
...26. A Special World...
Gemala
Hari itu telah tiba. Hari di mana ia resmi menyandang Bachelor of Art di belakang namanya. Mama, papa, Ganisha dan kedua ponakannya sengaja datang untuk merayakan a special world.
Ya ... a special world.
Dua hari sebelum hari ini. Kiriman buket bunga tulip merah selalu datang sebelum menyambut matahari. Hatinya berdebar. Wajahnya berseri-seri memancar.
Bisa ditebak siapa pengirimnya?
Laki-laki yang akhir-akhir ini berubah menjadi manis. Ah, benarkah?
Buket bunga tulip merah pertama datang pukul 05.51 waktu setempat. Tepat saat bola raksasa dunia itu muncul dari kaki timur di musim panas. Di sertai pesan singkat,
...A special world for you...
...-GRD-...
Buket bunga tulip merah kedua datang pukul 05.52 waktu setempat. Dengan note,
...A special world for special someone...
...-GRD-...
Dan bunga tulip ketiga tepat hari ini datang pukul 05.53 waktu setempat. Dengan pesan yang membuat dadanya bergemuruh.
...A special world where you belong...
...-GRD-...
Ia menghidu dalam bunga yang digenggamnya. Merasai laki-laki itu hadir di sisinya. Apakah ia sedang jatuh cinta?
“Mala,”
Ia salah tingkah, ketika Ganisha memergokinya.
“Wah ... wah, adik aku lagi jatuh cinta rupanya. Sama siapa nih?” Ganisha menyambar bunga di tangannya. Lalu mengerutkan dahi, “siapa nih, G-R-D?” tanyanya mengeja.
“Ra ha sia,” tukasnya dengan tangan cekatan menyambar bunga yang direbut kakaknya. Lalu memberikan senyuman paksa.
Ganisha geleng-geleng kepala, “Kebaya lo, udah dicoba?” Ganisha mengikutinya masuk kamar.
Ia menggeleng. Menyimpan bunga tulip itu di atas meja. Menatapnya sesaat, “ternyata kamu tidak lupa,” katanya dalam hati seraya mengembangkan senyumnya.
“Idih ... kaya orgil. Senyam-senyum sendiri.” Ganisha mencibir. Lalu keluar dari kamarnya.
Kericuhan rumah benar-benar menyembunyikan hatinya yang sedang bermekaran. Siren dan Juna yang berlarian. Mama papa yang senewen berasa mereka yang akan wisuda. Padahal ini bukan momen pertama kalinya. Dan Ganisha yang dijuluki ‘Kak Ros’ oleh anak-anaknya dikarenakan galaknya sama dan suka berteriak. Menambah rumah seperti berstereo. Mana si mbak—asisten rumah tangga— yang tidak dibawa Ganisha, membuat kakaknya itu semakin kerepotan.
Berbalut kebaya modern, berwarna merah. Rambut disanggul dengan sentuhan poni lepas di depan. Serta makeup tipis justru membuatnya terlihat cantik. Ia melihat dirinya di depan cermin. A special day for special world. Lengkungan bibirnya jelas terangkat ke atas. “Thanks, Ru.” Lirihnya.
Kebaya merah itu dibalut outfit khas wisuda serba hitam. Ia berdiri bersama para wisudawan di depan. Sementara para tamu undangan berdiri di bagian belakang.
Tiba momen di mana rektor menyuruh para wisudawan untuk memutar tumit menghadap para undangan—yang tak lain keluarga para wisudawan.
“Pandanglah mereka!” seru suara rektor bergetar. Begitu pula menggetarkan jiwa-jiwa yang mendengarnya. “Tanpa mereka ... kita tidak akan mencapai kesuksesan ini. Mari kita berikan tepuk tangan sebagai ucapan terima kasih kepada keluarga yang selama ini mendukung dan mendampingi kita.”
Kristal cair itu luruh seketika. Diiringi gemuruh riuh rendah suara tepuk tangan. Sangat panjang. Menerbitkan keharuan yang menyeruak memenuhi gedung tempat perhelatan seremonial itu digelar. Tidak sedikit yang mengucurkan air mata.
Begitu acara wisuda selesai ia langsung menghambur pada mama dan papa. Bertiga berpelukan. Mata mama masih basah. Bahkan sesekali buliran kristal cair itu keluar dari kelopak matanya.
Ia menyusut air mata mama, “Thanks, Ma. I love you,”
Papa menepuk-nepuk punggungnya.
Sementara Ganisha mengejar anaknya yang berlarian tidak bisa diam.
Mereka berfoto-foto sebentar. Lalu ia berfoto bersama teman-temannya. Mengabadikan setiap perjumpaan. Sebab sebagian dari mereka melanjutkan study ke luar negeri. Sebagian lain kembali ke negara masing-masing. Dan sebagian lagi memilih bekerja. Hanya ia dan Nayla yang berencana memilih melanjutkan tetap di Monash.
“Huh ... capeknya!” keluh Ganisha setelah mereka tiba di rumah. Menidurkan Siren di kamar. Kakaknya menghempaskan tubuhnya di sofa sebelahnya.
“Kamu, nih ... ngeluh terus. Baru juga 2. Dulu Mama 3, mana cewek semua. Yang satu nangis. Satunya merengek. Satunya minta makan," Mama menyergah.
“Ampun, Mah. Siren yang tidak bisa diam. Juna yang usil, bikin Siren merengek dan nangis ... hadeeh, rasanya kepalaku mau pecah,” adu Ganisha. “Aku mau tidur, Ma. Mumpung Siren tidur.” Bangkit dan pergi ke kamar.
“Juna, sama Akung aja, yuk!” Papa mengajak Juna ke teras belakang.
“Ma, aku ganti baju dulu,” pamitnya, meninggalkan mama sendirian.
Tapi ternyata mama menyusulnya ke kamar. Duduk di pinggiran ranjang. Ia baru saja keluar dari kamar mandi.
“Mama gak ganti baju dulu,” katanya. Mengusap-usap rambutnya yang masih basah dengan handuk. Ikut duduk di sebelah mama.
Mama terlihat sendu. Matanya sayu. “Kakakmu sampai kapan di Sydney?” tanya mama.
“Seminggu lagi paling, Ma. Bilangnya sih 2 minggu ada kerjaan di sana.”
Mama terdengar menghela napas kentara mengangkat bahunya, “Apa dia gak cerita soal ... soal rencana pernikahannya?”
Hening sejenak. Ini yang paling tidak diinginkannya. Sementara tersangka sengaja kabur menghindar. Malas diinterogasi.
“Mama telepon kakakmu sebelum kesini. Nanyain soal Richard. Tapi dari nada bicaranya, kayaknya kakakmu lagi ada masalah dengan Richard. Apa betul itu, Mal?”
Hem ... betul, kan? Akhirnya ia yang harus menjelaskan. Dan terpaksa, ia berbohong. “Mala gak tahu, Ma.”
Bahu mama melorot, “Kalau memang mereka tidak jadi menikah. Lebih baik dari sekarang diputuskan. Dari pada sudah menikah tapi akhirnya berpisah,”
“Dan kamu, Mala.”
Hah ... kenapa ia juga disangkut pautkan!
“Pesan Mama, kalau kamu suatu saat benar-benar ingin menikah. Carilah pasangan yang mencintai kamu apa adanya. Menyayangi kamu dengan tulus. Jujur Mama lebih sreg jodoh kalian tidak usah jauh-jauh. Tapi, ya ... Mama bisa apa.”
“Ma,” ia mengusap lengan mama.
Ternyata papa dan mama harus kembali pulang lebih cepat dari rencana. Padahal perkiraan mereka 2 minggu di sini. Dikarenakan ada surat panggilan dari penyidik yang membutuhkan kesaksian papa.
“Ya ... batal deh. Jalan-jalan sama Akung,” Siren cemberut. Di atas pangkuannya.
“Tenang nanti sama Un, Siren mau ke mana lagi sih? Kan, kemarin kita sudah ke St.Kilda beach, Melbourne aquarium, Melbourne zoo, ke Skydeck 88 ... masih kurang?” rayunya pada Siren yang masih menekuk wajahnya.
“Papa yakin?” timpal Ganisha, “bisa minta diundur. Kasih alasan lagi di luar gitu. Biar Nisha telepon Danang.”
“Papa ingin membantu Danang, biar cepat selesai. Kalau ditunda-tunda lagi, bisa molor lagi.”
“Udah, gak apa. Lagian Mama nemani pulang. Kamu tunggu sampai Gayatri pulang, Nis. Anak itu sengaja melarikan diri.” titah Mama. “Kamu juga tanyain mereka. Maunya gimana sih? Mau lanjut apa stop. Pernikahan bukan main-main. Ini sudah mundur berapa lama coba. Jangan tidak ada kejelasan seperti ini,” pungkas mama.
Sementara papa mengusap paha mama. "Udah ... udah. Mereka sama-sama dewasa bisa menyelesaikan masalahnya,” ucap papa menengahi.
Malam itu malam terakhir papa dan mama berada di Melbourne.
Keesokan paginya setelah mengantar mama-papa ke bandara, ia, Ganisha, Siren dan Juna bertandang ke MCG (Melbourne Crikcet Ground) sebuah stadion terbesar di Australia. Dan merupakan stadion kriket yang paling terkenal di dunia.
Menonton latihan terakhir tim nasional Australia yang akan menjamu tim India dalam tradisi boxing day test, 3 hari lagi.
Tak.
Bola kriket mengenai tongkat yang dipegang batsman (pemain yang bertugas memukul) striking hingga bola terlempar jauh. Dengan sigap batsman non-striking berlari ke arah stump striking. Kemudian berlari kembali.
Tak.
Bola yang dilempar bowler (pelempar bola) kembali mengenai tongkat. Kali ini berhasil ditangkap wricket-keeper.
Tepuk tangan bergemuruh.
Matanya terus mengikuti permainan uji coba yang ditampilkan tim nas Australia.
“Un,”
“Hem,” sahutnya tanpa menoleh pada Siren yang duduk di sebelahnya.
Siren menepuk-nepuk lengannya.
“Apa, Sayang?” namun matanya masih menatap ke tengah lapangan.
Tepuk tangan kembali terdengar. Meski hanya latihan, tapi olahraga ini sangat digandrungi di Australia. Bahkan kriket menduduki cabang olahraga populer dan favorit kedua setelah sepak bola. Mereka rela menonton pertandingan kriket hingga 5 hari lamanya berturut-turut.
“Un,” Siren kembali menepuk dan memanggilnya. Kali ini ia menoleh pada ponakannya itu.
“Itu,” tunjuk Siren berlawanan arah. Otomatis ia menelengkan kepalanya.
Di sana berdiri seorang laki-laki yang tak jauh dari mereka. Memakai kaca mata hitam. Celana jeans dan kaos putih. Tak ketinggalan topi putih menutupi kepalanya.
Tunggu.
...***...
... ...
Garuda
Setelah tiba di Melbourne tengah malam. Ia langsung menuju hotel.
Kesibukan akibat pemenuhan target, pemenangan tender baru mengharuskannya untuk terjun langsung. Pun acara peresmian proyek Lombok dihadiri oleh orang penting di negeri ini. Otomatis selama 3 hari ia tinggal di sana. Memastikan semuanya.
Saat kembali ke Jakarta ia harus dihadapkan dengan surat pemanggilan penyidik terhadap papi.
Ia mengembuskan napas. Tepat hari ini gadis itu wisuda. Tapi ia tidak bisa datang melihatnya.
“Papi akan hadapi. Jangan mengkhawatirkan Papi.” Jawaban papi saat tim lawyer dan anak-anaknya berkumpul. Membicarakan langkah apa yang akan diambil.
“Kalian konsentrasilah bekerja. Papi cukup bersama tim pengacara,”
Ia menyergah, “Pi,”
Namun tangan papi terangkat ke atas. Artinya papi tidak mau dibantah.
“Papi bisa hadapi.” Pungkasan kalimat yang menjelaskan dan menandakan bahwasanya papi akan menghadapi dan melaluinya tanpa melibatkan anak-anaknya.
Sementara media mulai ramai memberitakan papi. Para pencari warta mulai menunggu di rumah papi. Tak ketinggalan pula kantor TG. Bahkan ada yang sampai berani menguntit. Hanya demi sebuah informasi yang langka. Sebab tidak menyangka jika seorang Torrid dicurigai ikut terlibat dalam pembunuhan seorang wartawan.
Berita peretasan sebuah media juga telah menyudutkan. Menganggap pihaknya yang melakukan. Tanpa bukti-bukti akurat. Mereka menganggap dengan uang bisa meretas situs pemberitaan tersebut.
Salah besar.
Harusnya mereka berpikir. Serangan gelap itu hanya bisa dilakukan oleh badan atau otoritas tertentu. Yang punya kuasa akan itu. Namun lagi dan lagi papi menggeleng.
“Papi akan hadapi.”
Setelah pemanggilan pertama papi. Ia merasa sedikit lega. Kesehatan papi masih dikatakan baik. Dan untuk kesekian kali papi bilang, “Kalian konsentrasilah bekerja. Papi cukup bersama tim pengacara,” papi tidak ingin melibatkan anak-anaknya.
Kini ia berdiri di tribune stadion MCG. Berjarak 6 kursi dari tempatnya berdiri sekarang, gadis itu duduk bersama gadis kecil yang sedari tadi memperhatikannya.
Gadis kecil itu menatapnya dengan mata memicing. Ia membalas dengan senyuman dan lambaian. Namun gadis kecil tersebut menggeleng.
Ia menunjuk Gemala yang duduk.
Isyarat mata gadis kecil itu membola. Tangannya menengadah—tidak paham maksudnya, percis orang dewasa.
Ia terkekeh tanpa suara. Lalu menunjuk dirinya sendiri dan Gemala.
Gadis kecil itu menggeleng lagi dengan menggerakkan jari telunjuk.
Ia menghela napas. Susah sekali merayu anak kecil pikirnya. Lalu mengeluarkan buket bunga yang disembunyikan di balik punggungnya.
Gadis kecil itu membola lagi matanya. Lalu menggembungkan pipinya. Hal yang sama dilakukan Mala jika sedang kesal.
Ia terkekeh kembali tanpa suara. Gadis kecil ini mirip dengan Mala pikirnya. Menggemaskan.
Ditunjuknya Mala yang masih menatap ke tengah lapangan. Tanpa sedikit pun terganggu dengan gadis kecil yang tak mau diam itu.
“What?!” ucap gadis kecil itu hanya mulutnya yang terbuka tanpa suara.
Ia tersenyum. Menunjuk bunga yang dibawanya, kemudian menunjuk Mala—untuk Mala.
Akhirnya gadis kecil itu mengangguk dan mengacungkan dua jempolnya. Akhirnya.
Tak lama kemudian Mala menoleh padanya. Dengan senyum yang akhir-akhir ini mengganggu hati dan pikirannya.
“Kenapa gak ada bilang mau kemari?” tanya gadis itu. Mereka berjalan menyusuri Yarra park. Taman yang berada di luar stadion.
Ia tersenyum tipis, “Ingin memberimu kejutan.”
Mala menyahut, “Dan aku terkejut.”
“Artinya aku berhasil,” senyum tipis kembali disulamnya.
“Aku maklum. Kamu sibuk. Tapi terima kasih buket bunga itu hadir mewakili kamu,”
“Kamu suka?” tanyanya.
Mereka berhenti di bawah rindangnya pohon. Saling berhadapan namun tertunduk.
Kemudian Mala tengadah, menatapnya. “Aku suka.”
Manik mata mereka saling bertumbuk. Membuat keduanya terjerat oleh perekat. Yang mereka sendiri tak menyadari.
“Suka?”
“Suka.”
“Seberapa suka?”
Kening Mala melipat, tak mengerti arah pembicaraan mereka. Lalu menjawab, “Sangat suka.”
“Melebihi apa?”
Mala menatapnya penuh. “Semuanya,”
“Benarkah?”
Mala mengangguk dengan mengulas senyum.
Tangannya terulur untuk mengusap pipi gadis yang berada di hadapannya.
“Mal ... aku,”
“Auntie!”
Keduanya spontan menoleh. Gadis kecil itu berlari ke arah mereka dengan tertawa-tawa. Lalu menghambur pada Gemala.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏