I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 58 -- Friends In Need, Friends Indeed



Beberapa hari kemudian...


"Lapar apa doyan sih?" Tanya Sky saat melihat Crystal tak berhenti mengunyah sejak mereka tiba di apartment itu.


Hari ini mereka pergi ke restaurant cepat saji. Disana Crystal sudah menghabiskan dua buah cheese burger ukuran sedang, sekantong french fries, tiga potong ayam serta segelas minuman soda.


Bahkan saat pulang Crystal sempat membungkus lima potong ayam dan tiga bungkus french fries ukuran large.


Crystal hanya tersenyum. Dia membuka laptopnya sambil mencomot french fries yang tadi dibelinya.


Sky duduk di depan Crystal. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling meja di apartment yang disewanya untuk sementara waktu selama mereka di Singapore.


Dua buah kaleng kopi dan jus nampak sudah kosong di dekat tangan Crystal. Dia sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.


"Eh, serius deh. Ini semua kamu yang minum?" Tanya Sky lagi dengan nada takjub.


"Tadi lupa beli nasi ya?" Crystal malah balik bertanya, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Rupanya sifat perfectsionis dan lulusan terbaik masih melekat di dalam dirinya. Dia selalu ingin mendapatkan hasil yang sempurna.


Sky melotot. "WHAT?" Matanya memindai tubuh Crystal dari atas hingga ke bawah. Dia heran, kemana perginya semua makanan yang masuk ke dalam mulut Crystal tadi. Gadis itu nampak begitu ramping dan mungil.


Crystal meringis malu. "Aku nggak bisa kalau nggak makan nasi. Rasanya masih lapar terus."


Sky menatap Crystal dalam-dalam.


Merasakan tatapan Sky, Crystal memalingkan matanya dari laptop.


"Kenapa?" Tanyanya salah tingkah.


Kemudian dia mengeluarkan cermin lipat dari tas disampingnya.


"Apa ada kotoran di wajahku?"


Crystal mengamati pantulan wajahnya di cermin, tak ada apa pun disana. Memang sih dibawah matanya sedikit menghitam karena beberapa hari ini sulit tidur. Tapi selebihnya semua aman.


"Kenapa susah sekali memancingmu bercerita?" Keluh Sky sambil mengerutkan hidungnya.


Crystal memandang sahabat terbaiknya, dengan pandangan sendu. "Aku lagi nggak pengen cerita."


"Kamu membuatku tak habis pikir."


"Memang apa yang kamu pikirkan?" tanya Crystal mencoba acuh tak acuh. Tangannya mulai bergerak-gerak tak beraturan di layar laptopnya yang touch screen.


"Semuanya!" Sky melipat kedua tangannya dan bertumpu pada meja, sikapnya nampak menyelidik.


"Kenapa kamu meninggalkan rumah? Kalau kamu sayang Kak Tristanmu, kenapa kamu pergi?"


Crystal menghentikan pekerjaannya dan mendesah. "Kamu sendiri? Kenapa kamu lebih milih jadi backpacker dari pada ngelanjutin sekolah atau kerja di perusahaan orang tuamu?"


Crystal tahu kalau orang tua Sky adalah orang kaya. Dan Sky sendiri termasuk siswa yang cerdas di sekolah mereka. Tapi dia lebih memilih adventure, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Dan, SENDIRIAN.


"Because it's wonderful." Sahut Sky cepat, tanpa ragu-ragu.


(Karena rasanya luar biasa.)


"Ha?" Crystal tertawa seakan tak percaya.


"Kamu nggak percaya? Jadi menurutmu kenapa kita disini? Apa kamu pikir kita berdua disini karena -- "


"KABUR!" Seru Sky dan Crystal bersamaan.


Keduanya tertawa terbahak-bahak memecah suasana yang sunyi.


Mereka menertawakan diri mereka sendiri. Sky kabur dari segala aturan dan tekanan dari orang tuanya sehingga dia memilih menjadi adventurer dan you tuber. Sedangkan Crystal kabur karena tak mau menyusahkan Tristan dengan identitasnya yang masih buram.


"Oke. Your turn now to talk." Sky kembali ke mode seriusnya.


(Waktunya kamu cerita sekarang.)


'Ah, ini lagi Sky!'


"Kita tinggal di apartment yang sama saat ini, berbagi atap dan ruangan. Katamu kamu mau ikut aku berpergian. Tapi I know nothing." Sky mengedikkan bahunya. "It's not fair."


(Aku nggak tau apa pun. Ini nggak fair.)


Bahu Crystal meluruh, dia jadi merasa bersalah pada Sky. Tapi dia masih saja bimbang untuk menceritakan kenapa dia bisa sampai disini.


"Kamu tau? Sebenarnya aku udah mau backpacker ke Eropa. Tapi kamu bilang mau kesini. ALONE! Aku kuatir sama kamu jadi kutunda perjalananku." Suara Sky terdengar lebih lembut. Dia mencoba mengambil hati Crystal supaya percaya padanya.


Merasa tak enak dengan pengorbanan Sky, Crystal pun bercerita. Selama Crystal bercerita, Sky tak banyak menyela. Dia mencoba menjadi pendengar yang baik. Tangannya menepuk-nepuk punggung Crystal untuk menguatkan sahabatnya itu.


"My God! Tapi kenapa harus kabur? Kamu nggak kasihan sama Kak Tristanmu? Dia pasti kebingungan mencarimu." Komentar Sky setelah Crystal selesai bercerita.


"Tapi memang seharusnya aku nggak ada disana lagi." Lirih Crystal.


"Kenapa? Karena bapakmu penjahat?"


Crystal mengangguk.


"Trus anak penjahat nggak boleh bahagia? Oh, silly you!"


Sky bangun dan mengumpulkan barang-barangnya. Tangannya memasukkan satu demi satu ke dalam tas ranselnya.


"Ngapain?" Mendadak Crystal merasakan feeling tak enak.


"Besok aku mau lanjutin perjalananku yang sempat tertunda."


Hmmm... Raut wajah Crystal menunjukkan kebingungan.


"Ok. Aku mengijinkanmu untuk ikut dalam perjalananku kali ini." Sky mengulum senyum. Dia sangat paham dengan perasaan Crystal. Dia sebenarnya tak rela berjauhan dengan Tristan.


Oh! Crystal semakin ragu saat teringat kalau perjalanan berikutnya adalah Eropa.


"Kenapa? Bukankah kemarin kita sudah belanja perlengkapanmu?" Tanya Sky saat melihat keraguan di mata Crystal.


"Uhm... Gimana kalau Kak Tristan mencariku?" Gumam Crystal.


Sky menjentikkan jarinya.


"So, just go home. Aku antar kamu. Gimana?"


Crystal terdiam.


"Tempatmu bukan disini, Princess. Kamu harus bersama orang yang bisa menjagamu. You're a little naive girl. Bisa-bisa kamu jadi target penjahat."


"Cih, kamu menghinaku." Crystal tersinggung karena disebut naif.


"Yeah, that's the fact."


(Yah, itu faktanya.)


"Aku nggak naif." Crystal menghentakkan kakinya kesal.


"Yes, you are."


"Aku juga bukan anak kecil!" kata Crystal lagi.


"Orang dewasa nggak kabur, Babe. They fight."


"Akan kutunjukkan kalau aku bukan anak kecil lagi!" kata Crystal sambil cemberut.


"Gimana caranya?"


"You can go away. Aku bisa hidup sendiri disini." Crystal terbawa emosi dan gengsi.


"Your words is my command, Princess." Sky memilih mengalah. Sky tahu kata-kata Crystal saat emosi tak perlu dimasukkan ke dalam hati.


(Kata-katamu adalah tugas untukku, Tuan Puteri.)


Hah?! Sky?


Crystal membelalak tak percaya. Semudah itukah Sky menurutinya dan dia akan meninggalkannya sendiri?


"TERSERAH!"


Crystal berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki menuju kamarnya.


BLAM! Pintu ditutup dengan keras.


Sky memandang pintu yang tertutup dengan pandangan yang tak terbaca.


"Be happy with your Tristan, Princess." bisiknya dari balik pintu.


Sementara dibalik pintu, Crystal menangis tersedu-sedu. Mendadak dia merasa sendirian dan merindukan Tristan.


Bersambung ya....


NOTE :


Backpacker adalah orang yang travelling dengan low budget, biasanya menginap di tempat-temlat murah, kadang sharing kamar sama orang tak dikenal. Singkatnya sih, perjalanan yang lebih cenderung bersifat petualang.


Si Sky ini kerjaannya adalah backpacker trus bikin video perjalanannya dan masukin ke akun you tube.