I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 55 -- Bonding



"Tari, makan malam buat Tuan Tristan sudah siap?" tanya Suster Anna.


"Sudah dong, Sus. Tapi dua hari ini Tuan Tristan nggak makan malam." Tari melapor pada Suster Anna.


Suster Anna menghela napas, helaannya terdengar prihatin. Meski tahu kalau dua hari ini Tristan tidak makan dirumah, Suster Anna tetap menyediakan makanan untuknya.


Semua orang di rumah merasakan perubahan Tristan. Pulang tengah malam seakan menjadi kebiasaan baru Tristan dalam beberapa hari terakhir ini.


Sampai rumah, masuk ke kamar dan mendekam disana sampai pagi. Entah apa yang dikerjakannya di dalam kamar. Kebiasaan bangun pagi pun mendadak hilang. Pukul delapan dia akan turun, kemudian pamitan dan langsung pergi.


"Lha wong ditinggal adik pergi aja kok kaya putus cinta ya Sus?" celetuk Tari dengan logat jawanya yang kental.


"Kamu itu... kadang ndak bisa memahami perasaan orang, Tari." keluh Suster Anna sambil menyendokkan nasi untuk Pak Supri.


Pak Supri manggut-manggut sambil mengunyah ayamnya. Tari terdiam, wajahnya sedikit menampakkan penyesalan.


"Nona itu kabur, bukan pergi. Beda lagi kalau perginya pamitan, bisa tanya kabar. Kalau gini kan bikin kuatir jadi kepikiran terus." Pak Supri menunjuk kepalanya. "Aku aja kepikiran. Pengen nangis tapi takut disambit sama bini gara-gara nangisin cewek lain."


Suster Anna mencibir. "Pak Supri kangen Nona apa kangen kopi starbuck? Biasanya suka dibeliin sama Nona kan?" Suster Anna melempar serbet ke Pak Supri. "Hayoo! Ngaku!!!"


"Hehehe... " Pak Supri cengengesan.


"Biasanya rumah kaya kena badai kalau ada Nona. Sekarang jadi kerasa sepi. Ya memang sih, tingkahnya kadang suka bikin sakit kepala... " Putri yang dari tadi diam saja ikut berkomentar.


NAH! Ini dia...


"MEMANG! SELALU BIKIN ORANG SAKIT KEPALA!" Serempak Suster Anna dan Pak Supri langsung paduan suara.


***


Menjelang tengah malam, Tristan baru sampai di rumah. Entah apa yang dikerjakannnya beberapa hari ini. Sepertinya Tristan sedang tak mau bertemu dengan siapa pun.


Kemarin-kemarin, Suster Anna sudah tidur setiap kali Tristan pulang. Tapi hari ini sedikit berbeda.


Tristan terkejut begitu masuk ke dalam rumah dan menemukan Suster Anna sedang duduk di sofa depan TV. Dia menonton sinetron sambil terkantuk-kantuk.


"Sus." Sapa Tristan pelan.


Suster Anna gelagapan, dia kaget. "Oh, Tuan sudah datang?"


"Belum tidur, Sus?" tanya Tristan heran sambil melepaskan jas dan dasi yang melilit di lehernya.


"Nungguin Tuan Tristan."


Tristan tertegun, ada haru yang terselip.


Suster Anna berdiri, merapikan baju dan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Mau minum apa Tuan?"


"Adanya apa Sus? Apa aja boleh." Tristan tak ingin merepotkan.


"Coklat hangat?" tanya Suster Anna. Dia sengaja menawarkan coklat karena tahu kalau cokelat bagus untuk memperbaiki mood Tuannya.


Tristan mengangguk. "Boleh."


Sembari menunggu Suster Anna memanaskan cokelat untuknya, Tristan menghempaskan tubuhnya ke sofa dan menghembuskan napasnya. Meski sudah malam, otaknya tak bisa berhenti memproses banyak hal. Dia sedang menyusun rencana-rencana ke depan yang akan dilakukannya.


Tak lama, harum cokelat menguar saat Suster Anna datang membawa secangkir cokelat hangat untuknya.


Tristan menerima secangkir cokelat hangat dan menyeruputnya. Perasaannya lebih enak dan perut pun terasa hangat.


"Tuan... " Suster Anna duduk di ujung sofa dengan sopan.


"Apa mau makan? Sus temani ya Tuan?" Tanyanya penuh perhatian.


Mendadak Tristan merasa melankolis. Dia menatap haru Suster Anna yang rambutnya mulai memutih. Suster Anna mengusap air mata yang merebak di sudut matanya. Tristan sadar kalau Suster Anna mengkhawatirkannya.


"Aku sudah makan sama David. Tadi sekalian dinner sama client." jawab Tristan kalem.


"Ooo... "


Suster Anna duduk diam. Tapi tangannya tak berhenti mer-- emas- remas ujung bajunya, gelisah.


Tristan menangkap gesture itu. Tangannya menaruh cangkir di meja. Mengenal Suster Anna puluhan tahun, membuat Tristan paham kalau ada yang ingin dibicarakan oleh pengasuhnya.


"Kenapa Sus?"


"Sus mau cerita, Tuan. Tapi Tuan jangan marah."


Tristan menatap mata sayu dihadapannya. Dia bisa merasakan ketulusan hati wanita dihadapannya, orang yang selama ini banyak membantunya merawat Crystal.


"Ngomong aja. Saya nggak mungkin marah sama Sus." katanya lembut.


"Tuan, seburuk apa pun orang tua. Dia tetap orang tua kita. Tuan harus tetap bersikap sopan sama mereka. Ya?" Suster Anna membuka pembicaraan dengan nasehatnya. Sama persis seperti waktu Tristan kecil dulu.


Tristan mengerutkan kening. Perasaannya selalu tak enak setiap kali Suster Anna menyuruhnya bersikap sopan yang artinya dia harus mengendalikan diri.


"Sus sebenernya pengen ngomong apa?"


Suster Anna menatap Tristan sesaat, mencari tahu emosi apa yang ada di dalam hati Tristan saat ini.


"Mbak Tari tadi cerita... " kata Suster Anna dengan hati-hati. Dia mengenal laki-laki dihadapannya dengan baik. Topik yang akan diceritakannya sangatlah sensitif bagi Tristan.


"Apa?"


"Katanya dia sempat liat kalau Nona berbicara sama Nyonya." lirih Suster Anna. Matanya menatap ragu, bersiap menerima reaksi Tristan.


Ternyata, tak ada response apa pun.


Tristan sebenarnya sudah tahu. Crystal memang kabur, tapi seseorang sengaja menutup akses pencariannya. Tapi jangan sebut dia Tristan, kalau tak berhasil mengungkap masalah sesimple ini.


"Kok baru ngomong sekarang Sus?"


"Maaf, Tuan. Mbak Tari nggak berani. Dia takut dipecat. Ibunya sakit, butuh banyak biaya." Suster Anna menunduk. Dia mengusap air matanya yang kembali menetes.


"Sus nggak mau Tuan bertengkar sama Nyonya. Tapi Sus juga kuatir sama Nona jadi mau nggak mau Sus cerita." katanya serba salah.


Tristan tak bisa berkata apa-apa. Matanya memandang secangkir cokelat yang ada di meja di hadapannya.


"Sus pengen aku ngapain?" akhirnya Tristan bertanya.


Dia menggenggam tangan yang sudah mulai keriput itu. Hatinya semakin terharu melihat gurat-gurat yang nampak semakin jelas karena usia. Tangan yang sudah bekerja keras untuknya dan Crystal.


"Sus nggak tau, Tuan." katanya sambil terisak. "Sus cuma kangen sama Nona."


Tristan menghela napas.


"Sus mau nemeni Crystal kemana pun dia pergi?" tanya Tristan lagi.


Suster Anna termenung. Hatinya terbelah, dia tahu artinya 'menemani Crystal' kemana pun.


"Tapi Sus juga nggak tega ninggalin Tuan Tristan sendirian di rumah ini."


Tristan bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan Suster Anna.


"Nggak usah kuatir. Saya nggak apa-apa. Saya minta tolong. Titip Crystal dan jagain dia buat saya." Tristan memohon dengan sopan sebagai apresiasinya pada Suster Anna.


"Ngomong-ngomong, memangnya Tuan sudah tau kemana Nona pergi?"


Tristan mengangguk dan tersenyum. "Nanti aku atur waktu untuk jemput dia." kata Tristan dengan tenang.


Ha?


"Beneran Tuan sudah tau kemana Nona pergi?" Suster Anna bertanya lagi, seakan tak percaya dengan pendengarannya. Seketika wajah yang mendung itu langsung cerah begitu tahu akan segera bertemu dengan Nonanya.


"Iya, Sus. Iya." Tristan memeluk tubuh mungil itu dengan kedua tangannya yang besar.


"Makasih sudah sayang sama Crystal, Sus." ucap Tristan pelan.


Tangis haru Suster Anna memenuhi ruang sepi itu, beliau balas memeluk Tristan erat-erat.


Somehow...


Not the blood that binds, but the heart.


Bersambung ya...


Note :


1. Bonding \= Ikatan emosional


2. Somehow \= however, anyway, though


(Bagaimana pun)


3. Not the blood that binds, but the heart.


Intinya : yang mengikat mereka bukan darah tapi perasaan.


Sorry dan maaf 🙏🙏🙏 untuk kalimat terakhir aku nggak nemu translate ke Indo yang pas. 😁😁


Beberapa case lebih pas kalau di ekspresikan pakai bahasa inggris.🙈🙈🙈