu mengerti dan undur diri.


Lima belas menit seseorang yang ditunggunya baru datang. Ia berdecak kesal.


“Sorry, Man. Gue juga baru selesai meeting sama klien,” Jebe duduk dan langsung menuang minuman berwarna kekuningan ke dalam gelas kaca. Kemudian menegaknya.


“Sial!” ia mengusap wajahnya lagi. Menyugar rambut hitamnya yang sudah acak-acakan.


Jebe melipat dahi, “Ada apa?”


Ia menggigit lidahnya, kemudian berganti menggigit bibir. “Gemala ... dia masih saudara dengan suami sepupu, lo."


“Maksudnya?” Jebe belum paham.


“Lo, saudaraan sama Kirei. Betul, kan?”


Jebe mengangguk.


“Suami Kirei sepupu lo itu, sepupunya Mala.”


“Anjreeet!” Jebe tampak terkejut. Menggaruk kepalanya.


“Lo, ke mana saja selama ini?" todongnya.


“Lo, tahu sendiri. Cewek lo itu tinggal di Melbourne. Mana mungkin gue kenal? Lagian gue gak pernah ikut-ikutan acara keluarga," Jebe menyanggah.


“And then?” imbuh Jebe.


Ia menggeleng.


Jebe ikut kalut, "Tenang. Semua tidak ada pengaruhnya dengan kasus yang bokap lo hadapi. Gue yakin dan percaya, Mala juga tidak sepicik itu. Apalagi kalian saling cinta.”


Ia menggeleng lagi.


“Come on, apa seandainya lo anak penjahat terus lo jahat? Apa anak pencuri terus anaknya juga mencuri? Orang-orang yang punya standar ganda itulah yang punya pikiran picik,” tukas Jebe.


“Memang lo pasti kena getahnya juga. Kena imbas secara tidak langsung. Tapi gue percaya Mala akan terima lo apa adanya,”


“Gue,”


Jebe berdecak lalu menegak minumannya.


“Kakek lo aja benci sama gue. Apalagi ....”


Jebe menegak lagi, “Itu kakek gue. Bukan gue.”


“Bagaimanapun gue anak,”


“Gue gak peduli!” sergah Jebe, “Kita habiskan minuman ini,”


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏