I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 45 -- I'm The Winner, right?



"Pergi! Dan kembalilah kalau kamu sudah menjadi seorang Lady. Itu pun kalau perasaanmu masih sama terhadap puteraku."


Crystal termangu, mulutnya terbuka tapi dia kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Sebutir air mata lolos dari sudut matanya.


"Nggak apa-apa. Aku pergi bersamamu. Hm?" Tristan menghapus air mata Crystal.


Mata Tuan Harrison mengamati ekspresi dan reaksi keduanya dengan sorot mata yang tak terbaca.


"Dia sudah bukan adikmu. Apa kata orang kalau kalian tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan?"


Ucapan Tuan Harrison kali ini menampar Tristan telak. Tristan mengertakkan giginya, rahangnya mengeras, kesal. Dia sangat kesal pada keadaan dan dirinya sendiri yang semakin terpojok.


"Aku akan menikahinya." Tristan berkata sambil memandang Crystal yang kini termenung, berusaha mencerna kata-kata Tuan Harrison.


"Kalau tujuan kalian adalah sebuah pernikahan, maka... tunggulah hingga dia sepadan dan pantas denganmu!"


Tapi belum sempat dia bicara, Ben sudah masuk ke dalam ruangan. Dia membungkuk kepada Tuan Harrison dan Tristan.


"Permisi Tuan Besar." Ben membungkuk. "Tuan Muda."


"Maaf, ada sesuatu yang mendesak. Saya harus bicara pada Tuan Tristan."


"Bicaralah pada Papa. Aku akan pergi bersama Crystal." Tristan membalikkan tubuhnya.


Ben tergopoh berjalan menghampiri Tristan, menahannya untuk melangkah pergi. Asisten Tuan Harrison itu mencondongkan tubuhnya ke arah Tristan dan berbisik ke arah CEO itu.


Ekspresi Tristan langsung berubah, mulutnya sedikit terbuka, tercengang dengan perkataan Ben. Dia melirik kepada Tuan Harrison dengan pandangan bertanya.


Tuan Harrison mengangguk.


Body language Tristan terlihat tidak nyaman, dia menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya memucat tapi kemudian dia berusaha mengendalikan diri.


Crystal mengerutkan keningnya heran, jelas ada sesuatu yang penting terjadi.


Tristan berdehem dan matanya tertuju pada Crystal.


"Maaf. Bisa kamu tunggu di kamar bersama Suster Anna?" Tangannya mengelus sekilas rambut Crystal.


Tanpe menunggu jawaban, Tristan bersama Ben bergegas meninggalkan ruangan menuju ruang kerjanya.


Crystal masih termenung di tempatnya, "Apa-apaan ini? Ada apa sebenarnya?"


***


"Silahkan Tuan." Ben membukakan pintu dan meninggalkannya.


Tristan mengerutkan alisnya, David sudah ada di dalam ruang kerjanya. Wajahnya serius, mengutak atik laptop dihadapannya.


Tadi Ben memberitahu kalau ada masalah besar berkaitan dengannya, Crystal dan perusahaan. Dan sekarang David ada disini? Sepagi ini dan di akhir pekan, pasti masalahnya benar-benar gawat.


"Ceritakan!" Perintah Tristan.


"Anda harus melihat ini Tuan." David menyodorkan laptop yang ada di hadapannya.


"Foto-foto Tuan dan Nona Crystal sedang liburan di Paris ada dimana-mana. Beritanya muncul sejak semalam. Maafkan saya yang lalai, dan baru mengetahuinya pagi ini." Tak biasanya David berkata dengan nada resmi, menyatakan penyesalannya.


Tristan membaca artikel demi artikel dari layar laptopnya. Raut wajahnya mengeras.


"Sial!" desisnya kesal.


Tristan kesal pada dirinya sendiri yang lengah. Siapa sangka kepergiannya tanpa pengawalan justru menimbulkan masalah.


Tangan Tristan menggeser kursor ke kanan kiri, ada foto dimana mereka sedang bergandengan saat menuju pantai, saat Crystal duduk dipangkuannya di pinggir pantai, dan juga waktu mereka sedang berjalan berangkulan di pelataran hotel.


TRISTAN HARRISON DAN BIANCA HARTONO BATAL TUNANGAN!


HUBUNGAN TRISTAN-BIANCA RETAK KARENA SEORANG GADIS INGUSAN!


SIAPA SOSOK GADIS MUDA YANG BERSAMA TRISTAN DI PARIS?


JAUH DARI GOSIP WANITA, TERNYATA TRISTAN MENYUKAI DAUN MUDA.


CEO HARRISON JATUH CINTA PADA SUGAR BABY?


PREDIKSI KERJA SAMA HARRISON-HARTONO DI MASA MENDATANG!


MOST WANTED! GADIS REMAJA KESAYANGAN TRISTAN.


Netizen:


Masih muda sudah berani pergi berduaan ke Paris! Dasar JA -- L-- AN --G!


Sugar baby!


Jangankan tiga puluh tahun. Asalkan berduit, lima puluh tahun pun HAJAR AJA!


Cantik tapi kelakuan minus!


Tak tau malu!


Cih! Bagusan Bianca kemana-mana. Udah cantik, smart lagi.


Tau nggak? Bianca kepilih jadi kandidat fashion designer favorite di Paris buat koleksi summer.


"Oke! Maksimal sejam!" Tristan mendorong laptop itu ke tengah meja. Jari-jarinya bertautan satu sama lain.


Merasa tulisan-tulisan itu tidak benar, Tristan memutuskan untuk tidak membacanya lebih lanjut. Masih ada banyak artikel lain dan komentar-komentar pedas netizen. Semakin kesini, tulisannya semakin kejam dan tak berdasar.


"Ya Tuan Muda?"


"Kamu punya satu jam untuk mengurus pemberitaan itu. Take down semua berita online tanpa sisa! Cari tau siapa yang pertama kali menyebarkan foto itu dan kasih pelajaran padanya."


"Siap, Tuan." Kata David sambil mengamati raut wajah Tristan yang nampak kurang bagus.


"Apa perlu kita adakan konferensi pers Tuan?" Tanya David kemudian.


"Untuk apa?" Tristan balik bertanya, kali ini wajahnya nampak lebih relax.


Ha? Untuk apa katanya?


"Untuk klarifikasi kalau gadis remaja itu sebenarnya Crystal, adik angkat Tuan."


"Nggak perlu. Dia sudah bukan adikku lagi."


Hah? David semakin tercengang.


"Aku sudah selesai mengurus surat pisah kartu keluarga. Officially she is not my sister any more."


"Jadi?"


"Dia memang kekasihku dan calon istriku." Tristan tersenyum puas.


"Oh, Man.... Are you crazy?" desis David shock.


Seketika mode formal OFF dan David langsung menjelma jadi sosok teman yang kepo. Sahabat sekaligus asisten Tristan itu memandangnya penuh tanya.


"Kapan? Gimana ceritanya?"


"Waktu di Paris." Tristan mengangkat alisnya dan tersenyum tipis.


"Wow!" David berdecak.


"Kadang ada hal yang tak bisa dijelaskan." Tristan menyandarkan punggungnya ke kursi. "She is my best friends for my life. I found my future in her."


(Dia teman terbaik dalam hidupku. Aku menemukan masa depanku di dalam dirinya.)


David termangu. Kalau sudah begini, dia tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Uhm.... ya, wish all the best for both of you." David mencoba mencairkan suasana yang mendadak canggung.


"Aku tau kamu pasti sudah pertimbangkan matang-matang. Tapi... hahaha... siapa bakal ngira kamu jatuh cinta sama ABG." David menatap Tristan dengan sorot mata takjub.


"Oh, Man! I can't believe it. Wanita dewasa dan kaya, supermodel atau sexy secretaries. Semua rela antre buat blind date sama kamu. Astaga! Gimana reaksi Bianca? Aku denger dia nyusulin kamu ke Paris waktu itu." David terus berceloteh.


"She already knew! Papa Mama juga sudah tau."


WHAT!?


CK! Jadi ini penyebab perang Harrison versus Hartono?


Dalam hati David tertawa ironi, selama ini dia menolak percaya pada instingnya kalau sikap Tristan pada Crystal lebih dari pada seorang adik. Ah, tapi Tristan bukan hanya boss tapi juga sahabat dan a good adviser for his life. Apapun keputusan Tristan, David akan mendukungnya.


"Setidaknya, Mama dan Papa tau kalau aku sudah memilih Crystal. Mereka dan Harrison akan menanggung akibatnya bersamaku kalau sampai berita ini tersebar." kata Tristan sambil tersenyum licik.


Ha?


"OK! Case closed. Selesaikan tugasmu." Tristan tak mau menunggu respons David. Dia bangkit dan berjalan menuju pintu.


Sesaat sebelum kakinya mencapai pintu, Tristan memutar tumitnya.


"David, I'm the winner. Right?" katanya sambil mengedipkan sebelah mata.


Bersambung ya....