
"She is my special one, Mr. Robert." Tristan tersenyum penuh arti.
Hah? Apa maksud Kak Tristan? Crystal tak bisa menyembunyikan ekspresinya. Tristan melirik dan mengedipkan mata sambil tersenyum.
Wow! He is so charming!
Panah cupid meluncur cepat dan menancap tepat di hatinya.
Crystal terpana, dan pipinya kembali merona.
Beberapa saat kemudian, Tristan masih berbincang dengan Mr. Robert. Pembicaraan khas laki-laki dewasa yaitu seputar bisnis. Kepala Crystal pusing mendengarkan pembicaraan yang tak dimengertinya. Apalagi beberapa kenalan Tristan mulai berdatangan, nampaknya pembicaraan akan semakin seru dan berkepanjangan.
Perlahan-lahan dia mundur, lebih baik dia berkeliling. Lagipula, acara belum dimulai, dan makanan juga belum dihidangkan. Crystal mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, banyak wajah-wajah familiar yang biasa muncul di TV, mulai dari artis, youtuber, presenter dan juga grup band ternama.
"Hai."
Seorang pemuda menyapanya, mungkin saja dia seorang mahasiswa. Penampilannya nampak lebih muda dari para pria yang dilihatnya bersama Tristan tadi. Sebuah blazer dengan kaos di dalamnya dengan celana slim fit, terlihat muda dan bergaya.
"Need a friend?" Dia tersenyum manis pada Crystal.
Crystal bingung harus menjawab apa, tapi dia memang sedang sendirian karena Tristan sedang asyik berbincang dengan para pengusaha lainnya.
"Namaku Benedict Xanders. You can call me, Ben!" Pemuda itu mengulurkan tangannya.
"Crystalin Harrison." Diam-diam Crystal bersyukur, setidaknya dia tidak mati gaya di pesta ini karena mungkin saja dia bisa berbincang hal-hal yang ringan dengan pemuda ini.
"Berapa umurmu? Sendirian?" Nampaknya Ben tertarik pada Crystal.
"Oh, aku datang bersama --" Dengan dagunya, Crystal menunjuk Tristan yang masih larut dalam pembicaraan. Dari belakang, mereka nampak seperti gank mafia dengan jas hitam sedang bergerombol. Hanya saja mereka tak memakai kaca mata hitam. Crystal terkikik dalam hati, membayangkan Tristan berkaca mata hitam di dalam ruangan pesta itu.
"Tristan Harrison?" Ben terlihat berpikir.
Crystal mengangguk.
"Kamu siapanya? Aku dengar dia masih single. Apa kamu istrinya? Atau tunangannya?"
Istri? Apa dirinya setua itu? Kami ini adalah kakak beradik! Dalam hati, Crystal mendengus kesal. Kenapa konsep kakak beradik tak ada di otak pemuda di hadapannya, jelas-jelas nama belakang mereka sama. Harrison!
"Menurutmu?"
"Aku nggak tau kalau pacar Tuan Tristan cantik dan muda seperti ini. Tapi kudengar dari orang tuaku kalau tahun ini, Tristan bakal tunangan sama Bianca Hartono." Benedict mengerutkan keningnya.
Pacar Tristan versus tunangan Tristan, hati Crystal mendadak terasa panas.
Cih! Keduanya salah! Dirinya bukan pacar, tapi adik Tristan Harrison. Dan Bianca? Lebih salah lagi! Dia juga bukan calon tunangan Tristan. TITIK, no debat!
Hampir saja Crystal memprotes omongan Benedict, tapi sebuah sentuhan lembut mendarat di bahunya.
"Sorry, aku keasyikan ngobrol."
Tristan menghampiri Crystal segera setelah dia sadar kalau Crystal tak ada di sampingnya. Matanya bertemu dengan mata Benedict yang berdiri di depan Crystal, nampak Tristan mencoba mengingat siapa pemuda didepannya itu.
"Benedict Xanders, Tuan Tristan." Benedict memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Ah... ya, saya ingat. Saya pernah bertemu dengan Tuan Xanders." Tristan tahu kalau Benedict adalah anak Tuan Xanders, bussinesman dari Amerika.
Astaga! Ternyata Benedict dan Tristan malah berbincang tentang bisnis lagi. Crystal memutar bola mata kesal. Baru saja mendapat teman, eh malah dimonopoli lagi sama Tristan.
Crystal mulai bosan, perutnya juga mulai protes. Tapi hidangan yang ditunggu masih juga belum dihidangkan. Tanpa pamitan, dia kembali duduk di meja VVIP. Beberapa snack, coklat, dan permen di mangkuk kecil di hadapannya sudah tandas. Dia bahkan sudah menghabiskan bagian Tristan. Masa bodoh dengan Tristan, yang penting dia bisa mengganjal perutnya.
"Kak, sampai jam berapa sih ini?" bisik Crystal pada Tristan yang sudah kembali ke tempat duduknya.
"Bosan? Mau pulang? Rasanya tadi kamu enjoy banget tuh." Tristan membelai lembut rambut Crystal.
Ugh! Crystal ingin menghentakkan heelnya kuat-kuat. Dasar laki-laki tidak peka!
"Excuse me, aku mau ke toilet dulu."
Crystal langsung berdiri dan berjalan cepat tanpa menunggu jawaban Tristan. Enjoy darimana? Udah dandan cantik, mikir bakal ada adegan romantis, ternyata malah ditinggal ngobrol sama gerombolan jas hitam. Huh!
Baru saja Crystal melangkah masuk, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang.
"AAAaa!" Crystal memekik kaget.
Detik berikutnya mata Crystal sudah membelalak melihat siapa yang ada di depannya.
"Kamu kenapa?" Tristan bertanya lembut seperti biasa.
"Aku cuma mau ke toilet. Ngapain Kak Tristan ikutan masuk?"
"Tadi kamu keliatannya lagi kesel banget. Ada apa?"
"Nggak, nggak ada apa-apa." Crystal. menghentakkan tangannya dengan sewot.
Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Oke! Oke! Kamu pengen apa?" bujuk Tristan.
"Nggak pengen apa-apa. Aku cuma boring. B-O-R-I-N-G!" Crystal mengeja kata boring dengan wajah bersungut-sungut.
"Boring gimana?" tanya Tristan heran.
"Aku bosan! Sudah nggak ada yang aku kenal, Kak Tristan malah asyik ngobrol sama orang lain. Sebel!" Crystal mulai merajuk.
Hm, Tristan tahu sekarang apa alasannya kenapa Crystal nampak bad mood.
"Kenapa nggak bilang? Kalau kamu nggak suka, pasti aku ajak pulang."
"Ya nggak bisalah! Memangnya aku nggak tau diri? Gangguin pembicaraan bapak-bapak." Crystal mencebik, tangan bersedekap dan pandangannya dibuang kearah lain. Benar-benar ngambek.
"Trus kamu lebih milih si Benedict itu buat nemeni kamu?"
Hah? Apa-apaan sih Kak Tristannya ini? Kenapa malah out of context? Crystal semakin kesal, sekesal-kesalnya.
"Biarin aja! Kenapa memangnya? Toh Kakakku sudah nggak peduli lagi sama aku. Kak Tristan mau lupain aku kan?"
Entah kenapa sebutan Kakak kali ini terasa menyakitkan di hati Tristan. Untuk pertama kali dalam hidup, dia tak ingin menjadi Kakak bagi Crystal.
"Kalau bisa, aku nggak mau lagi jadi Kakakmu." bisik Tristan menahan emosi yang mendadak tersulut.
"Hah?" Crystal memandang mata Tristan yang terlihat begitu tajam.
"Kenapa? Kenapa nggak mau lagi jadi Kakakku? Karena sebentar lagi Kak Tristan mau tunangan sama Bianca? Iya kan?" Crystal menyemburkan semua kekesalan yang disimpannya sejak berbincang dengan Benedict tadi.
Apa maksudmu?" Tristan mendesis, matanya lekat kepada Crystal.
"Kak Tristan mau ninggalin aku kan? Trus hidup berdua sama Bianca." Matanya mulai memanas dan pipinya memerah karena amarah.
Tuduhan tanpa dasar!
"Bukan gitu, Sayang. Kalau nggak tau tuh nanya, jangan marah-marah." Alih-alih marah, Tristan malah mengulum senyum."
"Nggak usah senyum-senyum. Aku nggak suka!" Crystal makin uring-uringan.
Melihat Crystal marah karena Bianca, senyum Tristan makin melebar. Ada rasa bahagia menyeruak. Lagipula, Tristan juga tahu kalau Crystal sedang salah paham dengan pernyataannya tadi.
"Oke! Oke! Dengerin dulu."
"Nggak! Nggak mau! Aku benci Kak Tristan... ENGG... --"
"Hmph...!"
Bersambung ya....
Author note : Liat Tristan sama Crystal saling cemburu gitu bikin aku jadi ingat jaman-jaman masih pacaran dulu 😝😝😝😝