I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 15 -- CRYSTAL!!!!



"Tapi aku mau pulang." rengek Crystal sambil memasang puppy eyes andalannya.


"OK! Yuk pulang."


Apa-apaan ini?!? Bianca rasanya ingin melempar Crystal dengan napkin yang ada dipangkuannya. Belum juga makanannya disentuh, Crystal sudah mengajak pulang. Herannya lagi, Tristan langsung menuruti.


Tristan melirik Bianca, kemudian menelpon Pak Supri untuk menjemput Bianca di restaurant. Tak lama, sopir mereka datang dengan langkah tergesa.


"Tuan Tristan." sapanya sambil membungkukkan badan.


"Maaf, Pak Supri akan mengantarmu pulang karena aku mau langsung ke kantor." kata Tristan pada Bianca.


Merasa diusir, Bianca hanya mengangguk dan meninggalkan mereka dengan perasaan dongkol.


Tristan menghembuskan napas lega memandangi kepergian Bianca dan Pak Sopir. Merasa terbebas dari tekanan dan kewajiban beramah tamah.


"Kak Tristan!" Crystal sambil bergelanyut manja, matanya mengerling nakal.


"Buruan habisin. Trus kita ke butik, ambil dress buat party-mu." Tristan menghempaskan pantatnya ke kursi.


"Katanya mau ketemu Tuan Dirgantara.... " sindir Crystal sambil mengulum senyum.


"Tuan Dirgantara lagi honeymoon." Tristan tertawa mencubit hidung Crystal, sambil menatap teduh partner in crime kesayangannya.


***


Crystal bergelanyut di lengan Tristan, tersenyum bangga saat orang-orang mengangguk hormat dan memberi salam pada Tristan begitu mereka memasuki butik.


Sebaliknya, dia akan melirik tajam saat ada wanita mencuri lihat kearah Tristan.


"Ayo." Tristan merangkul Crystal masuk ke lift menuju lantai dua.


Di lantai dua, Crystal disambut dengan interior mewah dan manekin-manekin berjejer memamerkan gaun-gaun indah yang menarik. Ruangan yang dingin dengan aroma menenangkan, mengingatkannya kepada butik mahal di Paris yang pernah dikunjunginya.


"Haiiii..., cantik!" sapa seorang pria berpakaian nyentrik yang menghampiri dan langsung memeluknya.


Tristan cepat tanggap, dia buru-buru menarik Crystal lepas dari pelukan pria tadi.


"Cepat tunjukkan dress yang kupesan untuknya!" Tristan menatap tajam kearah pria yang belakangan diketahui bernama Berti.


"Ya ampun, galak amat. Untung aja ngganteng." Berti tersenyum.


"By the way, kamu kok cantik banget. Mau nggak jadi model kita?" Selanjutnya Berti bertanya pada Crystal sambil mencolek pipinya.


"Nggak. Nggak boleh." tolak Tristan tanpa basa basi.


"Iiiish... posesif banget amat sih kamuuuuh... Posesifin gua juga dong." celoteh Berti genit sambil melangkah ke ruang sebelah.


Crystal menahan senyum melihat kelakuan Berti, dan juga reaksi Kakaknya yang kesal tapi berusaha nampak cool.


"Yuk, kita fitting!" ajak Berti sambil menunjukkan sebuah gaun warna navy di salah satu manekin.


Mulut Crystal menganga, "Wow!"


"Tuh kan, dia suka." Berti mengedipkan matanya kearah Tristan.


"Gimana? Suka nggak?" Tristan memastikan.


"Kalau nggak suka, aku sudah pilihin beberapa model lagi."


Crystal tak menjawab, tangannya mengelus bahan gaun itu. Takjub dengan pilihan Tristan, baik bahan maupun modelnya benar-benar memuaskan.


"Sana cobain! Sebentar lagi David sama event organizer kesini mau diskusi soal detail party-mu."


Dengan cepat Crystal mengikuti asisten Berti, dan berjalan menuju fitting room. Dia tak sabar ingin mencoba gaun cantik itu.


Crystal berdiri ditengah ruangan yang seluruh dindingnya berlapis cermin hingga dia bisa melihat penampilannya dari semua sudut. Model strapless dengan pita dipunggung. Selain itu bahan dress-nya juga berkualitas, membuat gaun itu jatuh dengan sempurna.


Sesaat Crystal terpana dengan penampilannya sendiri. Kulitnya yang putih berpadu dengan dress warna navy semakin membuatnya terlihat bersih dan bercahaya. Kemudian Asisten Berti membantu memasangkan sebuah heels yang tidak hanya cantik, tapi juga nyaman.


"Gimana? Apa ada yang perlu diperbaiki?" tanya asisten Berti.


"Wait." Crystal langsung melangkah menuju ke ruangan Tristan.


"Kak Tristan, look at me!" Crystal menjulurkan kepalanya dari pintu. Tristan, yang tengah berbincang dengan beberapa orang event organizer dan David yang sudah datang, segera menghampiri.


"Ya...?" Kalimat Tristan menggantung di udara, dia terpana melihat penampilan Crystal.


"Gorgeous!" desis Tristan.


Crystal tersenyum malu-malu.


"Gimana modelnya?" tanya Crystal kemudian.


"Ehm... punggungmu sedikit terbuka, tapi nggak apa. Nanti aku suruh sedikit modifikasi." Tristan tak bisa melepaskan pandangannya dari Crystal.


"Hairstyle-ku gimana bagusnya?" lagi-lagi Crystal meminta pertimbangan.


"Naikkan rambutmu. Nanti aku belikan kalung, pasti kamu makin cantik." Tristan mengangkat rambut Crystal seperti kuncir kuda, lalu menunduk dan mencium pipi Crystal.


Perasaan asing menyusup diantara mereka. Dan berikutnya, semua terasa slow motion perlahan hanyut oleh arus asmara.


"Wow! Kalian lebih cocok jadi couple daripada kakak beradik." Berti masuk dan mengomentari.


Tristan dan Crystal langsung kembali ke realita kalau mereka tak hanya berdua. Pipi pun Crystal merona.


Selesai fitting baju, mereka berdiskusi tentang detail pesta dan tema sesuai yang diinginkan Crystal.


"Apa ada special person untuk party-mu?" tanya orang dari event organizer.


"Eh... ehm... nggak, nggak ada." Crystal melirik Tristan, ada perasaan tak enak saat membicarakan tentang "orang special" dihadapan Tristan.


"Bukannya kamu udah ada someone special ya? Barusan si Tristan suruh aku cari info soal Lee Suho." celetuk David dengan tampang tak berdosa


What!


Tristan dan Crystal melotot pada David untuk alasan yang berbeda. Tristan marah karena David yang ember, sedangkan Crystal kaget. Dia tak menyangka Tristan benar-benar serius menanggapi candaannya. Alarm tanda bahaya di kepalanya pun berbunyi.


"Ups! Oke, oke. I'll shut my mouth up." David mengangkat tangan seperti orang menyerah.


Pembicaraan mengenai pesta sebenarnya menarik tapi Crystal sedang memikirkan perkataan David lagi.


Hingga sampai rumah, reaksi Crystal tidak antusias seperti yang Tristan harapkan.


"Apa kamu tak suka ide-ide mereka?"


"Aku suka." jawab Crystal sambil berjalan masuk ke rumah.


"Are you sure?" Tristan mengangkat alisnya.


"Iya." Crystal berusaha tersenyum semanis mungkin.


Sayangnya, Tristan sangat mengenal Crystal. Senyumnya kali ini terlalu kaku.


"Ada apa? Any objection? Ngomong aja." kata Tristan penasaran.


"Tapi, aku takut Kak Tristan marah." lirih Crystal. Dia menurunkan sudut bibirnya dan matanya pun berkaca-kaca.


Tristan tak pernah tidak luluh kalau sudah melihat air mata Crystal.


"Ngomong aja. Aku janji nggak bakal marah. Hm?"


"Janji nggak bakal hukum aku?" Crystal menyodorkan kelingkingnya, dan disambut oleh Tristan.


"Janji!" jawab Tristan mantap, kalah oleh air mata Crystal.


"Maaf... " Crystal menghambur ke pelukan Tristan sambil menangis.


"Kak Tristan beneran pengen tau siapa Lee Suho?" Crystal melerai pelukannya.


"Siapa dia?"


"Tapi beneran nggak marah kan?"


"Yes, aku janji."


"Nih, lihat!" Crystal menunjukkan sebuah video singkat film True Beauty.


Ha?!?


"CRYSTALLLL!!" raung Tristan gemas.


"SUS!!! TOLOOOOONG!!!!" pekik Crystal sekuat tenaga sambil berlari masuk.


Bersambung ya....


Cerita soal Lee Suho udahan ya, sebenernya aku ga mau nulis akhirnya Tristan tau atau nggak soal Lee Suho. Tapi kok rasanya kasihan kalau nggak tau sampai tamat. 😂😂😂


Udahlah, kasih tau ajalah.


NOTE:


Gorgeous adalah istilah yang dipakai untuk mengungkapkan sangat indah, cantik, luar biasa cantik. Kalau bahasa indonesianya, mungkin semacam luar biasa cantik.



By the way, yang belum tau siapa Tuan Dirgantara bisa mampir ya di Bumi Tanpa Senja karya My best friend, Hary As Syifa. Ceritanya menggebu, bikin sedih, terharu sekaligus senyum-senyum sendiri.


Buat Readers BTS yang udah mampir, I have no other words but THANK YOU VERY MUCH!!!


***Jangan lupakan BTS ya... Tetap tungguin BTS Season 2 ya...


Tenang aja, nti aku ingetin kalau Authornya udah start nulis***. ☺