I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 42 -- Fight Or Run?



"Kenapa? Apa karena aku anak yatim piatu dan... " Suara Crystal tercekat. "Tak diketahui siapa orang tuaku?"


"Bukan itu, Sayang... " Tristan mencoba meluruskan maksud pembicaraannya saat ini.


Tapi percuma, Crystal menarik tangannya yang hendak dipegang oleh Tristan. Sikap Crystal membuat Tristan jadi merasa serba salah.


Tristan menghembuskan napas panjang. Ya. Sumber segala masalah ini adalah dirinya dan status Harrison yang disandangnya.


Crystal bangkit berdiri, dia tak suka pembicaraan ini.


"Tunggu. Biar aku selesaikan ceritaku."


Tristan menangkup pipi Crystal dengan tangannya.


"Aku sudah menolak Bianca dan ngomong ke Papa kalau aku suka orang lain."


Dari bahasa tubuh Crystal, nampak dia sedikit lega, ketegangan di wajahnya mengendur.


"Masalahnya... " Tristan berhenti untuk memilih kata-kata.


"Apa masalahnya?" Crystal merasa penasaran.


"Papa tau kalau aku suka pada seseorang dan cepat atau lambat dia pasti akan tau soal kita."


Hati Crystal mencelos, dia belum siap untuk berhadapan dengan Mama dan Papa angkatnya itu. Crystal menggigit-gigit bibir bawahnya karena bingung tak tahu harus berkata apa. Dia tak pernah menyangka hubungannya dengan Tristan akan menjadi serumit ini.


"Crystal, please... " Tristan memohon.


Oh, No! Sepertinya Crystal tahu apa yang diinginkan oleh Tristan. Kadang kala dirinya memang bandel tapi untuk melawan Papa dan Mama angkatnya, Crystal tak punya cukup keberanian.


"Aku takut, Kak... " lirih Crystal. Matanya melihat kebawah tak berani menatap Tristan.


Tristan menggeleng, "Lihat aku." katanya lembut.


"Aku tau. Aku yang akan bicara sama Papa dan semua resiko akan kutanggung. Aku hanya butuh kamu percaya sama aku.... Hm?"


Sorot mata Crystal nampak ragu-ragu.


"Come on. Pilihannya fight or run. I want you to fight with me."


"Mereka pasti tak mengijinkan aku bersama Kak Tristan. Mama saja sudah bilang kalau aku sudah delapan belas dan sudah waktunya aku keluar dari rumah ini." keluh Crystal.


"Apapun yang dilakukan kedua orang tuaku, aku pasti melakukan yang terbaik untukmu. Dari kecil, Papa sudah menyerahkan tanggung jawab atas dirimu padaku. Dan akan selalu begitu."


Crystal menarik napas panjang, rasa takut masih meliputinya. Setelah liburan yang indah, sepertinya mereka akan di lemparkan ke kenyataan yang tidak mudah. Haruskah dirinya menyesal karena terlanjur menyukai Kakaknya?


"Lihat aku, Crystal. Kamu percaya padaku kan?"


Crystal menatap Tristan, untuk menghimpun keyakinan dan kekuatan.


"Ya." katanya.


***


Makan malam di kediaman Harrison.


"Tristan sudah berumur tiga puluh tahun ini sekarang." Nyonya Harrison membuka percakapan.


Ben, yang juga ikut makan malam, mendongak ke arah Tuan Harrison yang sedang makan di ujung meja. Ekspresi Tuan Harrison tak terbaca.


Tristan menarik napas pelan, dibawah meja tangannya menggenggam lembut tangan Crystal.


"Here we go. This is the beginning."


(Ini dia. Inilah permulaannya.)


"Di WA grup socialita nama Tristan masih jadi hot news. Banyak yang mencalonkan diri." Nyonya Harrison mengulum senyum, matanya melirik ke suaminya.


"Memangnya ada kandidatnya?" akhirnya Tuan Harrison bersuara.


"Ooo... banyak. Temen-temenku pada mengajukan anak-anak mereka, semua yang terbaik. Cantik-cantik, dan sesuai dengan kriteria yang aku ajukan." kata Nyonya Harrison sambil tertawa pelan.


"Tapi Mama sih tetap pilih Bianca. Dia cantik, pintar berbisnis dan nggak neko-neko." lanjutnya lagi.


Ben diam-diam memperhatikan reaksi Crystal sambil menahan perasaan. Dia tak ingin hubungan Crystal dan Tristan menjadi sulit karena terlalu gegabah.


"Mama, aku tak menyukai Bianca. Dan siapa pun kandidat yang Mama ajukan. Aku akan memilih calon istriku sendiri." Trisan menatap Mamanya dalam-dalam dan berbicara dengan nada datar dan dingin.


Seisi ruangan langsung memusatkan perhatian pada calon pewaris tunggal Harrison Group. Kalau Tristan sudah menggunakan nada dingin seperti ini, itu artinya dia tidak mau dibantah. Perkataannya sudah final.


Crystal merasa tegang sampai perutnya terasa mual, dia tak tahan dengan situasi seperti ini.


Ben was was. Dia terus mengawasi sambil berharap semoga semua tidak akan seburuk yang dia pikirkan.


Ya. Ben tau kalau Tuan dan Nona mudanya sudah saling jatuh cinta saja sudah cukup membuat kepalanya pusing. Dan sekarang Nyonya besar jelas-jelas mengajukan kandidat lain. Mereka sama-sama keras dan tak mudah ditaklukkan. Tangan Ben terkepal, sekarang hanya tinggal berharap pada kebaikan Tuan Harrison.


"Eheem.... " Tuan Harrison berdehem.


"Tristan sudah punya pilihan sendiri, Mama. Aku sudah berjanji akan membiarkan dia memutuskan sendiri."


Ha? Nyonya Harrison tercengang.


"Aku sudah menjatuhkan pilihanku, dan kami sekarang adalah sepasang kekasih. Aku akan menikahinya."


"HAH?!" pekik Nyonya Harrison.


Dia benar-benar tak menyangka Tristan yang tak pernah nampak dekat dengan wanita mana pun, sekarang sudah mempunyai kekasih. Astaga!


Tak beda jauh dengan Nyonya Harrison. Setiap perkataan Tristan bagaikan letupan bom kecil-kecil di hatinya. Satu demi satu meledak. Dan sepertinya, setelah ini akan ada bom besar menghantam mereka.


Crystal tak sadar menahan napas. Dia bersiap atas segala kemungkinan yang akan terjadi. Andai saja dia bisa, mungkin lebih baik dia menghilang dan masuk ke perut bumi.


Tristan mengangguk mantap.


"Siapa dia? Anak siapa? Apakah kami mengenal orang tuanya?" Nyonya Harrison memberondong Tristan dengan pertanyaan khas orang tua mengenai calon menantu.


"Kalian mengenalnya."


Tristan menggenggam tangan Crystal semakin erat dan menguatkan hatinya untuk meledakkan bom terbesar.


"Crystal. I love her more than just a sister."


Suara Tristan bergema di ruangan yang sunyi tanpa keraguan, siap menghadapi apa pun yang ada di depan mereka kelak.


"MEMALUKAN!" pekik Nyonya Harrison.


Crystal mengerjap dan mencondongkan tubuhnya kearah Tristan saat melihat tangan Nyonya Harrison terangkat memegang sebuah gelas berisi jus dan melemparkannya pada anak satu-satunya itu.


BUKK!


Gelas keramik mengenai kepala Crystal yang menghalangi Tristan. Juice yang ada di dalamnya mengenai rambut dan wajah Crystal, cipratannya mengotori baju Tristan.


PRAK!


Gelas itu jatuh ke lantai dan pecah.


"MAMA!" geram Tristan.


Dia berdiri dengan cepat, hingga kursinya terpelanting. Lalu langsung memeluk Crystal yang tertunduk.


"Sayang, nggak apa-apa?" tangannya mengusap kepala Crystal.


Mereka semua terkejut bukan hanya karena sikap Nyonya Harrison yang mendadak barbar, tapi juga karena panggilan Tristan pada Crystal.


Tristan tak segan memanggilnya dengan sebutan sayang dan memeluk Crystal begitu erat dihadapan mereka semua.


Tuan Harrison pucat, dia mengusap kepalanya yang mendadak berkeringat, teringat janjinya pada Tristan untuk mengijinkannya menikah dengan siapa pun yang dia mau.


"Ya Tuhan.... " gumam Ben sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang. Dia berjaga jangan sampai Tuan Besarnya collapse karena kabar ini.


"KETERLALUAN KAMU, TRISTAN!" Mata Nyonya Harrison berapi-api. "Bisa-bisanya kamu menyukai orang yang tak jelas asal usulnya."


Bersambung ya....