I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 82 -- Good Hope



Tristan membuka pintu mobil untuk Crystal, gelombang angin dingin menyambutnya. Tristan mengeratkan syal dan menutup rapat jaket yang dipakai oleh Crystal, kemudian merangkulnya untuk menghangatkannya.


"Waaah... , rame sekali disana. Ngapain mereka?" tanya


"Mereka sedang antre untuk foto di board bertuliskan Cape of Good Hope."


"Wow! Wow! Wow!" Mata Crystal membulat melihat lingkungan sekitarnya. Dia tak pernah menyangka ada tempat seindah ini di Afrika. Dulu di dalam pikirannya, Afrika hanyalah tempat hewan - hewan liar.


Mereka saat ini ada di Semenanjung Afrika, bagian paling selatan Afrika, tempat pertemuan antara dua samudera.


"Hey, come here." panggil Tristan.


Crystal menggeleng - gelengkan kepalanya, dia tak mau terlalu dekat dengan pagar pembatas karena takut pada ketinggian.


"You can see more clearly from here." bujuk Tristan lagi.


(Kamu bisa lihat lebih jelas dari sini.)


Crystal menggeleng - gelengkan kepala.


"Jangan takut. I'm here. Lagipula disini ada pagar pembatas." bujuk Tristan sambil menunjuk tembok pembatas yang terbuat dari batu.


Crystal bergidik. "Rasanya seperti mau jatuh kebawah kalau aku lihat kearah bawah." katanya sambil mengintip kearah bawah.


"Coba tarik napas, lihat lurus ke depan dan jangan mikirin apa - apa. Aku bakal pegangi kamu."


"It'a so scared." suara Crystal terdengar bergetar.


"Sayang, tarik napas dalam - dalam. Buang semua rasa takutmu and look at the beautiful scenery."


(Lihat ke pemandangan yang indah.)


"Aku beneran takut lho."


"Trust me. I'll hold you tight. Kamu nggak akan jatuh." bisik Tristan terus menyemangati Crystal.


(Percaya aku. Aku bakal pegangi kamu erat - erat.)


Perlahan Crystal membuka matanya dan melihat jauh ke depan. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit dan lautan seperti menjadi satu pada satu titik. Yes, it is a horizon. Begitu indah, biru dan menyatu dalam satu garis.


(horizon \= cakrawala.)


Ah, Crystal merasa seperti terbang menuju ke cakrawala.


"So beautiful." Berulang - ulang Crystal menyebutkan kata itu.


"Do you know what place is this?"


(Tau nggak ini tempat apa?)


Crystal menggeleng, matanya menatap lurus ke depan.


"Ini adalah tempat pertemuan antara Samudera Hindia dan Samudera Atlantik."


"O'ya?"


"Yup. Dan tempat ini seperti kita." bisik Tristan di telinga Crystal.


"Kenapa Kak Tristan ngomong kalau tempat ini kaya kita?"


"Karena kamu seperti Samudera Hindia yang hangat dan penuh cinta, sedangkan aku Samudera Atlantik yang dingin dan kesepian. Kita akan seperti samudera hindia dan samudera atlantik, bertemu dan bersatu di satu titik yang disebut cakrawala."


Crystal jadi tersipu malu sambil menggelengkan kepalanya.


"Is that all that you want?" goda Tristan.


(Bukannya itu yang kamu mau?)


"Hey, lihat pantai yang di bawah sana. Pantainya bagus sekali tapi terlihat seperti menyendiri dan kesepian." Crystal mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oooh... itu namanya Pantai Diaz. Orang - orang biasa menyebutnya Pantai Bartolomeus Diaz."


"Tapi kenapa pantai itu sepi ya? Padahal bagus banget lho, tapi nggak ada yang berenang disana."


"Pantainya sepi karena tempatnya sulit dijangkau dan ombaknya tinggi. Too dangerous to swim. Itu bukan pantai untuk berenang."


(Terlalu bahaya untuk berenang disana.)


"Ayo kita jalan lagi."


"Mau kemana?"


"Apa kamu mau melihat pinguin?"


"Sirkus pinguin?"


"Nope. Tapi pinguin liar yang ada di tepi pantai. Mungkin kalau di jakarta atau surabaya, mereka seperti kucing liar yang berkeliaran dimana - mana."


"Really? Apa beneran ada tempat seperti itu?"


**


"Here's Boulders Beach."


"Waaah, ramai sekali pantainya. Wow! Here is penguin. There is penguin. Everywhere is penguin." serunya antusias. Nada suaranya sudah seperti saat sedang menyanyi lagu Old Mac Donald.


Crystal benar - benar menyukai pemandangan dimana manusia dan penguin begitu bersahabat tanpa saling mengganggu.


"Ini satu - satunya pantai dimana kamu bisa lihat pinguin bisa hidup bebas bersama manusia."


"Kak Tristan kok pinter banget ya? Kok bisa tau semuanya." tanya Crystal dengan nada kagum.


"Hey, aku harus tau semuanya. Apalagi dulu aku punya adik perempuan yang bawel, banyak nanya." goda Tristan.


Crystal hanya mendengus sebal.


Tristan tertawa. "Mau lihat dari dekat nggak?"


Crystak mengangguk. Dan mereka pun berjalan menuju bibir pantai.


"Apa airnya dingin?"


"Saat musim panas, semua pantai di Afrika Selatan airnya lebih dingin dari biasanya."


"Can I take a picture with them?" Crystal menunjuk pinguin - pinguin itu.


"Let's play with the penguin. Aku akan mengambil fotomu. Jaga jarak, jangan terlalu dekat karena paruh mereka sangat tajam." kata Tristan.


Dan dia pun bersiap dengan ponselnya, mencari angle yang tepat untuk memfoto wanita kesayangannya.



Lelah bermain - main, Crystal mengeluh lapar dan mereka pun mampir di Ostrich Farm. Rencana awal hanya ingin makan steak favorite Crystal, namun jadi molor karena Crystal keasyikan bermain dengan burung unta, melihat museum dan berbelanja suvenir.


"Kak Tristan, this is so cute." komentar Crystal pada sebuah miniatur burung unta yang terbuat dari kayu.


"Ambil aja. Apa pun yang kamu mau."


Crystal menggelengkan kepala, dia berjalan menuju suvenir di sebelahnya dan berkomentar sama. Tristan hanya mengikuti Crytsal tanpa berkomentar apa pun, dia hafal dengan kebiasaan wanita itu yang suka berkeliling berjam - jam tanpa membeli apa pun.


"Hey, kamu sudah disini for a long time. Nggak ada yang mau dibeli?" Tristan merasa tak enak karena mereka dari tadi hanya mondar mandir.


"Aku boleh ambil semua yang aku mau kan?"


"Hmmm... dari tadi aku juga udah bilang kamu boleh ambil apa pun." jawab Tristan gemas, tangannya berkacak pinggang.


Dia menghembuskan napas dan menggeleng - gelengkan kepala, sebenarnya dia sudah lelah dan ingin beristirahat. Mau bagaimana lagi, sang nyonya masih asyik berkeliling.


Crystal tersenyum manis. "Aku bingung mau beli apa, aku suka semuanya."


"Ya udah ambil aja semuanya." jawab Tristan asal, supaya mereka cepat selesai. "Atau yang ini juga boleh." Tristan menunjuk sebuah dompet dan tas yang tadi dibilang cute oleh Crystal.


Crystal menggeleng. "I prefer that one."


(Aku lebih suka yang disana.)


"Mana?"


"Yang itu." Crystal menarik tangan Tristan dan mendekat pada miniatur burung onta dari kayu.


"Lho? Bukannya ini barang pertama yang kamu bilang suka?"


Crystal mengangguk dan tersenyum manis.


Astaga! Hampir saja Tristan menepok jidatnya.


"Tadi kan sudah aku tawari buat beli, you told me that you don't like it. Wanna choose another one. Trus ujung - ujungnya yang diambil ini juga. Gimana sih?" omel Tristan.


(katamu kamu nggak suka, mau pilih yang lain.)


Cyrstal tak ambil pusing dengan omelan Tristan yang kesal padanya. Setelah hampir satu jam dihabiskan berkeliling tanpa membeli apa pun, akhirnya dia mengambil miniatur onta dan beberapa barang yang dilihatnya saat pertama masuk tadi.


Begitulah cara belanja wanita, mereka senang sekali berkeliling, cuci mata dan melihat - lihat. Setelah puas, kebanyakan wanita kembali kepada barang yang pertama kali dilihatnya.


"Kak Tristan harusnya bersyukur kalau aku cuma belanja sedikit." rayu Crystal saat melihat Tristan tak tersenyum padanya.


'But it takes too long.' jawab Tristan dalam hati. Dia benar - benar merasa tak enak pada penjaga toko suvenir itu.


Bersambung ya...


Note


Bartolomeus Dias adalah seorang penjelajah asal Portugis yang menjelajah hingga ujung selatan Afrika. Dan dikenal sebagai penemu Tanjung Harapan (Cape of Good Hope)



Here is Diaz Beach ☝☝


Cape Of Good Hope adalah sebuah tanjung bebatuan di benua Atlantic


Kenapa disebut cape of good hope?


karena melalui tanjung itu, ada sebuah harapan besar secara ekonomis bagi terbukanya rute laut dari India timur