
Beberapa hari kemudian.
"Good morning, Kak Tristan." sapa Crystal ceria.
Baru saja ketukan pertama terdengar, Crystal sudah langsung membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Senyumnya secerah matahari pagi.
"Tumben udah bangun?"
Tristan heran melihat Crystal sudah bangun, berpakaian rapi dan cantik. Biasanya dia harus bersusah payah membangunkan Crystal. Atau kadang-kadang Suster Anna yang menggantikannya saat dia harus keluar kota atau keluar negeri.
"Aku kan sudah gede, Kak Tristan. Sudah bisa bangun sendiri." jawabnya dengan nada bangga.
"Sudah gede apaan? Sudah gede itu jangan suka nangis." sindir Tristan, teringat bagaimana Crystal kemarin meraung-raung karena disuruh sekolah keluar negeri.
"Hiiih... itu kan beda kasus. Jangan sama-samain." Wajahnya memerah, malu kalau mengingat kelakuannya kemarin.
Tristan tertawa. "How was your sleep?" tanyanya sambil mengecup kening Crystal.
"Hmmm... bobokku enak banget. I slept like a baby. Trus mimpi bagus banget, Kak."
"O'ya?" Tristan merangkulnya, mengajak turun kebawah untuk sarapan.
"Hm-hm." Crystal mengangguk-angguk.
"Mimpi apa?"
"Aku mimpi jalan-jalan di taman yang baguuuuuus banget! Ada sungai kecil, bunga-bunga, kupu-kupu. O'ya kupu-kupunya warna warni, cantik semuanya." Mata Crystal berbinar-binar saat bercerita.
"Pokoknya bagus banget deh. Kaya di wonderland." Crystal terus berceloteh.
"Hmmm... ya... ya... "
"Eh, Kak Tristan."
"Hm?"
"KakTristan tau nggak disana ada apa lagi?"
Yaelah... yang mimpi siapa, yang ditanya siapa. Dasar Crystal. Untung saja Tristan pendengar yang baik dan sabar.
"Hmm... nggak tuh. Ada apaan memangnya?"
"Mmmm.... disana itu ada maze. Nah, aku jalan diantara maze itu, Kak. Aku sampe ngerasa kaya Alice in the wonderland." Crystal berhenti sejenak.
"Tapi... aku jalannya kenapa sendiri ya?" Crystal seperti berkata pada dirinya sendiri.
"Tempatnya bagus sih, sayangnya nggak ada teman disana." Senyum Crystal sedikit memudar. Dia terdiam dan nampak berpikir.
Gawat! Crystal mulai murung lagi. Dari tadi Tristan menghindari topik keluar negeri supaya Crystal tidak bersedih lagi.
"Jadi kamu ketemu Mad hatter dong?" pancingnya supaya Crystal kembali berceloteh. Tristan senang sekali melihat gaya bercerita Crystal yang menggemaskan.
"Lho, kok Kak Tristan tau Mad Hatter segala?" tanya Crystal heran.
Kak Tristannya ini memang ajaib. Padahal waktu di disneyland, dia keliru membedakan antara scooby-doo dan pluto. Eh, sekarang malah ngerti tokoh Alice In The Wonderland.
Tristan mengulum senyum, "Gimana nggak inget? Waktu itu kan kamu nontonnya sama aku. Kamu nangis-nangis, minta temenin nonton. Aku nggak tega ninggal kamu, terpaksa bolos kerja." kata Tristan pura-pura kesal.
Ha?
Crystal menarik napasnya dalam-dalam, merasa bersalah. "Jadi dari kecil aku selalu nyusahin Kak Tristan ya?"
"Sampe sekarang juga masih suka nyusahin kok!" kata Tristan dengan nada penuh arti. Matanya mengerling nakal.
"O'ya?" Mata Crystal membelalak, shock bercampur rasa bersalah.
Tristan terbahak.
"Just kidding, Sayang. Aku lebih suka kamu manja dari pada kamu ngambek atau nangis-nangis. Kalau udah nangis, kepalaku serasa mau pecah." kata Tristan sambil tersenyum.
Hmmm... Crystal langsung melirik dengan tatapan membunuh. Sadar kalau Tristan sedang menggodanya.
"Hiiih... udah berangkat sana! Aku mau kerjain misi rahasia." usir Crystal sambil mendorong Tristan keluar rumah.
"Misi rahasia apa?" Tristan jadi kepo.
"Lah? Gimana sih? Aku bilang rahasia, kok malah nanya? Nanti bukan rahasia lagi dong." omel Crystal sambil berkacak pinggang.
"Rahasia apa Crystaaaaaaaal?" Tristan malah makin penasaran.
Hah? Emak-emak tukang gossip? Tristan jadi tersinggung.
"Yeee... itu salahmu kan? Rahasia ya rahasia aja. Nggak usah bilang misi rahasia segala." Tristan bersungut-sungut, dan langsung masuk ke dalam mobil.
Batal sarapan deh!
Sampai di kantor, Tristan berpapasan dengan David di lobby. Tergopoh-gopoh, David menyongsongnya sambil membawa tas, tumpukan dokumen dan tumbler Starbucks.
"Whooaa... awas!" seru Tristan, refleks menangkap tumbler yang lolos dari kepitan lengan David.
"Thanks, Man!" kata David sambil nyengir.
Tristan melirik jam tangannya, masih ada waktu untuk sarapan kurang lebih satu jam sebelum meeting. Tristan dan David beriringan menuju lift yang diperuntukkan untuk VVIP. David menunjukkan IDnya dan secara otomatis lift itu men-scan. Pintu lift terbuka. David memberi kode supaya Tristan masuk lebih dulu.
Tristan melangkah masuk dan berbaik hati membawakan tumbler milik asistennya. David mengikuti langkah Tristan.
"Hey, wait! Tristan! Wait!" Terdengar suara merdu seorang perempuan.
Sontak David menoleh, matanya membelalak dan buru-buru masuk ke dalam lift. Tangannya buru-buru memencet lift hingga sebagian dokumen berjatuhan.
Tristan hanya sempat melihat tangannya melambai-lambai.
"Ceroboh!" omel Tristan sambil membantu memunguti dokumen-dokumen yang terjatuh di lantai lift.
"Kamu bakal berterima kasih kalau tau siapa yang tadi panggil-panggil." David menunjukkan wajah bangga.
"Siapa memangnya?"
"Ehm, Nona Bianca. Aku yakin, kamu lagi males kan ketemu dia sejak kejadian foto kemarin."
David terkekeh saat mengingat bagaimana kesalnya Tristan yang tidak bisa apa-apa waktu tahu kalau orang pertama yang menyebarkan foto mereka di Paris adalah orang suruhan Bianca. Lagi-lagi demi persahabatan Mamanya, Tristan terpaksa mengalah. Dia membatalkan tuntutannya.
"Bianca?" Tanya Tristan heran. "Ngapain?" Ekspresi wajah Tristan seperti habis melihat film horor.
"Lho, kamu nggak tau?" David balik bertanya. "Nona Bianca kan dijadwalkan ikut meeting pagi ini."
"Excuse me...?!" seru Tristan kaget. What the hell!
"Lha... aku kan sudah kirim jadwalnya kemarin malam setelah aku balik dari rumahmu. Kamu nggak baca detailnya?" David tak merasa bersalah.
Tristan menarik napas dalam-dalam.
Ah! Gara-gara terlalu fokus dengan kesedihan Crystal yang mau berangkat ke luar negeri, dia hanya baca sekilas dan langsung oke meeting pagi ini.
"Makanya, Man. Aku juga heran sih sebenernya. Kok masih mau-maunya ketemu sama Bianca." cibir David.
"Lah? Gimana sih kamu? Tau aku nggak suka, kenapa nggak make sure lagi ke aku?" Tristan makin kesal.
"Eh, tunggu. Bukannya pagi ini cuma meeting internal?" Pagi ini Tristan mendadak merasa menjadi orang bodoh.
"Bukan, Pak Boss. Meeting internalnya besok." David memutar matanya ikut kesal, mendadak Tristan jadi lemot.
"Jadi, meeting nanti bahas apa? Kenapa Bianca... ?"
"Dia itu kan punya saham di start up kita yang baru. Meeting pagi ini mau bahas soal launching product-nya juga."
Hah!? Tristan semakin tak mengerti, otaknya ruwet. Mumet.
"Bentar, bentar." Tristan menahan langkah David yang hendak keluar saat pintu lift terbuka.
"Kenapa sekarang jadi dia yang memegang saham?"
"Lho, memangnya Nyonya Harrison nggak kasih tau kalau dia sekarang yang pegang Hartono Group? Sebagian sahamnya kan udah dialihkan ke si Bianca itu."
AGAIN?
MAMA?
S ---H --IT!!!!!
Bianca hasn't over yet.
Bersambung ya....
NOTE :
Maze adalah labirin, semacam sistem jalur yang berkelok-kelok dan banyak yang memiliki jalan buntu. Kalau di kertas, kaya permainan menemukan jalan. Tapi ada juga yang ukuran besar terbuat dari tanaman.