I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 67 -- Are You Home?



"Kamu tau nggak? Tristan sempat macet, hampir aja collapse gara - gara sabotase. Tagihan numpuk, cash flow jadi nggak lancar." kata Karina, suaranya terdengar pelan.


"Kok Kak Tristan nggak cerita?"


"Dia nggak mau kamu ikutan mikir." Karina tersenyum getir. "Tapi aku salut sama dia. Dia bela - belain handle semua sendiri, sampai datang ke lokasi setiap hari cuma buat mastiin everything goes smoothly."


Crystal menggigit bibir, membayangkan perjuangan Tristan selama ini. Sedangkan dirinya? Ya. Dia hanya bisa merengek dan marah - marah. Air mata meleleh, tapi tangannya dengan cepat menghapus. Dia malu pada Karina, Suster Anna dan dirinya sendiri. SO CHILDISH!


"By the way, ini pertama kalinya aku dan Suster Anna ngelanggar perintah Tuan. Dia nggak ijinin kami untuk cerita ke kamu." kata Karina, matanya sendu. "Aku kasih tau biar kamu stop acara ngambeknya."


Suster Anna mengangguk.


"Kak Tristanmu tiga bulan lalu kecelakaan. Tulang lututnya pecah. Tapi sekarang sudah masa pemulihan, maximal enam bulan bisa sembuh sempurna." Karina menjelaskan.


WHAT?


Seketika wajah Crystal pias. "Kapan?" Crystal nampak termangu dan pandangannya kosong. "Kenapa baru ngomong sekarang?"


Hatinya terasa seperti ditonjok, penyesalan semakin menyergapnya. Membayangkan Tristan sakit tanpa ada yang menemani membuatnya ingin menangis tapi tak ada air mata yang keluar.


"Tuan mau Nona selesaikan sekolah dulu, kan waktu itu cuma kurang beberapa bulan. Takutnya Nona minta pulang Indo trus nggak mau balik kesini lagi." lirih suara Suster Anna menjawab.


***


Saat Crystal masuk, suasana apartment remang - remang dan sepi. Hanya ada satu lampu kecil menyala di dapur. Dia mengendap - endap membuka laci - laci dapur dan menemukan beberapa makanan siap diolah. Tak banyak, tapi setidaknya ada kopi, kornet, telur, susu, roti, selai dan keju. Di lemari es juga ada tomat, ham dan sosis.


Pelan - pelan dia meletakkan makanan yang akan diolahnya di atas counter.


"I know I can." Crystal menyemangati dirinya sendiri.


Dia sedikit kebingungan saat ingin mengoperasikan mesin kopi, biasanya Suster Anna yang membuat kopi untuknya. Setelah mengutak utik dan membuka you tube, akhirnya dia berhasil menggunakannya.


Jantungnya berdebar - debar saat tak berapa lama bau harum kopi menguar dari dapur, disusul dengan bau omelet dan sosis yang membuat perut siapa pun ikut menari. Crystal meneruskan aktivitasnya pagi ini, sambil berharap tak ada yang terbangun karena mencium harum makanan yang dimasaknya.


Ceklek.


Crystal terkesiap dan menoleh. Pintu kamar terbuka. Pintu terbuka, suara langkah kaki bergesekan dengan lantai terdengar mendekat.


PLOK PLOK


Tepukan dua kali, lampu ruangan otomatis menyala. Tristan mengerjapkan mata, memperhatikan sosok wanita muda yang sedang berdiri terpaku di dapur apartmentnya.


Crystal?


Tristan berhenti dan menarik napas. Ditatapnya lekat - lekat, manik matanya menyusuri centi demi centi tubuh Crystal. Memastikan penglihatannya masih berfungsi dengan baik


"Are you home, Sayang?" tanyanya seolah meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sedang bermimpi.


Dada Crystal berdenyut, ingin rasanya menghambur ke pelukan Tristan. Tapi tatapan penuh rindu Tristan justru membuatnya semakin serba salah. Sekuat tenaga Crystal menahan diri dan hanya berdiri canggung di hadapan Tristan.


Rencana awalnya tadi adalah dia akan memberi surprise seperti waktu Tristan tiba - tiba datang di Singapore. Dan yang paling penting adalah minta maaf sambil membawakannya breakfast. Tapi yang terjadi adalah Crystal hanya termangu, memandang laki - laki dihadapannya.


Dengan sedikit tertatih Tristan perlahan melangkah mendekat. Semakin dekat langkahnya, semakin dia yakin kalau Crystal benar - benar sudah datang, kembali kepadanya.


Emosi mulai membuncah saat mereka bertatapan. Tristan dengan sorot penuh rindu dan Crystal yang berusaha melawan kegugupannya, dan rasa bersalahnya.


"Apa kabar? Apa kamu sehat dan bahagia?" tanya Tristan, sorot matanya begitu teduh dan menenangkan.


Hhhh... , seharusnya dirinya yang lebih dulu mengucapkan pertanyaaan itu. Crystal sekali lagi menyesali dirinya.


Lidahnya kelu, permohonan maaf yang sudah disiapkan kembali tertelan masuk ke dalam tenggorokannya. No! Kata maaf saja tak cukup untuk menebus rasa bersalah pada the best person in her life.


Apalagi melihat bekas luka dan cara berjalan Tristan. Crystal tahu, Tristan belum pulih sepenuhnya. Crystal merutuki dirinya yang egois dan kekanak - kanakannya, tak mau mendengar dan hanya ingin di dengar.


"Ada apa? Kenapa tak meloncat seperti biasa?" sorot matanya meredup.


GOSH! Kak Tristannya masih bisa memperlakukannya selembut ini setelah sikap kurang ajarnya. Berapa ratus kali pun dia meminta maaf, rasanya tak akan cukup. Crystal hanya bisa menunduk, matanya mulai terasa panas.


"Hmm... , harumnya. It looks yummy. Kamu sudah pintar masak sekarang?"


Melihat Crystal yang nampak canggung dan menangis, Tristan mencoba mencairkan suasana.


"Temani aku breakfast. Ya?" Tangannya merangkul lembut bahu kesayangannya.


"Hm-hm." Crystal mengangguk - angguk. Lehernya sakit menahan tangis.


"Come." Tristan menepuk kursi di sebelahnya.


Hati Crystal kembali tertusuk. Dia yang tak pernah ada di saat - saat terburuk Tristan, malah selalu mendapat perlakuan istimewa darinya. Tak sedikit pun perlakuan Tristan berubah padanya setelah kelakuannya beberapa bulan terakhir ini.


"Kenapa Kak Tristan nggak marah sama aku?" lirih Crystal, suaranya hampir tak terdengar, tertekan oleh rasa bersalah dan menahan tangis.


Tristan mengerutkan dahinya, dia tak suka Crystal yang seperti ini. Bayangannya tadi, Crystal akan langsung meloncat atau mungkin protes karena dia tak juga datang berkunjung. Dan dia akan dengan senang hati memeluk dan mencium gadis kesayangannya.


"Kenapa harus marah? Kesayanganku pulang, nggak ada yang lebih menyenangkan dari itu." Tristan bertanya balik, tak ada emosi apa pun di dalam nada suaranya.


Crystal terdiam.


Kesayanganku pulang? Waktu terasa berhenti bagi Crystal. Ucapan itu merasuk ke dalam dada, mengiris hatinya, membuatnya merasa menjadi orang paling tega di dunia. She is the antagonist, now.


He loves her more than she does. Crystal dapat merasakannya.


Tubuh Crystal mulai bergetar, mulutnya tak sanggup lagi bicara. Air mata mengalir deras dari kedua bola matanya.


"Lho kok nangis?"


"Maaaaf, Kaaak."


"Why?"


"Sorry."


"What's up?"


"I'm so sorry."


"Apa pun itu. Everything's okay Crystal."


Ah, entahlah berapa puluh kali dia berkata sorry tapi puluhan kali pula dia menyusahkan Tristan.


"Hey, aku lebih suka Crystal yang badung dan ceria." katanya sambil mengusap air mata Crystal.


"Tapi aku udah ngomong jahat ke Kak Tristan."


"Kata - kata yang diucapkan waktu marah, tidak masuk hitungan Sayang." Tristan mengusap kepala Crystal.


Dan sekali lagi, Tristan berhasil menyentuh hati Crystal.


"HAAAaaaaaa... huuhu.... " Crystal menangis semakin kencang seperti seorang anak kecil yang mau ditinggal pergi Mamanya.


Tristan hanya bisa menatap Crystal dengan pandangan bertanya - tanya. Sampai kapan pun Crystal tidak akan pernah dewasa.


Bersambung ya....