I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 99 -- Fight Between Lovers 2



Keluar dari tempat praktek dokter,


"Sayang, pelan - pelan jalannya. Nanti kesandung." seru Tristan pada Crystal yang berjalan cepat seperti orang mau mengejar bus.


Crystal hanya melirik, tak sedikit pun menghentikan langkahnya.


"Huh!" dengusnya sambil mengibaskan rambutnya.


Tristan malah senyum - senyum melihat Crystal yang ngambek. Usia yang bertambah, menikah dan hamil tak membuat Crystal menghentikan sikap manjanya. Pipi yang kian chubby, wajah cemberut dan bibir yang mencebik membuatnya makin menggemaskan.


Setengah berlari, Tristan mengejar istrinya dan menangkap pinggangnya yang empuk.


"Gitu aja kok ngambek sih?" tanyanya sambil menahan tawa.


Crystal menepis tangan Tristan. "Jauh - jauh sana! Aku lagi marah besar!"


Tristan setengah mati menahan tawa, baru kali ini ada orang ngambek yang langsung ngomong kalau dia lagi marah.


"Hhhh... aku mau pulang naik taxi aja."


Crystal makin kesal melihat ekspresi Tristan yang menahan tawa. Tau istri lagi marah, bukannya dibujuk atau bagaimana, eh malah diketawain.


"Eeeh... , jangan gitu. Kamu kan dateng sama aku, pulang juga harus sama aku." Tristan merangkul istrinya dan membimbingnya masuk ke dalam mobil. Kemudian Tristan ikut masuk dan menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan bibir Crystal makin maju, tangannya disilangkan di depan dada.


"Kenapa ngotot banget mau tau gendernya baby?"


"Memangnya nggak boleh aku tau jenis kelamin anak sendiri?"


"Suster Anna pernah cerita kalau ada orang udah prepare everything based on the gender they already knew. Eh, taunya pas lahir jenis kelaminnya cowok. Padahal waktu USG, dokternya bilang cewek. Kasian kan babynya, jadi pakai pink - pink." ucap Crystal beralasan.


(menyiapkan semuanya berdasarkan jenis kelamin yang mereka sudah tahu.)


Tristan mende-sah. "Yah... mau gimana lagi. Itu kan special case. Nggak semua case kaya gitu."


"Isssh.... Kak Tristan." Crystal jadi gemas. Dia sudah mulai mau ngomel.


Tristan berbelok dan menghentikan mobilnya di depan sebuah swalayan yang menjual khusus snack - snack import.


"Ayo." Tristan menarik tangan Crystal masuk ke dalam swalayan. Tristan menggandeng tangan Crystal dan menyusuri rak demi rak.


"Beli yang banyak, ambil apa aja yang kamu mau."


Crystal tertawa, dia mengerti sekarang. Tristan sedang membujuknya supaya tidak marah - marah terus.


"Aku lagi nggak pengen jajan."


"Pilih apaaa... aja. Yang penting belanja, shopping. Happy wife happy life." celetuk Tristan sambil nyengir.


Mereka berbelok menuju ke lorong yang penuh berisi rak - rak makanan kecil, biskuit dan coklat. Langkah mereka terhenti saat mendengar suara seorang bapak - bapak yang sedang bicara dengan nada suara tinggi.


"Berta, aku mau biskuit yang ini, rasanya manis dan tidak eneg."


Crystal dan Tristan melihat seorang bapak, mungkin lebih cocok disebut kakek. Rambutnya putih dan punggungnya sedikit melengkung. Disampingnya ada seorang wanita yang juga sudah berumur, mengenakan dress terusan sambil memegang keranjang belanja.


"Tidak, Robert! Kamu punya diabetes!" seru istrinya sambil mengembalikan biskuit yang dia maksud ke atas rak.


Robert mengambil biskuit tadi dan memasukkannya lagi ke keranjang belanja. Istrinya tak mau kalah, dengan cepat menyambar dan lagi - lagi mengembalikan ke rak.


"Hey, dokter bilang kalau gula darahmu naik terus, bisa - bisa kamu gagal ginjal, atau komplikasi. Kurangi gula! Makan makanan sehat!"


"Enak saja. Ini uangku, aku bebas membeli apa pun yang aku mau." tangannya langsung meraih biskuit tadi dan menjepitnya di bawah ketiak.


"Awas kamu, Robert. Berani - beraninya kamu mengambil biskuit sialan itu."


"Robert! Robert! Ingat diabetesmu!" kejar istrinya sambil mendengus kesal.


Tristan dan Crystal melongo melihat pertengkaran paling unik yang pernah mereka lihat.


"Ternyata pasangan yang sudah berumur pun bisa juga bertengkar." celetuk Crystal terheran - heran.


Tristan terkekeh, dia mengambil sebungkus biskuit yang tadi diambil oleh Robert.


"Kalau aku yang beli ini, kamu marah atau nggak?" godanya.


Crystal mencubit lengan Tristan. "Tapi kata dokter aku nggak boleh terlalu banyak gula dan garam. Semua harus seimbang. Suster Anna nggak ijinin aku makan sembarangan."


"Lho kan aku nggak bilang buat kamu. Aku mau beli buat aku sendiri."


"Hhh... "


Crystal melengos karena kesal.


Eits! Matanya menangkap deretan cokelat lindt dari Swiss kesukaannya. Cokelat - cokelat itu berderet menggodanya.


"Aku mau beli cokelat banyak - banyak. Jangan larang - larang aku!" kata Crystal, tangannya berkacak pinggang.


"Tapi kamu nggak boleh makan cokelat banyak kalau lagi hamil, Sayang. Bisa - bisa diabetes."


"Tapi aku mau!" protes Crystal. Kakinya sudah menghentak ke lantai saking kesalnya.


"A big no!" ucap Tristan tegas. "Kamu boleh ambil beberapa tapi nggak dihabisin sekaligus."


Crystal cemberut. "Jadi Kak Tristan pengen kita bertengkar kaya mereka?"


Tristan tertawa.


"Do you know that marriage is a never ending fight between lovers?"


(Apa kamu tahu kalau pernikahan adalah sebuah pertengkaran yang tak berkesudahan antara orang yang saling mencintai?"


Crystal mengangguk. Dia meraup semua cokelat - cokelat lindt yang ada di rak, tanpa sisa. Kemudian dia memasukkan semuanya hingga keranjang belanjaannya.


"Let's fight then!" ucapnya menantang.


***


Pertengkaran mengenai parfum, gender baby, biskuit dan cokelat ternyata berlanjut di rumah. Namun mereka memilih menyelesaikan pertengkaran mereka di tempat tidur.


Tristan menahan berat tubuhnya dengan bertumpu diatas kedua lengannya, sementara Crystal rebah dibawahnya. Diatas tumpukan bantal yang menyangga punggung Crystal.


"There's no better fight than this." bisik Tristan.


(Tak ada pertengkaran yang lebih baik dari pada ini.)


Crystal tertawa. "I know. This way much better than anything."


(Aku tau. Cara ini lebih baik dari apa pun.)


Kecupan Tristan membawa mereka ke tempat yang tinggi dan semakin tinggi. Crystal membelai wajah tampan suaminya dan memandanginya. Ekspresinya saat mereka ber-cin-ta akan selalu diingatnya sepanjang hidup. Ekspresi penuh cinta.


Sebelah tangan mereka bertautan, "Baby, are you ready?"


Crystal mengangguk. "Do me, My Tristan. I love this fight."


Sekali lagi Crystal merengkuh wajah suaminya dan men-ci-umnya dalam - dalam.