I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 83 -- Upside Down



After Cape of Good Hope


"Woaaaah... bagus sekali." pekik Crystal kagum saat Tristan menunjukkan sebuah kamar mandi di lantai satu condominium yang mereka sewa.


"Do you like it?"


Crystal mengangguk, matanya berbinar - binar.


"Ini lebih bagus dari kamar yang semalam."


"Memang. Karena mendadak jadi kamar dengan honeymoon package baru siap hari ini jadi semalam kita pakai kamar yang kemarin." jawab Tristan sambil tersenyum.


"Jadi apa kita akan mandi bersama sekarang?" tanya Crystal dengan santainya.


Heh?!


Tristan tertegun, detak jantungnya meningkat tajam demi mendengar pertanyaan wanita yang sedang memunggunginya. Crystal sedang memperhatikan jacuzzi, pikirannya membayangkan berendam disana sambil melihat Table Mountain.


Latar belakang pemandangan table mountain yang mempesona ditambah suasana kamar mandi yang begitu romantis dengan banyak lilin aroma therapy yang menyala di beberapa tempat membuat neutron sarafnya semakin berkelana ke imajinasi yang liar.


"Kak Tristan?"


"Ehm... ya?" tanya Tristan sedikit tergagap. Tadi dia benar - benar tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.


"Apa kita akan mandi bersama?" ulang Crystal lagi. Dagunya menunjuk pada bath foam dan kimono mandi di tangan Tristan, yang sebenarnya sedang disiapkan oleh Tristan untuknya.


"Mmm... kamu mau mandi bersamaku?" Tristan balik bertanya untuk make sure.


Dia benar - benar tak ingin terburu - buru, biar bagaimana pun selama ini mereka terbiasa hidup sebagai kakak beradik. Wanita di hadapannya bukan hanya kekasih, tapi juga adik dan anak baginya dimana dia selalu menepis hasrat setiap kali hanya pergi atau sekamar berdua.


Dan Tristan ingin memastikan kalau yang mereka lakukan adalah cinta. Not a lust.


"Hmmm... aku mau. Beberapa hari terakhir sebelum kita menikah, aku sering mendengar kalau suami istri biasanya mandi bersama, saling menggosok punggung masing - masing." ucap Crystal tanpa ragu seolah yang diucapkannya adalah sebuah ajakan untuk makan malam.


Kemudian dia menoleh dengan wajah polos dan tersenyum lebar.


"Apa kamu bilang? Menggosok punggung?" tanya Tristan sedikit shock.


"Hm-hm, aku dengar dari Karin kalau kakaknya sering melakukan itu dengan suami mereka."


Dieng!


Seperti ada gong berdentam di hati Tristan. Dia tak bisa merespon, dan hanya bisa menelan saliva. Sekarang tangannya ikut bergetar saat mendengar cerita Crystal.


"Hhhh... apa - apaan kalian ini? Kenapa kalian ngobrol soal begituan? It's so weird." tegur Tristan, kali ini dia menatap mata wanita di hadapannya.


(Itu sangat aneh.)


"Hmmm... bukannya itu obrolan biasa ya?" gumam Crystal balik bertanya, wajahnya terlihat sedang berpikir.


"Obrolan biasa katamu?" pekik Tristan kaget, sampai - sampai matanya melotot.


Crystal mengangguk - angguk dengan ekspresi bingung, kenapa laki - laki dihadapannya nampak begitu frustasi mendengar ceritanya.


"Ehm... sudahlah! Aku siapkan perlengkapanmu dulu." jawab Tristan, dia masih sedikit shock dengan pembicaraannya dengan Crystal.


"Perlengkapanku? Bukan kita?"


Ya ampun! Tristan benar - benar mengelus dada dengan semua ucapan Crystal. Seharusnya dia yang menggoda wanitanya, tapi sepertinya posisi mereka terbalik saat ini.


"Sayang, tell me your wish." pinta Tristan akhirnya. Dia menyerah, apa pun yang Crystal mau. Baiklah, let's do it.


(Katakan keinginanmu.)


Sekarang giliran Crystal yang tertegun, dia jadi kesulitan mengatur napas dan detak jantungnya sendiri.


Pria di hadapannya masih berpakaian lengkap, tampil begitu sempurna dengan kemeja putih slim fit menempel pas di tubuhnya. Tiga buah kancing teratas kemeja dibiarkan terbuka, memperlihatkan kalung emas dileher yang memberi kesan seksi. Kakinya yang panjang juga masih terbalut celana jeans dark blue. Tapi, pikirannya justru sudah ke adegan bed scene yang sering di bacanya di novel - novel.


'Ah kenapa nap--suku besar sekali sih?' Crystal mengutuki dirinya sendiri.


"No! No! I want nothing." Crystal menggelengkan kepalanya kuat - kuat untuk mengusir pikiran 'nakal' di otaknya.


Tristan mengernyitkan dahinya, dia tahu Crystal berbohong.


"Kamu lagi mikirin apa?"


"Apa?"


Ugh! Sekuat tenaga Crystal menahan mulutnya supaya tak lancang berbicara. Dia semakin salah tingkah saat merasakan tatapan menyelidik Tristan. Pipinya merona, malu pada dirinya sendiri.


'Hhh... salahkan Karin yang akhir - akhir ini ikut meracuniku dengan cerita - cerita h o t.'


Akhirnya Karina yang sedang berada nun jauh disana jadi ikut terkena imbas.


"Kenapa pipimu merah? Are you sick?" Tristan mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi Crystal.


Oh, No! Dia hanya menggeleng - gelengkan kepalanya karena semakin panik.


"Hmmm... jangan - jangan kamu lagi mikir jorok." tebak Tristan.


"Nggak kok! I just can't wait to see you body." celetuk Crystal begitu saja.


(Nggak. Aku cuma nggak sabar aja mau lihat tubuhmu.)


UPS!


Tristan terbelalak. Crystal pun tak kalah kagetnya mendengar ucapannya sendiri.


"Kamuuuu ini!!! Apa saja yang kamu lakukan selama ini bersama Karin? Film - film apa yang kamu tonton tanpa sepengetahuanku? Bacaan apa yang sempat aku lewatkan hingga kamu jadi begini?" suara Tristan sedikit meninggi. Rasa kebapakannya sedikit terusik saat tahu sang anak gadis ternyata bisa seliar ini.


"Aku dan Karin hanya ngobrol sambil makan, maskeran, nge-gym, nonton film. Yeah, girls' business." jawabnya sambil mengingat - ingat kegiatannya akhir - akhir ini.


"And, then?"


"And then?" Crystal malah mengulang pertanyaan Tristan.


"Terus dari mana kamu bisa dapet imajinasi liar seperti ini?" protes Tristan.


"Liar? Aku?"


"Iya. Kamu itu kekanak - kanakan tapi liar." bisik Tristan gemas dan langsung melu--mat bibir merah muda yang ada di hadapannya.


Kecupan yang diberikan kali ini terasa sedikit berbeda, terasa lembut tapi juga menekan. Tanpa disadari Crystal semakin menempel pada suaminya, tangannya melingkar di leher Tristan.


Terasa seperti candu, Crystal tak bisa berhenti. Dia membalas dan semakin liar, seperti singa betina yang menggoda singa jantan yang tengah bersantai.


"Hey... chill, Babe." Tristan melepaskan bibirnya, lalu tersenyum. "I'm yours. Kamu bisa menikmatiku whenever you want."


"But I want you right now." jawab Crystal sambil menatap mata teduh yang selama ini selalu menentramkan hatinya.


"Me, too. Kamu pikir aku nggak menginginkanmu?"


Crystal mengangguk sambil tersenyum malu.


"You look so se-xy, My Tristan."


(Kamu keliatan se ksi, Tristanku.)


Oh, my goddess! Sungguh sebuah kalimat ,yang tak pernah sedikit pun terlintas di pikiran Tristan, akan diucapkan seorang Crystalin.


"Apa maksudmu?" tanya Tristan.


"Your body look so se--xy that I want to enjoy it soon."


(Tubuhmu terlihat begitu se ksi sehingga aku ingin menikmatinya segera.)


"Hah! Kamu ngomong apa sih?"


"Aku ngomong apa adanya yang ada di dalam pikiranku."


"Hey, tapi seharusnya aku yang ngomong gitu kan? I am a man. And you are a woman." protes Tristan lagi.


"Hmm... aku kan cuma mau jujur." Crystal mencebikkan bibirnya.


"I gave up." Tristan mengangkat tangannya, pertanda menyerah.


"Let's do it now!"


Bersambung ya....