
"Hey... Aku cuma bercanda. Jangan marah, oke?" Tristan mengejar Crystal yang ngambek.
Crystal berbalik dengan wajah cemberut, tangannya terangkat dan langsung melayang.
"Eiiits, nggak kena!" Tristan berhasil menghindari pukulan Crystal, dan menjulurkan lidahnya. Tubuhnya siaga, siap kabur kalau-kalaundiserang oleh Crystal nanti.
Crystal mendengus tak terima. Awas ya, kalau sampai tertangkap. Crystal berkacak pinggang, otaknya berpikir keras bagaimana caranya menangkap Tristan. Kalau Kak Tristan lari, sudah pasti Crystal tidak akan menang. Dua langkah besarnya sama saja dengan satu langkah Tristan.
"Selamat malam Nona."
Eh?
"Permisi, Tuan Tristan."
Sapaan itu seketika menjeda scene Tom and Jerry yang sedang siap tayang. Tristan dan Crystal menghentikan aksi mereka, secara bersamaan menoleh kearah asal suara itu.
Seorang pria membungkuk dengan hormat dihadapan mereka. Seketika senyum Tristan memudar, berganti dengan ekspresi dingin yang sudah masuk ke mode ON.
"OM BEN!" pekik Crystal, bergegas dia menghampiri pria yang merupakan asisten Tuan Harrison.
Berbeda dengan Tristan, Crystal malah memasang wajah bahagia dan penuh rindu.
Entah kapan mereka terakhir bertemu karena Ben sibuk mengikuti kemana pun Tuan Harrison pergi. Crystal ingat saat masih kecil, Om Ben selalu datang dengan membawakan mainan favorite-nya dan kadang kala menemaninya bermain di sela-sela kesibukannya.
"Om Ben juga sedang liburan disini? Sama siapa?" Sapa Crystal ramah. Dia senang bisa bertemu dengan Ben hari ini, tak terbersit sedikit pun rasa curiga kenapa Ben mendadak muncul di Paris.
"Bagaimana liburannya Nona? Apa Nona senang?" Ben tak menjawab pertanyaan, sebaliknya dia menyapa Nonanya dengan sopan.
"Senang sekali, Om. We have fun here." kata Crystal ceria dan dia bercerita apa saja yang dilakukannya bersama Tristan beberapa hari ini.
Terbiasa dengan bawelnya Crystal, pria paruh baya itu dengan sabar mendengarkan celotehan Crystal. Waktu Tristan dan Crystal kecil, Ben yang mengurus segala keperluan mereka. Bahkan saat penerimaan raport mau pun graduation Tristan, Ben yang akan datang mewakili Tuan Harrison.
Kasihan? Hu-um.
Percayalah, ada beberapa kasus dimana anak-anak orang kaya hidup dan tumbuh besar dengan cara seperti ini.
Tak beda jauh dengan Tristan, Crystal pun lebih banyak bertemu dengan Ben dari pada kedua orang tua angkatnya. Tapi tak masalah, selama ini dia nyaman berbicara dengan Ben seolah berbicara dengan Papanya. Lagipula, selalu ada Tristan yang siap melimpahkan kasih sayangnya pada Crystal.
***
"Selamat sore, Tuan Muda." sapaan hangat Ben terdengar dari ujung telepon.
"Aku sibuk Om." Tristan terang-terangan menunjukkan sedang tak mau diganggu.
Mendengar Tristan menyebut kata sibuk, Ben langsung tanggap untuk segera menuju pokok pembicaraan.
"Tuan Hartono datang menemui Tuan Besar." Ben memulai percakapannya.
"What's for?"
"Dia... datang untuk... " Ben menelan ludah, mendadak lehernya tercekat.
" Ehem... " Ben berdehem.
"Untuk Tuan Tristan." kata Ben akhirnya.
Dia tak sampai hati menyampaikan percakapan berikutnya. Biar bagaimana pun, dia melihat Tristan tumbuh dari kecil. Hidup dengan segala aturan paten dan berbagai tekanan demi prestige keluarga Harrison. Semua dipatuhi tanpa bantahan. Haruskah Tristan sekali lagi patuh untuk sebuah pernikahan demi kelangsungan bisnis keluarganya?
"I know." jawab Tristan singkat.
Sesuai dugaannya pembicaraan mereka tak akan jauh-jauh dari perusahaan dan bisnis. Sejak Tristan bekerja, Ben tak pernah lagi berbicara santai dengannya seperti saat dia kecil dan remaja. Seperti sekarang ini, pasti ada urusannya dengan pekerjaan.
Meski sudah tahu arah pembicaraan itu akan kemana, tetap saja emosi Tristan langsung tersulut saat mendengar kalimat berikutnya.
"He wanted to marry Bianca to you for our business."
(Dia ingin menikahkan Bianca untuk kerja sama bisnis kita.)
"Aku sudah bilang ke Papa kalau aku akan memilih pengantinku sendiri. Dan dia berjanji akan membebaskanku." nada suara Tristan meninggi.
"Masalahnya.... " Ben menghela napas dan bersiap menghadapi apa pun respons Tristan.
"Nyonya sudah mengumumkan kalau beliau mencari pasangan untuk Tuan Muda. Dan dia terbuka bagi siapa saja yang ingin mendekati anda."
"DONE! I'm dead!" Batin Ben nelangsa.
(KELAR! Mati aku!)
"W- HAT - T HE - FU --CK!!" Tristan memaki, dia lepas kontrol.
Nah! Benar kan!
"Tuan muda.... maaf Tuan. Saya juga menyesalkan akan hal ini. Anda kan tau kalau Nyonya kadang begitu impulsive." Ben mencoba menenangkan Tuan Mudanya.
Tapi, sia-sia.
Kekesalan Tristan terlanjur memuncak, makian pun terlontar.
"AH, SH-- IT!!! It's shame on me!" Tristan mengusap kepalanya kesal, kedua alisnya saling bertautan.
(SIAL! Ini memalukan!)
Oh! Astaga! Tak sengaja matanya berserobok dengan satu-satunya orang yang selalu berhasil membuatnya tertawa, Crystal.
Tanpa aba-aba, telepon dimatikan, meninggalkan Ben yang termenung di seberang sana. Tristan tak mau mata polos itu ternoda dengan melihatnya sedang memaki-maki.
***
"Ada apa?" Tanya Tristan to the point.
Sesuatu pasti telah terjadi kalau sampai Ben menyusulnya hingga ke Paris. Karena tak ingin Crystal mendengar pembicaraan mereka, Tristan mengajak Ben bertemu di restaurant hotel setelah mengantar Crystal ke kamar.
"Tuan besar menyuruh saya segera membawa Tuan Muda pulang." Ben berdiri dan mempersilahkan Tristan untuk duduk lebih dahulu.
"Saya bisa pulang sendiri, Om." ketus Tristan.
Ben menghembuskan napas berat, serba salah. Biasanya Tristan welcome padanya, tapi kali ini dia sedang menjaga jarak. Ben sadar, Tristan kecewa dengan perlakuan orang tuanya. Dan kali ini, Ben adalah perwakilan orang tuanya.
"Berkat rumor rencana pertunangan dengan anak keluarga Hartono, saham meroket. Investor berdatangan, kerja sama juga sedang berjalan. Kalau orang-orang tau, anda menolak Nona Bianca, maaf Tuan Muda, ini tidak baik untuk perusahaan dan diri anda sendiri."
"Jadi benar dugaanku, Mama yang memberitahu Bianca sampai-sampai dia menyusulku kemari?"
Darimana lagi Ben sampai tahu kalau dia sudah menolak gadis itu, tersangkanya hanya ada Bianca dan kedua orang tuanya. Pasti mereka semua ada hubungannya dengan kedatangan Bianca kesini.
Dengan berat hati, Ben mengangguk.
"SH--- IT!"
Tristan membuang pandangannya keluar resto, kecewa. Bahkan untuk pasangannya pun, semua sudah ditentukan.
"Aku nggak peduli, Om. Aku tak suka Bianca."
Kepala Ben terasa berat mendengar jawaban Tristan.
"Maafkan saya, Tuan Muda." Ben meminta maaf untuk kesalahan yang tak dilakukannya.
"Saya mohon tolong pikirkan nasib ribuan karyawan Harrison." Ben mencoba menyentuh hati Tuan Mudanya, dia percaya Tristan masih sangat peduli dengan nasib mereka.
Tristan menarik napas, pelan dan dalam. Ben benar. Ada ribuan orang hidup dari Harrison, mereka membutuhkan makan, dan menggantungkan harapan pada perusahaannya.
"Setidaknya, tunggulah sampai waktu yang tepat. Saya berjanji akan mempersiapkan segala sesuatu untuk saat itu. Percayalah saya akan mengerjakan semua secepatnya yang saya bisa."
Bersambung ya....